Hadist tentang menjaga lisan

Hadits ini termaktub dalam Sunan Ibn Majah no. 3963 dan Sunan at-Tirmidzi no. 2541 serta dinilai oleh At-Tirmidzi sebagai hasan shahih.

سنن الترمذي ٢٥٤١: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الصَّنْعَانِيُّ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ
كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنْ النَّارِ قَالَ لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ قَالَ ثُمَّ تَلَا
{ تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ حَتَّى بَلَغَ يَعْمَلُونَ }
ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ قُلْتُ بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Sunan Tirmidzi 2541:

Image

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mu’adz ash Shan’ani, dari Ma’mar dari ‘Ashim bin Abi an Najud, dari Abu Wail dari Mu’adz bin Jabal dia berkata:

Saya pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, suatu pagi aku berada dekat dari beliau, dan kami sedang bepergian, maka saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang suatu amal yang akan memasukkanku kedalam surga dan menjauhkanku dari neraka.’

Beliau menjawab: “Kamu telah menanyakan kepadaku tentang perkara yang besar, padahal sungguh ia merupakan perkara ringan bagi orang yang telah Allah jadikan ringan baginya, yaitu: Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.”

Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan pada pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai dan sedekah akan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seorang laki-laki pada pertengahan malam.”

Kemudian beliau membaca: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

(16) Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 16-17). Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku tunjukkan pokok perkara agama, tiang dan puncaknya?” Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda: “Pokok dari perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad.’ Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku kabarkan dengan sesuatu yang menguatkan itu semua?”

Aku menjawab: ‘Ya, wahai Nabi Allah.’ Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda: “‘Tahanlah (lidah) mu ini.”

Aku bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, (Apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan? ‘

Beliau menjawab: “(Celakalah kamu) ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz,

Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka melainkan karena hasil ucapan lisan mereka?” Abu Isa berkata: ‘Ini hadits hasan shahih.’

Imam Ahmad bin Hanbal

Image

Nama dan garis keturunan

Dia adalah Shaikhul-Islam, salah satu ulama terkemuka, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal ash-Shabani. Dia berasal dari Baghdad.

Kakeknya Hanbal adalah salah satu pendukung perjuangan Abbasiyah, dan merupakan gubernur Sarkhas selama periode Umayyah. Ayahnya Muhammad adalah seorang tentara. Sukunya adalah Shaiban, yang dikenal karena keberanian dan kesatria. Imam Ahmad adalah keturunan dari garis keturunan Arab murni yang bertepatan dengan garis keturunan Nabi & di Nizar bin Ma’dd bin ‘Adnan, dari (klan) Bakr bin Wa’il. Ibunya adalah Safiyyah bint Maimoonah, yang juga berasal dari suku Shaiban, dari klan Banu ‘Amir.

Imam Ahmad lahir dan besar di Baghdad. Ia lahir di Rabee’ul-Awwal 164 H. Ayahnya Muhammad meninggal muda di usia tiga puluh tahun, dan Imam Ahmad dibesarkan sebagai yatim piatu, itulah alasan mengapa ia belajar mandiri sejak kecil.

Studinya tentang hadit dan syekhnya

Ketika dia menyelesaikan pendidikan dasar (kuttab) dan mencapai usia empat belas tahun, dia mulai menghadiri lingkaran belajar di tingkat pendidikan yang lebih tinggi (di deewan). Kemudian dia mulai fokus mempelajari hindeeth di 179 H. Pertama-tama dia belajar dengan Imam Abu Yoosuf al-Qadi. Dia melewatkan belajar dengan Ibnul-Mubarak ketika dia datang ke Baghdad (dia tidak bertemu dengannya karena Ibnul-Mubarak memiliki aircady berangkat untuk kampanye melawan Bizantium). Dan dia tetap dekat dengan Hushaim bin Basheer sampai yang terakhir meninggal (183 H). Dalam lingkaran studi ini dia juga mendengar kematian Imam Malik. Kemudian dia pergi ke Koofah di mana dia menjadi terkenal sebagai otoritas atas laporan yang diriwayatkan dari Hushaim. Dia menghafal semua buku Wakee’, dan sangat dihargai oleh Imam Wakee’. Dia berangkat ke Basrah pada tahun 186 H, di mana dia menuliskan tiga ratus ribu hadis dari Bahz bin Asad (d.197-H) dan ‘Affan (J. 220 H). Narator berkata: Saya pikir dia berkata: dan Rawh bin ‘Ubadah (d.205 H). Dia melakukan perjalanan ke Hiaz di 191 AH dan kembali ke Basrah pada 194 H, di mana ia menghadiri lingkaran Sa’eed al-Qattan. Kemudian dia pergi ke Wasit, di mana dia belajar dari Imam Yazeed bin Haroon. Dia kembali ke Mekah pada tahun 197 H, di mana dia memimpin lingkaran studi di Masiid al-Khaif dan mengeluarkan banyak fatwa di sana ketika Ibnu Uyainah Masih hidup.

3 Layer dalam model Three Tier

1. Layer User Interface

Layer user interface merupakan bagian dari aplikasi kita yang akan berinteraksi dengan user. Layer ini menampilkan semua data yang diperlukan menggunakan objek-objek window. Layer ini juga menerima input dan modifikasi user terhadap data dengam menggunakan objek-objek window

Apa yang sebaiknya termasuk dalam Layer User Interface ?

  • Menerima event. Layer ini mempunyai respon setiap terjadi event seperti pada saat, tombol ditekan, pergerakan mouse, dll.
  • Bertindak setiap kali terjadi perubahan dalam user interface, seperti menangktifkan, menon-aktifkan control-control yang ada dalam user interface.
  • Memproses transaksi yang ada dengan cara mengirim data-data yang diterima dari user dan mengirimkannya ke komponen lain (business service) yang akan melakukan proses bisnis di dalamnya.

Baca lebih lanjut

Perhitungan Gain Antena Parabolik

Gain antena parabolik sangat bervariasi tergantung dari diameternya, kaitan antara besarnya gain dengan diameter parabola dilukiskan dengan persamaan berikut ini:

ant

rs2………….(1)

rs21…………………………………(2)

G = Gain (penguatan)

π = 3,14

D = diameter (meter)

F = Fokus (meter)

ld= panjang gelombang (meter)

Baca lebih lanjut

Kurang Tidur Picu Pengerasan Arteri Dan Hubungannya Dengan Stres

Penelitian menunjukan bahwa orang-orang yang kurang tidur cenderung mengalami pengapuran dinding pembuluh darah arteri, yang merupakan penyebab penyakit jantung. Pengapuran arteri ditemukan pada satu pertiga dari orang-orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam.

Baca lebih lanjut

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai