Cara Mudah Membuat Puisi Jadi Indah

Banyak yang merasa tidak bisa menulis puisi, mungkin termasuk anda. Bahkan ada pula yang piawai menulis cerpen atau novel, menyerah begitu saja bila diajak menulis puisi. Menulis puisi sesungguhnya hal yang mudah dilakukan, tapi untuk menghasilkan puisi yang indah tentu saja tidak gampang.

Namun demikian janganlah mengklaim diri kita sendiri sebagai seorang yang tak pandai menulis puisi, sebab tentu masih ada beberapa trik yang mungkin bisa anda coba terapkan agar karya puisi anda bisa tampil lebih indah.

Puisi yang selalu tertib rimanya, tidak serta merta sebagai ukuran bahwa puisi tersebut indah. Masih banyak faktor lainnya yang menunjang kualitas dari sebuah puisi. Bahkan puisi ciptaan WS Rendra sekalipun, juga tidak pernah secara konsisten mempertahankan rima.

Jika memang demikian, hal apa yang menyebabkan sebuah puisi itu bisa begitu indah bila dibaca ?

Apakah dengan memilih kata atau diksi yang tepat ? Ya, itu juga sebagian yang perlu dipertimbangkan, tetapi itu tidak mutlak. Maksudnya adalah penggunaan kata yang biasa kita pakai sehari hari pun juga sah sah saja untuk kita rangkai didalam sebuah puisi.

Saya tidak akan mengajak anda untuk berpikir terlalu berat dalam mamahami apa yang sedang saya maksudkan disini. Menurut pengamatan saya, puisi yang indah itu adalah yang memenuhi beberapa kriteria dibawah ini :

1. Pemilihan tema
Baca lebih lanjut

Sebuah Karcis parkir terakhir

kisah nyata seorang pelajar Magang 

kmarin adalah hari terakhir gue magang, rasanya cepet banget 2 bulan, gak terasa pas gue pertama kali kesini , ke RTC diponegoro, sewaktu gue masuk lewat depan, gue ditanya tanyain ‘ mas mau cari apa?’ , ‘mas laptop mas’ ‘ mas flaskdisk mas?’ di setiap langkah gue , gue ngerasa kayak tersangka korupsi , seandai nya gue tanya balik ‘ mas disini ada orang jual benang? ‘ , pasti dia langsung mingkem , ada yang salah

dengan sistem promosi di indonesia , customer selalu di manjakan dengan rekomendasi yang berlebihan, tapi itu ada alasan nya, “demi sesuap nasi” , kembali pada saat gue survey tempat magang, waktu itu gue masih cupu kalo berhadapan sama orang lain, masih canggung dan masih deg deg serr. walaupun gue sebelumnya sudah magang instalasi negara yang isi nya manusia manusia pintar, tapi gue masih canggung untuk bersosialisasi, sesampainya di lantai 3 yang biasanya toko toko disana merupakan toko servis hingga jaringan, gue ber tiga bingung mau cari dimana, akhir nya ada seorang pemuda yang terlihat sedikit sudah tua menawar kan gue tempat magang ‘ mau nyarik apa dek?’ tanya pemuda itu ke gue ‘ mau nyari tempat magang mas’ sahut gue, ‘ oooo.. , disini aja magang dek ‘ sahut pemuda itu , ‘ hmm.. bisa ya mas? , nama toko nya apa mas? ‘ gue nanya lagi, ‘ bisa.. bawa aja surat pengantar nya’ , singkat cerita beberapa hari kemudian gue datengin tempat magang tersebut , dengan membawa surat pengantar, berharap ada balasan, dan gue ketemu dengan pegawai nya lagi saru , dia cewek dengan kulit putih rambut menjuntai kedepan dengan mata merah.. , lhoo.. emang kuntilanak, bukan, dia kulit putih, kayak nya masih muda sekitar 20

Baca lebih lanjut

Rumah Untukmu

senja merona merah
resap hangatkan tubuh
ingatkanku pada
peluk mu yang selalu ada

bagai hembusan angin
sejuk dan segarkan
jiwa yang telah lama
sepi dari cinta

insan bumi tau kau lah yang terindah di hati sang pujangga
warnai hari hari resah, yang kini lebur berwana
dan kelak kau kan dapati dunia disisimu dan jika kau tak sanggup
hilang lah dan dantang kembali disini

aku kan slalu ada
ada dan slalu ada
menjadi rumah untukmu pulang kembali
rumah sederhana
rapuh dan lemah
beratap bintang, beratap ilalang, beralaskan udara
tapi semua indah

Keegoisan

berasal dari kata Ego yang berarti keinginan , dan mendapat imbuhan ‘is’ menjadi keinginan untuk diri sendiri. pernahkah kita menuduh orang adalah egois? pertanyaan mendasar tapi cukup tepat. jika saya pernah tentunya. mungkin karna kekesalan itu memuncak ketika orang itu terlihat mementingkan dirinya sendiri. pernahkah saya egois? pertanyaan mendasar lagi tapi kali ini menurut saya tepat, jika saya mendapat pertanyaan seperti itu saya jawab ia.

kadang kala tak ada salahnya untuk mementingkan dirisendiri tapi tidak mengganggu orang lain atau merugikan orang lain, apakah itu bisa dibilang egois? tentu saja ia, tapi tidak begitu juga. kadang kala egois itu tidak buruk, ini tentang seorang teman yang meminta softcopy tugas yang telah saya buat dengan berpikir keras. ketika ia meminta dengan seenaknya, saya lebih memilih mengaku tidak mengerjakan, biarkanlah image saya menjadi jelek. buruk bagi saya? tidak! , bahkan jika saya memerikannya salinan tugas saya, dia tidak akan mengerti apapun. buruk bagi saya?

 

Lingkaran

cerminaku tau ini bukan hal yang baik untuk dibicarakan, tapi apa daya, aku tak tau harus berbicara dengan siapa. aku seperti berdiri di depan cermin kusam, persis seperti aku tampak sebagai gambaran yang tertera dan terpantul sebagai bayangan. aku yang tak tau harus berbicara apa pada diriku sendiri, satu hal yang aku miliki saat ini hanya sebuah keyakinan dimana tak ada harapan dikeyakinan itu. jika kau sedang berdiri diposisiku aku akan bertanya apa yang kau lakukan? , apa bisa kau bergerak diantara dilema pelik yang kau hadapi? ,dan bayangan yang ku sebut itu diriku tidak bisa menjawabnya. aku mungkin bisa saja melarikan diri dari apa yang kuhadapi sekarang tapi aku tidak terbiasa seperti itu, ada dua perasaan manusia yang sedang aku pikirkan, keduanya sama sama wanita. Baca lebih lanjut