Aku pikir berteman itu mudah
Aku pikir hanya dengan sapaan dan senyuman semua bisa menjadi teman
Aku pikir semua orang bisa jadi temanku
Aku pikir dengan bermodal sapaan dan senyuman semua bisa menjadi temanku
Aku pikir mengajak mereka berbicara dan bercerita akan membuat mereka senang
Ternyata tidak semua suka bercerita
Bahkan seorang anak adam berjubah merah mengatakan bahwa bercerita membuatnya tertekan padahal dia sangat pandai bercerita dan secara tidak sadar dia pun menceritakan ceritanya padaku walaupun aku tidak bertanya padanya
Dan jujur, aku menyukai cerita-cerita orang-orang yang berbagi denganku termasuk cerita si penyihir merah
Ya, garis hidup memang luar biasa
Saat hahahihi berlari-lari saling mengejar satu sama lain dengan kaki kecil yang melangkah sangat cepat bisa menjadi teman akrab
Namun ketika ukuran kaki bertambah menjadi berkali-kali lipat, hahahihi saling bercerita tidak semudah itu dan lari-larian cepat itu membuat kita menjadi kelelahan
Aku pikir semua sesederhana dan semudah pada saat gelak tawa tidak menjadi beban
Tapi si anak adam berjubah merah itu menyadarkanku bahwa aku bukan sosok ceria yang diinginkan oleh semua orang
Selain itu beliau juga menyadarkanku bahwa hati yang baik tidak selalu bisa diterima dengan baik
Ada hal-hal yang tidak bisa diterima bumi agar menjadi subur walaupun hal tersebut baik untuk makhluk
Pertemanan dewasa ternyata tidak sesederhana itu ya
Ketika ingin makan bersama ataupun pergi bersama ataupun segala janji yang ingin dilakukan bersama, berbagai kekompleksan pertimbangan di benak masing-masing manusia yang katanya dewasa itu menjadi hambatan dan penghalang
Semakin dewasa katanya semakin tinggi levelnya mungkin juga si anak adam berjubah merah itu aku tidak tau dia berada di level berapa mungkin tidak sama denganku, mungkin di atasku dan itu membuat aku tidak setara dengannya
Ya begitu sehingga pada akhirnya aku atau manusia dewasa lainnya akan menyederhanakan hidup kami dengan kata ‘Yaudah’ atau ‘Gapapa’
Dan hidup kami masih harus terus berlangsung