Dear all,
Gua punya temen yang sedang senang alias berbunga2 karena kebetulan baru melepas masa jomblonya, karena dia uda menemukan teman wanita ( pacar ) yang cocok, tapi keadaan seketika berubah, setelah tahu bahwa sang kekasih terlalu di protektif oleh orang tua nya, maklum mungkin karena ortu nya beranggapan anak cewek nya cuma satu satunya. tapi apakah patut orang tua terlalu protektif terhadap anaknya dalam hal percintaan, apakah protektif tersebut karna ortunya sayang / kecemasan semata, akan maraknya pelajar sekolah yang suka melakukan seks bebas dan aborsi. Kalau alasannya karna itu mungkin bisa dibilang itu cuma kecemasan semata dan bercampur juga sih rasa kasih sayang, tapi seharusnya ortu nya bisa berpandangan tidak hanya melihat dari sisi negatif nya saja, tapi juga di bandingkan dengan sisi positif nya, sebagai contoh kalau ortu membuka hati nya untuk bisa dapat menerima perkembangan anaknya yang sudah mulai tumbuh dewasa tentu istilah pacaran sudah biasa, dan ortu boleh memberi izin anaknya untuk berhubungan,tapi tentu saja tetap dalam pengawasan yang sewajarnya serta pembatasan yang lumrah, serta melakukan pendekatan terhadap anak, agar anak tetap berjalan dijalan yang benar dan tidak menyimpang kepada seks bebas dan lainnya.
Berikut ini ada gua kutip dari Media Indonesia tentang bagaimana cara memperlakukan anak-anak yang perlu dihindari, bukan hanya anak remaja yang beranjak dewasa saja, tetapi juga bagi anak kecil :
1. Memarahi anak di depan publik
Jika anak melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas, wajar jika Anda ingin membuatnya disiplin. Mengajarkan kedisiplinan kepada anak memang sangat krusial, tetapi apakah perlu memarahinya di hadapan orang lain seperti tetangga atau teman-temannya? Lebih baik, tunggu sampai Anda berada di tempat yang lebih terjaga privasinya sebelum menasihati anak. Jika tidak, anak akan menjadi penakut setiap waktu dan orang-orang yang menyaksikan Anda memarahinya pun akan merasa risih.
2. Memberi contoh buruk
Jangan mengajarkan ini dan itu kepada anak jika Anda tidak mampu memberikan contoh yang baik kepadanya. Coba bayangkan, apa yang dipikirkan anak ketika Anda menasihatinya agar tidak berbohong, sementara Anda sendiri justru melakukan hal sebaliknya. Contoh, suatu hari anak mengangkat telepon yang ternyata ditujukan untuk Anda. Akan tetapi, karena malas menerima telepon itu, Anda meminta anak mengatakan kepada si penelepon bahwa Anda tidak berada di rumah.
3. Menghancurkan harapan anak
Pernahkah anda menghancurkan harapan yang dibangun anak, atau mengatakan kepadanya bahwa cita-citanya untuk menjadi presiden atau superstar tidak realistis? Sebagai orang tua yang baik, sudah seharusnya Anda memberikan dorongan kepada anak untuk melakukan yang terbaik dalam bidang apa pun yang diinginkannya.
4. Terlalu protektif
Anak-anak benci ketika orang tua mereka menempel terus seperti lem dan terlalu protektif terhadap mereka. Hal itu membuat mereka merasa seperti tidak dipercaya. Selain itu, proteksi yang berlebihan juga justru membuat anak menjadi liar ketika akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman orang tua.
5. Membatasi hubungan
Banyak orang tua merasa tidak nyaman mengizinkan anak berpacaran sebelum mereka berusia minimal 17 tahun. Akan tetapi, hal itu sesungguhnya sebuah proses pendewasaan yang harus mereka jalani. Bagi anak-anak, hubungan asmara yang tumbuh pun kemungkinan besar tidak lebih dari sekadar cinta monyet. Oleh karena itu, tidak perlu langsung panik ketika anak mengatakan ingin memiliki seorang pacar.
6. Salah memberi hukuman
Tidak sedikit orang tua menghukum anak dengan cara yang keliru ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak dapat diterima. Misalnya, Anda menghukum anak tidak boleh bermain karena mendapatkan nilai jelek saat ulangan, atau menghukumnya dengan tidak memperbolehkan menggunakan telepon karena ia terlambat pulang ke rumah setelah bermain dengan teman-temannya. Akan tetapi, yakinkah Anda semua konsekuensi tersebut benar-benar mampu menyelesaikan masalah? Apakah tidak lebih baik jika Anda berbicara dulu kepada anak hingga mengetahui dengan jelas sumber masalah, daripada memberikannya hukuman keras yang tidak relevan?
7. Memaksa menuruti kemauan
Anak adalah individu yang berbeda dengan Anda, yang memiliki keindahan dan kelebihannya sendiri. Oleh karena itu, jangan pernah memaksa anak mengikuti jejak Anda, misalnya dalam hal pendidikan atau pilihan karier di masa depan. Sebaiknya, bimbing anak untuk memaksimalkan segala bakat dan kelebihannya agar menjadi yang terbaik. (OL-08)