“Pandangan mata laksana anak panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barang siapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita , maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya, yang akan dia dapatkan hingga hari dia bertemu dengan_Nya. “
( HR. Ahmad)
Anak kecil jika ditanya tentang apa gunanya mata? tentu mereka akan menjawab untuk melihat. Betul, Allah menciptakan mata agar manusia bisa melihat keindahan yang DIa titipkan lewat alam semesta dan isinya. Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Allah ciptakan lautan yang luas, langit yang menjulang dengan taburan bintang gemintang, hutan yang rimbun, padang yang luas, taman-taman yang indah semuanya untuk memanjakan pandangan. Bahkan lebih dari itu semua, Allah menjadikan manusia sebaik-baik penciptaan yang indah untuk dipandang.
Allah menitipkan banyak keindahan pada diri manusia yang menimbulkan daya tarik tersendiri diantara sesamanya. Kaum adam sangat mengagumi keindahan wanita dan begitu juga sebaliknya wanita juga tak pernah bosan menjatuhkan pandangan pada kaum adam. Daya tarik ini kadang menjerumuskan manusia pada fitnah yang mengundang murka Allah, karenanya Nabi mengingatkan kita akan besarnya fitnah wanita “Aku tidak meninggalkan cobaan yang lebih membahayakan laki-laki selain daripada wanita“. Mungkin kita ingat kisah Imam syafi’i yang kehilangan sebagian hafalannya hanya karena tidak sengaja melihat betis seorang wanita yang pakaiannya tersingkap oleh hempasan angin. Karenanya Rasulullah sangat menganjurkan umatnya agar bisa menjaga pandangannya.
Dalam tulisan ini kami sajikan 10 manfaat yang dapat diperoleh dari menjaga pandangan, di antaranya:
1. Membersihkan Hati dari Derita Penyesalan
Pandangan akan menyusup ke dalam hati seperti anak panah yang meluncur saat dibidikkan. Jika tidak membunuh, tentu akan meninggalkan luka. Banyak dari manusia yang terjerumus hanya karena melihat sesuatu yang bukan menjadi haknya. Berbagai bentuk pelecehan seksual terjadi berawal dari pandangan yang tidak terjaga. karenanya Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menjaga pandangan agar kejernihan hati tetap terjaga sehingga terhindar dari derita dan penyesalan.
2. Mendatangkan Cahaya dan keceriaan di hati.
Cahaya dan keceriaan yang datang karena menahan pandangan bisa terlihat di mata, wajah dan seluruh anggota tubuh. sebagaimana kepekatan yang terlihat di wajah dan seluruh anggota tubuh karena mengumbar pandangan, oleh sebab itu Allah menyebutkan dalam surat An-Nur: 30 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya” , berlanjut dengan An-Nur : 35 “Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi .”
3. Mendatangkan Kekuatan Firasat yang Benar
Hati yang bercahaya karena pandangan yang terjaga akan mendatangkan kekuatan firasat. Kedudukan hati layaknya sebuah cermin, sedangkan pandangan seperti nafas yang yang dihembuskan pada cermin itu. Jika seorang mengumbar pandangan matanya, maka dia seperti menghembuskan nafas di cermin hatinya, sehingga cahayanya menjadi pudar dan bahkan tak tampak lagi.
4. Membuka Pintu dan Jalan Ilmu serta Memudahkan untuk Mendapatkan Sebab-sebab Ilmu
Hal ini terjadi karena adanya kejernihan hati yang timbul dari pandangan yang terjaga . Jika hati bersinar terang, maka akan muncul hakikat-hakikat pengetahuan di dalamnya, sehingga sebagian ilmu itu bisa diserap. Namun jalan ilmu menjadi tertutup bagi orang yang selalu mengumbar pandangannya.
5. Mendatangkan Kekuatan Hati, Keteguhan, dan Keberanian
Seseorang yang menahan pandangannya bisa menjadi penentang nafsu dimana syetan akan merasa takut kepadanya. diantara orang yang mengikuti hawa nafsunya ada yang hatinya menjadi hina dan lemah, jiwanya kerdil dan tak berharga. Sedangkan orang yang bisa mengendalikan nafsu hatinya menjadi kuat, teguh dan penuh keberanian karena terjaga dari pengaruh syetan yang senantiasa menjauhkan manusia dari Tuhannya.
6. Mendatangkan Kegembiraan, Kesenangan, dan Kenikmatan
Seorang yang menjaga pandangannya karena Allah niscaya Allah akan memberikan kenikmatan yang lebih besar dalam hidupnya. tidak ada kekhawatiran, karena syetan justru takut pada manusia yang selalu menentang keinginan nafsunya.
7. Membebaskan Hati dari Tawanan Syahwat
Sesungguhnya orang yang layak disebut tawanan adalah orang yang bisa dengan mudah ditawan syahwat dan nafsunya. Pepatah mengatakan “orang yang mengumbar pandangan matanya adalah seorang tawanan.“
8. Menutup Pintu Neraka Jahannam
Pandangan mata adalah pintu syahwat yang selalu menuntut pelaksanaannya. Jika seseorang tidak mampu menjaga pandangan maka akan dengan mudah tergelincir pata berbagai macam fitnah dunia yang menyestkan. Maksiat timbul berawal dari pandangan, karenanya orang yang mampu menjaga pandangan bisa menutup pintu-pintu keburukan yang ada pada dirinya.
9. Menguatkan dan Mengokohkan Akal
Mengumbar pandangan mata tidak dilakukan kecuali oleh orang yang lemah akalnya, gegabah dan tidak memikirkan akibat dikemudian hari. Andaikan orang yang menumbar pandangannya mengetahui akibat dari perbuatannya, niscaya dia akan mengurungkan niatnya untuk melakukan itu.
10. Membebaskan Hati dari Syahwat yang Memabukkan dan Kelalaian yang Melenakan
Pandangan mata layaknya segelas arak, dan cinta adalah mabuk yang diakibatkannya. Mabuk cinta jauh lebih parah daripada mabuk karena arak. Orang yang mabuk karena arak akan mudah sadar, namun orang yang mabuk karena cinta seringkali terbawa arus dan bahkan tidak akan pernah mampu untuk kembali sadar.
Sebagai penutup, kami sajikan kisah dari seorang abid yang terjerumus pada fitnah dunia hanya karena tidak bisa menjaga pandangannya.
Berkata Ibnul Qoyyim, “Diriwayatkan bahwasanya dahulu di kota Mesir ada seorang pria yang selalu ke mesjid untuk mengumandangkan adzan dan iqomah serta untuk menegakkan sholat. Nampak pada dirinya cerminan ketaatan dan cahaya ibadah. Pada suatu hari pria tersebut naik di atas menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan dan di bawah menara tersebut ada sebuah rumah milik seseorang yang beragama nasrani. Pria tersebut mengamati rumah itu lalu ia melihat seorang wanita yaitu anak pemilik rumah itu. Diapun terfitnah (tergoda) dengan wanita tersebut lalu ia tidak jadi adzan dan turun dari menara menuju wanita tersebut dan memasuki rumahnya serta menjumpainya.
Wanita itu pun bertanya : “Ada apa denganmu, apakah yang kau kehendaki?”
pria tersebut menjawab : “Aku menghendaki dirimu”
sang wanita kembali bertanya : “Kenapa kau menghendaki diriku?”
pria itu menjawab : “Engkau telah menawan hatiku dan telah mengambil seluruh isi hatiku”
sang wanita berkata : “Aku tidak akan memnuhi permintaanmu untuk melakukan hal yang terlarang”,
pria itu pun berkata : “Aku akan menikahimu”,
sang wanita berkata : “Engkau beragam Islam adapun aku beragama nasrani, ayahku tidak mungkin menikahkan aku denganmu”,
pria itu berkata : “Saya akan masuk dalam agama nasrani”,
sang wanita berakata : “Jika kamu benar-benar masuk ke dalam agama nasrani maka aku akan melakukan apa yang kau kehendaki”.
Maka masuklah pria tersebut ke dalam agama nasrani agar bisa menikahi sang wanita. Diapun tinggal bersama sang wanita di rumah tersebut. Tatkala ditengah hari (hari dimana dia baru pertama kali tinggal bersama sang wanita dirumah tersebut) dia naik di atas atap rumah (karena ada keperluan tertentu) lalu iapun terjatuh dan meninggal. Maka ia tidak menikmati wanita tersebut dan telah meninggalkan agamanya”.