Sudah tujuh puluh tujuh hari sejak pertama kali Afi tinggal rumah kontrakan bedeng dempet empat di pojok Jakarta Barat. Rumah itu masuk ke dalam gang kecil, yang tetap saja terlihat muram walaupun di depannya terdapat masjid yang cukup ramai. Gang itu kecil kurang lebih sekitar satu meter, itu pun harus berbagi dengan saluran air di sebelah kiri yang senantiasa menawarkan suka ria tikus berlari kejar-kejaran. Tak akan ada orang sudi lewat jalanan itu kalau tidak karena terpaksa saja, paling juga satu dua motor yang tersasar masuk terjebak di tengah labirin gang kecil nan lembab itu.
Sudah pula Afi hapal dengan suara-suara yang di sekitar rumah itu, suara tetangganya yang pulang kerja setiap jam 1 malam; Bayi yang menangis 3 kali semalam setiap hari; Ataupun saat tetangga sebelah kirinya, si keparat botak bercinta dengan istri mudanya. Setiap malam dia berpikir, apa lebih baik dia pindah saja dari rumah itu. Tetapi selalu saja saat pikirannya melaju kencang mencari pilihan, akhir-akhirnya dia menyimpulkan untuk tetap tinggal. Apalagi…
Apalagi di rumah ini dia bisa selalu bisa melihatnya, tipikal lelaki jawa yang tidak terlalu tinggi, sawo matang dan berambut hitam kelam. Selalu terkesima Afi melihatnya mondar-mandir setiap pagi mencari kunci rumah, atau saat malam berguling kanan dan kiri di atas ranjang karena tidak bisa tidur. Oh sudahlah, aku akan di sini saja, tekadnya.