Setelah membaca Tasyahud, Ta‘awwudz, dan Surah Al-Fatihah, Yang Mulia Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) menyampaikan bahwa terdapat tak terhitung banyaknya peristiwa yang menggambarkan kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Allah. Bahkan, seluruh kehidupan beliau bagaikan samudra cinta kepada Allah.
Ketidaksenangan Rasulullah ﷺ terhadap Penghinaan kepada Allah Ta‘ala
Pada saat itu, Abu Sufyan berteriak menanyakan keberadaan Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat di sekitarnya untuk tetap diam. Demikian pula ketika Abu Sufyan menanyakan tentang Hazrat Abu Bakar (ra) dan Hazrat Umar (ra), Rasulullah ﷺ kembali memerintahkan agar tidak ada yang menjawab. Abu Sufyan lalu berkata bahwa hal itu berarti mereka semua telah meninggal, sebab jika tidak, tentu mereka akan menjawab. Hazrat Umar (ra) tidak sanggup menahan diri dan menjawab bahwa Rasulullah ﷺ masih hidup. Mendengar hal itu, Abu Sufyan meneriakkan slogan untuk memuliakan berhala Hubal. Rasulullah ﷺ tidak dapat menahan diri terhadap hal ini dan memerintahkan para sahabat untuk menjawab, “Allah Mahatinggi, Mahamulia.”
Yang Mulia (aba) menjelaskan bahwa salah satu contoh kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Allah terjadi pada Perang Uhud. Diriwayatkan bahwa pada hari Uhud, Rasulullah ﷺ menempatkan satu pasukan pemanah dan dengan tegas memerintahkan mereka agar tidak meninggalkan posisi mereka, baik ketika kaum Muslimin terlihat menang maupun kalah. Namun, ketika kaum Muslimin tampak mengungguli kaum kafir, pasukan pemanah tersebut tergoda oleh harta rampasan perang sehingga meninggalkan pos mereka untuk mengumpulkannya. Pada saat itu, secara kiasan, pertolongan Allah berpaling dari kaum Muslimin, dan kemenangan berubah menjadi keadaan yang merugikan ketika pasukan musyrik kembali menyerang, yang mengakibatkan gugurnya 70 orang Muslim sebagai syahid.
Abu Sufyan kemudian berkata, “Kami memiliki Uzza, dan kalian tidak memiliki Uzza.” Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk menjawab, “Allah adalah Penolong kami, dan kalian tidak memiliki penolong.” Dengan kata lain, ketika menyangkut kehormatan dan keagungan Allah, Rasulullah ﷺ tidak memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Sebelumnya beliau memerintahkan para sahabat untuk diam, namun dalam perkara kehormatan Allah, beliau memerintahkan agar mereka tidak diam, melainkan menjawab dan memuliakan Allah.
Yang Mulia (aba) kemudian mengutip Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra), Khalifah Kedua Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang menulis:
“Kaum Muslimin yang membentuk lingkaran di sekeliling Nabi, tetapi terpukul mundur, segera maju kembali ketika melihat musuh mundur. Mereka mengangkat tubuh Nabi dari antara orang-orang yang gugur. Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah menggigit dengan giginya cincin besi yang menancap di pipi Nabi dan menariknya keluar, hingga dua giginya tanggal. Setelah beberapa saat, Nabi siuman kembali. Para penjaga di sekeliling beliau mengirim utusan untuk memanggil kaum Muslimin agar berkumpul kembali. Pasukan yang tercerai-berai mulai berkumpul dan mengawal Nabi ke kaki bukit. Abu Sufyan, panglima musuh, melihat sisa-sisa kaum Muslimin itu dan berteriak, ‘Kami telah membunuh Muhammad.’ Nabi mendengar teriakan itu, tetapi melarang kaum Muslimin menjawab, agar musuh tidak mengetahui kebenaran dan kembali menyerang, sementara kaum Muslimin dalam keadaan lelah dan terluka parah. Karena tidak mendapat jawaban, Abu Sufyan yakin bahwa Nabi telah wafat. Ia lalu berteriak lagi, ‘Kami juga telah membunuh Abu Bakar.’ Nabi melarang Abu Bakar menjawab. Kemudian Abu Sufyan berteriak ketiga kalinya, ‘Kami juga telah membunuh Umar.’ Nabi melarang Umar menjawab. Abu Sufyan lalu berteriak bahwa mereka telah membunuh ketiganya. Pada saat itu, Umar tidak dapat menahan diri dan berteriak, ‘Kami semua masih hidup dan dengan karunia Allah siap memerangi kalian dan mematahkan kepala kalian.’ Abu Sufyan kemudian meneriakkan seruan kebangsaan mereka, ‘Kemuliaan bagi Hubal! Kemuliaan bagi Hubal! Hubal telah mengakhiri Islam.’ (Hubal adalah berhala nasional kaum Mekah). Nabi tidak dapat menahan penghinaan terhadap Allah Yang Maha Esa, demi-Nya beliau dan kaum Muslimin siap mengorbankan segalanya. Beliau telah membiarkan pernyataan tentang wafatnya diri beliau, Abu Bakar, dan Umar demi alasan strategi. Namun kini musuh telah menghina Allah. Nabi bangkit dengan penuh semangat dan berkata kepada kaum Muslimin, ‘Mengapa kalian diam dan tidak menjawab penghinaan terhadap Allah Yang Maha Esa ini?’ Kaum Muslimin bertanya, ‘Apa yang harus kami katakan, wahai Nabi?’ Beliau bersabda, ‘Katakanlah: Allah saja Yang Maha Besar dan Maha Perkasa. Allah saja Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia.’ Kaum Muslimin pun meneriakkannya. Seruan ini membuat musuh terkejut. Mereka sadar bahwa Nabi ternyata belum wafat. Di hadapan mereka berdiri segelintir kaum Muslimin yang terluka dan kelelahan. Sebenarnya mudah untuk menghabisi mereka, tetapi mereka tidak berani menyerang lagi. Puas dengan kemenangan semu yang mereka peroleh, mereka pun kembali dengan penuh sorak-sorai.”
Yang Mulia (aba) menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan membiarkan sedikit pun unsur penyekutuan terhadap Allah. Suatu ketika, seseorang berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Apa pun yang engkau dan Allah kehendaki.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Apakah engkau menjadikanku sekutu bagi Allah? Katakanlah hanya, ‘Apa pun yang Allah kehendaki.’”
Ketidaksukaan Beliau terhadap Menjadikan Kuburan sebagai Tempat Ibadah
Yang Mulia (aba) menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ sangat khawatir agar kuburan tidak dijadikan tempat ibadah. Sangat disayangkan, dewasa ini kita melihat sebagian kaum Muslimin bersujud di kuburan dan makam para ulama atau pemimpin mereka. Padahal, diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada dalam sakit terakhirnya, beliau berdoa agar Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Dengan demikian, Rasulullah ﷺ mengajarkan larangan keras terhadap penyembahan di kuburan.
Pemahaman Mendalam Beliau tentang Keesaan Allah
Yang Mulia (aba) berkata bahwa suatu ketika orang-orang kafir meminta Rasulullah ﷺ untuk menjelaskan silsilah Allah. Maka Allah menurunkan wahyu: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Berdiri Sendiri dan menjadi tumpuan segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” Rasulullah ﷺ memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyampaikan tentang keesaan Allah dan menyebarkan pesan ini kepada orang lain.
Yang Mulia (aba) juga menyampaikan bahwa ketika hujan turun, sebagian orang kafir mengatakan hujan itu terjadi karena bintang tertentu. Suatu kali, setelah hujan turun, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa pun yang mengatakan hujan turun karena karunia Allah, maka ia termasuk umat beliau, sedangkan mereka yang mengatakan hujan turun karena bintang bukanlah bagian dari umat beliau dan tidak beriman kepada Allah. Orang-orang pun mengakui bahwa tidak ada seorang pun selain Rasulullah ﷺ yang memiliki pemahaman sedalam itu tentang keesaan dan keagungan Allah.
Yang Mulia (aba) menambahkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang apa yang membawa seseorang ke surga dan apa yang membawanya ke neraka. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa siapa pun yang tidak menyekutukan Allah akan masuk surga, dan mereka yang menyekutukan Allah akan masuk neraka. Prinsip yang sama berlaku hingga hari ini. Mereka yang hanya bergantung pada sarana duniawi, pada kemampuan diri sendiri, pada keluarga atau anak-anak mereka, sesungguhnya telah menyekutukan Allah. Sarana duniawi tidak akan bermanfaat di akhirat; yang bermanfaat hanyalah karunia Allah. Untuk meraihnya, Allah memerintahkan setiap orang agar mengikuti teladan Rasulullah ﷺ.
Keinginan Beliau untuk Memberikan Pengorbanan Terbesar bagi Allah
Yang Mulia (aba) menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa Allah telah menjanjikan kemenangan atau surga bagi siapa pun yang berjuang di jalan-Nya, jika ia memiliki iman yang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan dorongan itulah yang membawanya ke jalan tersebut. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda bahwa seandainya beliau bisa, beliau ingin mati syahid, lalu kembali ke dunia untuk mati syahid lagi, dan mengulanginya berkali-kali, semata-mata demi Allah.
Yang Mulia (aba) juga menyebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ dalam perjalanan menuju Badr, seorang lelaki yang terkenal di seluruh Arab karena keberanian dan keahliannya dalam perang bertemu dengan pasukan Muslim. Meskipun ia seorang kafir, ia menawarkan diri untuk bergabung dengan pasukan Muslim. Para sahabat sangat gembira mendengar tawaran itu. Namun Rasulullah ﷺ bertanya apakah ia beriman kepada Allah. Lelaki itu menjawab tidak. Rasulullah ﷺ pun menyuruhnya pergi dan menolak bantuannya. Ketika pasukan Muslim melanjutkan perjalanan, lelaki itu kembali bertemu Rasulullah ﷺ, namun kembali disuruh pergi. Pada pertemuan ketiga, lelaki itu menyatakan bahwa ia kini beriman kepada Allah. Barulah saat itu Rasulullah ﷺ mengizinkannya bergabung. Dengan demikian, dalam keadaan apa pun, keimanan kepada keesaan Allah harus selalu diutamakan.
Zikir Beliau yang Senantiasa kepada Tuhannya
Yang Mulia (aba) menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ senantiasa berdzikir kepada Allah. Diriwayatkan bahwa ada empat kalimat yang lebih utama daripada semua ucapan lainnya, dan jika seseorang memulai suatu pekerjaan dengan salah satu darinya, maka pekerjaan itu akan diberkahi. Keempat kalimat tersebut adalah: Subhanallah (Mahasuci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), La ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).
Yang Mulia (aba) juga berkata bahwa suatu ketika seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ dan mengeluhkan bahwa ajaran Islam terasa terlalu berat baginya, sehingga ia tidak sanggup melaksanakan semuanya. Ia meminta Rasulullah ﷺ untuk menyebutkan beberapa hal saja yang harus ia fokuskan. Rasulullah ﷺ bersabda agar ia senantiasa berdzikir kepada Allah. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kalimat terbaik adalah La ilaha illallah dan doa terbesar adalah Alhamdulillah.
Yang Mulia (aba) menyampaikan bahwa setiap kali Rasulullah ﷺ menerima kabar gembira, beliau segera bersujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebelum tidur, seseorang hendaknya berwudhu seperti hendak salat, lalu berbaring miring ke kanan dan berdoa:
“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku jadikan Engkau sebagai sandaranku. Aku takut dan mencintai-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan keselamatan selain Engkau. Keselamatan hanya ada pada-Mu. Aku beriman kepada Kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.”
Rasulullah ﷺ bersabda agar doa ini menjadi ucapan terakhir sebelum tidur, sehingga jika seseorang wafat dalam tidurnya, itulah kata-kata terakhirnya.
Yang Mulia (aba) berkata bahwa ketika berbaring, Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan sambil berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah hidup dan matiku hanya untuk-Mu.” Ketika bangun tidur, beliau mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah kematian, dan kepada-Nya kami akan kembali.” Dengan demikian, sebelum tidur Rasulullah ﷺ memastikan bahwa hidup dan matinya dipersembahkan hanya untuk Allah, dan ketika bangun, beliau bersyukur atas nikmat kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa keadaan yang paling diridhai Allah adalah ketika seseorang wafat dalam keadaan berdzikir kepada Allah.
Yang Mulia (aba) menambahkan bahwa dewasa ini sebagian kaum Muslimin keliru menganggap bahwa perbuatan paling mulia adalah berperang dan membunuh orang kafir. Padahal Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya bahwa yang lebih utama daripada berperang di jalan Allah adalah senantiasa berdzikir kepada Allah. Inilah bentuk jihad terbesar. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang dari azab Allah seperti zikir kepada Allah.
Yang Mulia (aba) menyampaikan bahwa Hazrat Aisyah (ra), istri Rasulullah ﷺ, meriwayatkan bahwa pada saat-saat terakhir beliau, Allah memberi Rasulullah ﷺ pilihan untuk kembali kepada-Nya atau tetap tinggal di dunia. Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Allah adalah sebaik-baik Pendamping.” Inilah kata-kata terakhir Rasulullah ﷺ.
Sumber: Ringkasan Khutbah Jumat Hazrat Khalifatul Masih IV aba Tanggal 30 Januari 2026, di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK
