Ahlak menerima “paper rejection”

Berdasar pengalaman berkali-kali, menerima rejection paper ilmiah yang sudah kita tulis secara bersungguh-sungguh dari jurnal yang kita tuju, memang menyakitkan (mungkin setara sakit gigi dan sakit hati sekaligus). Hilang rasa percaya diri, juga rasanya malu sudah PhD dan bisa English cas-cis-cus dan was-wes-wos pun ternyata malah mentok. Sudah kerja keras, banting-tulang, keluar keringat dan air mata, dengan pengorbanan melek menata huruf di layar monitor saat diluar jam kerja dan juga weekend; tapi ujungnya adalah penolakan. Belum dihitung keluar duit pribadi untuk pengumpulan data, juga untuk biaya proof reading English (emang ngak punya research grant sudah bertahun-tahun). Kalau pun saya pernah punya beberapa paper yg accepted di jurnal octopus maupun WoS, percayalah yang di-reject malah lebih banyak lagi.
.

Continue reading Ahlak menerima “paper rejection”

Cerita H-index peneliti

Berdasar pengalaman berinteraksi dengan akademisi di tanah air, isu happening perlahan berubah dari memiliki Scopus ID, menjadi berapa H-index-nya. Hal yang menarik karena memang pasar “sudah jenuh”, bahwa ternyata mendapatkan identitas peneliti dunia yang elit dan eksklusif tidak terlalu susah, cukup hadir dalam satu konferensi tertentu, artikel masuk proceeding-nya dan Scopus ID pun didapat. Bisa untuk mejeng dan bikin serem orang lain juga katanya.  Maka dunia permainan keren-kerenan pun bergeser, merambah ke H-index, yang menunjukkan nilai impak kerja akademisi dalam bidangnya.
.
H-index ini emang ajaib. Satu contoh praktek yang bisa dilabeli sebagai “group-centered statistic” yang merangkum banyak data tentang sitasi oleh artikel dari peneliti lain ke artikel kita, yang ujungnya jadi satu angka (biasanya sampai dua desimal). Delapan tahun lalu saat pertama kali punya artikel yang publish di satu jurnal Octopus yang juga WoS, kalau ditanya H-index jawabnya nyengir kuda. Karena memang nilainya masih nol besar.
.

Continue reading Cerita H-index peneliti

Perbedaan temuan hasil riset

“Temuan ini berdasar data yang valid!! Kenapa hasilnya bisa berbeda begini?!”.  Iya lah riset yang dilakukan memang teorinya sudah mantap, construct variable nya jelas dan memuaskan, instrumennya teruji dari aspek reliabilitas dan validitas, samplingnya pun representatif, prosedur data cleaning dan data validation pun lengkap dilakukan. Tapi kenapa hasil kesimpulan bisa beda?????

Continue reading Perbedaan temuan hasil riset

Bahasa Inggris sebagai bahasa tulisan ilmiah

Nulis artikel ilmiah/paper ke jurnal yang internasional memang tidak banyak pilihan, yah harus dengan English. Saat ini, mau ngak mau, suka tidak suka, kudu pake English. Sejarah perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebetulnya menunjukkan, English adalah bahasa yang baru muncul belakangan menguasai dunia bahasa iptek ini. Sebelumnya, kononnya ia bersaing ketat dengan bahasa Jerman dan bahasa Perancis sebagai bahasa ilmiah; tarik mundur ke belakang, bahasa Arab pernah menjadi bahasa pengantar dalam iptek, tarik terus sampai ke masa awal Masehi memang bahasa Latin yang merajai. Kedepan kita ngak tahu English masih bertahan atau diganti dengan bahasa Mandarin misalnya, atau mungkin Bahasa Indonesia. Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa iptek memang berkembang pesat di satu wilayah karena adanya kestabilan  politik dan dukungan pertumbuhan ekonomi yang memodalinya.

Continue reading Bahasa Inggris sebagai bahasa tulisan ilmiah

Retraksi artikel ilmiah

Artikel ilmiah yg terbit di jurnal terkeren sedunia pun ternyata tidak abadi. Lihat foto di bawah, satu artikel yg terbit di Nature (2019 impact factor: 42.778), tujuh tahun kemudian resmi ditarik. Alasannya ternyata hasil yg dibahas pada artikel teresbeut tak kunjung bisa direplikasi. Yang menunjukkan apa yg ditulis terlalu prematur utk diakui dan diketahui publik ilmiah (not conclusive evidence). Yah mungkin penulisnya takut keduluan orang dalam mempublikasi temuan, maka kirim saja, dan dulu editor serta reviewer saat itu pun setuju isinya berkualitas, dan jadi lah publish resmi (indexed).
 

Continue reading Retraksi artikel ilmiah

Pentingnya memilih kata kunci yang tepat

Dulu sekali kalau sudah beres nulis satu artikel ilmiah dan memilihkan kata kunci (keywords), yang dilakukan adalah memilih satu atau dua kata dari yang umum/biasa, dan sisanya yang unik-khas yang niatnya untuk menunjukkan ‘kepemilikan’ dan identitas (maksudnya supaya orang tahu, kita lah pakar dalam bidang itu, he he he).  Ternyata urusan memilih kata kunci bukan urusan selera gampangan, malah ini investasi paling strategis untuk nantinya paper kita bisa ditemukan dan ujungnya dikutif (tanpa perlu bantuan mafia atau kartel sitasi yang terkenal itu tentunya).

Continue reading Pentingnya memilih kata kunci yang tepat

Alternatif publikasi di jurnal Open Access

Saat pertama berubah profesi menjadi pengajar mahasiswa, lebih dari 10 tahun lalu, dunia publikasi ilmiah internasional terasa masih “gelap”. Walau sedikit tahu tentang artikel jurnal, indeks dan database ilmiah dari bekal saat studi pasca sarjana dulu, namun saat terjun kerja sebagai akademisi pengetahuan itu emang ngak cukup. Harus banyak baca dan belajar seluk beluk publikasi ilmiah secara langsung, yang memang saat itu susah didapat (khususnya dalam ilmu sosial). Pernah ikut workshop dan seminar publikasi, tapi pembicaranya selalu dari bidang sains dan teknologi, sehingga ide dan proses yang ditawarkan banyaknya ngak nyambung sama sekali. Ini memang periode jatuh-bangun yang menyakitkan, target pun ke jurnal-jurnal kelas lokal (2010-2012), boro-boro ke jurnal Scopus.
 

Continue reading Alternatif publikasi di jurnal Open Access

ORCID: identitas peneliti

Salah satu cara untuk memudahkan administrasi kependudukan, saat ini diberlakukan nomor identitas unik bagi setiap penduduk. Dengan nomor unik yang dimiliki oleh setiap warga negara, hal ini akan memudahkan identifikasi dan pencatatan untuk berbagai pelayanan pada warganya, yang meliputi pendidikan (misal tercantum pada ijasah), kesehatan (asuransi), untuk bayar pajak, pemilihan umum, passport dll. Dalam dunia riset dan publikasi juga, diperlukan hal yang sama. Satu nomor identitas oleh peneliti atau akademisi yang banyak digunakan adalah ORCID. Artikel ini akan mencoba menjelaskan tentang hal itu dan kegunaan yang bisa dimanfaatkan.

Continue reading ORCID: identitas peneliti

Scopus vs Sikopus

Sekitar dua tahun lalu melalui satu grup diskusi WhatsApp mendapati isi pesan yang unik yang tidak terduga. Isi pesannya memang bisa dianalisis lebih lanjut yang menjelaskan satu wajah dunia akademisi di kita. Pesannya adalah membuat jurnal Sikopus yang bermaksud untuk menyaingi Scopus. Oleh karena itu sangat menantang untuk berusaha berbagi (sharing) info tentang dunia riset dan publikasi melalui blog supaya bisa menghindari hal-hal yang tidak perlu seperti “Sikopus” tadi. Tulisan perdana di blog ini akan menjelaskan hal itu, dan selanjutnya akan berbagi serba-serbi tentang penulisan artikel ilmiah dan publikasi di jurnal internasional berdasar pengalaman dan pandangan penulis. Siapa tahu hal ini bisa bermanfaat bagi yang lainnya.

Continue reading Scopus vs Sikopus