ITB Ultra Marathon 2022 yang Pakai Tapi

ITB Ultra Marathon (ITB UM) 2022 akhirnya berlangsung juga 10 – 12 Maret 2023 lalu, setelah sempat diundur menyusul gempa Cianjur. Makanya namanya masih ITB UM 2022, meski baru terlaksana di 2023. ITB UM memang perhelatan unik yang banyak dinanti alumni ITB. Malahan pelari profesional dari kategori umum juga banyak yang mengincar event tahunan ini.

Banyak agenda dalam satu acara, begitu pengamatan saya pada ITB UM selama ini. Ada yang memanfaatkannya untuk reuni, ada yang benar-benar menyiapkan diri dan tim untuk meraih podium, ada yang sekedar ikut aura kehebohan ITB UM. Para pelari seru-seruan menaklukkan rute melelahkan dari Jakarta ke Bandung secara bergantian, malah ada juga yang berjuang sendiri. Sungguh hebat kapasitas fisik peserta yang berani menyambut tantangan ITB UM.

Sejauh ini, ITB UM berhasil jadi wadah kohesi sosial alumni ITB. Susah loh mengumpulkan teman-teman alumni yang lama tak bersua. Kalaupun bisa, umumnya lu lagi-lu lagi. ITB UM bisa menjadi magnet untuk memanggil kembali teman-teman lama dengan cara yang unik, yaitu “menyiksa diri” dengan berlari. Persiapan menuju ITB UM membuat pertemuan dengan teman lama semakin punya bumbu. Saya sungguh menaruh appresiasi atas ITB UM yang telah berhasil jadi wadah bersilaturahim, menyediakan ruang euforia, dan sarana seru dalam satu event race.

Saya melihat banyak sekali perkembangan dan perbaikan signifikan di ITB UM 2022 dibandingkan ITB UM 2019 dengan rute yang sama, yaitu Jakarta-Bandung. Sistem pencatatan bekerja baik, jauh lebih baik dari sebelumnya. Yang paling terasa adalah garis finish dan segala kesiapannya sungguh perkembangan yang menggembirakan.

Maka, pantas sudah kita menyematkan kalung ucapan selamat bagi penyelenggara yang telah berhasil melaksanakan ITB UM 2022 kali ini dengan perbaikan yang signifikan. Lebih dari 3.000 pelari dengan segala keseruannya ikut serta. Banyak yang sudah tak sabar menanti kapan ITB UM berikutnya akan digelar, padahal puncak acara ITB UM 2022 belum genap seminggu berlalu. Capek tapi bikin nagih.

Hanya saja saya harus menyematkan “TAPI” untuk ITB UM ini.

“Hm… kenapa harus pakai tapi sih?”

“Bisa tidak cukup kasih apresiasi saja tanpa kata tapi?”

Bisa saja dan itu mudah. Tapi jangan lupa, mendukung tak harus mendorong dari belakang atau memberi sorak-sorai gembira dari pinggir lapangan. Memberitahu ada lubang di depan agar tak celaka juga bagian dari mendukung. Jadi, tolong kata TAPI di tulisan ini dimaknai bagian dari yang terakhir itu.

Mari kita elaborasi “TAPI” saya untuk ITB UM.

Saya pernah ikut ITB UM 2019. Berlari untuk dua tim sehingga punya waktu lebih dari seharian untuk mengamati apa yang terjadi. Saat itu saya berpikir event ini sesungguhnya sangat berisiko. Saat itu, saya melihat ada pelari yang pingsan kelelahan. Saya juga melihat ada tim support yang terkapar di warung pinggir jalan karena over work mengawal dari Jakarta sampai Bandung lebih dari 24 jam. Saat berlari, saya melihat sendiri ada pula pelari yang jatuh dari bahu jalan dan terkilir karena saat asyik berlari ia mendapat kejutan klakson dari truk yang melintas dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi ada info beredar tentang pelari yang diserempet kendaraan hingga terluka.

Pengalaman itu segera terlupakan selepas ITB UM 2019 tuntas. Secara keseluruhan, acara ITB UM saat itu berlangsung baik.

Nah…, di ITB UM 2022 saya kebagian tugas untuk merencanakan dan mengordinasikan tim support angkatan (ITB 2K runners – Duracel). Duracel mengutus 6 tim dengan total 80 pelari. Saya “membongkar” kembali ingatan dari pengalaman ITB UM 2019 untuk menyelesaikan amanah tersebut. Mereka-reka ulang apa saja yang harus disiapkan agar para pelari berhasil menyelesaikan misinya.

Dari pengalaman tersebut kami mendaftar semua kemungkinan risiko yang bisa terjadi. Saya tertegun dengan daftar tersebut. Profil risiko yang mungkin muncul mulai dari rendah hingga tinggi. Bahkan, saya bisa bilang ITB UM adalah event berbahaya karena mengandung beberapa risiko tinggi.

Loh kok bisa gegabah begitu memberi label? ITB UM kan sudah dirancang sebagaimana event ultra marathon pada umumnya. Apa yang salah dengan itu?

Saya bisa sepakat bahwa ITB UM telah dirancang sebagaimana manajemen ultra marathon yang ada, yang rata-rata adalah self support. Kalau event hanya 5 km, boleh lah panitia menyediakan berbagai sarana pendukung. Untuk 180 km? Sebesar apa sumber daya yang harus disiapkan? Sepakat sampai di sini.

Tapi, saya tidak bisa sepakat begitu saja karena target pasar ITB UM bukanlah pelari-pelari yang biasa berlari ultra. Mayoritas segmen pasar ITB UM adalah alumni ITB dengan spektrum yang sangat luas. Ada sih yang memang pelari profesional dan terbiasa berlari ultra. Tapi…, kebanyakan kan justru alumni yang memanfaatkan keseruan acara saja. Ada yang belum pernah berlari hingga 10 km sampai yang sudah pernah berlari ratusan kilometer. Ada yang masih baru lulus hingga pelari yang merupakan kakek/nenek pelari yang baru lulus tadi. Dengan situasi segmen pelari seperti itu, ITB UM menurut saya terlalu gegabah disamakan dengan event ultra pada umumnya.

Berlari di lalu lintas terbuka dengan segala dinamikanya, di jam-jam yang tak lazim bagi pelari kebanyakan, dan penyelenggara melepaskan tanggung jawab support & kemanan kepada tim masing-masing. Ditambah ada profil risiko kategori tinggi tadi. Itu sebabnya menurut hemat saya, event ini berisiko tinggi sekali. Pengalaman beberapa kali ITB UM sebelumnya yang berlangsung cukup lancar tidak bisa jadi pembenaran ITB UM akan aman-aman saja. Terbukti, di ITB UM 2022 sebagian besar risiko yang pernah kami profil tadi benaran terjadi. Saya tak perlu sebutkan di sini apa saja yang terjadi. Teman-teman yang mengikuti perhelatan ITB UM 2022 sedikit banyak sudah mendengar atau malah melihat apa saja kejadian yang membuat kita harus berucap prihatin.

Saat merancang strategi support 6 tim Duracel, kami menjadikan pengalaman support di ITB UM 2019 dan profil risiko baru disusun tersebut sebagai dasar. Saya sempat merasa “ngeri” dengan kemungkinan yang bisa menimpa anggota tim pelari kami. Dengan sumber daya yang terbatas, saya harus mengubah strategi support dan memprioritaskan keamanan/keselamatan daripada kenyamanan pelari. Kemudian, kami memberlakukan SOP ketat untuk semua pelari, harus begini-begitu, tidak boleh ini-itu. Lebih ribet dari sebelumnya, tapi semuanya untuk mengelola risiko yang mungkin terjadi.

Kami beruntung mendapat tim support yang mudah beradaptasi dengan strategi dan koordinasi lapangan yang tok-cer. Keberuntungan berikutnya adalah, seluruh tim berhasil finish dengan hanya terkena risiko-risiko kategori rendah seperti kram, kepanasan, dan kehujanan. Cingcai-lah kalau cuma itu saja.

Dulu sekali, sewaktu mahasiswa saya pernah melaporkan sebuah kegiatan kepada guru besar yang saat ini aktif sebagai anggota senat akademik ITB. Selesai melaporkan, saya langsung terkena damprat karena menurut penilaian beliau kegiatan itu punya risiko yaitu sampai membuat peserta cedera.

“Kamu pernah berpikir tidak, kalau ada peserta yang cedera, maka nama institusi akan terbawa. Yang repot semua orang, bukan hanya panitia!,” sang guru besar terlihat sedikit murka. Padahal acara berlangsung baik dan lancar, harusnya beliau bahagia tak perlu khawatir lagi.

ITB UM memang bukan event yang dipelopori dan dilaksanakan resmi oleh ITB sebagai institusi pendidikan. ITB hanya mengizinkan penyelenggara menggunakan nama tersebut. Tapi dengan melekatnya nama ITB di dalam kegiatan ITB UM, semua alumni mudah jatuh cinta. Lantas, nama ITB begitu melekat pada event ITB UM dan dengan profil risiko begitu tinggi, tidak kah ITB terganggu dengan kekhawatiran yang sama? Atau jangan-jangan selama ini, ITB UM dipandang sebagai kegiatan tak punya risiko tinggi? Tidak kah pelari yang dibegal dan dilukai di rute lari salah satu bentuk risiko tinggi? Kebanyakan nanya nih, maaf saya jadi menyebalkan.

Saya jadi berandai-andai, jika diberi kuasa untuk mengumpulkan penyelenggara dengan guru besar ITB tadi dalam satu ruangan. Saya akan berujar kepada beliau, “harap berkenan Prof., wejangan yang dulu mohon diulang kembali. Waktu dan tempat dipersilakan….”[]

Berantakan di Jakarta Marathon

AWAL 2020 lalu saya memutuskan untuk ikut mendaftar event lari kategori maraton (42 km). Alasannya, saat itu saya membutuhkan sebuah milestone agar punya program latihan lari yang lebih baik dan terstruktur.

Lalu, awal Februari 2020 tersiar kabar Jakarta Marathon akan diselenggarakan di Oktober 2020. Delapan bulan lebih sepertinya waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Milestone ikut race kategori maraton memang saya perlukan supaya bisa menjalani program latihan yang lebih fokus. Persiapan fisik dan mental untuk menempuh jarak lari 42 km sudah masuk kategori serius. Tidak semua semua orang bersedia menaruh komitmen untuk beban ini.

Namun, sebulan kemudian Covid-19 ikut serta menjajah Indonesia dan semua sendi kehidupan mendadak ditutup total. Semua kegiatan dibatasi dengan ketat dan harus berdiam diri di rumah. Kegiatan apa pun yang mengumpulkan banyak orang sudah pasti tidak diizinkan. Maka panitia Jakarta Marathon 2020 mengabarkan bahwa event tidak bisa digelar. Tidak ada kepastian sampai kapan, tetapi mereka menyampaikan bahwa semua peserta yang mendaftar di tahun 2020 akan otomatis terdaftar juga di event berikutnya. Tidak ada opsi refund, padahal kalau ada opsi ini saya akan memilih untuk pengembalian dana pendaftaran saja.

Setelah dunia dilanda badai pandemi, saya sudah tak menaruh minat lagi dengan Jakarta Marathon. Bahkan sudah melupakan pernah mendaftar dan membayar di event tersebut. Pada 2021, panitia kembali mengabarkan penundaan kedua. Email pemberitahuannya mereka kirim beberapa hari sebelum tanggal yang dijadwalkan semula. Panitia tidak berani mengambil keputusan untuk menyelenggarakan event dengan kumpulan orang yang begitu banyak sehingga di tahun 2021 mereka hanya diizinkan memfasilitasi 500 pelari elit.

Galau dengan Pemberitahuan Mendadak

Tak disangka, sepuluh hari sebelum Jakarta Marathon 2022 panitia mengirim email bahwa event akan mereka selenggarakan. Tepatnya di tanggal 16 Oktober 2022. Ah… padahal saya bahkan sudah lupa pernah mendaftar event ini. Bagaimana ini ya? Saya jadi bimbang berhari-hari dengan pemberitahuan dadakan seperti ini. Kalau lari 10 km masih ok lah, saya pasti langsung menyambar kesempatan itu. Tapi ini kelas maraton dan saya belum pernah lari di kategori 42 km sebelumnya.

Tadinya saya mau skip saja. Tapi setelah bertimbang-timbang dalam diri sendiri, “apa ruginya sih dicoba?” Walau tanpa persiapan sama sekali untuk menempuh jarak 42 km, saya memutuskan untuk melewati kilometer demi kilometer dengan strategi santai saja. Yang penting finish sehat dan kuat. Lantas saya menghitung-hitung kapasitas diri selama ini dan menggunakan skenario lari santai tadi. Maka di Jakarta Marathon saya menargetkan bisa selesai dalam waktu 5 jam 30 menit. Ya… optimis bakal dapat lah.

Seminggu sebelum Jakarta Marathon 2022, saya uji coba lari sendiri dengan jarak 21 km (half marathon) sebagai proyeksi untuk saya pakai ketika race maraton nantinya. Selama masa uji coba tersebut saya mendapat kepercayaan diri yang lebih akan sanggup menuntaskan Jakarta Marathon dengan baik dan tidak malu-maluin. Maka, galau itu berakhir dengan sendirinya. Semula saya berencana akan skip saja kesempatan yang ada, tapi dengan hasil uji coba half marathon tadi, saya memutuskan untuk beranikan diri ambil tantangan ini.

Berbekal rasa percaya diri itu, saya memesan tiket kereta api bolak-balik Bandung-Jakarta untuk menghadapi 42 kilometer pertama saya dengan harapan pulang gilang gemilang sambil tersenyum menenteng medali. Saya perlu memasang sikap mental seperti ini supaya semua usaha saya nanti berkompas pada sikap mental ini.

Panitia nan Cuek dan Terkesan Kurang Profesional

Saya mengambil race pack sehari sebelum gelaran Jakarta Marathon 2022 karena saya baru tiba di Jakarta juga di H-1. Ternyata ini adalah pengalaman terburuk saya dalam mengambil race pack. Kami mengantri mengular selama lebih dari 2 jam dalam keadaan berdiri. Listrik di lokasi pengambilan race pack padam sehingga tidak ada pendingin sama sekali padahal cuaca sedang panas-panasnya. Beban mengantri semakin bertambah berat karena saya masih membawa tas.

Feeling saya memburuk karena panitia terkesan tidak punya respon apa-apa dengan padamnya listrik. Antrian terhenti karena sepertinya perangkat yang digunakan panitia untuk proses pengambilan race pack juga turut padam. Semua orang hanya mampu menggerutu sambil menyeka keringat yang terus berjatuhan.

Antri dua jam dalam keadaan berdiri dan berpanas-panasan ternyata terasa juga. Telapak kaki mulai terasa panas dan tegang. Secara keseluruhan kaki mulai terasa tak nyaman, apalagi saya membawa beban tambahan tas baju dan laptop. Keacuhan panitia ini memberikan kesan buruk pelaksanaan Jakarta Marathon, tapi saya tak mau terlalu ambil peduli. Beragam kicauan miring sudah mulai tertebaran di media sosial tentang ketidak-becusan panitia. Kalau ikutan menggerutu, khawatir saya malah tidak optimal menjalani lari esok harinya.

Ternyata benar, di hari H panitia banyak melakukan keblunderan yang membuahkan caci maki dan ketidakpuasan dari peserta. Sayang sekali event ini seharusnya bisa sekelas marathon-marathon besar kelas dunia lainnya, tetapi panitianya masih terasa sekelas event kelurahan.

Setelah lelah dan baju basah kebanjiran keringat demi mendapatkan race pack, saya berangkat ke hotel untuk beristirahat. Eh… drama berikutnya saya harus “meladeni” dan menyelesaikan pekerjaan ala sangkurian dari klien. Niat ingin istirahat sama sekali tak tercapai. Saya malah harus lembur sampai jam 11 malam menuntaskan pekerjaan. Padahal ini harusnya momentum untuk istirahat mempersiapkan tubuh untuk berlari esok paginya. Tapi lucu juga kalau saya bilang ke klien untuk menunda pekerjaan karena besok mau ikut marathon. Ya sudah lah… Biar resah ini kutanggung sendiri.

Bertarung dengan Diri Sendiri Sepanjang 42 kilometer

Panitia menjadwalkan start kategori marathon pukul 04.30 WIB. Padahal di hari itu, jadwal sholat subuh baru masuk pukul 04.20 WIB. Kita seolah hanya diberi dua opsi, silakan sholat subuh dan start belakangan atau ikut start dan lupakan sholat subuh. Lokasi terdekat sholat subuh ke titik start setidaknya membutuhkan waktu normal 15 menit, kecuali kalau kita sholatnya juga balap & langsung loncat berlari sehabis sholat. Saya pastinya memilih opsi pertama. Biarlah start belakangan, lalu saya mencari tempat untuk sholat subuh yang harus jalan berputar-putar dulu.

Selepas sholat subuh saya beranjak ke garis start dan sudah gelap. Saya pikir acara belum dimulai, tapi beberapa orang di gelapan berteriak “lari mas… lari…, sudah start dari tadi.” Alamak… saya belum pemanasan jadi terpaksa lari tanpa pemanasan yang memadai. Itu beneran kondisinya gelap. Lampu di garis start memang tidak menyala. Tidak ada atau sengaja dimatikan? Entah lah… saya akhirnya jadi mahfum dengan protes kebanyakan orang selama ini tentang “keajaiban” panitia Jakarta Marathon.

Saya pun berlari dari garis start bersama beberapa pelari lain yang lebih memilih sholat subuh dulu dari pada start sesuai jadwal.

Dua kilometer pertama telapak kaki saya tiba-tiba terasa seperti tertusuk-tusuk. Saya kaget bukan main, ini masih dua kilometer tapi kaki kok sudah ngadat? Sepertinya lelahnya kaki kemarin karena lama berdiri mengantri, lalu kerja menuntaskan deadline ajaib dari klien sampai tengah malam, ditambah tidak melakukan pemanasan dengan proper menjadi faktor kombinasi telapak kaki saya berontak sakit.

Saya menurunkan tempo berlari untuk memberi kesempatan telapak kaki beradaptasi karena masih jauh jarak lari yang harus saya selesaikan. Memasuki kilometer 18 telapak kaki saya sudah mulai nyaman. Maka saya mulai menaikkan tempo berlari. Begitu sampai di water station kilometer 21 (setengah jalan) saya merasa mulai nyaman. Apalagi sudah terbantu dengan minum dan makan pisang.

Maka saya mulai menaikkan kecepatan lari secara gradual untuk mengimbangi keterlambatan 18 kilometer awal karena tersiksa telapak kaki yang sakit. Eh… baru dua kilometer berlari lebih cepat tubuh saya langsung kolaps. Kedua kaki saya tiba-tiba kram tanpa tanda peringatan. Selama ini, sebelum kram selalu ada pertanda otot yang mulai tertarik sehingga saya bisa jaga-jaga sehingga tidak kram. Kali ini kram datang dengan tiba-tiba. Saya pun terjatuh tepat kilometer 23. Begitu terjatuh, punggung saya ikut-ikutan kram. Saya menduga karena sejak awal lari menahan sakit di telapak kaki membuat postur berlari saya tidak baik dan memberikan tekanan berlebihan pada otot sehingga berakhir kram.

Terus terang, saya cukup panik saat terserang kram di beberapa titik sekaligus. Saya tak sanggup berdiri sama sekali. Hanya terduduk lunglai di pinggir jalan sambil menanti otot-otot yang kram mau diajak kompromi. Sakit sekali rasanya. Beruntung ada marshal lapangan yang lewat dan saya langsung minta bantuan untuk relaksasi otot. Lebih dari 10 menit saya berhenti di titik jatuh itu.

Setelah serangan kram yang begitu hebat, rencana saya untuk berlari menuntaskan Jakarta Marathon pupus sudah. Saya hanya bisa berjalan terseok-seok. Sama sekali tidak bisa berlari karena otot kaki saya terus berontak kalau dibawa posisi berlari. Akhirnya saya pun pasrah, sisa perjalanan 20 kilometer lagi jalan santai saja lah. Di jalan saya bertemu beberapa peserta yang memutuskan berhenti dan tak melanjutkan lagi sisa perjalanan. Mereka melipir ke kafe sambil mengajak sesiapa yang terlihat lunglai untuk mengakhiri perlombaan saja. Saya termasuk yang diajak tetapi saya masih bertekad mengakhiri sesuatu yang sudah saya mulai, meski dengan “jalan robot” yang begitu menyiksa.

Saya ingin mengutuki diri kenapa harus merasakan beratnya lari marathon seperti ini. Ada godaan untuk berhenti saja, pesan ojek online pulang ke hotel dan melahap nasi padang sepuasnya. Tapi saya tetap ingin memegang teguh prinsip jangan menyerah.

Maka perjalanan panjang yang panas, melelahkan, dan sungguh berat itu saya jejaki perlahan-lahan. Di kilometer 30 tiba-tiba badan dan kaki saya segar kembali. Saya uji coba jogging untuk menguji apakah tanda-tanda kram muncul lagi. Asyik… ternyata tidak. Maka saya teruskan berlari. Tapi terpaksa saya pindah lagi ke mode berjalan karena berlari 3 kilometer berikutnya ternyata tubuh saya memberi sinyal kelelahan. Baiklah… sisa sembilan kilometer lagi saya tempuh dengan berjalan lagi.

Saya melirik jam di tangan dan mulai melakukan perhitungan, jika saya berjalan sembilan kilometer lagi dengan mode berjalan maka saya akan tiba di garis finish tepat di waktu cut of time (COT) yang 7 jam. Biarlah, saya pasrah. Tak mengapa race ini saya lewat COT, yang penting tuntas sampai finish.

Perjuangan terberat memang menuntaskan sembilan kilometer dengan berjalan saja. Berjalan sesungguhnya lebih menyiksa tubuh akan lebih banyak menanggung dampak bobot badan dibandingkan dengan berlari. Belum lagi panas matahari yang semakin menyengat. Water station juga mulai dibereskan karena COT sudah menjelang. “Sial… aku kalah kali ini di Jakarta Marathon,” begitu suara dalam benak yang terus menggoda untuk berhenti saja.

Begitu tanda kilometer 41 tampak, saya semangat lagi berlari. Saling berkejaran dengan beberapa pelari lain menuju garis finish. Tapi ternyata begitu kilometer 42 (yang seharusnya sudah finish), kami dibuat bingung. Tidak ada tanda-tanda garis finish. Bahkan marka tanda lari juga tidak ada. Benar-benar kesel dibuatnya. Ternyata finish masih 1 kilometer lagi dengan berputar-putar di lokasi Gelora Bung Karno sehingga marathon kali ini kami berlari lebih dari 43 kilometer.

Sesampainya di finish juga sama sekali tidak ada kesan. Cuma lewat melongos begitu saja. Tidak ada catatan waktu. Tidak ada panitia yang menyambut. Sebuah perjuangan yang terasa zonk di akhirnya. Bahkan untuk mendapatkan medali dan jersey finisher pun kami harus jalan berputar-putar lagi sambil bertanya-tanya ke orang yang sudah pada kelelahan.

Saya akhirnya finish di Jakarta Marathon 2022 dengan tubuh yang lunglai dan serasa hancur. Apakah kapok? Tidak… ini jadi pembelajaran untuk mengalahkan diri sendiri di marathon-marathon berikutnya. Pengalaman pertama marathon saya memang berantakan, tapi saya ingin lebih baik di masa mendatang. Tak mengapa berantakan di Jakarta Marathon, ini pelajaran berharga bagi saya untuk memahami medan tempur berlari berikutnya. []

Persoalan Bangun Pagi

MARCUS AURELIUS adalah salah satu kaisar besar Romawi yang “terpaksa” menjadi kaisar di usia remajanya. Ia jatuh cinta pada buku, tapi sejak muda belia ia harus menanggung tanggung jawab besar. 

Ia asyik masyuk dengan kumpulan bukunya hingga larut malam dan selalu tidur telat. Akibatnya, Marcus punya kesulitan bangun pagi. Marcus biasanya baru bangun ketika matahari sudah sedemikian terangnya. Agenda di istana terpaksa digeser ke siang hari karena sang kaisar tak bisa hadir kalau dijadwalkan pagi hari.

Marcus sebenarnya ingin sekali bisa bangun pagi, seperti kebanyakan orang. Tapi baginya, kebiasaan bangun siang sulit betul ia terabas. O ya, Marcus juga punya banyak persoalan hidup. Mungkin karena usianya yang masih belia dan mendapat tanggung jawab yang begitu besar, akhirnya Marcus menjadi pribadi yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.

Sadar akan begitu banyak kekurangan, Marcus pun membuat catatan khusus sebagai pengingat diri. Ia dibantu oleh ajudannya untuk membuat catatan pengingat supaya Marcus bisa memperbaiki dirinya dari hari ke hari, berdasarkan perenungannya. Mungkin ini semacam diari sekaligus notifikasi. 

Catatan harian Marcus ini kelak dijadikan buku berjudul “Meditation”, yang sedari awal bukan untuk dipublikasikan. Melainkan catatan pengingat dirinya sendiri. Buku ini masih dibaca banyak orang hingga saat ini. Sebuah buku kontemplatif yang sarat makna.

Dari sekian banyak topik yang ada dalam buku ini, salah satu topik terkesan remeh tapi penuh hikmah adalah tentang sulitnya Marcus bangun pagi tadi. Banyak pengulas yang memberi istilah topik ini “The Great Bed Question.”

Menarik cara Marcus memahami problem sederhana sulit bangun pagi. Bagi yang biasa bangun pagi, catatan Marcus ini menjadi tak relevan. Tapi bagi yang pernah kesulitan bisa bangun sendiri di pagi hari, apa yang Marcus resahkan akan terasa begitu nyata. Ia tak memberikan pembenaran bahwa seorang kaisar boleh saja bangun siang. Marcus menggali jawaban “kenapa sih harus bangun pagi?”

Dari proses menggali itu, Marcus akhirnya tiba pada satu kesimpulan menarik. Bangun pagi bukanlah kewajiban, tapi tugas diri. Tugas menjadi manusia, katanya. Marcus membedakan makna kewajiban (obligation) dengan tugas (duty). Kewajiban, katanya adalah tuntutan yang berasal dari luar. Sedangkan tugas berasal dari dirimu sendiri, sebagai seorang manusia. Bila ada orang yang merasa tidak punya tugas sebagai manusia, maka ia bukanlah manusia yang sesungguhnya. 

Jadi kata Marcus, seseorang akan merasa bahagia bila memasukkan to do list hariannya dalam kategori tugas karena energi untuk menuntaskannya berasal dari diri sendiri. Sedangkan bila masuk dalam kategori kewajiban, sisi kemanusiaannya akan tercerabut.

Apakah Marcus akhirnya berhasil bisa bangun pagi? Mungkin ada jawaban di bukunya itu.

Rute Berbahaya Rasa Kecewa

KECEWA sudah jadi bagian yang selalu muncul dalam perjalanan hidup kita. Bukan sekali saja, kecewa itu terus datang silih berganti. Kadarnya juga beragam. Mulai dari kecewa biasa saja yang sakitnya berlalu dalam hitungan jam, hingga kecewa berat yang bahkan bisa mengubah kepribadian seseorang.

Rasa kecewa muncul akibat tidak padunya antara harapan dengan kenyataan. Atau, bisa juga antara apa yang kita bayangkan beda jauh dengan yang sesungguhnya terjadi. Umumnya kecewa menyasar objek tertentu. Ada yang kecewa pada pasangan hidup karena tak ia lagi seperti dulu, kecewa dengan lingkungan kerja yang tidak suportif, kecewa pada teman yang sudah dibantu malah berkhianat, malahan ada yang kecewa pada Tuhan karena merasa hidup ini tidak adil baginya. Serta ribuan rentetan kecewa yang bisa kita daftarkan.

Perkembangan diri seorang manusia berbanding lurus dengan kemampuannya menghadapi rasa kecewa. Untuk satu peristiwa yang sama, dua orang bisa merasakan dampak yang berbeda. Boleh jadi karena perbedaan dalam menangani kecewa itu, bisa juga karena ia sudah lebih mampu mengelola diri sehingga begitu kecewa ia tak lagi merasakan efek yang berlebihan.

Namun, kecewa bisa memiliki rute yang berbahaya. Mungkin kita sepele dengan kecewa hanya karena hingga saat ini kita masih mampu melewati kecewa dengan baik. Namun, tetap saja ada kemungkinan kita akan bertemu dengan kecewa yang begitu dahsyat kadarnya. Saat itu terjadi, bisa saja kita malah menempuh rute berbahaya rasa kecewa. Atau, perhatikan orang-orang yang “dulu kita kenal” sekarang berubah drastis, biasanya perubahan itu diawali karena ia menempuh rute bahaya rasa kecewa.

Saat berhadapan dengan kecewa, reaksi pertama kita adalah merasa sedih. Kenapa ini bisa terjadi? Kok ia tega melakukan itu? Apa guna usaha yang saya lakukan selama ini? Saya sudah berbuat tetapi sama sekali tidak dianggap. Dan seterusnya, dan seterusnya. Gap harapan dan kenyataan ini membuat kita sedih. Sesuai kadar kecewanya, ada yang mudah mengatasi kesedihan tersebut ada pula yang butuh waktu lama untuk berdamai dengannya. Inilah rute pertama kecewa yang masih wajar dan memang harus dilalui oleh setiap orang yang sedang kecewa. Apabila ada orang yang mengaku kecewa tetapi tidak merasa sedih, berarti belum sahih kecewa itu menerpa dirinya.

Rute kedua kecewa adalah marah. Hati tak mampu lagi menampung rasa sedih sehingga tumpahannya harus disalurkan dalam bentuk rasa marah. Rute kedua ini bisa dibilang jenis jalan semi berbahaya, walaupun kadar merusaknya jelas lebih besar dari rute pertama tadi. Ada marah akibat kecewa yang daya rusaknya sedikit saja. Tapi bisa juga marah punya dampak negatif berganda. Misalnya, marah kita itu ternyata disambut lagi dengan marah orang lain yang berujung saling merusak satu sama lain.

Untuk rute kedua ini, saya pernah melihat seorang teman yang begitu kecewa karena kekasih pujaan hatinya meminta untuk memutuskan hubungan. Lalu sehari kemudian si pujaan hati malah menjalin hubungan istimewa dengan sahabat baiknya. Rasa sedihnya tak terbendung lagi dan marah pun melingkupi dirinya. Maka, ia temui sahabatnya yang kini jadi kekasih sang mantan. Emosi marah ia luapkan dan kata-kata kasar ia luncurkan. Ia hendak menuntaskan kecewa itu dengan marah tapi ternyata marahnya disambut juga. Akibatnya, si kawan ini berakhir di kamar mayat karena marah bersambut marah sehingga berujung saling menghabisi nyawa.

Jika marah pun belum sanggup meredam kecewa, kita bisa beranjak ke rute ketiga yaitu memberontak. Rute ketiga ini bisa juga ditempuh tanpa melewati rute kedua (marah). Begitu kecewa, rasa sedih datang lalu ia memutuskan untuk memberontak. Rute memberontak ini adalah perlawanan yang dilakukan untuk membalaskan kecewa. Ada dendam di sana yang harus disalurkan dalam bentuk merusak.

Ada beberapa contoh implementasi kecewa di rute ketiga yang pernah saya saksikan.

Di sebuah pabrik sepatu brand terkenal pernah terjadi kekecewan massal terhadap manajemennya. Mereka merasa tak didengar. Sudah demo beberapa kali, tetap saja jajaran manajemen seolah tutup telinga. Mereka merasa tak ubahnya mesin yang tak boleh protes. Sedih sudah pasti, marah sudah disalurkan. Karena juga tak menutup kecewa yang semakin hari semakin membesar, mereka bersepakat untuk menghancurkan perusahaan ini dari dalam. Caranya pada setiap pengiriman sepatu yang ditujukan untuk ekspor, mereka selipkan barang-barang beraroma busuk seperti bangkai kucing, bangkai tikus, atau bahkan kotoran manusia sesaat sebelum produk tersebut disegel. Harapannya, di negara tujuan barang-barang ini akan ditolak dan jika berlangsung berkali-kali akan menurunkan reputasi perusahaan ini. Benar saja, beberapa tahun berselang perusahaan itu gulung tikar karena terlalu banyak menghadapi komplain. Mereka menghancurkan sendiri tempatnya bernaung mencari rezeki. Semua berawal dari kecewa yang tak kunjung reda dan disalurkan dengan menempuh rute ketiga.

Contoh lain, setelah menjalani bahtera rumah tangga belasan tahun, seorang suami menduga istrinya tak lagi setia seperti dulu. Rumah tangganya serasa hambar dan saling curiga. Ia kecewa karena rumah tangga yang ia idamkan harmonis ternyata menjadi rumah yang bikin malas pulang. Ia tak paham lagi bagaimana meredam kecewa karena sedih dan marah telah jadi menu harian. Maka, ia memutuskan menempuh rute ketiga dengan membalaskan praduga tadi. Dari pada tersiksa dengan kondisi yang ada, ia pun menjalin hubungan gelap dengan beberapa wanita. Jadi play boy di usia yang sudah tidak “boy” lagi. Pemberontakan dengan cara “main api” ini berujung pada kerusakan yang jauh lebih berbahaya. Bercerai, anak-anak broken home, kondisi keuangan jatuh drastis, perzinahan jadi ia anggap tak dosa lagi, dan seterusnya. Semua akibat ia menempuh rute ketiga rasa kecewa.

Berbahaya bukan di rute ketiga ini?

Nah… ada lagi rute keempat yaitu menggila. Seseorang yang memendam kecewa, apalagi dalam jangka panjang. Sementara itu, marah dan memberontak tak juga menghilangkan penyakit kecewa di hatinya. Satu-satunya jalan yang paling masuk akal baginya adalah menggila. Jika pada rute ketiga (memberontak), ia merusak dan merugikan orang lain. Pada rute ini, ia malah merusak diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Menyakiti diri sendiri, lari ke obat-obatan candu, meraung-raung di media sosial secara membabi-buta, dan banyak bentuk kegilaan lainnya. Rute ini adalah manifestasi kecewa yang paling puncak. Ketika seseorang merasa sudah tidak punya cara lagi untuk meredam kecewanya.

Itulah empat rute berbahaya rasa kecewa, khusunya di rute ketiga (memberontak) dan keempat (menggila). Berbahaya karena dampak lanjutannya jauh lebih merugikan daripada kecewa itu sendiri. Begitu memasuki rute ketiga dan keempat, kecewa itu berubah dari tadinya hanya sekedar sebuah batu sandungan dalam hidup menjadi energi yang terus membakar agar kita terus menerus berada di rute bahaya. Lihatlah mereka yang ada di rute ketiga dan keempat, kecewa yang terpendam akan menjadi daftar pertama alasan kenapa ia melakukan itu semua.

Lantas apa yang harus dilakukan? Mengutip Justin Arocho, Ph.D, dari Manhattan Center for Cognitive-Behavioral Therapy di New York, setidaknya ada dua strategi yang dapat kita latih untuk menangani kecewa.

Pertama adalah mengelola kecewa sejak awal. Berhubung kecewa adalah bentuk ketidaksinkronan harapan dengan kenyataan, maka sejak awal yang dikelola adalah harapan atau ekspektasi ini. Harapan memang energi untuk membuat kita optimis menjalani hidup. Tetapi espektasi yang statis akan meningkatkan peluang berbuah kecewa. Jadi, pada saat memiliki sebuah harapan selalu siapkan kemungkinan terburuk dan apa yang akan kita lakukan jika itu yang terjadi. Saat semuanya belum menjadi kenyataan, kita masih bisa berpikir dengan lebih jernih. Berbeda jika sudah terjadi, gap antara kenyataan dan harapan yang statis tadi lebih sulit untuk diselaraskan.

Kedua, berlatih untuk menyambut kecewa. Kita harus mengenali mekanisme koping (coping mechanism) yang sesuai untuk diri kita. Mekanisme koping adalah cara seseorang menghadapi situasi berat yang berpotensi menimbulkan luka batin. Menurut Justin, dalam menghadapi kecewa, mekanisme koping merupakan proses penyembuhan oleh diri sendiri agar tidak terjebak dalam lingkaran kecewa. Benar bahwa kecewa itu berat, tetapi kita harus mampu tetap ada di rute pertama tadi (rasa sedih) dan selesai di situ. Jangan beranjak ke rute-rute berikutnya.

Kecewa boleh saja menghampiri, tapi kini kita harus lebih siap menghadapinya. Bukan begitu? []

Kredit foto: Maksym Kaharlytskyi on Unsplash

Kita adalah Apa yang Kita Cari

SAAT menunggu jadwal boarding pesawat, seseorang lelaki yang duduk bersebelahan dengan saya duduk mencoba memulai percakapan. T-shirt yang saya kenakan sepertinya jadi pemicu ia menyapa karena hari itu saya mengenakan jersey yang di lengan kirinya tercetak logo kampus tempat saya kuliah dulu.

Ia juga mengaku kuliah di tempat saya kuliah. Berhubung satu almater, perbincangan pun dengan mudah tercipta. Dari kebisuan di tengah keramaian menjadi percakapan akrab yang diikat oleh kesamaan pernah belajar di tempat yang sama.

Ternyata kami hanya berbeda satu tahun saja. Saya lebih awal masuk dan ia adalah adik angkatan meski berbeda jurusan. Diskusi pun mengalir mengular ke sana kemari. Tapi ketika saling bertukar pengalaman selama kuliah, saya menangkap dua sisi yang sama sekali berbeda.

Ia bertutur bahwa selama kuliah mengalami fase-fase “kenakalan” anak muda. Menurutnya Bandung kala itu menawarkan begitu banyak kesempatan menyalurkan darah dan gairah anak muda metropolitan. Bersama teman-teman sekost-nya mereka biasa madat bersama. Jum’at malam ia dan teman-temannya kerap hang out ke tempat dugem dan baru kembali ke kost-an di Minggu sore.

Malam minggu, di sepanjang jalan Dago ia sering mencari para remaja putri yang bisa diajak bersenang-senang sambil menegak minuman beralkohol. Selepas itu mudah ditebak ceritanya, mereka menghabiskan malam yang penuh kesenangan duniawi.

Saya bertanya itu terjadi di tahun berapa? Ia menjawab sekitar tahun 2003 hingga 2004. Namun saat ini dia mengaku sudah bertobat. Ia menyadari semua salah masa muda itu sudah keterlaluan. Dia merasa beruntung tidak sampai over dosis, tidak tertangkap Polisi sehingga berakhir di jeruji, dan tidak terkena penyakit menular seksual. Tapi ia juga mengaku bahwa semua itu ia alami selagi masih kuliah.

Saya sedikit terkejut dengan penuturannya. Awalnya saya curiga dia berbohong bahwa satu almamater dengan saya. Tapi dengan beberapa pertanyaan validasi akhirnya saya yakin ia memang kuliah di sana, tetapi pengalaman kami sungguh jauh berbeda. Kami pernah berada di ruang dan waktu yang kurang lebih sama, tapi yang apa yang kami rasakan dan temui sangatlah bertentangan.

Di tahun yang sama dan di tempat yang kurang lebih sama saya mengalami betapa sejuk dan kondusifnya Bandung sebagai kota untuk belajar. Saya menemukan teman-teman yang sopan dan jauh dari urusan obat terlarang. Pergaulannya terjaga, bahkan memandang lawan jenis saja mereka tidak berani. Sedikit banyak saya terpengaruh dengan pola pergaulan seperti ini.

Di Dago, benar di tahun-tahun itu setiap Sabtu malam sepanjang jalan Dago memang penuh bak pasar malam. Saya juga sering lewat sana dan menurut saya biasa saja. Hanya keramaian biasa tempat sekumpulan anak muda yang mencoba melewati malam libur.

Dari perbincangan singkat itu saya menarik kesimpulan dalam benak sendiri bahwa kita adalah apa yang kita cari. Di tempat yang sama, di waktu yang sama, dua orang bisa mengalami hal yang jauh berbeda. Bahkan bertolak belakang sama sekali. Jika pergaulan kotor yang ingin kita cari, di lingkungan masjid juga kita mudah menjumpai para pendosa.

Begitu memasuki pesawat dan menanti si burung terbang take off saya jadi bersyukur saat itu pernah “dijaga” oleh lingkungan tempat saya bergaul. Sementara, sang teman yang baru saja berkenalan tadi sibuk mengutuki masa mudanya di lingkungan yang sama. Apa yang kita alami adalah manifestasi dari apa yang kita niatkan.

Photo credit: Hello I’m Nik on Unsplash

Aku dan Cumi-cumi

SETIAP berhadapan dengan menu makanan di restoran atau tempat makan pinggir jalan, jika terdapat pilihan cumi-cumi hampir dapat dipastikan saya selalu memilih cumi-cumi. Nasi goreng cumi, cumi asam manis, cumi saos padang, cumi goreng, kangkung cah cumi, apapun yang mengandung cumi dia lah yang bakal terpilih. Padahal, semasa kecil saya termasuk orang yang tidak suka makan cumi-cumi. Lantas kenapa sekarang kok malah doyan dengan cumi-cumi?

Ada yang bilang, berubahnya sikap seseorang pasti ada suatu peristiwa yang jadi latar-belakangnya. Bukan peristiwa biasa, tetapi peristiwa yang membekas di batinnya. Begitu juga dengan saya dan cumi-cumi, ada peristiwa yang membuat saya akhirnya menggandrungi cumi-cumi sebagai makanan.

Semasa sekolah dulu saya pernah tinggal menumpang di saudara yang juga ia tengah menumpang di rumah orang lain. Jadi saya adalah penumpang kuadrat, ikut menumpang di tempat orang yang juga sedang menumpang.

Sejak kecil saya selalu diajarkan etika menumpang. Jika kita sebagai penumpang, harus pandai-pandai menempatkan diri. Jangan menjadi orang yang menyebalkan, harus ringan tangan. Intinya harus tahu dirilah. Meskipun kita tidak diminta untuk bebersih rumah, sebagai orang yang menumpang kita harus kerjakan itu semua. Numpang itu beda dengan sewa. Penumpang ikut serta tapi gratisan, sedangkan penyewa punya effort lebih dengan mengeluarkan dana.

Pemilik rumah tempat saya menumpang kuadrat itu setiap akhir pekan biasanya berkumpul dengan sanak-saudaranya. Saya sebagai orang yang menumpang mencoba menjaga etika tadi dengan membatasi ruang gerak diri sendiri. Saya biasanya berdiam di dapur saja. Kalau ada piring, gelas, dan peralatan lain yang masuk ke dapur karena sudah kotor, saya langsung cekatan menyucinya.

Saya tidak berani ikut bergabung ke ruang tengah karena khawatir mengganggu kenyamanan si pemilik rumah. Saya hanya seorang yang menumpang di sana. Bukan anggota keluarga, tidak membayar untuk tinggal, jadi saya tak hendak menjadi duri bagi mereka.

Suatu ketika mereka berkumpul lebih ramai dan saya masih dengan mode siaga di dapur. Saya hanya mendengar riuh rendah perbincangan dan gelak tawa keluarga besar itu. Bapak-bapak berdiskusi dengan suara berat. Ibu-ibu cekikikan satu sama lain karena perbincangan mereka yang tampak lebih seru dari kelompok bapak-bapak. Anak-anak lebih heboh lagi, mereka teriak-teriak rebutan mainan. Ada yang ketawa-ketawa berkejaran. Yang sudah remaja justru berdiam diri karena merasa bukan anak-anak lagi tapi masih canggung bergabung dengan orang dewasa.

Lalu saya hanya duduk saja di dapur dan berharap tak ada orang yang menyadari keberadaan saya. Sebab, jadinya serba salah jika ada yang melihat. Kadang dianggap pembantu, suatu ketika malah dipelototi karena dikira anak gembel salah masuk rumah. Pernah juga diinterogasi dengan rentetan pertanyaan karena yang bersangkutan heran dengan keberadaan saya di rumah itu. Jadi saya selalu berharap tidak pernah ada yang melihat. Andaikan saat itu ada yang membuka kursus cara menghilang dari pandangan orang, saya akan bergabung untuk belajar ilmu kanuragannya.

Siang itu mereka memesan makanan dari sebuah restoran terkenal di kota tempat saya menumpang. Sebuah restoran mahal yang hanya bisa dikunjungi mereka yang tak peduli lagi besok makan apa karena penghasilannya sudah menjamin makan sehari-hari hingga setahun ke depan. Saya selalu bermimpi suatu hari nanti bisa makan di restoran itu setiap lewat dari depannya. Makannya pasti enak sekali, pasti berbeda dengan apa yang saya makan sehari-hari. Ah… sampai hari ini air liur saya otomatis berkumpul kalau mengingat restoran itu meski tak pernah menjejakkan kaki ke sana.

Menjelang jam 3 sore piring-piring kotor mulai berdatangan ke dapur. Berarti saya harus segera berdinas membereskannya sampai bersih kembali. Terus terang, saya ingin sekali ikut bergabung dengan keseruan makan siang keluarga besar itu. Aroma makanan dari restoran impian begitu menggoda. Tapi saya tetap bertahan menjaga prinsip dan etika para penumpang. “Jangan gegabah dan melampaui batas!” itu kalimat yang terus saya ulang-ulang agar tidak tergoda. Tapi perut tak bisa dibohongi. Ia meronta kelaparan akibat aroma wangi makanan yang menggugah. Akhirnya saya makan nasi dengan lauk seadanya yang setiap hari kami makan sambil membayangkan ikut serta dengan keseruan makan di tengah keluarga besar itu.

Ketika suara mulai sepi karena tamu sudah pada pamit pulang. Beberapa kotak sisa makanan diantar ke dapur. “Sisa makanan ini tolong dibuang ke tempat sampah ya!” perintah pemilik rumah kepada saya. Saya melongok ke tumpukan kotak makanan. Di sana masih banyak sisa makanan utuh yang belum tersentuh. Termasuk seporsi cumi goreng tepung yang masih dalam kemasannya.

Entah kenapa, saya sedikit membangkang dari perintah pemilik rumah. Seporsi cumi-cumi saya simpan di laci dapur dan sisanya saya buang ke tempat sampai sesuai instruksi. Malam harinya, cumi-cumi itu saya keluarkan dari laci dan saya makan bersama nasi hangat yang baru ditanak. Amboi…. betapa lezatnya cumi-cumi itu. Saya sampai menitikkan air mata mengunyahnya. Padahal saya tak pernah mencicipi cumi-cumi. Gurih dan lembutnya cumi-cumi itu terasa mewah di lidah. Saya makan dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir ketahuan.

Sejak saat itu saya memutuskan untuk bersahabat dengan cumi-cumi dan mendaulatnya sebagai makanan favorit. Sebuah perkenalan istimewa dengan cumi-cumi sisa panganan yang tak dimakan. Melahapnya diam-diam dan langsung jatuh cinta padanya di gigitan pertama.

Begitulah kisah perkenalan rasa antara aku dan cumi-cumi yang terus membekas hingga sekarang.

Kucing Psikopat

SEMINGGU sebelum bulan ramadhan tiba, rumah kami kedatangan tamu. Seekor kucing liar meninggalkan tiga ekor anaknya yang baru lahir di belakang rumah. Ketiga anak kucing ini begitu menggemaskan. Bulunya tebal dan tampak sehat. Setiap induknya datang, mereka bertingkah lucu. Loncat ke sana kemari, bermain lincah seperti kebanyakan anak kucing yang menggemaskan. Begitu sang induknya pergi, mereka tertib mengikuti prosedur induknya untuk bersembunyi.

Sang induk kucing adalah kucing liar yang sudah lama berkeliaran di depan rumah. Kami sering meletakkan sisa makanan di depan rumah dan dia adalah kucing liar langganan yang menyantap makanan itu saban hari. Tapi, sebagai kucing liar dia begitu galak. Di balik wajahnya yang polos, kucing ini tak boleh didekati apalagi disentuh. Setiap kita mendekatinya, ia langsung memasang sistem pertahanan diri sebagai pertanda ia tak ingin menjadi kucing rumahan.

Maka, kedatangan kucing liar ini dan menitipkan anak-anaknya di belakang rumah kami ini sebuah peristiwa istimewa. Di samping anaknya yang memang super menggemaskan, sang induk juga mendadak jadi rajin keluar masuk rumah. Ia meninggalkan anak-anak di belakang rumah ketika mencari makan ke tempat lain. Beberapa kali dalam sehari ia mengunjungi anak-anaknya yang menuntut disusui.

Setiap masuk ke rumah, kucing liar itu tetap waspada. Biasanya ia hanya masuk rumah jika di dapur ada benda yang “layak untuk ia curi”. Kami memang sering kehilangan lauk di dapur dan tersangka utamanya ya.. si kucing liar ini. Tapi sekarang ia jadi rutin keluar masuk rumah tapi dengan agenda yang sama sekali berbeda. Ia tak mencuri ikan lagi. Tapi mencuri hati kami karena peristiwa ia memanggil anak-anaknya untuk menyusu benar-benar mengharukan. Anaknya berlari-lari gembira keluar dari persembunyiannya begitu sang induk mengeong khas memanggil anaknya. Kami hanya melihat tingkah anak dan induk kucing itu dari dalam rumah dan mempersilakan mereka menikmati masa-masa emasnya.

Kami memang berharap jika sudah melewati masa menyusui, anak-anak kucing itu biarlah tinggal di rumah saja dan menjadi kucing peliharaan yang terjamin makanan dan perawatannya. Tapi jikapun mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi kucing liar, ya… tidak mengapa juga.

Mendadak, perasaan hangat karena kehadiran tiga tamu bayi kucing berubah menjadi horor. Saat pulang kerja saya mendapat laporan dari anak-anak kalau seekor kucing berwarna hitam dengan kalung penanda di lehernya telah membunuh ketiga anak kucing itu. Saat si induk kucing pergi mencari makan ke sana kemari, datanglah seekor kucing psikopat yang selama beberapa hari terakhir memang saya lihat kerap hilir mudik. Entah siapa yang punya kucing hitam itu. Tapi dari kalung yang menggantung di lehernya dan bulunya yang terlihat bersih terawat, ia adalah kucing rumahan yang tentu saja dikasih makan oleh sang empunya.

Tapi sore itu, si kucing hitam datang ke halaman belakang rumah kami. Ia mengendap-endap dan begitu menemukan tempat persembunyian tiga anak kucing yang lucu dan menggemaskan itu, ia langsung membunuhnya dengan brutal. Seekor anak kucing bahkan kepala dan tubuhnya sampai terlepas.

Usai menjalankan aksi pembataiannya, si kucing hitam nan psikopat itu pergi kabur. Tak lama berselang, sang induk kucing datang memanggil-manggil anaknya untuk merapat ke pelukannya. Tapi anaknya sudah tak lagi bernyawa. Sore itu saya lihat sendiri, sang induk menggotong satu persatu mayat anaknya keluar rumah. Entah mau dibawa kemana mayat bayinya itu. Darahnya berceceran mengikuti jejak sang induk kucing dari halaman belakang rumah hingga pintu depan rumah. Sebuah pemandangan mengerikan, menyesakkan hati, dan mengundang titik-titik air mata.

Esok harinya saya masih melihat si induk kucing masuk lagi ke rumah dan menuju halaman belakang. Lagi, ia memanggil-manggil anaknya. Agaknya ia lupa ingatan kalau kemarin dia sendiri yang membawa mayat anaknya dan sekarang ketiga anaknya tidak ada lagi. Selang beberapa hari, ia tetap melakukan hal yang sama. Seolah anak-anaknya masih ada. Saya ingin sekali memeluk dan mengelusnya untuk menguatkan hati si kucing. Khawatir ia jatuh depresi karena peristiwa tragis itu. Tapi apa daya, ia kucing liar yang didekati saja sudah memasang jurus pertahanan diri.

Pagi, siang, hingga malam sang induk kucing masih saja hilir mudik mencari anaknya ke tempat biasa dengan suara yang kian lirih. Sedih jadi terasa awet karena perilaku sang induk kucing yang kehilangan buah hatinya itu.

Saya tak habis pikir, kenapa ada kucing yang sesadis itu? Setelah baca-baca di internet ternyata fenomena kucing yang memangsa anak kucing bukanlah hal yang aneh. Mereka terlihat sebagai makhluk yang menggemaskan, tetapi juga tetap memiliki insting hewani yang benar-benar hewan banget. Dasar kucing psikopat, saya jadi merasa bersalah dibuatnya karena tidak menyediakan tempat khusus untuk anak kucing itu berlindung.

Mementingkan yang Bukan Prioritas

ADA sebuah kejadian menarik saat saya mengisi sebuah workshop beberapa tahun lalu, kalau tidak salah ingat peristiwa ini terjadi di pertengahan tahun 2013. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk inhouse training karena pesertanya berasal dari satu institusi yang sama.

Di sesi terakhir hari pertama, salah seorang peserta bertanya mengenai laptop yang saya gunakan. Di masa itu pengguna macbook belum sebanyak sekarang. Beberapa tahun sebelumnya saya sudah pindah dari pengguna sistem operasi windows ke machintos. Kesan macbook sebagai barang mewah saat itu memang masih terasa. Tapi bukan itu alasan saya pindah mahzab komputer. Faktor pendorong utama saya menggunakan macbook adalah karena merasa risih berurusan dengan virus komputer yang selalu saja datang. Pilihan untuk menghindari berurusan panjang dengan virus-virus ini sebenarnya bisa pakai sistem operasi linux, tapi macbook punya keunggulan lain yang cocok untuk saya gunakan. Sesederhana itu saja.

Tetapi kesimpulan yang muncul di benak peserta workshop di hari pertama tersebut ternyata berbeda. Menurut mereka pakai macbook terlihat lebih keren dan elegan. Mereka juga merasa bahwa pelajaran yang saya bawakan di training tersebut berkat menggunakan macbook. Entah bagaimana kesimpulan itu bisa muncul, tapi kelak saya akhirnya bisa paham dan akan kita bahas di tulisan ini. Sabar…

Begitu kelas usai, sore ke malam hampir seluruh peserta di ruangan workshop tersebut janjian jalan-jalan di salah satu mall besar di Kota Jakarta. Saya juga diajak tetapi secara halus saya menolak dengan alasan ada persiapan yang harus saya tuntaskan untuk kegiatan besok. Alasan sesungguhnya saya ingin istirahat lebih sambil me-recharge tenaga dan fikiran.

Ternyata malam itu mereka serentak membeli laptop macbook generasi terbaru di masa itu. Di sesi pertama pagi harinya, mereka membawa laptop macbook anyar lengkap dengan kardus-kardusnya ke ruangan workshop. Maka, sehari penuh kami mengorupsi agenda dari belajar menjadi tutorial menggunakan macbook.

Apakah asumsi awal bahwa pakai macbook akan membuat mereka menguasai materi dengan baik? Sama sekali tidak. Tapi untuk bergaya karena punya macbook, mungkin bisa mereka peroleh sebab saat itu pengguna macbook belum seramai sekarang.

Dalam perjalan berikutnya, saya bertemu kembali dengan fenomena ini. Saya menyebutnya sebagai fenomena kesimpulan semu yakni menyimpulkan bahwa faktor utama keberhasilan sesuatu adalah pada hal yang kasat mata. Orang ramai-ramai membeli sepatu Nike Air Jordan karena Michael Jordan pakai sepatu Nike misalnya. Ketika membeli sepatu mahal tersebut, yang ada dalam benak jutaan penggemar Jordan adalah ia berhasil karena pakai sepatu tersebut. Padahal akal sehat kita bilang tentu bukan seperti itu bukan?

Saya mau lanjutkan cerita fenomena yang saya alami sendiri selain perihal belanja macbook ramai-ramai oleh peserta workshop di atas.

Saya pernah mengerjakan sebuah proyek fotografi dengan bekal seluruh peralatan foto saya sewa dari tempat penyewaan. Mulai dari kamera, lensa, lighting, dan berbagai pernak-pernik gear lainnya saya sewa karena peralatan yang kantor saya punya belum memadai untuk pekerjaan fotografi profesional. Saat memesan daftar peralatan yang dibawa, prinsipnya adalah gear terbaik yang sedang available di tempat penyewaan. Saya tidak bisa memundurkan jadwal pemotretan karena kamera yang saya incar ternyata sedang dipakai oleh penyewa lain. Maka saya harus mengalah dengan peralatan yang tersedia saja.

Singkat ceritanya, setelah beberapa hari menjalankan proyek di lapangan, salah seorang pendamping dari perusahaan tempat kami melakukan proyek tersebut mencatat secara detail daftar alat yang kami bawa. Awalnya saya kira itu hanya prosedur standar yang harus ia lakukan sebagai pendamping. Tapi di sesi istirahat ia mengutarakan akan membeli peralatan yang sama dengan gear yang sedang saya bawa karena ia juga punya hobi fotografi. Baginya, faktor utama foto-foto yang kami hasilkan di beberapa hari tersebut karena masalah gear. Setiap diskusi yang ia tanyakan melulu soal gear. Padahal saya yang mengoperasikan kamera sama sekali tidak ambil pusing dengan gear yang dibawa. Sepanjang sesuai dengan kebutuhan dan memiliki kinerja minimal yang saya harapkan, apapun merk & jenisnya tak jadi soal. Itu teknis saja. Sama seperti keahlian lain, dalam fotografi yang paling utama adalah penguasaan konsep dan teori serta jam terbang. Gear memang penting, tapi bukan itu prioritas utamanya. Setelah proyek selesai, pendamping sesi pemotretan tersebut pun akhirnya membeli alat yang kurang lebih sama dengan yang kami bawa. Saya tidak banyak komentar atas keputusannya itu, toh ia belanja dengan dananya sendiri. Tapi keputusannya untuk menyamakan merk dan jenis peralatan itu sesungguhnya sebuah kesimpulan semu.

Pernah juga saya punya teman yang memiliki keputusan untuk membeli semua produk yang bintang iklannya adalah Krisdayanti. Baginya Krisdayanti adalah penyanyi paling ia kagumi dan ketika itu Krisdayanti memang menjadi salah satu bintang iklan paling laris. Mulai dari sabun, shampo, setrika, dispenser, penanak nasi, dan banyak lagi. Saat saya tanya kenapa membeli setrika merk “A” misalnya, kok bukannya merk “B”? Alasannya sederhana, karena merk “A” bintang iklannya Krisdayanti.

Selain fotografi yang banyak menggunakan peralatan mahal, saya juga punya hobi dengan olah raga lari dan bersepeda. Dalam grup pehobi lari misalnya, saya menjumpai fenomena yang sama muncul kembali. Jika ada yang larinya cepat, ramai-ramai pada penasaran ia pakai sepatu merk apa, celana apa, dan kaus kaki apa. Lantas ramai-ramai membeli merk yang sama dengan bayangan yang juga sama bahwa si kawan tadi berlari cepat karena barang yang ia pakai. Semuanya seolah lupa bahwa kekuatannya berlari cepat sama sekali bukan karena sepatu tertentu. Sepatu memang penting, tapi bukan itu prioritasnya.

Ternyata, mengambil keputusan berdasarkan jangkar lahiriah nan semu ini secara sudah menjadi tabiat manusia. Aspek psikologis ini dimanfaatkan betul dalam dunia marketing. Menggunakan brand ambassador, menyewa jasa endorsement, dan meminta review produk oleh pengguna berpengaruh adalah bentuk dari memanfaatkan aspek psikologis pengambilan keputusan ini. Maka tak heran, belanja iklan perusahaan-perusahaan besar banyak yang dialihkan dari iklan konvensional ke jenis iklan yang menggunakan metode memanfaatkan aspek psikologis mengambil keputusan semu manusia tadi

Alih-alih mencari jawab atas faktor utama untuk berhasil, kita lebih memilih untuk meyakinkan diri bahwa produk yang dipakai adalah faktor determinan sebuah keberhasilan. Inilah fenomena kesimpulan semu yang saya bilang tadi. Setelah saya evaluasi diri, ternyata di beberapa keputusan membeli saya di masa lalu juga didasari oleh fenomena kesimpulan semu ini. Dan…, setelah ditimbang-timbang ulang hampir semua keputusan membeli dengan dasar kesimpulan semu tadi berujung menyesal. Ternyata tidak seindah asumsi awal sebelum membeli.

Kredit foto: Alexander Milo on Unsplash

Lelah yang Tak Terbayar

DI SUATU RAMADHAN, saat itu saya masih mahasiswa. Saya ikut sebuah kegiatan seminar menjelang buka puasa. Sengaja ikut kegiatan tersebut karena yang mengisi acara adalah seorang petinggi negara ini. Dua menteri kabinet langsung yang akan memamparkan tema menarik.

Ruang penuh dan sesak karena melebihi kapasitas. Saya juga tidak mendapat tempat duduk dan kira-kira satu setengah jam berdiri menyimak acara. Meski dalam keadaan puasa, sambil memanggul tas kelebihan beban pula, saya merasa berdiri di sana sepadan dengan inspirasi yang hadir di acara itu.

Lima belas menit menjelang waktu berbuka acara pun usai sudah. Panitia menutup acara dan mengumumkan bahwa mereka menyediakan makanan untuk berbuka puasa, termasuk “makan beratnya”. Ini berkah yang tak saya sangka dan bagi seorang anak kos, makan gratis itu kata kunci yang paling penting.

Begitu pengumuman usai, seluruh peserta mulai bergerak meninggalkan tempat duduk dan tempat berdirinya lalu membentuk antrian yang mengular. Saya menunda ikut-ikutan heboh dengan antrian itu. Meski sangat butuh dengan makanan gratisan, tapi pemandangan rebut-rebutan masuk antrian itu mengusik rasa harga diri saya. “Apaan sih, norak tau…” begitu batin saya berujar.

Setelah antrian mulai stabil, barulah saya ikut serta masuk ke barisan “ular” itu. Waktu berbuka puasa sekitar dua atau tiga menit lagi. Tapi saya masih jauh di barisan belakang antrian. Memang ada sekitar 30 orang lagi yang ada di belakang saya. Mereka juga tampak gelisah karena masuk dalam barisan akhir.

Adzan pun berkumandang, waktunya untuk berbuka. Tapi kami masih terjebak dalam antrian. Sementara, mereka yang sudah mendapat makanan terlihat asyik melahap hidangan yang mereka ambil. Saya sampai kesal dan hampir menyerah dengan lamanya antrian. Tapi saya masih menyimpan harap dan merasa tanggung jika berhenti di tengah perjuangan mendapat jatah makanan gratis.

Setelah ikut mengular lebih dari tiga puluh menit, akhirnya giliran saya tinggal beberapa orang lagi hingga ke meja prasmanan. Dan sialnya, begitu sampai di meja itu ternyata semuanya telah habis. Penjaga katering minta maaf karena sudah tidak ada yang dapat disajikan lagi. Hanya tersisa beberapa cup air mineral. Makanan yang lain ludes sudah.

Kesal saya naik ke ubun-ubun. Saya sudah menunda berbuka puasa setengah jam. Saya sudah capek mengantri dengan memelihara sabar. Begitu di puncak perjuangan, ternyata zonk belaka. Saya ingin sekali memuntahkan serapah dengan amarah. Tapi kepada siapa saya harus melayangkan marah itu?

Petang itu saya merasa sial luar biasa. Terhapus sudah semua inspirasi yang saya teguk di acara sore tadinya. Saya pulang dengan bersungut-sungut. Sial bukan kepalang. Saya merasa sudah berjuang dengan sepenuh hati, tapi lelahnya perjuangan itu sama sekali tak membuahkan hasil. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia.

Kesal yang hadir akibat tak kebagian makan gratis itu membekas berhari-hari. Sampai-sampai saya bingung dengan diri sendiri. Kenapa saya jadi kesal luar biasa dibuatnya? Mungkin karena tidak ada yang bisa saya salahkan. Panitia toh sudah menyampaikan imbauan agar segera mengantri. Penyedia katering juga hanya memenuhi permintaan saja. Mau menyalahkan diri sendiri? Ego dalam diri mengatakan jangan menyalahkan diri sendiri karena kita tidak salah. Mungkin itu sebabnya saya merasa kesal berlarut-larut.

Saya coba menenangkan diri dan mencari hikmah dari kejadian itu. Ini salah satu pendekatan yang saya sering lakukan, yaitu mencari hikmah tersembunyi jika sesuatu tak seperti yang saya inginkan.

Hikmah pertama, bila tersedia kesempatan janganlah anggap remeh dengan kesempatan itu. Bisa saja ia hadir hanya sebentar. Kedua, perjuangan tak selalu mendatangkan hasil. Oleh karena itu kita harus berani menahan ekspektasi. Cita-cita boleh setinggi langit, tetapi ekspektasi harus dijaga agar ketika tak tercapai kita masih bisa mengelola perasaan. Ketiga, kita hanya mampu mengendalikan upaya tetapi hasil akhir masih jadi misteri. Kemungkinan gagal tetap ada walaupun kita sudah memastikan semua proses berlangsung sebaik mungkin. Selalu siapkan dalam hati sebuah ruangan jika nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Ternyata, cara mencari hikmah tersembunyi itu ampuh juga. Saya akhirnya bisa berdamai dengan kesal yang tadinya terus saja berasap dalam benak. Menjelaga memenuhi ruang hati sehingga saya murung berhari-hari. Mungkin ini adalah bagian dari proses pendewasaan diri bahwa sebagai manusia saya harus bisa menerima kenyataan, termasuk pada kenyataan yang tak saya inginkan.

Jadi Tukang Becak

SAAT masih duduk di bangku SMA saya pernah mencicipi jadi pengayuh becak. Ada beberapa kegiatan non akademis yang pernah saya lakoni sewaktu SMA sebenarnya selain jadi tukang becak. Beternak ayam, menjual telur ayam ke warung sebelum masuk sekolah, membantu membuat kue, dan sekaligus menjual kue itu ke sekolah. Pernah juga nyambil jadi tukang ketik dokumen di fotokopian, merapikan buku di perpustakaan dengan imbalan bisa meminjam buku melebihi jatah, menjadi marbot masjid, dan banyak kegiatan seru lainnya.

Tadi pagi saya melewati sebuah pasar di Kota Bandung. Di pinggir jalan saya melihat seorang remaja yang sedang mengayuh becak membawa hasil belanjaan dari pasar. Ini pemandangan agak langka, karena biasanya tukang di becak yang ada di Bandung rata-rata sudah tinggi bilangan umurnya. Pengayuh becak remaja ini saya taksir usianya di angka 15 tahun.

Saya tiba-tiba teringat kenapa saat SMA dulu pernah menjadi pengayuh becak sambilan.

Ceritanya begini.

Di lingkungan tempat saya tinggal sewaktu SMA memang banyak sekali becak karena transportasi utama warga di sana adalah angkot dan becak. Angkot untuk perjalanan yang agak jauh, melintasi kota dan kecamatan. Sedangkan becak untuk transportasi jarak pendek dan menengah.

Suatu ketika saya menumpang becak yang ternyata dikayuh oleh seorang remaja yang usianya beberapa tahun di bawah saya. Ia sudah tidak sekolah lagi dan jikapun sekolah saat itu mungkin masih duduk di bangku SMP. Saat mengayuh becak ia harus berjungkat-jungkit karena kakinya tidak sampai untuk memutar pedal becak. Melewati jalan yang sedikit menanjak ia terlihat sangat kepayahan. Seluruh tenaga seolah habis ia curahkan untuk memutar roda becak. Begitu masuk ke jalanan yang landai cenderung menurun, ia baru melepas senyum lega.

Saya merasa tak sampai hati dengan pemandangan itu. Saya memang membayar naik becaknya dan punya hak diantarkan sampai tujuan. Tapi badan ringkihnya yang masih kecil itu membuat saya jadi tak enak hati. Maka, saya tawarkan kepadanya bagaimana kalau saya saja yang mengayuh becak di sisa perjalanan?

Dia ragu dan menggelengkan kepala tapi tak kuasa menyembunyikan lelah dan peluh yang berkucuran.

“Tidak apa-apa, saya cuma ingin olah raga saja.” Tawaran itu masih saya gencarkan.

Akhirnya dia setuju untuk berganti posisi. Saya duduk di sepeda pengendali becak, dia duduk di kursi penumpang. Ukuran sepeda itu memang sama sekali bukan untuk anak remaja. Saya saja yang sudah SMA masih kesulitan meraih putaran penuh kayuhan. Apalagi dia yang masih lebih bocah. O ya, becak yang saya maksud dalam cerita ini adalah becak dengan sepeda yang berada di samping bukan di belakang seperti kebanyakan becak di Pulau Jawa.

Setelah berjuang mengayuh di tengah sengatan matahari, akhirnya saya berhasil tiba di tempat tujuan. Saya berikan uang ongkos becak kepadanya sesuai tarif. Tapi sebelum berpisah saya tawarkan kepadanya bagaimana kalau besok sore ia datang menjemput dan kami menarik becak bersama-sama.

Tawaran lanjutan itu ia terima. Dan benar saja, esok sore remaja pengayuh becak itu datang menyambangi tempat saya tinggal. Lalu kami pergi menarik becak berdua. Saat penumpang ada, saya yang duduk di kursi utama dan dia di kursi boncengan. Begitu penumpang kosong, dia yang mengayuh becak. Begitu kami mengatur pembagian tugas.

Memang tidak setiap sore saya ikut menarik becak dengannya. Seminggu setidaknya dua atau tiga kali saya menghabiskan satu jam sebelum maghrib tiba bersamanya menarik becak. Saya tak pernah meminta bagian dari hasil menarik becak kolaborasi itu, tapi saya punya opsi naik becak gratis di luar “jam dinas” narik becak bersama.

Partner pengayuh becak saya itu hanya mengeyam pendidikan sampai kelas tiga SD. Ia bahkan belum lancar membaca. Berhitung pun masih agak lamban. Sejak kecil ia tidak tinggal dengan orang tua kandungnya. Ia tinggal di lokasi itu dengan menumpang kepada neneknya. Ia anak yang gigih tapi memang agak nakal, ya… khas nakalnya anak-anak tanpa sentuhan kasih sayang orang tua lah. Tata bahasanya masih ngaco. Tapi saya senang ngobrol dengannya meskipun obrolan kami ngawur ke sana ke mari.

Saya pernah kembali ke tempat itu sekitar sepuluh tahun setelah lulus SMA. Saya mencoba mencarinya kembali tapi tak berhasil menemukannya. Selain wajahnya pasti sudah berubah dari wajah anak remaja menjadi dewasa, saat kami menarik becak dulu ia selalu mengganti-ganti namanya. Dari tadi saya belum mempernalkan namanya bukan? Sebab, saat itu kami juga tak menggunakan nama untuk saling menyapa. Bisa juga ia sudah tak tinggal di sana lagi, tapi yang jelas saya gagal menemukannya.

Dalam ukuran saya, mengayuh becak saat itu hanyalah sekadar permainan mengisi waktu luang. Seru-seruan menjelang adzan maghrib tiba. Tapi pasti berbeda buatnya. Mengayuh atau tidak makan sama sekali.