kehidupan social media

Sketika-kamu-mengeluh-di-media-sosial-followers-you-28154880ejak kuliah saya sering sekali insomnia. Itu karena saya mempunyai banyak sekali tanggung jawab. Mulai dari kehidupan kampus, pekerjaan sampingan, sampai dengan kehidupan social. Tapi setelah selesai kuliah pun penyakit insomnia saya masih saja bertahan. Bahkan sering kambuh tanpa alasan. Tak ada sebab, waktu luang terbuang, tetap saja insomnia menyerang.

Untuk membunuh kebosanan dan rasa kantuk yang tak kunjung datang, biasanya saya main social media. Saya rasa banyak orang di luar sana seperti saya. Bosan, insomnia, lalu berselancar ke dunia maya.

Dalam perjalanan saya ber-sosial media, kadang saya menemui hal-hal yang menyebalkan. Seperti misalnya ketika terlibat dalam pro-kontra diskusi politik. Sering sekali saya dihadapkan dengan orang-orang yang jika kehabisan argument, atau bersebrangan pendapat, kemudian menyerang pribadi dan mudah sekali memaki dengan kata-kata kasar. Bahkan saya pernah mengalami sexual harassment di dunia maya. Saya tahu siapa orangnya, tinggal dimana, dan siapa saja anggota keluarganya.

Pertama kali ketika caci-maki misoginis itu terjadi ke saya, well, saya memang merasa sakit hati. Dan, dampaknya saya semakin insomnia. Tapi, satu hal yang pasti, saya sama sekali tidak menangis. Padahal hinaan ke saya waktu itu cukup menyeramkan.

Sebenarnya subtansi yang sering kita perdebatkan di social media pun bukan hal penting. Paling remeh-temeh isu politik. Mungkin buat saya itu bukan hal penting karena saya bukan politisi. Jadi apa pun yang saya komentari yah bukan karena kepentingan pribadi. Kalau pun akhirnya sampai ada yang membully saya, bahkan mengirimkan hal-hal berbau sexual harassment ke inbox pribadi, itu artinya apa yang saya sampaikan di social media mengguncang dia dan kelompoknya secara psikologi.  Saya sedang berada di jalur yang benar.

Kita semua pasti paham bagaimana ber-sosial media yang bijak. Sepanas apa pun perdebatan yang sedang berlangsung, sebaiknya jangan mencaci-maki, menyinggung SARA, menyinggung agama, dan menyebarkan hal-hal buruk lainnya. Apalagi kalau anda adalah seorang tokoh masyarakat, politisi, atau bahkan kalau pun anda hanya sekedar keluarganya politisi/keluarganya tokoh masyarakat. Sebaiknya jaga lidah dan jempol anda. Sebab jejak virtual itu permanen, membekas, dan tidak bisa dihapus.

Beberapa orang pernah ngomong ke saya. Isinya kurang lebih seperti ini, “Ah, lo bisanya nyinyir doang! Emang lo selama ini sudah ngasih apa aja ke negara? Taunya bacot doang!” Dan, beberapa yang ngomong itu sedang membela politisi junjungannya, yang mungkin ia anggap sudah memberi banyak hal ke negara.

Salah seorang teman saya yang lain (yang baru terjun ke dunia politik), baru-baru ini ngepost di social media begini:

Anggap saja Si A yang terjun ke dunia politik itu lagi mempersiapkan hajatan di rumah. Si A lagi sibuk dengan tetek bengek, perintilan buat persiapan hajatan, ngurus ijin, mikir catering, mikir tenda, mikir tukang makeup, sound system, tukang foto, dan lain-lain. Kemudian datang si B, C, D, E, dan lain-lain cuman buat nyinyirin apa aja yang dibuat si A. Entah nyinyir “kok masakan cateringnya nggak enak? Cari murah ya? Gak punya uang?” Atau, “gaya bener hajatan kampung aja sewa catering, pasti duit ngutang?” dan lain sebagainya.

Teman saya, si ibu caleg ini, di akhir postingannya mengatakan bahwa nyinyiran itu sangat wajar. Namanya juga hidup: Tuhan yang nentuin, lo yang jalanin, orang lain yang komentarin. Hahahaa… Dan, sebenarnya dia dan saya adalah sesama teman nyinyir pemerintah di social media. Hahahaha…. Cuman bedanya sekarang dia lagi nyaleg dan lagi banyak dinyinyirin orang.

Kata saya, mungkin saja orang-orang yang nonton dan nyinyir itu sedang survive dengan kesulitan-kesulitan hidup: bayar pajak, cicilan yang tinggi, biaya sekolah, biaya hidup mahal, dan lain sebagainya. Dan, cara paling mudah untuk melampiaskan kesulitan-kesulitan itu adalah dengan nyinyirin politisi (yang jika terpilih nantinya bakal hidup dari uang rakyat). Itulah penting bagi politisi untuk nggak cuman fokus kejar kursi, penting juga untuk dengar kritikan kanan-kiri.

Sebenarnya skalian pengen saya tambahin. Kalo lo mau bikin hajat, bikin konsepnya jangan mahal-mahal. Biar ntar undangan yang datang gak ditarik saweran (biaya masuk pesta) yang tinggi. Maksudnya kalau lagi mau berhajat politik, yah modalnya sesuai kemampuan aja, biar nanti terhindar dari korupsi buat balikin modal.

Demikianlah…. akhirnya curhatan di blog hari ini cukup sampai di sini. Lebih dan kurangnya harap dimaklumi. Sampai ketemu lagi di blog-blog selanjutnya.

Cheers,

Dini Ayu

Dengan kaitkata

memberi dengan tangan kanan

o-donations-facebook-76d8c9e01c7292191050cd911015bff4

Surat At-Taubah Ayat 103 :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Itu adalah kutipan At Taubah Ayat 103. Sebenarnya ada banyak persoalan zakat fitrah di dlm Al Quran. Tapi saya mengutip yang satu itu karena ayat itu sangat spesial.

Nah, saya dulu pernah mengikuti sebuah kajian. Lalu ada yang bertanya pada ustazah kami, “bagaimana jika uang yang digunakan untuk berzakat adalah hasil riba? Apakah boleh diterima oleh badan amil zakat?” Ustazah saya menjawab bahwa tidak ada perintah di zaman nabi menugaskan pengelola zakat mengusut darimana harta seorang hamba itu berasal. Meskipun dari ayat yang lain dikatakan tentang larangan riba itu sendiri. Jadi tdk ada kewajiban bagi pengurus zakat utk menelisik apakah zakat itu berasal dari harta yang halal atau haram. Apalagi zaman sekarang kan yahhh…. misalnya zakat dari seorang politisi? Mana kita tau zakat dia dari hasil korupsi atau bukan? Atau, misalnya contoh lain zakat dari seorang pegawai bank. Mana kita tau zakat itu nilainya di mata Allah masuk kategori harta riba atau bukan? Sebab sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari pun harta kita bercampur dengan hal-hal yang sangat duniawi. Bisa dari hadiah orang, dan mungkin orang itu habis nipu, dan kita ga tau. Ngerikan?

Tapi pada akhirnya saya paham bahwa zakat (terutama zakat fitrah dan zakat mal) adalah untuk menyucikan diri dari hal-hal duniawi. Demikian halnya dengan infak dan sedekah lainnya (meskipun sedekah tidak wajib hukumnya).

Tapi, yang bikin sedih, cara orang-orang zaman sekarang bersedekah agak aneh. Juga agak norak. Misalnya ketika momen Ramadhan, mereka menyelenggarakan acara buka puasa bersama anak yatim trus foto-foto sambil bagi-bagi amplop, lalu sesudahnya upload di sosmed, atau sambil mengundang wartawan, atau kalau lagi musim pilkada sedekahnya sambil mengharap dapet dukungan suara, hihihi…. macam-macamlah kelakuan orang. Tapi yang jelas yg nentuin diterima/ditolaknya sedekah atau zakat tersebut tetap Allah SWT.

Kalau sampe zakat, infak, sedekah itu kemudian berpolemik di dunia…. semisal tiba-tiba yang besedekah terciduk kasus cuci-cuci uang, atau jadi bahan dakwaan money politik, menurut saya perlu introspeksi diri…. buat pelajaran kita semua juga, termasuk saya. Coba bayangkan… baru di dunia aja sedekahnya udh bawa masalah, apalagi di akhirat kelak??

Ada nihh cerita yg parah banget…. mungkin beberapa tahun belakangan pernah dengar berita seorang hartawan bagi-bagi sembako dan santunan di rumahnya dan memakan korban jiwa. Karena org-orang yg datang banyak banget dan petugas kelabakan mengurusnya. Akhirnya dempet-dempetan pun terjadi. Banyak yg terinjak-injak dan kehabisan oksigen. Terutama lansia dan anak-anak. Sebenarnya tradisi semacam ini sudah biasa di Indonesia. Tapi sudah berapa kali justru memakan korban. Coba bayangkan…. hanya demi bingkisan dan uang yang tak seberapa akhirnya malah nyawa melayang. Coba bayangkan lagii… bagimana nilai santunan/sedekah itu di mata Allah. Ngeri ga tuhh?

Sebenarnya di Qs. Albaqarah ayat 271 Allah tidak melarang sedekah secara terang-terangan; “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Namun, menjadi pertanyaan: adakah manusia di muka bumi ini yg mempublikasikan atau menampakan zakat, infak, dan sadakahnya tanpa ada unsur riya’?

Entahlah… sekali lagi hanya Allah yang berhak menilai.

Tapi, ada satu kisah yg menginspirasi baru-baru ini. Tentang seorang pemuda bernama Ali Banat. Kalau ada yg ga tau coba search di google. Ia adalah seorang pemuda muslim yg sangat sukses. Tapi di puncak suksesnya ia menderita kanker stadium akhir. Ia lalu menjual semua hartanya dan mewakafkannya ke jalan Allah. Kisahnya kemudian menjadi viral sebab ia kemudian mendirikan yayasan/organisasi dan menginspirasi banyak orang untuk ikut terlibat menjadi relawan ataupun donatur. Ia sering memposting kegiatan-kegiatan sosialnya di instagram, mendirikan banyak masjid di afrika, dan membantu muslim afrika untuk berjuang hidup. Tidak ada seorang pun yang bilang apa yang dilakukan Ali itu riya’. Apa yang mesti ia sombongkan coba? Ia sedang sekarat dan ia merubah hidupnya dan hijrah ke jalan Allah. Toh kalo kebaikannya terpublik itu adalah hal yang baik dan menginspirasi banyak orang. Ali kemudian meninggal awal ramadhan lalu dan organisasinya masih diteruskan oleh kawan-kawannya (termasuk para relawan dan donatur).

Yang menarik…. suatu hari Ali pernah posting di videonya apa yg paling berkesan selama ia menderita sakit. Dia tdk menceritakan tentang aktifitas sosialnya. Dia justru bercerita hal lain yg bikin saya nangis. Kisahnya, pada suatu hari ia sedang berjuang melawan sakit, itu hari buruk. Tapi tiba-tiba teman-temannya datang jauh-jauh dari inggris, dari arab, ke rumah sakit tempat Ali dirawat di Australia. Mereka datang hanya untuk menengok. Tanpa bawa wartawan, tanpa media apa pun, bahkan tanpa kamera pribadi. Merka datang dan hanya ingin menunjukan solidaritas, hanya ingin menengok Ali, menghiburnya, dan itu sangat berharga buat Ali. Ternyata org yg sering memberi sedekah pun membutuhkan sedekah lainnya…. yaitu persahabatan yg tulus, silaturahmi yg tulus, tidak terekspose media, dan tanpa kamera.

Coba bandingkan dengan pejabat kita yang suka datang ke rumah sakit, mengunjungi orang sakit, kasih sedakah, lalu sambil bawa media, wartawan, dan ditonton banyak orang. Entahlahh…. yg macam ini lucu buat saya.

Ada lagi kisah lain. Di zaman nabi, Usman Bin Afan adalah seorang pedagang yg terkenal sangat dermawan. Kisahnya pun inspiratif. Memberi pelajaran yang berharga tentang bersedekah secara terbuka di jalan Allah. Ingat ketika usman membeli sumur milik yahudi dan mewakafkannya kepada orang muslim untuk berwudhu, beribadah, dan melakukan aktifitas lainnya. Lalu dari sumur itu mengalir keberkahan yang sangat banyak sampai saat ini. Sumur itu kini di sekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon kurma (kebun kurma), lalu dari hasil penjualannya dibukalah rekening atas nama Usman, lalu dari uang penjualan kurma itu bisa muncul yayasan atas nama Usman, pembangunan masjid, hotel atas nama Usman, shoping center, bahkan dari uang sumur itu dapat mengjidupi banyak sekali orang-orang yg membutuhkan. Amaizing right? Subahanallah…. Masya Allah…. sedekah ribuan tahun itu masih bias dirasakan hingga detik ini.

Ya, sekali lagi, Allah tidak melarang sedekah secara tersembunyi ataupun secara terang-terangan (untuk dapat dicontoh hal positifnya). Meskipun pada akhirnya saya pribadi lebih memilih bersedekah secara sembunyi-sembunyi, karena yang seperti itu yang paling nyaman buat saya. Apalagi zakat fitrah yang hukumnya wajib. Hanya Allah, saya dan petugas amil zakat yang tahu. Sebab buat saya berzakat (atau pun sedekah) adalah salah satu proses untuk menyucikan diri. Seperti kalau mau mandi, saya lebih nyaman mandi dalam kondisi tertutup dan terlindungi privacy-nya. Demikian juga ketika berzakat atau bersedekah (atau bersuci), saya lebih nyaman jika dilakukan dalam keadaan tersembunyi. Supaya dijauhkan dari sifat Riya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 264)

Dan…. dari seluruh jenis sadakah yang paling murah dan mudah adalah “tersenyum”. Sadakah jenis ini tdk mungkin ditutupi/disembunyikan. Senyumlah…. yang penting pada tempatnya. Biar ga dianggap gila. Wkwkwk…

Dengan kaitkata

Memiliki Cita-Cita Membuat Saya Merasa Manusiawi

jam eror

Banyak sekali kampanye tentang #IstriParuhWaktu yang beredar di dunia maya belakangan ini. Kampanye ini berisi tentang betapa tidak enaknya menjadi perempuan-perempuan yang bekerja fulltime dan hanya menjadi istri freelance. Kampanye ini banyak beredar di kalangan akhwat berkerudung, meski ada juga perempuan-perempuan tanpa kerudung berkontribusi meramaikannya dan merasa senasib.

Tetapi, ada banyak perempuan di luar sana, meskipun memiliki suami berpenghasilan cukup besar, namun tetap memilih bekerja fulltime. Padahal tanpa harus bekerja, sebenarnya si istri sudah cukup bahagia menikmati gaji suaminya. Teman saya banyak nih yang begini ini. Ada salah seorang teman saya berkata: “saya bekerja bukan mengejar rupiah, tetapi supaya ada pergaulan dan itu membuat saya merasa manusiawi. Lagian kata orang, ibu yang bekerja cenderung menghasilkan anak-anak yang lebih mandiri.”

Heheheee…. Pendapat itu tidak salah tentu saja. Setiap orang memiliki ritme hidup dan pandangan berbeda. Yang penting hati kita konsisten dengan setiap keputusan yang kita jalankan.

Saya sendiri, saat ini memang memilih mengurusi rumah tangga, mengurusi anak, dan bekerja freelance sebagai penulis. Banyak orang yang bertanya ke saya (termasuk suami saya, mertua saya, bahkan ibu saya sendiri): “apa kamu tidak bosan? Apa kamu tidak mau bekerja lagi? Kan anakmu sudah lumayan besar…. sudah bisa ditinggal.”

Anak saya berumur 3 tahun dan saya menganggapnya masih kecil.

Ketika saya, dulu, memutuskan untuk berhenti bekerja kantor, sebenarnya yang protes duluan adalah orangtua saya. Katanya, “sayang banget, zaman sekarang susah cari kerjaan, bla..bla…bla…” bahkan pernah ada komentar dari mama saya seperti ini, “nanti kalau sudah nggak kerja, kamu bisa diinjak-injak dan diperlakukan semena-mena oleh suami.” Saya tanya, “kenapa bisa mikir sampe ke situ?”. Katanya, “karena suami zaman sekarang banyak yang menganggap rendah ibu rumah tangga, karena mereka hanya menempel, menjadi benalu, yang bisanya cuman hambur-hamburin uang suami.”

Saya memaklumi pandangan ibu saya. Karena begini, zaman sekarang, kebanyakan laki-laki mencari pasangan hidup (istri), cenderung memilih perempuan-perempuan bekerja. Laki-laki terdidik zaman sekarang lebih bergairah berhadapan dengan istri-istri bekerja yang ‘menghasilkan uang’. Apalagi kalau istrinya pegawai bank yang pakai rok selutut, ber-makeup sensual, dan berrambut pendek, hahahahaa…. pasti deh dia bangga sekali.

Dan, memang laki-laki yang bekerja adalah makhluk yang paling responsif terhadap citra dirinya. Jiwa mereka terbentuk otomatis untuk mempertahankan kemapanan diri. Mereka terbiasa mengejar pencapaian tinggi, melakukan agresi, dan mengobarkan persaingan. DAN, memiliki istri cantik, seksi, pekerja kantoran, merupakan daya jual tersendiri bagi mereka.

Hahahaha…. Rempong kan yeee…..

Saya pernah melalui kehidupan seperti itu: menjadi wanita kantoran. Bahkan dahulu kala, ketika baru lulus kuliah, saya pernah bekerja menjadi SPG. Sebenarnya orangtua saya berkecukupan secara materi. Maksudnya mereka bukan orang yang susah-susah banget. Tapi, saya sejak kecil terbiasa dididik mandiri. Waktu kuliah, saya kuliah dengan beasiswa (meski orangtua saya selalu mengirimkan uang bulanan dan membayar biaya kuliah saya), saya juga bekerja sampingan ketika kuliah (menjadi penulis, bekerja di lembaga training, dan sebagainya). Saya melakukannya supaya saya merasa manusiawi (memiliki cita-cita, mengejarnya, dan berjuang untuk itu, membuat saya merasa manusiawi). Jadi, ketika saya mau beli laptop, saya tidak meminta uang lagi ke orangtua. Ketika saya beli motor, saya juga tidak meminta uang ke orangtua. Bahkan ketika saya mengurusi skripsi, sama sekali saya tidak merepotkan orangtua. Hehehee….

Nah, zaman sekarang, ketika sudah menjadi istri dan memiliki anak, orentasi cita-cita saya adalah untuk keluarga, untuk mendidik anak dengan benar, tetapi juga harus menopang kehidupan suami. Saya harus realistis. Jika menjadi pekerja kantor, wanita karir, lantas saya mengabaikan keluarga dan hanya mendapat rupiah yang tak seberapa, well….mending nggak usah deh. Bekerja dan bergaul dengan keluarga itu harus seimbang. Tau sendiri kan yah, menjadi wanita karir yang bekerja kantoran di Jakarta ini agak rempong. Hahahaha…. Toh, dengan menjadi penulis freelance, saya juga punya penghasilan. Meskipun enggak banyak sih. Tapi, lumayanlah buat beli make up, baju, tas. Wkwkwkw….

 

Dengan kaitkata , , ,

Sambungan Ceritanya Tentang HRD Yang Feodal

Tadinya, saya agak malas melanjutkan cerita https://d1ni.wordpress.com/2015/04/20/ceritanya-soal-hrd-yang-feodal/. Karena pesan yang saya renungi di cerita ini agak klise pada akhirnya. Hehehehe…. Intinya: dalam setiap keputusan hidup, akan selalu ada konsekuensi yang menyertainya. Dalam dunia kerja pun demikian. Ketika kau menginginkan pendapatan yang tinggi, kau jelas musti membayarnya dengan bekerja keras. Tentu saja gaya hidupmu pun harus keras!

Bahkan, kau tidak hanya sekedar bekerja keras, kau juga harus cerdas dalam segala hal. Termasuk diantaranya: cerdas mencari perhatian atasan, cerdas menikam rekan kerja, cerdas mengatur citra diri, dan sebagainya.

Perusahaan telah menetapkan standarnya, hirarki kasta setiap pegawai, dan HRD menjadi kaki tangan yang siap menyortirmu supaya mampu memenuhinya. Jadi, jika kau mengeluh bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia banyak yang feodal (baik atasan, HRD, dan lingkungan kerjanya), itu karena keadaan yang menyebabkan mereka berlaku demikian.

Malam ini saya bercakap sebentar dengan salah seorang teman saya (semasa saya masih kerja kantor dahulu kala). Namanya Ibu YL. Dia baru saja resign dari pekerjaannya dan seperti orang yang baru resign: ia memiliki keluhan, kemarahan, dan ketidakpuasan terhadap atasan dan perusahaan yang menaunginya (saya pun mengalaminya ketika itu dan saya mengerti mengapa dia demikian).

Saya pribadi ketika itu memang tidak terlalu menyukai pekerjaan saya (saya bekerja sebagai analis mikro di salah satu BUMN). Satu-satunya alasan mengapa saya bisa ada di tempat itu, karena memang hanya pekerjaan itu yang bisa membuat saya dekat dengan ibu saya di Sulawesi Utara. Sebelumnya, sebagai frash graduate, saya sudah lolos seleksi tahap akhir menjadi staff PPIC di salah satu perusahaan sepatu di Sidoarjo. Saya melamar di perusahaan sepatu (brand ternama Eropa) karena saya saya menyukai sepatu (titik). Tapi, ibu saya tidak setuju saya hidup terlalu lama jauh dari orangtua (saya merantau hampir 8 tahun; sejak SMA sampai kuliah). Maka saya pun pulang (meski pada akhirnya setelah tahap wawancara, penempatan saya ketika itu tidak di tempatkan di kantor cabang yg dekat dengan rumah).

Gaji pokok di perusahaan sepatu itu (ini gaji ketika tahun 2008) adalah 5jt (belum ditambahi bonus), gaji sebagai analis mikro di perusahaan BUMN itu (tahun 2008) sekitar 3jt (ditambah insentif dan lembur kadang bisa mendekati 4-5jt—ini juga kalau rajin kerja). Saya pikir2, okelah saya pilih di perusahaan BUMN. Lagipula meski gaji kecil, tapi perusahaan BUMN itu konservatif: kerja aman dan agak jarang pegawainya diPHK lantaran perusahaan bangkrut. Lagipula kalo rajin kerja pasti bisa naik gaji.

Tiga bulan pertama saya bekerja di perusahaan BUMN itu, saya agak susah menyesuaikan diri. Hahahahaaa….. Tiap hari saya masuk-keluar pasar, ketemu klien level pengusaha mikro yang rata-rata: pedagang ikan, pedagang sayur, pedagang kelontong, dan sebagainya. Memang sih ada juga klien level pengusaha kopra, tapi yah gitu dehhh….rumit jika diceritakan lebih jauh. Seharusnya saya kerja di perusahaan sepatu. DAMN! Bisa jadi saya saat ini sedang mentereng bangga kemana-mana pakai sepatu yang dijual di gerai Plaza Indonesia paling murah seharga 25juta (dan konon di perusahaan itu produk cacatnya bisa dibeli dengan harga setengah dari itu).

Tapi sudahlah…. Mari kita kembali membahas teman saya, Ibu YL, dan kekecewaannya kepada perusahaan BUMN itu.

Untuk staff biasa, jika mau naik kasta menjadi manager, perusahaan BUMN itu menetapkan banyak standar. Mulai dari portofolio kelolaan yang bagus, KPI yang bagus, test tertulis, test kesehatan, sampe tofel yang standarnya mesti 500. Nah, kalau lo mau naik jabatan lagi, ke level di atas manager, ada lagi testnya (pokoknya tiap naik level ada standar yg mesti dipenuhi). Bahkan, setiap tahun ada sajah test-test tulis begini ini. Wakakakak…. jadi biar pala lo udah ubanan, otak lo dipaksa harus tetap bugar supaya bisa survive.

Dalam hati, saya agak jengkel dengan berbagai standar ribet ini. Laki saya masuk ke perusahaan asing engga pernah pake test2 ribet gitu. Cuman wawancara doang. Lagian, divisi saya ketika itu adalah mikro kredit, yang tiap hari kerjaannya ketemu pengusaha pasar! Tofel 500 dan kemampuan berbahasa Inggris itu mau dipake buat apaaaahhhhh????? Lo kaga mungkin bercakap-cakap dengan pedagang pasar yang bau preman, bau ikan, bau tomat, bau sayur-mayur, pake bahasa inggris kan yah?

Bukannya saya anti asing. Saya pribadi menyekolahkan anak saya di sekolah berbahasa Inggris. Tapi, maksud saya, mengapa perusahaan-perusahaan itu tidak meletakan segala sesuatu sesuai porsinya? Mengapa harus ribet dan ngejlimet gitu?

Saya akhirnya resign dari kantor itu karena lelah. Lelah berkutat dengan perhitungan pendapatan usaha orang lain, memastikan asetnya memenuhi syarat, dan harus memenuhi dokumen yang SAMA TEBAL dengan dokumen pengusaha small bisnis (bahkan SAMA TEBAL dengan pengusaha retail besar). Hahahahaah….. sampe skarang saya belum bisa menemukan jawaban mengapa dokumen2 itu begitu ribet, rumit, dan sangat banyak untuk dikerjakan!

mampus lo

Saya resign tepat beberapa hari setelah salah seorang teman saya meninggal dunia dan kepala cabang saya hanya memberi keluarganya sebuah karangan bunga bundar dengan diameter tiga puluh senti dan ucapan belasungkawa. Teman saya itu meninggal tanpa asuransi jiwa, tanpa santunan resmi dari kantor (bahkan mungkin tanpa santunan dari kepala cabang), karena dia hanya seorang pegawai biasa. Dia menghabiskan hidupnya di kantor lebih dari 12 jam sehari dan dia hanya mendapatkan karangan bunga berdiameter tiga puluh senti.

Keputusan saya untuk resign terbilang spontan. Intinya: saya tidak mau mati mendadak begitu dan di dalam kubur saya menyesali kehidupan kantor saya yang monoton dan melelahkan. Saya mau menikmati hidup: berkeluarga, punya anak, dan kalaupun saya nantinya bekerja kantoran lagi, saya harus menikmatinya tanpa banyak drama.

Saya membebaskan diri dari kantor itu, dan saya mengucapkan selamat kepada Ibu YL yang sudah melakukannya. Saya sebenarnya pernah mendapat tawaran pekerjaan (yang lain) sebanyak dua kali setelah resign. Salah satu diantaranya masih di sektor perbankan, yang satu lagi mengajar di sekolah berbahasa inggris di kawasan kelapa gading. Tapi, saya belum bisa memutuskan untuk bekerja kembali. Alasannya: karena saya tidak bisa mempercayakan anak saya kepada pembantu rumah tangga sepenuhnya (tanpa pengawasan maksimal).

Dengan kaitkata , ,

Gara-gara Si Artis AA

karena berita ini http://metro.news.viva.co.id/news/read/623849-polisi-umumkan-kronologi-penangkapan-artis-cantik-siang-ini?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook, aku dan seseorang terlibat pembicaraan serius.

 

“Giliran ngomongin poligami elo komentar miring. Trus kalo membahas prostitusi elo sering belaiin.”—kata dia akhirnya.

Kata saya: “Heeeeh? Kenapa dua kalimat itu harus digabung menjadi satu? Seolah-olah poligami dan prostitusi itu sama-rata?”

“Iya, soalnya dua2nya sama saja, dua-dunya menjadikan perempuan sebagai objek.” jawab dia.”Menurut aku, poligami itu sama seperti prostitusi yang dilegalkan dalam aturan pernikahan. Bahkan pernikahan itu sendiri adalah prostitusi yang dilegalkan oleh hukum agama dan negara, karena ada mas kawin yg membeli perempuan dibaliknya.”

“Kalau perempuan minta mas kawin seperangkat alat sholat, itu masuk kategori prostitusi?” tanya saya.

“Itu masuk kategori kebodohan hahahaaha….” dia tertawa terbahak-bahak. “Harusnya perempuan minta mas kawin yg lebih dari itu. Perek aja ada yg lebih mahal dari itu.”

“Mungkin itu yg membedakannya, bahwa di luar sana, masih banyak perempuan yg tidak memperdagangkan cinta dan pernikahannya.” kata saya.

“Ahhh… lo aliran feminisnya pragmatis.”

“Heh???”

“Gue kutib kata-kata lo tadi: Di luar sana, masih banyak perempuan yg tidak memperdagangkan cinta dan pernikahannya—pernyataan ini secara tidak langsung membuat lo menyetujui poligami.”

“Heeeeehhhh???”

“Iya, jadi kalo ada perempuan rela dimadu, tanpa imbalan apa pun, dia berarti tidak menegosiasikan dan memperdagangkan cintanya.”

“HAAAAAAAAAAAAAA?????” shock dengan mulut mengaga.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai