Kamis, 26 Mei 2011

Menghilangkan Open Save Dialog Box pada Outlook 2007

Jika anda baru saja beralih dari Microsoft Windows XP ke Microsoft Windows 7, biasanya anda juga beralih dari Microsoft Outlook 2003 ke Microsoft Outlook 2007. Setelah migrasi ini, anda mungkin saja sering kesal seperti saya ketika hendak membuka email attachment. Pasalnya, setiap kita men-doubleclick email attachment (misalnya file .PDF atau .DOC) akan muncul Open Save Dialog Box yang menanyakan apakah anda ingin membuka atau men-save file tersebut. Tentu saja ini menambah kerjaan dan menyita waktu anda, dan tentunya membuat anda kesal, apalagi untuk anda yang menggunakan Microsoft Outlook 2007 sehari-hari untuk bekerja di kantor. Ironisnya, checkbox “Always ask before opening this type of file” yang ada di dialog box itu berwarna grey sehingga tidak bisa anda uncheck. Bagaimana mengatasi hal ini?

Always ask before opening this type of file - disable = dayoha.blogspot.com

Ada 2 cara yang saya temukan untuk mengatasi hal ini, yaitu:

CARA PERTAMA:

1. Tutup Microsoft Outlook 2007 anda (jika masih terbuka).

2. Klik Start, ketik “outlook.exe” (tanpa tanda kutip) dan tunggu sebentar sampai ketemu.

3. Klik kanan pada Outlook.exe yang ditemukan, klik “Run as administrator”

4. Setelah Outlook 2007 terbuka, cari email yang ada attachmentnya (misalnya file .PDF) dan doubleclick.

5. Open Save dialog box akan muncul tapi yang ini checkbox-nya bisa di-uncheck. Uncheck (hilangkan centangnya).

Always ask before opening this type of file - enable. = dayoha.blogspot.com

6. Untuk memastikan apakah sudah berhasil, doubleclick attachment tersebut sekali lagi, seharusnya dialog box tidak muncul lagi.

7. Lakukan langkah 4 sampai 6 untuk jenis file attachment yang lain (misalnya file .DOC).

Selamat, anda terbebas dari dialog box yang selalu bikin anda kesal.

CARA KEDUA:

1. Tutup Microsoft Outlook 2007 anda (jika masih terbuka).

2. Klik Start, ketik “regedit.exe” (tanpa tanda kutip), dan klik regedit.exe setelah ditemukan.

outlook.exe Run as administrator

3. Untuk file .DOC, telusuri: Computer\HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Classes\Word.Document.8

Computer-HKEY_LOCAL_MACHINE-SOFTWARE-Classes-Word.Document.8

4. Doubleclick “EditFlags” yang ada di sebelah kanan.

5. Setelah muncul kotak baru “Edit Binary Value”, ganti Value Data 00 00 00 00 menjadi 00 00 01 00 lalu klik tombol “OK” di bawah.

Edit Binary Value

6. Jalankan Outlook 2007 dan coba doubleclick file attachment .DOC, jika file langsung terbuka tanpa muncul dialog box, artinya sudah berhasil.

7. Lakukan langkah 1 sampai 6 untuk jenis file attachment yang lain (misalnya file .PDF), kecuali langkah 2 jika regedit anda masih terbuka.

 

Untuk file .PDF, karena saya menggunakan PDF-XChange Viewer yang sudah ter-associate dengan file ber-extension .PDF, maka lokasi EditFlags pada Registry ada di:

Computer\ HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Classes\PDF-XChangeViewer.1

 

Bagaimana mengetahui lokasi EditFlags pada Registry untuk jenis dokumen lain?

Misalnya anda ingin mencari lokasi EditFlags untuk file ber-extensi .DOCX, maka telusuri:

Computer\ HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Classes\.docx

Menemukan lokasi EditFlags pada Registry untuk suatu file type

dan klik segitiga di samping kirinya, maka akan muncul seperti folder “Word.Document.12” di bawahnya. Berarti lokasi EditFlags untuk file ber-extensi .DOCX ada di

Computer\ HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Classes\Word.Document.12

BAGAIMANA JIKA INGIN MEMUNCULKAN KEMBALI DIALOG BOX?

Caranya, lakukan CARA KEDUA dan kembalikan EditFlags-nya menjadi 00 00 00 00

Salam,

Jumat, 03 April 2009

bahaya PhenylPropanolAmine (PPA) dalam obat-obatan

Pagi hari ini saya menerima sebuah pesan yang dikirim via Yahoo Messenger (YM) oleh salah seorang teman, pesan itu sepertinya dikirim secara massal ke semua contact list-nya, seperti gambar berikut:

Udah pada punya Yahoo Messenger khan? Klik untuk men-download (mengunduh - halah)

QUOTE:

DRUG RECALL VERY SERIOUS !!! Phenylpropanolamine adlh obat influensa (decongestant) yg sejak 1 Mrt ini oleh Badan pngawasn obat & pangan Amerika (FDA) dtarik dr predarannya krn trbkti dpt mnybbkn STROKE di OTAK sbg dampak sampingnya Di Indonesia trdpt kira2 100 obat2an yg mngandung phenylpropanolamine & sring dpkai ol masy Obat2 itu a.l: Decolgen,Decolsin, Sinutab,Allerin, Bodrexin,Contac 500, Cosyr (trutama utk anak2), Flucyl,Fludane,Flugesic ,Inza,Komix, Mixaflu,Mixagrip, Nalgestan,Neozep forte Nodrof, Paratusin,Procold, Rhinopront,Rhinotussal,Sanaflu,Siladex, Stopcold, Triaminic drops (utk anak2), Tusalgin. Wass ( tlg sebar luaskan)

WADUH….pesan itu meminta saya untuk menyebarluaskannya nih, tapi takutnya itu cuman HOAX sehingga hanya menyesatkan saja. Harus diselidiki dulu nih…oke deh…

Detective Conan mode: ON

SIAPKAN SENJATA

Di jaman sekarang yang sudah serba canggih ini, apapun profesi kita, gak bisa terlepas dari senjata yang satu ini, yang wajib dimiliki dan dipakai oleh semua orang, bahkan anak kecil sekalipun hehe…apalagi kalau bukan “paman Google”. Hasil pencarian dengan kata kunci (keyword) “Phenylpropanolamine” menghasilkan hasil pencarian berikut (perhatikan bahwa saya memilih untuk menampilkan hasil dari situs Indonesia):

Google-search-result-on-PhenylPropanolAmine

Maksudnya mau nyari web dengan bahasa Indonesia tapi kok yang muncul pada pake bahasa Inggris..wahwahwah. Di urutan ke-3 ada web pake bahasa Indonesia tuh, mari kita klik http://pusdiknakes.or.id/persinew/?show=detailnews&kode=388&tbl=cakrawala untuk membukanya, berikut sedikit kutipan dari web tersebut.

QUOTE:

Masih Bergulir, Polemik Phenylpropanolamine (PPA)
Kamis, 07 Dec 2000 13:43:19

Pdpersi, Jakarta - Polemik seputar obat flu yang mengandung Phenylpropanolamine (PPA) masih menggelinding. Padahal, hasil rapat Komisi Nasional Penilai Obat Jadi (Komnas POJ) memutuskan, penggunaan PPA dalam obat flu dan batuk dengan dosis kurang dari 75 mg per hari, menurut analisis statistik Yale Study dinyatakan aman untuk dekongestan hidung. Namun, untuk lebih menjamin perlindungan bagi kesehatan konsumen, industri farmasi harus menurunkan dosis maksimal PPA per takaran menjadi 15 mg, dengan dosis maksimal per hari 60 mg.

.

.

.

Yang lebih penting, tukas Marius, adanya key informasi di FDA. “Apakah obat yang mengandung PPA masih bisa dikonsumsi atau tidak?” ujar Martius. Sebab, lanjutnya, alasan dari pejabat POM selalu berkutat pada dosis. “Mereka (pejabat POM-red) selalu berargumentasi, dosis di luar negeri kan lebih tinggi dari dosis di negara kita,” tiru Marius.

Jadi memang isu mengenai Phenylpropanolamine ini sudah ada sejak tahun 2000 atau sebelumnya. Wah…keliatannya serius nih.

APA ITU PHENYLPROPANOLAMINE (PPA)?

Untuk mendapatkan informasi mengenai PPA, kita cari saja di Wikipedia. Pencarian dengan kata kunci “Phenylpropanolamine” (tanpa tanda kutip) membawa kita menuju hasil pencarian dengan URL http://en.wikipedia.org/wiki/Phenylpropanolamine, berikut kutipannya (hanya ada dalam bahasa Inggris nih huhu):

QUOTE:

(PPA) is a drug ingredient of the phenethylamine family used as a decongestant[1] in prescription and nonprescription (over the counter) cough and cold, and sinus remedies, and some combination allergy medications. It is also present in an appetite suppressant.[2] In veterinary medicine, it is used to control urinary incontinence in dogs.

Decongestant = pelega hidung tersumbat
Apetite suppressant = penekan nafsu makan (untuk menurunkan berat badan)

Terjemahan: “Phenylpropanolamine adalah bahan obat sejenis phenethylamine yang digunakan sebagai pelega hidung tersumbat seperti batuk dan demam, sinus, dan pengobatan alergi, dengan dan tanpa resep dokter. Phenylpropanolamine juga ada dalam suatu obat penekan nafsu makan. Dalam ilmu kedokteran hewan, Phenylpropanolamine dipakai untuk mengontrol takaran per-kencing-an anjing.”

Waduuuhh…bisa dipake buat anjing???

QUOTE:

Side effects

A scientific study[3] found an increased risk of hemorrhagic stroke in women who used phenylpropanolamine, although it is not clear which isomer is to blame. A study at the Yale University School of Medicine in 1999 had produced similar results.[1] Reports of cases of hemorrhagic strokes in PPA users had been circulating since the 1970s.

Hemorrhagic stroke = pendarahan otak

Terjemahan: EFEK SAMPING: Suatu studi ilmiah menemukan peningkatan resiko pendarahan otak pada wanita yang menggunakan Phenylpropanolamine, meskipun tidak jelas isomer mana yang disalahkan. Suatu studi di sekolah kedokteran Universitas Yale pada tahun 1999 memberikan hasil yang sama. Laporan mengenai kasus pendarahan otak pada penggunan Phenylpropanolamine telah beredar sejak sekitar tahun 1970an.”

Waahh…ternyata sudah banyak kasus yah sejak jaman dulu, tapi kok masih dipake terus sampe sekarang ya. Oya, kenapa yang kena efeknya tuh wanita? Wah…butuh investigasi lebih lanjut nih heheh…

SUMBER LAIN

Oya, di kedua situs/web tersebut sering disebut-sebut FDA, ternyata itu adalah “Food and Drug Administration”, semacam suatu badan pengawas, peneliti, dan peng-investigasi obat-obatan dan makanan milik Amerika Serikat. Penjelasan mengenai PPA ada di webpage http://www.fda.gov/CDER/drug/infopage/ppa/. Berbeda dengan artikel di web Pusdiknakes yang di-publish tanggal 7 Desember 2000, artikel yang di-publish di web FDA jauh lebih baru, yaitu tanggal 23 Desember 2005. Berikut sedikit kutipan dari web FDA.

QUOTE:

The Food and Drug Administration (FDA) is taking steps to remove phenylpropanolamine (PPA) from all drug products and has requested that all drug companies discontinue marketing products containing PPA.

In response to the request made by FDA in November 2000, many companies have voluntarily reformulated and are continuing to reformulate their products to exclude PPA while FDA proceeds with the regulatory process necessary to remove PPA from the market.

FDA is aware of emails circulating widely that list many products allegedly containing PPA. These emails, however, generally contain dated and inaccurate information and should be ignored.

The FDA recommends that consumers read the labels of OTC drug products to determine if the product contains PPA. The Agency believes this to be the most accurate method for determining the PPA content of OTC products rather than providing an incomplete or out-of-date list of products that may have already been reformulated and no longer contain PPA. (Introduction updated 03/07/2003)

Terjemahan: waduh waduh...penerjemahnya lagi kecapean nih…libur dulu ah hehehehe…

KESIMPULAN

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari beberapa website di atas, dapat disimpulkan:

  1. Phenylpropanolamine (disingkat PPA) adalah bahan yang berbahaya karena dapat meningkatkan resiko pendarahan otak khususnya pada wanita. PPA biasanya ditemukan dalam obat pelega hidung tersumbat dan obat penurun berat badan. Hindari penggunaan obat yang mengandung PPA.
  2. Badan pengawas obat-obatan dan makanan di Amerika (FDA) telah melarang penggunaan PPA, banyak perusahaan di Amerika tidak lagi menggunakan PPA sejak permintaan FDA pada November 2000. Harusnya hal ini juga berlaku di Indonesia dong yah.
  3. Jangan percaya email atau pesan pemberitahuan seperti yang saya dapat lewat YM di atas yang mencantumkan daftar produk-produk yang menggunakan PPA, karena banyak perusahaan-perusahaan obat mungkin sudah banyak yang tidak lagi menggunakan PPA.
  4. Cara terbaik untuk mengetahui apakah suatu produk menggunakan PPA atau tidak, yaitu dengan cara membaca langsung label yang tertera pada produk tersebut.

Nah…makanya jangan keseringan pake obat-obatan yah…yang namanya obat tuh pake bahan-bahan kimia yang biasanya bahaya dan efek sampingnya nya baru ketauan belakangan. Namanya juga bahan kimia, kan dibuat oleh manusia yang tidak luput dari kesalahan. Kalau bisa sih pakai obat-obatan alami aja ya, ciptaan Tuhan.

Nah, jadi tau deh tentang Phenylpropanolamine, lumayan khan nambah pengetahuan tentang kesehatan, gak cuman Facebook-an doank hahahaha…

Sori kalo ada salah-salah…namanya juga manusia wekekkekek…

Ada saran/kritik/hinaan/cacian/makian? Monggo tulis komentar nya wokeh…?!

Selasa, 24 Maret 2009

1 ons = 100 gram ???


Aaahhhh…senangnya hari ini bisa bernafas lebih lega, beban kerja saya sedang menurun, hari minggu kemarin adalah klimaks dari segala ketegangan-ketegangan kerja yang saya jalani sejak beberapa bulan lalu. Mumpung ketegangan belum naik lagi, saatnya melakukan aktifitas yang sudah lama tidak saya lakukan…pada tau kan jawabannya…benar sekali…browsing internet hehe.

Selain itu, selama beberapa bulan tersebut, banyak sekali email-email yang hanya saya baca sekilas kemudian saya hapus atau saya pindahkan ke folder lain karena tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Hari ini saya beruntung punya waktu untuk membuka email-email lama tersebut. Perhatian saya tertuju pada sebuah email yang berisi pesan yang isinya membuat saya benar-benar penasaran, subject email tersebut adalah “1 ons = 100 gram ?”. Selain subject-nya yang cukup tumben, yang bikin saya heran adalah tanda-tanya nya, ngerti khan maksud saya. Pesan lengkapnya seperti ini:


==================

PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.

Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce(ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.

Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun
telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.

Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia . Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimanapara murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;

"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional , yang menyatakan bahwa :

1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia
internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan
Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan
dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia . Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.

Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)

1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)

1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)

1 gallon = 3.785 liter (bukan 19 liter)

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran system timbang dgn satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

# # # # #

Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.

Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas.

Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia , silahkan diperbanyak/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.

Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada.

Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia . Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.


==================

Saya tidak tau siapa sebenarnya yang menulis tulisan itu dan kapan dibuatnya, tapi tulisan itu benar-benar bikin saya kaget dan penasaran.

LANGSUNG ACTION

Setelah membaca tulisan tersebut, saya langsung buka software konversi satuan yang saya punya untuk menghilangkan rasa penasaran saya. Masa iya sih 1 ons itu tidak sama dengan 100 gram, padahal sejak dulu kita memang diajarkan seperti itu, dan kesepakatan seperti itu masih dipakai sampai sekarang di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam hal jual beli.

Image

Software seperti pada gambar di atas adalah software yang sering saya gunakan dalam pekerjaan saya, kamu bisa mendownloadnya (freeware) di: http://www.joshmadison.com/software

Dari gambar di atas, memang tidak ditemukan satuan “ons”, yang ada adalah “ounce”, dan ada 2 jenis pula. Terlepas dari sama atau tidaknya “ons” dan “ounce”, benar juga yang dibilang tulisan tersebut, 1 ounce/ons = 28,35 gram. Wow…saya juga mulai berpikir kalau kita semua dibohongi dan terjerumus dalam kesesatan, seperti yang diceritakan oleh penulis tulisan itu. Tapi bagaimana dengan ounce yang satunya lagi? Begini hasilnya:

Image

Ternyata hasilnya beda yah, 1 ounce (troy) = 31,10 gram, duuuhh…kok pake ada 2 versi segala sih yah, memang 28,35 dan 31,10 beda sedikit sih, tapi jauh banget khan dengan 100 gram.

SUMBER LAIN

Saya gak berhenti di situ, rasa penasaran belum terpuaskan nih. Saya keluarin deh jurus ke-dua…saya buka software konversi satuan lain yang saya punya, hasilnya adalah seperti berikut:

Image
http://www.coade.com

Tinggal masukkan angka ke salah satu kotak tersebut lalu tekan Enter, maka hasil konversi untuk satuan yang lain akan muncul. Dari gambar di atas juga ternyata hasilnya sama.

MASIH BELUM PUAS

Saya masih penasaran, apakah “ons” itu sama dengan “ounce” ??? Masih ada jurus lain untuk mencari tau, ya betul…kita tanya aja sama paman google (mumpung bisa konek ke internet xixixi).

Akhirnya…cukup dengan keyword “ons”…paman google kasih kita jawaban seperti berikut:

Image

Wow….akhirnya ketemu juga jawabannya, 1 ons = 100 gram, berarti apa yang dikatakan dalam tulisan tersebut tidak 100% benar, penulis tersebut menganggap “ons” itu sama dengan “ounce”, ternyata beda khan?!. Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan “ounce”? kita ganti keywordnya jadi “ounce”…hasilnya:


Image

NAH…sekarang jelas lah sudah, bahwa “ons” itu TIDAK SAMA dengan “ounce”.

DARI MANA PULA ITU SATUAN BERASAL?

Kenapa sih banyak banget satuan, udah gitu hampir sama lagih tulisannya. Kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa kita lebih familiar dengan “ons”, bukan “ounce”. Well, berdasarkan hasil pencarian lebih lanjut yang
saya lakukan, ternyata “ons” adalah warisan dari “kumpeni” alias Belanda.

Image
Dikutip dari: http://www.unc.edu/~rowlett/units/dictO.html

OKE, masalah “ons” sudah teratasi, bagaimana dengan “pound” dan “gallon” ????

Kita buka lagi software COADE Unit Conversion Utility nyok…

Image

Dengan memasukkan angka 1 ke kotak “lb” (oiya, saya lupa jelasin kalau “pound” itu disingkat jadi “lb”…nah lho…kok jauh banget dan gak nyambung ya singkatannya…puyeng puyeng dah), didapatkan hasil yang sama dengan yang ditulis di artikel tersebut.

Kita coba sekali lagi untuk “gallon” ya, hasilnya seperti berikut:

Image

Hasilnya sama dengan yang ditulis di artikel itu.

DUUUH…kenapa sih banyak banget satuan…kenapa ada versi amerika, versi inggris, versi ini versi itu…bikin pusing aja ya.

Ada lagi nih, kalo kamu buka http://www.onlineconversion.com/weight_all.htm, ternyata untuk satuan berat aja, katanya ada ratusan lebih satuan (ya ampyuuunn…), kayaknya setiap suku bangsa di dunia ini bikin standar satuan sendiri kali yah…

Image

Tuuhh…liat…ada ons, onca, once, oncia, onza…..cape deehh….

Setelah membuka situs tersebut, kamu bisa langsung save halaman web itu ke harddisk kamu (secara lengkap) untuk dibuka secara offline karena konversi satuan yang ada di situs itu pake javascript (client-side script), jadi kamu gak perlu terhubung dengan internet untuk menjalankannya.

Saya gak tau bagaimana system pendidikan di sekolah-sekolah jaman sekarang, harusnya sih kita hanya menggunakan Satuan Internasional saja biar gak pusing dan dapat meng-eliminasi masalah-masalah tersebut. Jika masih pakai berbagai satuan, ada baiknya print tabel konversi berikut trus tempel deh di lemari, di tembok, atau di cermin, biar hapal wkekekek..

PEMBULATAN DAN/ATAU PENYEDERHANAAN

Saya masih ingat kok, pada saat di bangku sekolah dulu, kita memang diajarkan bahwa 1 kg = 2 pound, atau dengan kata lain 1 pound = 500 gram. Dulu kata guru sih biar sederhana dan gampang menghitungnya.

Oke, memang jadinya lebih gampang, apalagi jaman sekolah dulu gak pake kalkulator. Untuk keperluan pendidikan, menurut saya boleh-boleh saja konversi satuan tersebut dibulatkan untuk mempermudah perhitungan, toh pada saat sekolah, yang diprioritaskan adalah cara/logika berpikir. Akan tetapi, anak sekolah tetap harus diberitahu bahwa itu adalah pembulatan, bukan angka konversi yang sesungguhnya. Anak sekolah
harus diperingatkan bahwa pada saat terjun di dunia nyata nanti, pembulatan semacam itu dilarang. Seperti diungkapkan dalam tulisan tersebut, itu bisa menyebabkan malpraktek. Bayangkan misalnya jika seorang ilmuwan menambahkan 500 gram bahan reaktif pada suatu reaksi nuklir, padahal dia harusnya menambahkan 453,592 gram, wah bisa-bisa nuclear plant nya meledug tuh.

Satuan lain yang biasa kita sederhanakan pada saat di bangku sekolah adalah besaran pi, yang kita pakai untuk menghitung luas dan keliling lingkaran, atau volume atau permukaan bola, biasanya kita gunakan angka 22/7 atau 3,14 sebagai pendekatan. Namun pada dunia kerja, kita harus menggunakan nilai dari pi yang sesungguhnya. Perbandingan antara ketiga angka tersebut dapat kita lihat dalam tabel Excel sebagai berikut:

Image

Terlihat lah bahwa memang 22/7 adalah pendekatan terhadap nilai pi yang sesungguhnya. Jika menghitung dengan menggunakan Excel, gunakan “PI()” (tanpa tanda kutip) untuk nilai pi.

KESALAHAN YANG TER-AKUMULASI (ACCUMULATIVE ERROR)

Bayangkan jika kita menghitung luas suatu lingkaran dengan jari-jari r dan menggunakan nilai pi yang telah disederhanakan, tentu hasil perhitungannya tidak akurat. Nah bagaimana jika hasil perhitungan yang tidak akurat itu dibulatkan lagi kemudian dijadikan input untuk perhitungan yang lain, tentu hasil perhitungan
yang ke-dua mengandung kesalahan yang lebih banyak lagi, dan seterusnya dan seterusnya, inilah yang dimaksud dengan accumulative error (kesalahan yang bertumpuk-tumpuk).

Lho kok jadi ngelantur kemana-mana nih yah…

Udah dulu ah…ngantuk nih…

Mohon maaf kalau ada yang salah, koreksi/komentar/saran/kritik nya saya tunggu okay.


Ada baiknya kamu pasang software konversi satuan di komputer kamu, download
aja di:

http://joshmadison.com/special-stuff/software/convert.zip

ukurannya downloadnya cuman 152,9 kB kok.


Ada yang punya software konversi satuan yang lebih canggih?


Satu lagi:

Image
24 karat = 4.8 gram