S
ejak kuliah saya sering sekali insomnia. Itu karena saya mempunyai banyak sekali tanggung jawab. Mulai dari kehidupan kampus, pekerjaan sampingan, sampai dengan kehidupan social. Tapi setelah selesai kuliah pun penyakit insomnia saya masih saja bertahan. Bahkan sering kambuh tanpa alasan. Tak ada sebab, waktu luang terbuang, tetap saja insomnia menyerang.
Untuk membunuh kebosanan dan rasa kantuk yang tak kunjung datang, biasanya saya main social media. Saya rasa banyak orang di luar sana seperti saya. Bosan, insomnia, lalu berselancar ke dunia maya.
Dalam perjalanan saya ber-sosial media, kadang saya menemui hal-hal yang menyebalkan. Seperti misalnya ketika terlibat dalam pro-kontra diskusi politik. Sering sekali saya dihadapkan dengan orang-orang yang jika kehabisan argument, atau bersebrangan pendapat, kemudian menyerang pribadi dan mudah sekali memaki dengan kata-kata kasar. Bahkan saya pernah mengalami sexual harassment di dunia maya. Saya tahu siapa orangnya, tinggal dimana, dan siapa saja anggota keluarganya.
Pertama kali ketika caci-maki misoginis itu terjadi ke saya, well, saya memang merasa sakit hati. Dan, dampaknya saya semakin insomnia. Tapi, satu hal yang pasti, saya sama sekali tidak menangis. Padahal hinaan ke saya waktu itu cukup menyeramkan.
Sebenarnya subtansi yang sering kita perdebatkan di social media pun bukan hal penting. Paling remeh-temeh isu politik. Mungkin buat saya itu bukan hal penting karena saya bukan politisi. Jadi apa pun yang saya komentari yah bukan karena kepentingan pribadi. Kalau pun akhirnya sampai ada yang membully saya, bahkan mengirimkan hal-hal berbau sexual harassment ke inbox pribadi, itu artinya apa yang saya sampaikan di social media mengguncang dia dan kelompoknya secara psikologi. Saya sedang berada di jalur yang benar.
Kita semua pasti paham bagaimana ber-sosial media yang bijak. Sepanas apa pun perdebatan yang sedang berlangsung, sebaiknya jangan mencaci-maki, menyinggung SARA, menyinggung agama, dan menyebarkan hal-hal buruk lainnya. Apalagi kalau anda adalah seorang tokoh masyarakat, politisi, atau bahkan kalau pun anda hanya sekedar keluarganya politisi/keluarganya tokoh masyarakat. Sebaiknya jaga lidah dan jempol anda. Sebab jejak virtual itu permanen, membekas, dan tidak bisa dihapus.
Beberapa orang pernah ngomong ke saya. Isinya kurang lebih seperti ini, “Ah, lo bisanya nyinyir doang! Emang lo selama ini sudah ngasih apa aja ke negara? Taunya bacot doang!” Dan, beberapa yang ngomong itu sedang membela politisi junjungannya, yang mungkin ia anggap sudah memberi banyak hal ke negara.
Salah seorang teman saya yang lain (yang baru terjun ke dunia politik), baru-baru ini ngepost di social media begini:
Anggap saja Si A yang terjun ke dunia politik itu lagi mempersiapkan hajatan di rumah. Si A lagi sibuk dengan tetek bengek, perintilan buat persiapan hajatan, ngurus ijin, mikir catering, mikir tenda, mikir tukang makeup, sound system, tukang foto, dan lain-lain. Kemudian datang si B, C, D, E, dan lain-lain cuman buat nyinyirin apa aja yang dibuat si A. Entah nyinyir “kok masakan cateringnya nggak enak? Cari murah ya? Gak punya uang?” Atau, “gaya bener hajatan kampung aja sewa catering, pasti duit ngutang?” dan lain sebagainya.
Teman saya, si ibu caleg ini, di akhir postingannya mengatakan bahwa nyinyiran itu sangat wajar. Namanya juga hidup: Tuhan yang nentuin, lo yang jalanin, orang lain yang komentarin. Hahahaa… Dan, sebenarnya dia dan saya adalah sesama teman nyinyir pemerintah di social media. Hahahaha…. Cuman bedanya sekarang dia lagi nyaleg dan lagi banyak dinyinyirin orang.
Kata saya, mungkin saja orang-orang yang nonton dan nyinyir itu sedang survive dengan kesulitan-kesulitan hidup: bayar pajak, cicilan yang tinggi, biaya sekolah, biaya hidup mahal, dan lain sebagainya. Dan, cara paling mudah untuk melampiaskan kesulitan-kesulitan itu adalah dengan nyinyirin politisi (yang jika terpilih nantinya bakal hidup dari uang rakyat). Itulah penting bagi politisi untuk nggak cuman fokus kejar kursi, penting juga untuk dengar kritikan kanan-kiri.
Sebenarnya skalian pengen saya tambahin. Kalo lo mau bikin hajat, bikin konsepnya jangan mahal-mahal. Biar ntar undangan yang datang gak ditarik saweran (biaya masuk pesta) yang tinggi. Maksudnya kalau lagi mau berhajat politik, yah modalnya sesuai kemampuan aja, biar nanti terhindar dari korupsi buat balikin modal.
Demikianlah…. akhirnya curhatan di blog hari ini cukup sampai di sini. Lebih dan kurangnya harap dimaklumi. Sampai ketemu lagi di blog-blog selanjutnya.
Cheers,
Dini Ayu


