Siapa sih arek soroboyo yg ga kenal kata2 ini. ” Jancuk”. Iya, kata2 yg bagi sebagian besar orang dianggap sebagai kata-kata kotor dan kata makian ini sekarang menjadi sebuah menu makanan baru di salah satu hotel di Surabaya. Di Surabaya Plasa Hotel tepatnya.
Diceritakan dari kompas.com , ide pembuatan nasi goreng jancuk ini berawal dari cerita Executif Chief Surabaya Plasa Hotel, cak Eko Sugeng Purwanto. Saat itu, Eko dan para head department surabaya plasa hotel sedang kumpul2 di cafe dan dalam kondisi sangat lapar atau lapar berat. Nah, teman2nya tersebut meminta Eko utk membuatkan nasi goreng. Tapi nasi goreng ini harus beda dari biasanya.
Padahal saat itu Eko sedang capek2nya dan kemudian keluarlah kata-kata jancuknya khas suroboyoan. ” Jancuk, aku sik kesel “. katanya. Namun ia pun tetap membuatkan nasi goreng tersebut. Mungkin karena dia juga lapar banget. hehe..:) Maka jadi jugalah nasi goreng tersebut. Luar biasa,…Nasi goreng ini memang berbeda dari biasanya. Perbedaannya terletak pada penambahan sambal terasi dan 20 cabai rawit. Dari sisi porsinya pun, satu porsi bisa utk 4-5 orang. Akibat terlalu pedasnya nasi goreng tersebut, maka teman2nya pun mengeluarkan kata-kata khasnya. ” Jancuk, koq pedes yo”. Ingin mencoba ??? Silahkan ajak temen2 anda dan makan bareng2, pasti dijamin maknyus dan anda bilang ” Jancuk, uenak e rek” hehe..:)
ARTI KATA JANCUK
Sebenarnya saya mengenal kata ini jauh sebelum saya hijrah dan menjadi penduduk kota Surabaya. Karena saya lahir dan besar juga masih di daerah Jawa Timuran, kata “Jancuk” sering terdengar melintas di telinga saya. Tapi saat itu, saya menganggap bahwa kata2 ini adalah kata2 kotor dan paling tidak sopan di daerah saya pada waktu itu.
Namun, ketika saya mulai berinteraksi dengan Surabaya, karena saya kuliah di Surabaya dan akhirnya kecanthol arek suroboyo sebagai pendamping hidup saya, maka kata2 jancuk merupakan bahasa pergaulan dan menjadi bahasa “gaul” orang2 surabaya dan sekitarnya. Tapi istri saya ga pernah ngucapin kata2 tersebut. Tidak ada lagi kesan makian atau menghujat.
Penerapan kata “jancuk” memang bisa dipakai di dua tempat berbeda yang uniknya justru sangat bertolak belakang kondisinya. Kata jancuk bisa dipakai utk orang yg marah dan sekaligus bisa dipakai utk salam persahabatan dan pertemanan. Saya ngga usah mencotohkan utk org yg marah. Saya yakin, semua udah pada tahu. Tapi utk pergaulan, saya biasa bilang ; ” Yo opo kabare cuk ?”, ” Jancuk, tambah lemu kon”. dll yang sifatnya mengakrabkan dan sebagai pembuka obrolan.
Kata jancuk juga bisa digunakan untuk mengekspresikan penekanan pada sesuatu. Baik yg bersifat negatif maupun yg bersifat positif. Contoh yg negatif : ” jancuk elek-e gambar iku”. Ini menandakan bahwa gambar tersebut benar2 jelek dan bahkan sangat jelek. contoh positf : ” jancuk, ayune arek iku”. Ini menandakan bahwa cewek tersebut memang sangat cantik. Mungkin tamara blesinky lagi lewat hehe..:).
Pernah saya juga membaca, bahwa kata2 jancuk merupakan kata2 keramat arek2 suroboyo dalam mengusir penjajah. Ejaan lama kata jancuk adalah “DjanTjuk”. Yang berarti ” DJANdji seTija Untuk…”. Dalam suasana dijajah, tentu yg diharapkan adalah kemerdekaan. Maka muncullah ” Djandji setija untuk merdeka”. Disingkat DjanTjuk MERDEKA. Dan inilah konon yg membangkitkan semangat arek2 suroboy dalam menumpas penjajah.
Seiring dengan penyebaran arek2 suroboyo yg melanglang buana, kata jancuk kemudian semakin menyebar. Tak ketinggalan menyebar ke arah barat. Jawa tengah, solo, Yogya, Bandung bahkan Jakarta, sering kita mendengar kata-kata ini.
Mohon maaf kalau tulisan ini tidak etis dan tidak sopan. Saya hanya menuliskan uneg2 yg ada di pikiran saya dan tidak bermaksud utk “misu” atau mengumpat siapapun.