Kota Bekasi.
“Kenapa sih lo demen banget tinggal di Bekasi? Macet ke mana-mana, panas pula”, ujar seorang temanku. Dia tidak tahu bahwa disini tempatku merajut mimpi. Semua yang ada sekarang, semua yang telah kuraih sekaran bermula dari sini.
Bekasi bukanlah tempat kelahiranku. Benar. Aku lahir di Slipi, Jakarta Barat. namun di Bekasi lah aku besar dan belajar banyak hal. Mulai dari belajar baca tulis hingga nilai-nilai kehidupan lainnya. Bekasi, sebagai kota yang terbawa arus kemajuan ibukota Jakarta, memberikan pengaruhnya pada hidupku. Saat-saat TK hingga SD kuhabiskan dengan damai di pinggiran Bekasi. Masih bocah, aku ingat dulu aku selalu bersepeda tiap sore bersama bocah-bocah komplek lain, berburu kecebong di selokan, hingga ‘mengadopsi’ anak kucing yang terlantar di dekat pasar. Memasuki usia SMP, aku mulai mengenal kehidupan orang kaya (karena influence teman-temanku, sedangkan aku saat itu adalah ABG labil yang menyerap segala hal tanpa menyaringnya dulu). Kemudian ibuku berkesimpulan sekolah itu bukanlah tempat yang mampu mendidikku menjadi manusia yang baik, lalu akhirnya aku dipindahkan ke SMP Negeri di pinggiran Jakarta.
Nah, disinilah semuanya bermula. Aku tak lagi bisa ke sekolah naik ojeg karena sekolah baruku cukup jauh letaknya. Naik angkot 2 kali, masih oke lah, kadang-kadang diantar bapak naik motor juga. Seperti halnya kisah-kisah remaja di FTV, dulu aku sempat merasakan ‘peer-pressure’ sebagai anak pindahan. Tidak punya teman. Tak ada yang mau duduk sebangku denganku, kecuali temanku yang satu ini. Dia kemudian menjadi salah satu sahabat baikku (meskipun patut kusayangkan karena saat ini aku mulai kehilangan kontak dengannya). Di sekolah inilah aku mulai mengenal kompetisi untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Belajar mati-matian, ikut les ini-itu untuk bisa masuk ke SMA unggulan di Jakarta. NEM-ku dulu tidak seberapa, namun akhirnya aku berhasil masuk ke SMA Negeri 61 Jakarta. Di SMA ini aku kerja rodi. Berada di sekolah unggulan, it’s another peer-pressure. Aku yang biasa-biasa saja, berhasil masuk ke sekolah ini karena keberuntungan, mau tidak mau harus bersaing dengan teman-temanku yang luar biasa. Semua orang di sini punya satu cita-cita: ingin masuk PTN. Dan aku (bodohnya) mendeklarasikan cita-citaku sendiri pada saat itu: ingin masuk fakultas kedokteran. Aku yang setiap ulangan matematika saja musti selalu remedial ini kepingin masuk FK. Dulu wali kelasku pernah mengusulkan agar aku memilih jurusan lain saja karena nilai try outku tidak pernah mendekati passing grade fakultas kedokteran manapun.
And again I was bold (or stupid?), ketika mengisi formulir ujian masuk (UM UGM, UM UNDIP, SMUP. Iya semuanya…) aku hanya menulis:
Fakultas: Kedokteran,
Jurusan: Pendidikan Dokter.
Di Bekasi lah semuanya bermula. Aku dulu mengikuti bimbingan belajar sehingga hampir selalu pulang malam, semua demi mimpiku itu. Yang dulu mungkin pernah dianggap tidak mungkin. Sampai detik-detik, nilai try outku tidak pernah mendekati passing grade. Tidak penah. Namun satu hal yang kuingat, dulu selalu kutulis mimpiku untuk bisa kuliah di fakultas kedokteran pada sebuah buku harian agar apabila nanti aku berhasil menjadi dokter, aku bisa mengingat bahwa jalan yang telah kupilih ini merupakan hasil perjuangan selama bertahun tahun. Bahwa jalan yang telah kupilih ini merupakan salah satu tanda kebesaran Ilahi, bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila Ia telah berkehendak. Bahwa jalan ini akan membawaku kepada satu arti hidup yang lain.
Semua mimpi-mimpiku berawal di Bekasi, tempat aku belajar makna perjuangan.
