Latest Event Updates
Momentics IDE Crash on Kubuntu 13.10
If you are a Blackberry developer and Kubuntu user like me, may be you get your Momentics IDE crash on Kubuntu 13.10. Something like:
#
# A fatal error has been detected by the Java Runtime Environment:
#
# SIGSEGV (0xb) at pc=0xf3cc2bfe, pid=5094, tid=4149470912
#
# JRE version: 6.0_43-b01
# Java VM: Java HotSpot(TM) Client VM (20.14-b01 mixed mode, sharing linux-x86 )
# Problematic frame:
# C [libgobject-2.0.so.0+0x16bfe] __float128+0x1e
#
# An error report file with more information is saved as:
# /home/haikal/bin/bbndk/hs_err_pid5094.log
#
# If you would like to submit a bug report, please visit:
# http://java.sun.com/webapps/bugreport/crash.jsp
# The crash happened outside the Java Virtual Machine in native code.
# See problematic frame for where to report the bug.
#
Aborted (core dumped)
will appears if you did some action. On some cases, the problem was not “libgobject-2.0.so.0”, but “libgtk-x11-2.0.so.0+0” something. Here is the solution that works for me. Open System Settings > Application Appearance > GTK > Select a GTK2 Theme. Choose whatever you want, except “oxygen-gtk”. That’s it.
Memasang Android SDK di Arch Linux 64-bit
Sudah tiga hari ini Arch Linux 64-bit terpasang di komputer Thinkpad T400 saya. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, akhir minggu ini saya akan mencoba belajar pemrograman Android (apa?! hari gini baru belajar?). Telat? Memang. Masalah? 😐
Setelah berhasil memasang si Arch dengan “berdarah-darah”, unduh SDK Android, pasang jdk, pasang Eclipse, pasang plugin ADT di Eclipse, masalah mulai muncul. Setiap kali Eclipse dijalankan, atau perintah “adb” yang ada di direktori “platform-tools” SDK Android dijalankan di terminal, akan muncul error “./adb: no such file or directory”. Hal ini disebabkan karena pak “adb” ini membutuhkan beberapa library 32 bit, sedangkan linux yang digunakan adalah 64 bit. Di Ubuntu atau Debian dan turunannya, hal ini bisa dipecahkan dengan memasang paket “ia32-libs”. Nah, bagaimana dengan Arch Linux? Gak ada yang namanya paket ia32-libs. Begini caranya..
Pertama, aktifkan repository “multilib” dengan meniadakan komentar di file /etc/pacman.conf di baris-baris:
[multilib]
SigLevel = PackageRequired
Include = /etc/pacman.d/mirrorlist
Jalankan perintah:
# pacman -Sy
untuk sinkronisasi dengan lumbung paket Arch Linux. Kemudian pasang paket-paket berikut:
lib32-alsa-lib
lib32-libstdc++5
lib32-libxv
lib32-ncurses
lib32-openal
lib32-sdl
lib32-zlib
swt
lib32-gcc-libs
lib32-ncurses
Bagaimana cara memasang paket di Arch Linux? Ah, masa gitu aja gak tahu 😀
Makan Ketika Lapar dan Olahragalah!
Beberapa hari terakhir ini berat badan saya naik. Dari yang semula sekitar sebulan yang lalu 55 kilogram, sekarang menjadi 58 kilogram. Lantas dengan naiknya berat badan apakah pipi saya jadi lebih tembem? Atau otot-otot saya menjadi lebih kekar? Ternyata tidak. Karena penambahan berat badan tersebut hanya memberi efek atau merupakan efek dari perubahan yang terjadi pada satu bagian tubuh saya, perut! Hahaha.
Ya, perut saya menjadi sedikit lebih gemblung. Kalau saya ingat-ingat, sebelum berat badan saya naik, nafsu makan saya memang bertambah. Sebelum nafsu makan saya bertambah, saya memang mulai rajin berolahraga, jogging. Sejak lulus SMA sampe lulus kuliah, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya berolahraga atas dasar kemauan sendiri. Hehe. Tapi, hanya beberapa kali jogging, kemudian berhari-hari setelah itu saya tidak pernah jogging lagi. Tapi masih dengan nafsu makan yang menggebu-gebu! Dan gemblunglah perut ini.
Efeknya ga enak, penampilan menjadi kurang menarik (tentu saja aslinya menarik). Selain itu, badan terasa lebih berat. Mau ngapa-ngapain berat rasanya, males. Untuk mengatasinya saya kira hanya butuh dua hal. Pertama, makanlah hanya ketika kita memang membutuhkan, yakni saat lapar, seperti yang sudah saya praktekkan beberapa hari ini. Dan rajinlah olahraga Kal! secara itu sepatu jogging udah lama nganggur
Urinoir Dengan Sekat
Urinoir. Awalnya saya agak kesulitan mengingat istilah ini. Setelah mencari-cari di mesin pencari Google dengan beberapa kata kunci seperti “tempat kencing pria”, “tempat kencing”, akhirnya ketemu juga di tulisan tentang Toilet di Wikipedia.
Pagi ini saya menghadiri acara yang diadakan oleh teman-teman komunitas Ayo Belajar Linux di BLC Tekom Margoyoso, Surabaya. Materi yang disampaikan membahas sebuah distribusi Linux portabel, Porteus. Tapi dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang acara tersebut. Yang menarik perhatian saya adalah dari tiga urinoir yang ada di toilet pria BLC Telkom (hmm, saya tidak menemukan toilet wanita di sebelahnya), ada satu urinoir yang berbeda, dia memiliki sebuah sekat plastik transparan di bagian depan. Karena waktu itu saya tidak terpikir untuk mengambil gambar, maka gambarnya saya ambilkan dari blog Pak Rahmat Samik Ibrahim saja. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan gambar berikut.
Sebenarnya saya bukan orang yang terlalu suka menggunakan urinoir sebagai tempat buang air kecil. Saya lebih suka menggunakan closet tempat orang buang air besar itu, kecuali kalau terpaksa sudah kebelet dan tidak ada closet yang kosong. Selain privasi lebih terjaga, untuk urusan bilas membilas juga lebih terjamin karena ada beberapa model urinoir yang tidak dilengkapi dengan pancuran air kecil. Dan yang paling penting buat saya, entah mengapa saya merasa kalau buang air kecil di urinoir, celana ini sangat berpotensi kecipratan air kencing. Dan bahayanya, tidak terasa kalau kecipratan. Sebagai seorang muslim, saya juga khawatir akan hal ini karena air kencing dapat menyebabkan siksa kubur!
Tetapi dengan adanya sekat plastik di urinoir tersebut, sedikit tidak bisa mengurangi perasaan was-was akan kecipratan air kencing ketika buang air kecil. Sekat plastik yang lumayan menutup dapat menghalangi cipratan air kencing untuk sampai ke celana kita. Harapan saya semoga semakin banyak toilet umum yang menggunakan urinoir dengan sekat plastik seperti yang ada di BLC Telkom itu.
Kita Semua Adalah Anak-anak
Tukang gambar: seorang mahasiswa jurusan komputer, seorang entrepreneur muda, dan seorang anak muda (beranjak tua) yang sudah bosan sekolah.
- 1
- 2
- …
- 9
- Selanjutnya →


