picturesof.net

picturesof.net

Siang hari di salah satu stasiun besar di Kota Surabaya. Pada suatu Sabtu, entah Sabtu yang mana. Salah satu Sabtu di bulan lalu. Iya, bulan lalu. Saya bersama beberapa ratus orang menunggu jemputan kereta yang sama. Kereta Sritanjung jurusan Yogyakarta-Banyuwangi.

Saya tiba di stasiun sekitar pukul satu siang. Sesuai yang tertera ditiket kereta, jadwal kedatangan kereta pukul dua lebih sepuluh menit. Dan pasti akan terlambat. Saya bisa pastikan itu, pasti. Saya masuk ke ruang tunggu stasiun. Saya perokok (aktif). Saya langsung merokok. Di dekat tembok stasiun. Ruas kiri rel stasiun. Agak jauh dari tempat duduk orang-orang. Saya berpikir akan menghabiskan beberapa batang untuk menunggu kereta datang. Belum habis satu batang, ada petugas keamanan stasiun yang menegur halus, “Mas, kalau merokok di sebelah sana” ujarnya seraya menunjuk bagian pojok stasiun. Saya segera mematikan rokok saya yang hampir habis dan segera meminta maaf.

Saya memperhatikan bagian pojok stasiun yang dimaksud satpam. Agak jauh dari tembok yang saya sandari. Sepi sekali disana, tak ada seorang pun. Padahal saya yakin dari sekian ratus orang penunggu jemputan kereta yang disini pasti ada beberapa orang perokok (aktif). Artinya, ada beberapa orang perokok (aktif) senasib dengan saya. Harus menahan diri untuk tidak merokok sejenak. Setidaknya sampai kereta datang.

Pojok stasiun yang dimaksud satpam itu saya pastikan tak berfungsi, dan itu wajar. Karena; satu, bagian pojok stasiun itu sangat jauh dari rel kereta pemberhentian. Resiko ketinggalan kereta sangat besar. Paling sial, kehabisan tempat duduk. Dua, pojok kanan stasiun mirip tempat pengasingan. Jauh dari keramaian. Intinya, sangat diskriminatif dan sangat tidak nyaman. Pantas saja, toko-toko kecil di sebelah kanan rel kreta banyak yang tutup. Beda nasib dengan yang di sebelah kiri rel kreta, sebaris dengan tembok yang saya sandari.

Kereta datang sekitar pukul tiga kurang sepuluh menit. Telat. Pasti. Saya masuk belakangan karena kebetulan bawa banyak barang. Ada yang aneh. Tidak seperti biasanya, penumpang yang sudah didalam kereta agak sepi. Sangat langka untuk akhir pekan. Saya duduk dengan tiga perempuan. Sangat berbeda jauh dengan kursi penumpang sebelah kanan saya. Seorang perempuan, dengan lima orang lelaki dan dua bungkus rokok di meja kecil depan tempat duduk.

Kereta berangkat beberapa menit kemudian. Agak lama juga karena lokomotif harus pindah tempat. Saya mulai merasakan hembusan angin. Mencium bau asap kereta. Menghirup asap rokok. Dua dari lima lelaki kanan saya merokok. Si perempuannya, menutup hidung dengan tutup kepala jaket. Saya hanya membanyangkan kenikmatan setiap hembusan. Hukum aktif, minoritas harus menyerah pada mayoritas.

Stasiun pertama, lewat. Stasiun kedua, lewat. Si perempuan yang sendiri masih menutup hidung dan mulut dengan tutup kepala jaket. Ternyata sudah tiga lelaki yang merokok bersamaan. Seorang lagi makan, dan saya yakin lelaki itu akan merokok setelah selesai makan. Satu lelaki lagi entah kemana, mungkin ke kamar kecil. Saya, hanya bisa membayangkan.

Benar sekali. Si lelaki yang tadinya makan sudah merokok. Tiga lelaki masih merokok. Empat lelaki merokok bersamaan. Si perempuan yang sendiri masih menutup hidung dan mulut dengan tutup kepala jaket. Satu lelaki belum juga datang, entah kemana. Saya agak lupa dengan rokok. Saya sibuk ngobrol dengan perempuan di depan saya. Tepat di depan saya.

Si lelaki yang hilang akhirnya datang. Celaka bagi si perempuan yang sendiri itu karena lelaki itu ternyata datang dengan sebungkus rokok. Jelas sekali bila dia adalah perokok (aktif) juga. Penampilannya kelihatan berbeda dengan tiga lelaki yang lain; ia berpakain ala santri. Nampaknya mereka bertiga sudah saling mengenal satu sama lain.

Dia mulai menyalakan rokoknya. Kemudian ngobrol dengan lelaki yang baru selesai makan. Dan ternyata benar. Si lelaki berpakaian ala santri, memang salah satu santri dari pondok pesantren di daerah Jawa Tengah. Si perempuan yang sendiri masih menutup hidung dan mulut dengan tutup kepala jaket. Sementara saya sudah sangat gelisah sekali. Ingin merokok.

Perempuan yang berada tepat di depan saya sibuk baca buku. Dua perempuan lagi kelihatan capek sekali, berusaha tidur. Saya pergi ke lorong kereta Cepat-cepat saya menyalakan rokok di dalam kamar kecil. Susah menyalakan rokok di luar. Anginnya kencang sekali. Entah berapa batang rokok yang saya habiskan di lorong kereta. Saya kembali ke tempat duduk semula. Stasiun Jember sudah di depan. Semoga asap rokok saya tak terhirup olehmu.

Keluarlah

Posted: March 3, 2008 in puisi

Keluarlah, ayo lihat dunia!
Bukan melulu termangu di kursimu

Kita lupakan singgasana dan nama baik
Kehormatan dan ketakutan Read the rest of this entry »

Bulan Retak

Posted: September 29, 2007 in puisi

Setelah keletihan cuaca kau temukan kembali
dalam rimba gelap itu. Tubuhmu tak lagi terlihat
berenang di atas kolam. Kau sebut dirimu air tumpah-
Sabit yang lapar purnama. Sedang embun
yang bersetubuh dengan angin mulai jenuh
menggetar matamu. Read the rest of this entry »

televisi yang kuhidupkan menjelang imsak

Posted: September 25, 2007 in puisi

Di dalam kotak ajaib itu telah dibangun sebuah stasiun, stasiun ramadhan, katanya. Dan banyak lagi stasiun-stasiun serupa. Gambar-gambar gerak
Yang ditampilkan mendadak alim.Yang dahulu mengumbar peluh dan buah dada kini berjilbab rapi. Kalem penuh simpul suci. Hanya simpul Ustadz-ustadz mulai diberi banyak waktu berwejang di depan kamera Read the rest of this entry »

tuhan-tuhan

Posted: September 6, 2007 in puisi

Dengan menciptakanmu sebagai tuhan.
Aku mengira Akan bahagia.
Bagaimana kau mempengaruhi hidupku.
Datang malam-malam tanpa undangan dan kabar pertemuan.
Malam-malam
Dan sejumlah hariku terbakar Hancur dikulum olehmu.

Read the rest of this entry »