baca aja ndiri

Posted: August 7, 2008 in Uncategorized
Tags:

For general purposes in Semiotics and Literary Theory, a “narrative” is a story or part of a story. It may be spoken, written or imagined, and it will have one or more points of view representing some or all of the participants or observers. In stories told verbally, there is a person telling the story, a narrator whom the audience can see and/or hear, and who adds layers of meaning to the text nonverbally. The narrator also has the opportunity to monitor the audience’s response to the story and to modify the manner of the telling to clarify content or enhance listener interest. This is distinguishable from the written form in which the author must gauge the readers likely reactions when they are decoding the text and make a final choice of words in the hope of achieving the desired response.

Whatever the form, the content may concern real-world people and events. This is termed personal experience narrative. When the content is fictional, different conventions apply. The text is projecting a narrative voice, but the narrator is ontologically distant, i.e. belongs to an invented or imaginary world, and not the real world. The narrator may be one of the characters in the story. Roland Barthes describes such characters as “paper beings” and fiction comprises their narratives of personal experience as created by the author. When their thoughts are included, this is termed internal focalisation, i.e. when each character’s mind focuses on a particular event, the text reflects his or her reactions.

In written forms, the reader hears the narrator’s voice both through the choice of content and style (the author can encode voices for different emotions and situations, and the voices can either be overt or covert), and through clues that reveal the narrator’s beliefs, values, and ideological stance, as well as the author’s attitude towards people, events, and things. It is customary to distinguish a first-person from a third-person narrative (Gérard Genette uses the terms homodiegetic and heterodiegetic narrative respectively). A homodiegetic narrator describes his or her personal and subjective experiences as a character in the story. Such a narrator cannot know anything more about what goes on in the minds of any of the other characters than is revealed through their actions, whereas a heterodiegetic narrator describes the experiences of the characters who do appear in the story and, if the story’s events are seen through the eyes of a third-person internal focaliser, this is termed a figural narrative. In some stories, the author may be overtly omniscient, and both employ multiple points of view and comment directly on events as they occur.

Tzvetan Todorov (1969) coined the term narratology for the structuralist analysis of any given narrative into its constituent parts to determine their function(s) and relationships. For these purposes, the story is what is narrated as usually a chronological sequence of themes, motives and plot lines. Hence, the plot represents the logical and causal structure of a story, explaining why the events occur. The term discourse is used to describe the stylistic choices that determine how the narrative text or performance finally appears to the audience. One of the stylistic decisions may be to present events in a non-chronological order, say using flashbacks to reveal motivations at a dramatic moment.

tugas narrative

Posted: August 7, 2008 in Uncategorized
Tags:

A narrative or story is a construct created in a suitable format (written, spoken, poetry, prose, images, song, theater, or dance) that describes a sequence of fictional or non-fictional events. It derives from the Latin verb narrare, which means “to recount” and is related to the adjective gnarus, meaning “knowing” or “skilled”.[1] (Ultimately derived from the Proto-Indo-European root gnō-, “to know”.[2]) The word “story” may be used as a synonym of “narrative”, but can also be used to refer to the sequence of events described in a narrative. A narrative can also be told by a character within a larger narrative.

Stories are an important aspect of culture. Many works of art and most works of literature tell stories. Most of the humanities involve stories. Stories are of ancient origin, existing in ancient Egypt, ancient Greek, Chinese, and Indian culture. Stories are also a ubiquitous component of human communication, used as parables and examples used to illustrate points. Storytelling was probably one of the earliest forms of entertainment.

kesenian kalimantan

Posted: August 7, 2008 in amazing
Tags:

Seni Rupa/Ukir
Seni Rupa/Ukir Kalimantan Tengah memiliki corak khas dan unik. Hal ini bisa dilihat dari topeng, perisai, bangunan sandung (tempat menyimpan tulang belulang), hulu dan sarung mandau, patung sapundu dan lain-lain.

Sosial Budaya
Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak, suku ini merupakan masyarakat terbesar yang mendiami Propinsi Kalimantan Tengah bersama dengan berbagai suku lain di Indonesia.
Suku Dayak terbagi atas beberapa sub etnis yang masing-masing memiliki satu kesatuan bahasa, adat istiadat dan budaya. Sub-sub etnis tersebut antara lain Suku Dayak Ngaju (termasuk Bakumpai dan Mendawai), Ot Danum, Ma’anyan, Lawangan, Siang dan lain-lain.
Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mempunyai sifat keterbukaan dan toleransi yang tinggi yang tercermin dalam falsafah Huma Betang. Huma Betang adalah rumah khas Kalteng, berupa rumah besar, dimana dalam satu rumah besar adat (Huma Betang) Dayak Kalimantan Tengah tersebut tinggal bersama-sama bebera pa keluarga dengan segala perbedaannya seperti status sosial, ekonomi maupun aga ma namun tetap hidup secara harmonis.
Gambar: Pakaian adat tradisional putri Dayak.

Sifat gotong royong dalam masyarakat suku Dayak masih tetap terpelihara terutama dalam gerak hidup bermasyarakat yang tercermin dari tradisi kerja Habaring Hurung, Handep dan Harubuh.
Gambar: Huma betang (rumah panjang).
Berbagai ragam dan jenis kesenian tradisional yang masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah antara lain : Seni Tari, Seni Suara, Seni Rupa, Seni Ukir, dan Seni Anyam-anyaman. Seni Suara berupa lagu -lagu Daerah dikenal dengan istilah : Karungut, Kandan, Parung, Karinci Seni anyaman yang memiliki beragam corak terus dikembang oleh masyarakat sebagai kerajinan rakyat.
Kerajinan anyaman tersebut antara lain yang terbuat dari rotan, bambu, pandan dan purun. Disamping itu juga berkembang berbagai kerajinan etnik (tradisional) yang terbuat purun, getah nyatu serta bahan kayu. Seni ukir dapat disaksikan pada pembuatan benda-benda seperti Talawang (Peri- sai), bangunan Sandung, hulu dan sarung senjata khas Da- yak Mandau, patung (Sapundu) dan bangunan pada rumah rumah adat.
Disamping berbagai kerajinan Kalimantan Tengah juga kaya akan berbagai kegiatan upacara adat / ritual seperti Tiwah, Manyanggar, Mamapas Lewu (bersih desa), Mampakanan Sahur Parapah.Tiwah merupakan upacara ritual agama Kaharingan, yaitu mengantarkan arwah orang yang telah meninggal ke Lewu Tatau (sorga). Acara ini memakan waktu yang cukup lama sekitar satu bulan atau lebih.
Gambar: Sandung (tempat menyimpan tulang belulang orang mati).
Sumpit yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut ‘sipet’ merupakan senjata tradisional yang sudah dikenal sejak jaman dahoeloe kala. Sipet terbuat dari kayu ulin yang dibentuk dan dilobangi bagian dalamnya sehingga menyerupai pipa lurus, dengan ukuran diameter bagian luar sekitar 3 cm, diameter rongga dalam sekitar 0,75 cm dan panjang sekitar 200 cm. Setelah diraut dan digosok sampai rapi, biasanya kayu ulin tersebut menjadi berwarna hitam mengkilat sehingga permukaannya mirip seperti logam. Pada bagian ujung depan pipa tadi dipasang dua macam aksesori yang terbuat dari besi, yaitu di sisi sebelah bawah dipasang mata tombak yang tajam, dan pada sisi sebelah atas dipasang besi kecil menyerupai pisir pada ujung laras senjata api, yang berguna sebagai alat bantu untuk membidik sasaran. Kedua aksesori tersebut dilekatkan pada batang sipet menggunakan rotan yang dianyam sedemikian rupa sehingga terlihat rapi, kuat dan artistik. Bagian permukaan batang sipet terkadang dihiasi dengan ukiran relief atau ornamen dengan motif khas Dayak.
Kegunaan utama sipet adalah sebagai senjata atau alat berburu, walaupun bisa juga digunakan sebagai senjata pada saat berperang. Sebagai senjata, ia dilengkapi dengan peluru yang dimasukkan ke dalam lobang laras dan dilontarkan ke arah sasaran dengan cara ditiup menggunakan mulut. Jenis pelurunya ada 2 macam. Jenis pertama terbuat dari tanah liat dalam keadaan setengah basah dibentuk berupa bola-bola kecil sebesar ukuran lubang laras, biasanya digunakan untuk jarak dekat (sekitar 5 meter) untuk berburu binatang kecil misalnya tupai dan burung-burung yang terbang rendah. Jenis peluru yang kedua disebut damek atau lahes, terbuat dari bilah bambu yang diruncingkan seperti anak panah dan di bagian belakangnya dipasang potongan kayu gabus untuk mengatur arah, kurang lebih berfungsi sama dengan bulu angsa yang dipasang pada shuttlecock (bola badminton). Lahes tersebut dibuat dalam jumlah banyak, disimpan di dalam tabung bambu yang sudah diisi dengan cairan ‘bisa atau racun’ dari binatang liar, sehingga apabila melukai sedikit saja tubuh hewan sasaran akan langsung mematikan. Biasanya lahes digunakan untuk berburu hewan yang lebih besar, misalnya kancil, kijang atau hewan primata (misalnya monyet dll) yang tinggal di atas pohon-pohon tinggi.
Suatu hal yang unik pada sumpit ialah ketika pelurunya dilontarkan menuju sasaran, tidak akan terdengar bunyi apapun yang membuat sasarannya mengetahui dari mana sumber asal serangan. Hal ini berbeda dengan senapan atau senjata api. Konon hal ini jugalah yang membuat Belanda kewalahan dalam perang gerilya melawan suku Dayak di Kalimantan. Kita tahu bahwa sebagai bangsa Eropah, orang Belanda itu mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap setiap hal yang belum dimengerti olehnya. Suatu ketika pasukan serdadu Belanda melintasi hutan. Kebetulan tidak jauh dari situ ada beberapa orang suku Dayak sedang mengintai. Merekapun melontarkan peluru sumpit dari tanah liat yang sengaja diarahkan pada sebatang pohon di depan salah seorang serdadu Belanda. Para serdadu tadi langsung berkerumun meneliti benda apakah gerangan yang tiba-tiba melesat di depan hidungnya. Ketika mereka asyik berkerumun itulah mereka diserang dengan peluru beneran, yaitu lahes yang mengandung racun.
Pada masa kini, anak-anak Dayak di daerah pedalaman Kalimantan masing sering bermain perang-perangan menggunakan ‘sumpit-sumpitan’ yang terbuat dari ruas bambu kecil dengan peluru tanah liat. Meskipun maksudnya cuma sekedar main-main tapi sesekali peluru tanah tersebut sering juga tanpa disengaja mengenai tubuh lawan.

Seni dan Budaya
Seni Tari
Kalimantan Tengah memiliki beragam jenis tarian tradisional yang memiliki nilai seni yang tinggi. Salah satu diantaranya adalah tari Manasai, sebuah tarian sebagai ucapan ”Selamat Datang” kepada para tamu yang berkunjung.
Seni Rupa/Ukir
Seni Rupa/Ukir Kalimantan Tengah memiliki corak khas dan unik. Hal ini bisa dilihat dari topeng, perisai, bangunan sandung (tempat menyimpan tulang belulang), hulu dan sarung mandau, patung sapundu dan lain-lain.
Seni Suara
Dalam hal Seni Suara Kalimantan Tengah memiliki lagu-lagu daerah seperti : Karungut, Leot, Sansana, Deder,dan lain-lain.
Seni Anyaman/Kerajinan
Kalimantan Tengah memiliki beragam jenis kerajinan rakyat yang berbahan rotan, pandan, purun, getah nyatu serta perhiasan dari batu alam Kalimantan Tengah lain yang sangat menarik untuk dijadikan Souvenir (Cenderamata).
Senjata Khas/Tradisional
Suku Dayak memiliki senjata khas/tradisional seperti : Mandau, Sipet (Sumpitan), Lunjo (Lembang), Duhung (sejenis keris), semua memiliki bentuk dan artistik yang cukup tinggi.
Transportasi Tradisional
Sesuai kondisi alamnya, Suku Dayak banyak menggunakan perahu sebagai jenis transportasi. Jenis-jenis perahu tradisional Suku Dayak : Jukung Rangkan dan Banama.

ayoo semua kunjungi web saya

Posted: August 6, 2008 in Uncategorized

Hello world!

Posted: August 2, 2008 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!