Aaahhhh…senangnya hari ini bisa bernafas lebih lega, beban kerja saya sedang menurun, hari minggu kemarin adalah klimaks dari segala ketegangan-ketegangan kerja yang saya jalani sejak beberapa bulan lalu. Mumpung ketegangan belum naik lagi, saatnya melakukan aktifitas yang sudah lama tidak saya lakukan…pada tau kan jawabannya…benar sekali…browsing internet hehe.
Selain itu, selama beberapa bulan tersebut, banyak sekali email-email yang hanya saya baca sekilas kemudian saya hapus atau saya pindahkan ke folder lain karena tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Hari ini saya beruntung punya waktu untuk membuka email-email lama tersebut. Perhatian saya tertuju pada sebuah email yang berisi pesan yang isinya membuat saya benar-benar penasaran, subject email tersebut adalah “1 ons = 100 gram ?”. Selain subject-nya yang cukup tumben, yang bikin saya heran adalah tanda-tanya nya, ngerti khan maksud saya. Pesan lengkapnya seperti ini:
==================
PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce(ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.
Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun
telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.
Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia . Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.
Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimanapara murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.
Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;
"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional , yang menyatakan bahwa :
1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?
Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia
internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan
Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan
dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia . Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.
Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
1 gallon = 3.785 liter (bukan 19 liter)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran system timbang dgn satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.
# # # # #
Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.
Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas.
Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia , silahkan diperbanyak/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.
Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada.
Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia . Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.
==================
Saya tidak tau siapa sebenarnya yang menulis tulisan itu dan kapan dibuatnya, tapi tulisan itu benar-benar bikin saya kaget dan penasaran.
LANGSUNG ACTION
Setelah membaca tulisan tersebut, saya langsung buka software konversi satuan yang saya punya untuk menghilangkan rasa penasaran saya. Masa iya sih 1 ons itu tidak sama dengan 100 gram, padahal sejak dulu kita memang diajarkan seperti itu, dan kesepakatan seperti itu masih dipakai sampai sekarang di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam hal jual beli.

Software seperti pada gambar di atas adalah software yang sering saya gunakan dalam pekerjaan saya, kamu bisa mendownloadnya (freeware) di: http://www.joshmadison.com/software
Dari gambar di atas, memang tidak ditemukan satuan “ons”, yang ada adalah “ounce”, dan ada 2 jenis pula. Terlepas dari sama atau tidaknya “ons” dan “ounce”, benar juga yang dibilang tulisan tersebut, 1 ounce/ons = 28,35 gram. Wow…saya juga mulai berpikir kalau kita semua dibohongi dan terjerumus dalam kesesatan, seperti yang diceritakan oleh penulis tulisan itu. Tapi bagaimana dengan ounce yang satunya lagi? Begini hasilnya:

Ternyata hasilnya beda yah, 1 ounce (troy) = 31,10 gram, duuuhh…kok pake ada 2 versi segala sih yah, memang 28,35 dan 31,10 beda sedikit sih, tapi jauh
banget khan dengan 100 gram.
SUMBER LAIN
Saya gak berhenti di situ, rasa penasaran belum terpuaskan nih. Saya keluarin deh jurus ke-dua…saya buka software konversi satuan lain yang saya punya, hasilnya adalah seperti berikut:

http://www.coade.com
Tinggal masukkan angka ke salah satu kotak tersebut lalu tekan Enter, maka hasil konversi untuk satuan yang lain akan muncul. Dari gambar di atas juga ternyata hasilnya sama.
MASIH BELUM PUAS
Saya masih penasaran, apakah “ons” itu sama dengan “ounce” ??? Masih ada jurus lain untuk mencari tau, ya betul…kita tanya aja sama paman google (mumpung bisa konek ke internet xixixi).
Akhirnya…cukup dengan keyword “ons”…paman google kasih kita jawaban seperti berikut:

Wow….akhirnya ketemu juga jawabannya, 1 ons = 100 gram, berarti apa yang dikatakan dalam tulisan tersebut tidak 100% benar, penulis tersebut menganggap “ons” itu sama dengan “ounce”, ternyata beda khan?!. Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan “ounce”? kita ganti keywordnya jadi “ounce”…hasilnya:

NAH…sekarang jelas lah sudah, bahwa “ons” itu TIDAK SAMA dengan “ounce”.
DARI MANA PULA ITU SATUAN BERASAL?
Kenapa sih banyak banget satuan, udah gitu hampir sama lagih tulisannya. Kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa kita lebih familiar dengan “ons”, bukan “ounce”. Well, berdasarkan hasil pencarian lebih lanjut yang
saya lakukan, ternyata “ons” adalah warisan dari “kumpeni” alias Belanda.

Dikutip dari: http://www.unc.edu/~rowlett/units/dictO.html
OKE, masalah “ons” sudah teratasi, bagaimana dengan “pound” dan “gallon” ????
Kita buka lagi software COADE Unit Conversion Utility nyok…

Dengan memasukkan angka 1 ke kotak “lb” (oiya, saya lupa jelasin kalau “pound” itu disingkat jadi “lb”…nah lho…kok jauh banget dan gak nyambung ya singkatannya…puyeng puyeng dah), didapatkan hasil yang sama dengan yang ditulis di artikel tersebut.
Kita coba sekali lagi untuk “gallon” ya, hasilnya seperti berikut:

Hasilnya sama dengan yang ditulis di artikel itu.
DUUUH…kenapa sih banyak banget satuan…kenapa ada versi amerika, versi inggris, versi ini versi itu…bikin pusing aja ya.
Ada lagi nih, kalo kamu buka http://www.onlineconversion.com/weight_all.htm, ternyata untuk satuan berat aja, katanya ada ratusan lebih satuan (ya ampyuuunn…), kayaknya setiap suku bangsa di dunia ini bikin standar satuan sendiri kali yah…

Tuuhh…liat…ada ons, onca, once, oncia, onza…..cape deehh….
Setelah membuka situs tersebut, kamu bisa langsung save halaman web itu ke harddisk kamu (secara lengkap) untuk dibuka secara offline karena konversi satuan yang ada di situs itu pake javascript (client-side script), jadi kamu gak perlu terhubung dengan internet untuk menjalankannya.
Saya gak tau bagaimana system pendidikan di sekolah-sekolah jaman sekarang, harusnya sih kita hanya menggunakan Satuan Internasional saja biar gak pusing dan dapat meng-eliminasi masalah-masalah tersebut. Jika masih pakai berbagai satuan, ada baiknya print tabel konversi berikut trus tempel deh di lemari, di tembok, atau di cermin, biar hapal wkekekek..
PEMBULATAN DAN/ATAU PENYEDERHANAAN
Saya masih ingat kok, pada saat di bangku sekolah dulu, kita memang diajarkan bahwa 1 kg = 2 pound, atau dengan kata lain 1 pound = 500 gram. Dulu kata guru sih biar sederhana dan gampang menghitungnya.
Oke, memang jadinya lebih gampang, apalagi jaman sekolah dulu gak pake kalkulator. Untuk keperluan pendidikan, menurut saya boleh-boleh saja konversi satuan tersebut dibulatkan untuk mempermudah perhitungan, toh pada saat sekolah, yang diprioritaskan adalah cara/logika berpikir. Akan tetapi, anak sekolah tetap harus diberitahu bahwa itu adalah pembulatan, bukan angka konversi yang sesungguhnya. Anak sekolah
harus diperingatkan bahwa pada saat terjun di dunia nyata nanti, pembulatan semacam itu dilarang. Seperti diungkapkan dalam tulisan tersebut, itu bisa menyebabkan malpraktek. Bayangkan misalnya jika seorang ilmuwan menambahkan 500 gram bahan reaktif pada suatu reaksi nuklir, padahal dia harusnya menambahkan 453,592 gram, wah bisa-bisa nuclear plant nya meledug tuh.
Satuan lain yang biasa kita sederhanakan pada saat di bangku sekolah adalah besaran pi, yang kita pakai untuk menghitung luas dan keliling lingkaran, atau volume atau permukaan bola, biasanya kita gunakan angka 22/7 atau 3,14 sebagai pendekatan. Namun pada dunia kerja, kita harus menggunakan nilai dari pi yang sesungguhnya. Perbandingan antara ketiga angka tersebut dapat kita lihat dalam tabel Excel sebagai berikut:

Terlihat lah bahwa memang 22/7 adalah pendekatan terhadap nilai pi yang sesungguhnya. Jika menghitung dengan menggunakan Excel, gunakan “PI()” (tanpa tanda kutip) untuk nilai pi.
KESALAHAN YANG TER-AKUMULASI (ACCUMULATIVE ERROR)
Bayangkan jika kita menghitung luas suatu lingkaran dengan jari-jari r dan menggunakan nilai pi yang telah disederhanakan, tentu hasil perhitungannya tidak akurat. Nah bagaimana jika hasil perhitungan yang tidak akurat itu dibulatkan lagi kemudian dijadikan input untuk perhitungan yang lain, tentu hasil perhitungan
yang ke-dua mengandung kesalahan yang lebih banyak lagi, dan seterusnya dan seterusnya, inilah yang dimaksud dengan accumulative error (kesalahan yang bertumpuk-tumpuk).
Lho kok jadi ngelantur kemana-mana nih yah…
Udah dulu ah…ngantuk nih…
Mohon maaf kalau ada yang salah, koreksi/komentar/saran/kritik nya saya tunggu okay.
Ada baiknya kamu pasang software konversi satuan di komputer kamu, download
aja di:
http://joshmadison.com/special-stuff/software/convert.zip
ukurannya downloadnya cuman 152,9 kB kok.
Ada yang punya software konversi satuan yang lebih canggih?
Satu lagi:

24 karat = 4.8 gram