h1

Segara

23 Februari 2014

Aku masih ingat air mata yang ku jatuhkan di Segara Anak dulu
Disaat ku rasa diri ini hanya deru di matamu
Mengapa padang bulan tak mampu mengusir kabut
Dan senyumpun tak mampu terhias lagi
Menatapmu hanya emosi yang segera terluap ke segara

Marahpun ku tak kuasa, kasihku
Memang tanya lebih sesak daripada kudaki barisan bukit senja itu
Menghitung langkah sama dengan tercecarnya pertanyaan di dadaku
Pertanyaan yang akan kubawa jawabannya darimu

Maka segara meredam muntahan magma di kaldera
Memberi damai hanya menatap langit di barisan gunung

Air mata masih jatuh di Segara Anakan
Tak terbendung dan terus mengalir menuju Tuhanku
Kabut di kejauhan terimbas kiranya di mata

Hancurkan kecamuk ini pelan-pelan, sayangku
Seperti luruhnya bebatuan magma yang menjadi pasir
Dan walau diammu adalah pemakluman bagiku
Cintaku tetap mengalir jauh tak berujung
Aliran sulfur, bercampur batu, bertemu pasir,
mengawini air, sebagian menguap ke angkasa,
lalu berebut tuk turun lagi

Maka kembali ku rebahkan badan di tepian segara
Biarlah dingin, biarlah kalut
Karena ingin ku bekukan semua waktuku
Dan tetap mencintaimu

Segara Anakan
Isya, 20 April 2013

h1

Yang Maha Penghibur

4 Januari 2014

Banyak cara yang dilakukan orang untuk menghadiahi diri sendiri, tidak terkecuali saya. Tahun ini, 2014, genap duapuluh lima tahun Tuhan yang kuasa mengkaruniai nikmat umur, keceriaan, dan cinta. Secuil mimpi yang pernah menyinggahi alam rasa saya, itu pula yang coba saya wujudkan di tahun ini. Mimpi kecil saja, yaitu membebaskan jiwa mengarungi bumi timur Indonesia.

Jadi rencananya pertengahan tahun ini saya ingin memperjalankan diri, juga hati, menuju Pulau Komodo di timur sana. Bertepatan dengan ulang tahun ke duapuluh lima (moga Allah memperkenankan) perjalanan itu akan dimulai. Semoga dihari itu rencana lain paripurna, tesis saya selesai dan punya sedikit rizki sebagai modal perjalanan.

Telah terkenang lama, keinginan melakukan perjalanan tanpa dibatasi waktu dan pekerjaan. Saya ingin lepas, selepas-lepasnya, menyusuri jalan dengan kaki saya sendiri dan menyaksikan kehidupan dari dekat. Saya tidak tahu, mungkin saja akan menetap beberapa waktu di lokasi tertentu, atau hanya singgah untuk melepas lelah. Akan lebih menyenangkan jika saya bisa melakukan sesuatu disitu, entah mengunjungi kerabat atau berbagi ilmu kepada masyarakat lokal. Membayangkannya saja saya sudah sangat bersemangat 🙂

Saya akan memulai perjalanan ini dari Mataram, kota sejuk di tengah Pulau Lombok yang amat memukau. Lombok, yang dalam bahasa sasak bermakna “lurus”, akan menjadi titik awal perjalanan hati saya. Tampaknya mengunjungi beberapa kerabat dan berkonsultasi mengenai perjalanan akan tepat dilakukan di kota ini. Sebelum akhirnya saya akan melanjutkan langkah menuju Labuhan Kayangan.

Labuhan Kayangan akan menjadi titik tolak menyeberangi dunia baru. Melintasi Selat Alas yang terkenal dengan arusnya nan deras. Tujuan saya adalah Poto Tano di tanah Sumbawa. Moga Sumbawa cukup ramah, memperjalankan saya menyusuri Teluk Saleh, Dompu, hingga ke Bima.

Terekam sudah kemegahan Tambora yang memacu detak jantung, menggunungkan syukur kepada Allah yang telah menguatkan kelemahan-kelemahan saya. Moga nanti banyak sahabat yang bisa saya temui, dan moga banyak juga yang bisa saya beri kepada mereka.

Bima yang elok, mungkin saya akan menetap cukup lama disini. Menikmati eksotisnya ranggas ilalang dan derap pacuan kuda. Dan jika tidak ada halangan, setiap 17 Agustus akan diadakan lomba pacuan kuda di Bima. Dirgahayu Indonesia moga bisa saya cecap dari sini.

Puas di Bima, perjalanan akan berlanjut menuju tujuan akhir, Komodo. Menyeberang melalui Sape, tanah Komodo akan sangat tak terkata sebagai penyempurna hadiah ini. Berkah Tuhan, cinta Tuhan, pelukan Tuhan, mungkin saya akan menangis di tanah ini 🙂

Demikianlah, rencana saya untuk berwisata bersama Tuhan tahun ini. Memperjalankan diri, membaca pertanda, berbagi, dan menguatkan langkah kaki. Tuhan maha baik, Ia tak akan biarkan hambanya sendiri. Perkenankanku, yang maha penghibur  🙂

h1

Sejenak Lupa

23 Juli 2013

Tiba saatnya lelah ini menumpuk. Menggunung di sekujur sukma dan tak sanggup berkata. Bukan tak mau, hanya berusaha meredam argumen agar ianya tak percuma.

Tiba saatnya merekonstruksi khazanah berpikir kebanyakan manusia. Saat upaya mencari rahmat Nya ditertawakan sebelah mata. Rizki melimpah nan halal tak cukup jadi ukuran. Bukan hal yang mengangkat martabat, katanya. Ehm, padahal, siapa pula yang persoalkan martabat.

Menjaga kesucian niat sungguhlah perihal rumit. Perlu diwaspadai samaran-samaran riya’ yang luar biasa, halus mengintai celah turut bercengkrama. Di antara keikhlasan, juga menyusup nafsu berlakon harga diri yang diam-diam melucuti. Melemahkan, memfatamorganakan semua perjuangan.

Maka saat lelah itu menyerang, carilah teman tempat dirimu bercerita. Tuhan tak biarkanmu sendirian. Bersama teman, setidaknya kau dapatkan sejenak lupa 🙂

h1

Terima Kasih

7 Februari 2013

Dunia, aku capek! Iyaaah…..

dan di saat lelah yang berlipat itulah, perlahan kita urai dalam senyap. satu. satu. dan senyum pelepasan yang begitu ikhlas, cukup sudah..

memacu, lelah, istirahat, memacu, lelah, tersenyum. memacu lagi..

dan di dalam itulah, nafas terhela

“fa-biayyi alaa’i rabbi kuma tukadzdzi ban”

h1

Sebuah Cerpen

4 Februari 2013

Perempuan (oleh Taufik Saptoto Rohadi)

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu?  Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar  kepadaku.

Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu?  Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.

Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu?  Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali  menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari  perempuan seinspiratif dirimu?  Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram  yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal  penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.

Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu?    Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran  ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari.  Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe,  cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan  menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling  indah sepanjang pernikahan kita.    Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan  tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.

Kita bahagia. Sangat bahagia?..    Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku  dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang  tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan  hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak  bertahun-tahun sebelumnya.  Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?

Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti  digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan  kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak  apa-apa.”    Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa  isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan  kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih  muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu,  lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau  selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk  perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya  di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak  digali anjing.”

Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu?    Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di  tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang,  Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau  sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku  membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas  pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk  makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar  rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing.  Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi  monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang,  dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu,  tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang  membawa uang.    Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan  lain seperti dirinya?

Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta  macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan  penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua  yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke  lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak  mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu  seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah  kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat  prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi  celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia.  Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna,  kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku?  Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah  kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk  perjuanganmu melahirkan anak kita?    “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa.  Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.”  Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas.  Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen.  Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses  menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak  boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin  tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.

Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku  terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu.    Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul  teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya  meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu  kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau  tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu  mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara  kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan  meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi,  tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru  kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu.  Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu.  Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit  dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas,  semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga  aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik  ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika  engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat.  “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.

Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan  aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot  menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,”  kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti  laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang  persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu.  Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku.    Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung  selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap  seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu  mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan  sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan,  sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak.    “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan.  Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang.  Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi  wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera  terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi.  Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika  kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.

Aku akan  mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena  ingin membuatku bahagia.    “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di  telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini  urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati,  rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk  meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata  bagi hidupku.    Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau  dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di  telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu  selama 5 tahun. Hayu semangat!”

Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu,  ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis  sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan!  Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu?  Kenapa bukan kalian?”    Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan  baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat  di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup.  Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku  menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha  tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.

Ada  seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada  di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali,  ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu  tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!”    Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara  terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya  ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika  tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak?”    Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku  harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan  berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang  sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.”    Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya,  Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan  oleh semua kata yang ada di dunia???

Makhluk itu terpejam tenang semacam  malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin  menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir  kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok  Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat.    Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa  surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak  perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima  menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan.  Ingatanku kembali kepadamu.

Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar  tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita  bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari,  dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya.  Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan  mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan  dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta.    Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas  dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku,  dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku  di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu  banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya  dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita.    Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya  seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit  getaran di bibir.

Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada  hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di  dunia ini.    Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita  sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari.  Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus  kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha  mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya  tangisnya tak meledak-ledak.    “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan  kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus,  Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup  engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus  sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya  kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata  “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling  kuat di kepalaku.    Mengurusimu dan bayi kita.

Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya  menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang  ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang  kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi  klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak  nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan.  Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk  namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu  tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada  waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak  diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50  cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi  memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang,  jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak  ada duanya di dunia.

Ada bisik bangga, “Ini anakku? anak  laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan  sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya  kelak semembentang hatimu.    Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama  sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak  serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara  dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah.  Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad:  YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin  dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian,  pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji?  mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?

Ini menjadi awal yang  indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu.    (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang  samudra)

———-

h1

Nyemedi

3 Februari 2013

Ketika berbicara masalah hati, aku pikir kita semua sama. Laki-laki atau perempuan, semua butuh dihargai, didengar, dianggap. Apakah diam dianggap sebagai keangkuhan? Bagi sebagian kaum, ya. Dan bagi mereka yg merasionalkan kediaman, itu adalah bentuk tangis yang menyesakkan, lebih sayu dibanding notasi sendu di penghujung malam. Apakah sabar dianggap suatu penipuan? Maka tertawalah, karena impulsif juga dianggap bentuk ketergesaan.

Jadi, bagaimana hati harus bersikap, sementara hidup terus beranjak dan pemikiran senantiasa berkembang. Menerima takdir dengan kepala tengadah tidak selalu benar. Karena, tidak selalu ia berasal dari atas. Maka, bicaralah, agar dapat kita renungkan arah berlalunya.

h1

Rekam Pulau Bunga

29 November 2012

Saya bukan seorang yang penting untuk memulai kisah ini. Hanya saja, saya ingin bercerita sedikit. Tentang pagi itu, Flores, 12 Desember 1992, pukul 05:30.

Daerah Flores, khususnya Maumere, merupakan kawasan dengan tingkat risiko tsunami yang cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan Maumere sendiri berada di zona subduksi lempeng tektonik Australia dan Eurasia serta dipengaruhi oleh sesar-sesar aktif di sepanjang pulau Flores (Fauzi, 2006;Wah, 2006). Secara geografis, pulau Flores terletak di perbatasan zona konvergensi dua mega lempeng, yakni lempeng Hindia-Australia dan Eurasia. Dengan demikian, bukanlah hal luar biasa jika terjadi gempa di wilayah ini. Saya katakan tidak luar biasa, karena memang itu adalah suatu kewajaran. Sama wajarnya dengan air dipanaskan maka mendidih. (to be continued)

-tulisan ini sudah bersemayam lama di draft saya, sengaja saya post sekarang agar saya bertanggung jawab untuk menyelesaikannya (eheem, harap maklum :P)-

h1

Just a Little Waw

27 November 2012

waw. keajaiban abad 21 namanya internet
nah, internet ini punya anak namanya google
semua orang nanya ke dia. semua orang nyari dia
entahlah, kalau gak ada google (mungkin) dunia buta

keajaiban ini sungguhlah luar biasa
ia bisa membuat guru-guru hemat suara
“nanti dicari di internet ya anak-anak. ketik aja di google”
para dosen apa lagi
“ada banyak jurnalnya di internet. aneh kalau kamu tidak menemukan apapun”
ketika terbersit pertanyaan pada seorang teman
jawabnya, “googling ajalah sendiri” (uppss)

well, google sangat berjasa
gak perlu repot-repot. tinggal ketik
cling! jadilah ia
instan. instan. instan. tampaknya telah menjadi karakter manusia abad 21
manusia cerdas adalah manusia yang cepat
gak jamannya lagi mencari-cari orang tempat bertanya, merenungi peristiwa, atau membolak-balik halaman buku
lelet banget sih (eh?)

jadi, jika ada manusia yang bertahan hidup tanpa sang mahaguru google
kita sebut itu suatu kemajuan, atau kemunduran?

crazy inside! jadiah google berjalan, bukan pengguna google yang berjalan…

h1

Just Smile

14 November 2012

If I just make it simple, am I look like other person? So, how if being another person, is much better and make you happier… You still say it : camouflage (?). And at the end, don’t you want to laugh it loud, at your face, at your life? 🙂

~obrolan gila, juga bersama orang gila~

h1

Memory

9 November 2012

Jadi, bagaimana dengan dongeng-dongengmu
apakah kau menyerah pada himpitan-himpitan sesak
lupakah kau saat kita duduk di bawah rerimbunan
menatap ilalang sambil angin menyibak
hanya tawa yang lepas
saat canda dan teriakan tanpa dosa bersorak riang
“Kakaak!”, seru mereka.

Matahari bersinar cerah dan semilir angin sejukkan hawa
kita semua belajar, belajar, belajar
hingga sore menjelang dan beranjak kita susuri pematang sawah
celotehan riang tak henti bersahutan
bersama dengan peluh dan rambut yang sudah berantakan
mengantar burung-burung pulang ke sarang
matahari kembali ke peraduan
mengantar kamu, adik-adik, kembali menyambut malam

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai