Waktu hujan, kemarau menerjangku
Kau datang kepadaku dengan penawaran manismu
Dengan segala senjata kau menaklukannku
Aku tak takluk,
Aku malah berlari memelukmu
Meski dengan waktu
Karna tak ingin semu.
Sayangmu atau janjimu yang mengunci pintu jendelaku
Kau terlalu sibuk memprotes jendelaku, dan mahkotamu
tanpa sekedar melongok dalam rumahku.
Bukan karena kasihan Aku sayang..
Tapi hanya tak mampu membuka kembali untuk mawar-mawar lain,
Selainmu.
Bila ku mampu, mungkin sore kemarin rumahku sudah terhias oleh mawar-mawar
yang mungkin,
lebih indah darimu
cukup kamu saja bagiku.
Tapi
kau terpaksa merantau menyakitiku dan dirimu sendiri saat ini.
Pulanglah,
Ke dirimu.
sampai batasnya nanti,
aku tetap menunggu pagi.
Singosari-Malang, 28072011