Test RSS Feed
Lagi ngetest fungsi RSS Feed di aplikasi Android. Semoga bisa jalan seperti yang diinginkan. Test yak.
Keabadian
Semu memelukku erat pada dunia
Hidupku mengalir diantaranya
“Tiada yang abadi!”
Dulu itu yang aku percaya
karena semua orang juga percaya
Lalu aku menyadari kehadiranmu
Semua semu jadi bayanng-bayang belaka
Seiring kesejatian sejati mulai nyata
Cahayamu lembut membelah langit
Membuka segala tabir yang menggantung
Jernih sudah tanpa penghalang
Maka kini kubisikkan selembut desiran sang bayu:
“Tiada abadi
kecuali bersamamu.”
14 Juni 2009, Jakarta
Wanita Penghibur Malam
Dentum musik memekakkan isak
Temaram menyembunyikan mesum
Pada sepetak malamnya Jakarta
Memenuhi nafsu para pemburu malam
Wanita itu terus bergemulai
Memancing birahi-birahi menuju puncak
Untuk sebuah harga yang merelakan enggan
Rintihan sesal tertelan kebutuhan tak tertahan
Akan mimpi hari esok yang lebih baik.
Pagi menyapa sejuknya Jakarta
Menyembunyikan busuknya malam
Yang baru saja dilalui sang wanita
Sekejap tampak damai dalam tidurnya
Pada dipan yang penuh ngengat di gubuk reyot
Sepucuk kertas menceritakan cerita
Tentang uang yang harus dikirim esok
Agar sang buah hati dapat terus bersekolah
Demi sebuah cita-cita masa depan yang sangat biasa
Mimpi sang anak untuk mencecap hidup yang lebih baik.
Tidak usahlah kau ribut dengan ceramahmu
Tentang moralitas yang dibungkus dogma agama
Tentang Surga yang tidak dapat mengenyangkan
Tentang Neraka yang tidak semenakutkan dikeluarkan dari sekolah
Tolong kali ini saja, aku memohon,
Kau Biarkanlah sang wanita menikmati jedanya
Yang hanya sebentar, sebelum malam datang lagi untuk dihibur.
14 Juni 2009, Jakarta
Kala malam mendekap jiwa
Apa Merdeka?
Telah 16 Agustus 2009
Malam pekat tanpa gemintang
Hanya ada kelam menyapa tengadahku
Ingatan kelu menahun, mengada
Kemeriahan pada hari setelah 16 Agustus
Wajah-wajah ceria tertawa bersama
Merdeka sehari dari beban hidup
Ah….
Rasa bersalah tiba-tiba menyergap
Akan diri yang sudah tidak dapat tulus
Melebur ceria dalam kemerdekaan sehari itu
Karena sebuah tanya: “Apa merdeka?”
Tengadahku masih hanya kelam
Tiada jawaban, hanya hitam.
16 Agustus 2009, Jakarta
Malam jelang merdeka?
Adu Argumen
Atmosfer mengelam menekan ruang yang ada. Penuh argumen basi saling menyerang tanpa malu. Memenuhi udara dengan bebauan yang membuat muntah. Para pelaku tampak sangat bersemangat, membombardir dan juga mementahkan argumen-argumen yang betebaran tidak jelas punya siapa.
Yang penting menghantam. Dan logikapun menjadi terpinggirkan karenanya. Pelaku masih saja bersemangat. Mereka tidak peduli para penonton sudah pasi, memuntahkan segala kemualan tanpa sisa. Juga ada heran akan argumen ajaib tanpa logika yang diklaim sebagai kebenaran mutlak.
Setelah lama, para penonton akhirnya dapat bernafas lega, asupan kebasian sudah semakin berkurang. Para pelaku argumen tampak sudah puas. Wajah-wajah jelas memancarkan rasa puas serupa kepuasan setelah masturbasi. Lalu dengan pongah tiap pihak mengklaim telah memenangkan lomba masturbasi kata itu.
14 April 2009, Jakarta
merefleksi perdebatan
Michael Jackson Meninggal
Yah, akhirnya sang king of pop ini meninggalkan dunia yang berisi banyak pemujanya. Saya memang bukan pemuja beliau, bahkan sering kali tidak dapat menikmati lagu-lagunya.
Tapi tidak percuma memang beliau dijuluki king of pop sebab ada saja lagunya yang nyangkut di hati orang yang bahkan tidak terlalu menyukai lagu-lagunya. Ya, seperti saya ini contohnya, saya sangat menikmati lagu beliau yang berjudul Heal The World. Bahkan saya sampai bergetar tiap kali mendengar lagu tersebut.
Selamat jalan wahai king of pop. Selamat kembali ke asal. Terimakasih untuk warisanmu pada dunia ini.
Kesempatan
Kesempatan telah kuciptakan
Tapi tetap cinta itu tidak berkenan
Maka ya sudah, kuucapkan :
“Terimakasih atas segalanya.”
Kan kucari pada kesempatan-kesempatan lain
Yang juga menawarkan cinta
Mengemerlap bagai bintang dalam gelap
Walau dengan defenisi yang berbeda
Tidak mengapa dengan perbedaan
Sebab cinta adalah cinta
Walau dalam pemahaman yang tidak sama
Niscaya tetap akan membahagiakan.
23 February 2009, Jakarta
Tengah malam, merenung cinta
Cerita Bromocorah
Kugores malam dengan sebuah cerita. Cerita yang begitu gelap, lebih pekat dari malam tanpa bintang. Menyebar amis darah di dalam-nya. Ketika hidup harus memilih antara membunuh atau dibunuh.
Itulah hidupku, disemua gemerlap kelip lampu-lampu yang menghias transaksiku. Antara tubuh-tubuh yang menggeliat menggila, dan semakin gila setelah transaksiku. Dentuman house musik menenggelamkan segala nurani yang masih tersisa.
Ada lagi yang mati malam ini. Itu bukan aku, karena aku masih bisa menceritakan hidupku. Dia mati untuk memberiku jalan hidup. Membiarkan transaksiku tidak akan pernah menjadi sedikit. Amis darahnya membuatku muntah.
Aku tidak ingin membuat mati. Tapi sudah tidak ada jalan lain, maka kutelan segala amis. Tubuh itu akhirnya menjadi beku. Sempat kuucapkan doa yang masih kuingat sepenggal. Doa untukku dan untuknya.
Terserah apapun katamu. Ini adalah hidupku. Ini adalah ceritaku. Jangan bohongi aku dengan segala kemilau yang disebut suci itu. Aku tidak butuh. Yang aku butuh hanyalah malam yang paling pekat.
Kan kupeluk malam sampai hariku tiba. Sampai saatnya untuk memeluk sang maut.
19 Februari 2009, Jakarta
Malam pekat setelah hujan.

