| Sumber Kesaksian: John Winata (Jawaban.com) |
Mujizat pasti dialami oleh mereka yang hidup di dalam Tuhan. Demikian keyakinan John Winata. Setelah mengalami kecelakaan dasyat yang nyaris merenggut nyawanya, ia mengalami mujizat kesembuhan. Peristiwa itu akhinya membawa John kembali kepada Tuhan dan melayani-Nya. Berikut kisahnya.
John Winata mulai aktif di reli (rally) sejak tahun 1987 sampai tahun 1994. Awal ketertarikannya dengan reli adalah karena faktor pergaulan. Pada tahun 1980-1986, John sering mengikuti kompetisi motor-cross dan beralih ke reli tahun 1987.
Pergaulan dalam dunia reli mobil membuatnya terjerumus dalam dunia perjudian, tepatnya judi kasino. Kebiasaannya itu terutama bila ia bepergian ke luar negeri dalam rangka kompetisi reli, seperti saat diadakannya World Rally Championship di Perth, Australia. John Winata: Sampai sekarang pun di Indonesia ini kan memang nggak ada kasino ya. Tapi, karena di negara orang ada kasino, ya jadi pengen tahu. Malam pertama sudah di kasino, malam kedua di kasino, malam terakhir, masih di kasino juga. Jadi, kurang tidur. Akhirnya, saya dengan teman saya yang menyupiri saya itu sama-sama nggak tidur. Akhirnya, kita berangkat mau kerja ngurusin reli, di situ fisik kita hari terakhir sudah down. Teman saya itu mengatakan kalau capek, tidur aja. Saya tidur, saya nggak tau apa-apa. Jadi, di dalam mobil, semenjak berangkat, saya tuh tidur. Perjudian kasino itu pula yang akhirnya membawa petaka bagi dirinya. Pada tanggal 18 September 1994, jam 6 pagi waktu Perth, John dan seorang teman mengalami kecelakaan mobil. Saat itu, teman John mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan mengantuk. Mobil yang mereka kendarai terbalik sebanyak 8 kali dan menabrak pohon. Bila melihat kondiri mobil, rasanya mustahil John dan temannya dapat selamat. Demikian pula pendapat Irwawan Poedjadi, salah satu teman John. Ia bahkan tidak dapat menahan tangis saat menceritakan pengalamannya saat melihat kondisi sahabatnya yang masih terjebak di mobil.
Namun, John tidak menyadari seberapa dasyat kecelakaan itu akan mempengaruhi hidupnya. Ia baru tersadar setelah berada di rumah sakit. John Winata: Saya bangun, saya sudah di rumah sakit. Saya bahkan tidak merasa bahwa leher saya ini tulangnya patah. Saya masih pikir, kenapa saya ini pakai collar yang mengikat leher saya ini. Saya pikir, saya mau bangun, saya usahakan mau bangun. Ternyata, saya nggak bisa bangun. Yang kata orang kalau pusing itu tujuh keliling, itu bener. Itu ruangan seperti keliling, saya seperti naik pesawat, muter-muter manuver gitu. Saya baru tahu kalau saya itu mengalami kecelakaan. Nyawa John masih tertolong, meski sempat mengalami koma selama 24 jam. Namun, ia harus mengalami patah tulang leher, pergeseran tulang pinggang bahkan tempurung kaki kirinya terlepas. Kepalanya pun diberi penyangga agar tulang leher John bisa masuk kembali. Dokter pun memberikan diagnosa yang sangat mengguncangkan John, yaitu bahwa ia akan lumpuh seumur hidup. John Winata: Dan waktu itu, kaki kiri saya, dari mulai paha sampai ujung kaki itu mati rasa, sama sekali mati rasa. Bahkan saya, ininya (kepala) sudah dibaut, ditarik, untuk membenarkan tulang saya ini. Kecelakaan itu akhirnya memberikan hikmah kepada John. Ia pun sadar bahwa meski hidupnya tidak berkenan di hadapan Tuhan, Tuhan tetap mengasihi John. Sementara itu, di Indonesia, orang tua John meminta dukungan doa dari teman-teman gerejanya. John Winata: Papa saya bilang, kamu tahu nggak, ini satu gereja doain kamu terus-menerus setiap malam, doain saya terus. Saya langsung merasakan, saya yakin kalau Tuhan campur tangan, karena saya nggak tahu mau andalkan siapa lagi. Tetapi, Papa saya cukup menguatkan saya, kamu pasti sembuh. Kalau Tuhan mau menyembuhkan kamu, kamu pasti sembuh. Di situlah saya, setiap malam, saya mau tidur, saya berdoa. Di situ saya lebih inget sama Tuhan. Dan di situ saya baru belajar, saya baru tahu kalau doa itu begitu kuat, begitu luar biasa.
John Winata: Saya orang yang dulunya sangat bandel, boleh dikatakan, tidak pernah nangis, tetapi ketika itu, ibu saya berdiri di depan pintu, menerima saya. Ibu saya nangis, dan saya waktu itu, saya juga nangis. Sampai sekarang pun saya masih ingat. Saya nangis bukan karena lihat ibu saya nangis, tapi saya menganggap ibu saya yang melahirkan saya yang melahirkan saya aja nangis, apalagi Tuhan yang menciptakan saya. Karena, saya percaya ini bukan cobaan dari Tuhan, karena saya lari daripada Tuhan. Tuhan justru sayang sama saya, makanya saya dipelihara. Keyakinan itu juga yang membuat John semakin bersemangat untuk sembuh. Ia pun berusaha melatih otot-otot kakinya. John Winata: Saya nggak boleh menangis, diam, menangis kepada Tuhan. Ya nggak boleh. Saya harus berjuang. Saya berjuang. Di saat itu, saya menyerahkan bener-bener 100% kepada Tuhan. Apa pun yang terjadi, terserah deh. Pokoknya, saya mau sembuh. Setelah melalui terapi dan proses yang panjang, John mulai merasakan perubahan pada kakinya. Iman dan ketekunannya membuahkan hasil. Saat ia kembali melakukan check up di Australia, dokter yang dulu menanganinya kaget karena John sudah bisa saya bisa berjalan bahkan berlari. Dokter itu mengakui kesembuhan itu merupakan hal yang tidak lazim dan merupakan keajaiaban. John menanggapinya dengan mengatakan bahwa Tuhan Yesus lah yang menyembuhkan dia. Tak hanya dokter yang menanganinya di Australia, sahabatnya pun tak percaya melihat kesembuhan John. Irwawan Poedjadi: Pada saat di rumah sakit di sana, dokter-dokter di sana tidak pernah percaya penyembuhannya dia lebih cepat daripada halnya orang yang normal. Itu nggak tahu itu mujizat Tuhan ya. Wah saya surprise, saya teriak loh, kok bisa jalan lo?! Praise the Lord, dia bisa cepat sembuh dan jalan. Dia tidak kelihatan seperti orang cacat. Tidak pernah kelihatan dia pernah ngalamin kecelakaan dan dia gemuk sekarang, hidupnya senang.
John Winata: Orang yang hidup di dalam Tuhan, pasti mengalami mujizat besar. |
| “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5)
dari : http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/2009/04/30/iman-yang-mengalahkan-kelumpuhan/ |
Ditulis dalam kesaksian | Leave a Comment »
dibaca ya jangan hanya dilihat saja dan dipelajari juga
Ditulis dalam TEKNIK SIPIL | Leave a Comment »
Sebutan – Sebutan Allah.:
1. Adonai (Tuhan atas semua tuhan).
Maz 39:7; 54:4; 71:5; Yes. 6:8; Yez. 18:25; Luk. 6:46.
2. Elohim (Allah yang esa).
Kej. 1:26.
3. El Elyon (Allah yang maha tinggi).
Bil. 24:16; 2 Samu. 22:14; Maz. 18:13.
4. El Olam (Allah yang kekal).
Kej. 9:16; Yoh 3:16.
5. El Roi (Allah yang maha tahu).
Maz. 139:1,2,7.
6. El Shaddai (Allah yang maha kuasa).
Kej. 17:1-2; Kel. 6:13; Ayub 40:2.
7. Jehovah Jireh (Allah yang menyediakan).
8. Jehovah Mekkadesh (Allah yang menyucikan).
Kel 13:2; Imamt 19:2; Rom. 12:1; 1 Petr. 1:15-16.
9. Jehovah Nissi (Allah adalah panji-panjiku).
Kel. 14:13; Ulang. 20:3-4; Yes. 13:2-4.
10. Jehovah Rohi (Allah adalah gembalaku)
Maz. 23:1-4; Yes.40:10; Yoh.10:11.
11. Jehova Rapha (Allah adalah penyembuhku).
Bil.12 :13; Maz.103:2-3; Yer.3:22; Mat.4:23; Luk.4:18)
12. Jehova Sabaoth (Allah semesta alam).
1 Sam.1:3; Yer.11:20.
13. Jehovah Shalom (Allah adalah kedamaianku).
Bil.6:24-26; Mat.11:28-29; Yoh.14:27; Rom.5:1.
14. Jehovah Shammah (Allah ada di sana).
Kel.33:14-16; Yes.63:9; Mat.28:20; Yoh.1:14.
15. Jehovah Tsidkenu (Allah adalah kebenaranku).
Ul.32:4; Maz. 89:14; Kis. 3:14; Rom.3:20; 2 Kor.5:21.
Ditulis dalam Theologi | Leave a Comment »
10 Langkah Praktis untuk mewujudkan menjadi seorang Pahlawan Allah :
1. Katakanlah pada dirimu : “Aku seorang pahlawan Allah
2. Seorang pahlawan sudah pasti akan selalu mengambil posisi sebagai prajurit yang mengatasi berbagai kelemahan hidup yang dia hadapi dan yang orang lain alami
3. Seorang pahlawan, mampu mendeteksi dengan cepat, berbagai tipu muslihat dari musuhnya, dan secepat mungkin segera mengatasinya dengan berkemenangan.
4. Seorang pahlawan, selalu mengambil inisiatif untuk aktif merespon dengan benar, walaupun orang disekitarnya menjadi pasif.
5. Allah sudah memberikan kuasa dan kekuatan yang luarbiasa di dalam diri kita untuk hidup berkemenangan.
6. Allah telah memposisikan kita, menjadi anak-Nya yang sah untuk menjadi ahli waris kerajaan-Nya; Apa yang kita miliki? yang pertama adalah janji2 atas Firman-NYA. Ini sungguh sangat luarbiasa dahsyatnya.
7. Bertindaklah dengan kuasa! Karena engkau sebenarnya telah memiliki kuasa Tuhan.
8. Berkatalah dengan wibawa Tuhan, karena engkau memang telah mremiliki perkataan Firman-NYA.
9. Setiap persoalan dan masalah yang engkau jumpai, adalah kesempatan yang sedang diperhadapkan Tuhan kepadamu, untuk menyatakan kemenangan melalui kuasa-NYA! Yes… Itulah pilihannya!
10. Berjalanlah dalam kuasa mujizat… Karena kita telah memiliki kuasa itu, tumpangkanlah tanganmu atas orang sakit, dan oramg itu akan sembuh!
GO EXTRA MILES!
Ditulis dalam VISI HIDUP | Leave a Comment »
Belajar Mengasihi Tuhan ??
satu kata yang sulit bagiku, tapi bagi Tuhan tidaklah sulit…. kenapa ? ya karena aku hanya bisa mengasihi Dia, ketika Dia sendiri yang memberi kekuatan kepada aku.
aku merasa sulit karena aku mengandalkan diriku sendiri, padahal Karena kasih Karunia_Nya saja aku bisa mengasihi Tuhan
saat aku merasa bahwa aku mengasihi Tuhan, aku semakin sering membuat Tuhan sedih, kenapa ?? sekali lagi karena aku mengandalkan diriku sendiri, merasa kuat dan dapat bertahan… padahal itu hanyalah bagian dari kesombongan ku sendiri
hari kemarin, aku merasa bahwa aku bisa mengasihi Tuhan dengan diriku sendiri. tapi apa yang terjadi dalam hidupku? aku semakin sering jatuh dalam dosa.. setelah minta ampun dan bangkit, aku jatuh lagi dan begitu seterusnya.. sampai aku berhenti pada satu titik… dan aku berkata dalam hatiku…. Tuhan.. Tuhan… mengapa terlalu sulit bagiku umtuk mengasihiMu?? mengapa Tuhan ?? mengapa?? aku hanya menangis dan menangis…
saat itulaah Tuhan menjawab aku… anak-Ku.. kamu mengasihi Aku dengan kekuatanmu sendiri..
aku hanya bisa berserah saat itu.. lalu aku sadar bahwa Dia mau aku untuk menyerahkan semua kekuatan dan pengandalanku kepada Dia..
aku berdoa ” Tuhan aku gak tau lagi bagaimana harus mengasihiMu.. akhir2 ini aku merasa bisa mengasihi Tuhan, tetapi aku jatuh bangun lagi dalam dosa yang sama.. Tuhan, Bapa… aku menyerah.. aku mau serahkan semua pengandalanku kepada Mu.. aku mau Tuhan ajari aku.. aku mau Roh KudusMu yang membimbing aku dan menuntun aku di jalanMu yang benar… Tuhan bersihkanlah aku… ampuni kalau aku mengandalkan diriku untuk mengasihiMu selama ini…. hari ini aku memilih untuk tinggal dalam Kasih KaruniaMu dan belajar padaMu bagaimana menagsihi Engkau dengan hti yang murni dan motivasi yang kudus… Roh kudus tolonglah… thanks God. Amin..”
setelah aku berdoa, aku mendapat kekuatan yang baru dan merasa damai sejahtera… hari-hariku berubah dan gaya hidupku mulai Tuhan pulihkan.. juga karakter-karakterku yang lama.. semua Tuhan gantikan pelan-pelan… aku mulai sadar dan tahu bahwa hanya Roh Kuduslah yang memampukan aku untuk hidup yang berkenan di hdapan Bapa di surga… Thanks God….
hari-hari ini aku mau belajar lagi sama Tuhan untuk semakin bergairah lagi mengasihi Dia dan semakin lagi menjadi pemburu Tuhan… (kesaksian saat teduh aku ….. Jumat, 5 Mei 2009)
“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri.. akuilah Dia dalam setiap langkah hidupmu.. maka Ia akan meluruskan jalanmu..”
Ditulis dalam kesaksian | Leave a Comment »
Saya adalah seorang mahasiswa ITB dan sekarang sedang menjalani perkuliahan di semester 5 tingkat tiga jurusan Teknik Sipil. Nama saya adalah Franklin Kesatria Zai. Saya dilahirkan di kota Medan yang indah dan latar belakang keluarga saya terkenal cukup baik dengan menganut “Agama Kristen Protestan” secara hukum. Ayah saya menjabat sebagai penatua di gereja saya di Medan, dan sekarang juga masih menjabat sebagai penatua (Satuan Niha Keriso dalam bahasa niasnya) sejak keluarga kami pindah ke pulau Nias tahun 2002 yang lalu. Ibu saya juga terkenal cukup baik dilihat dari jabatannya sebgai wakil penatua juga di gereja sebgasi pendamping dari ayah saya. Saya cukup bangga dengan keadaan keluarga saya seperti ini. Sejak kecil saya dikenal rajin pergi ke gereja tiap minggu, aktif di persekutuan, aktif mengikuti paduan suara gereja, dan segala aktifitas yang ‘berbau” rohani. Itu semuanya saya lakukan di atas semua ketidakmengertian saya, mengapa saya melakukan hal itu, dan juga hanya atas dorongan dari keluarga saya, sehingga saya melakukan itu seolah-olah aktifitas rutin saja seperti kegiatan saya sehari-hari (makan, minum, dan sebagainya). Tetapi apa yang dilihat manusia itu hanyalah rupa tetapi Allah melihat hati (1 samuel 16:7). Ya, saya hanyalah seperti robot yang dikendalikan aktifitas rohani yang saya lakukan dulunya. Dibalik semua aktifitas yang saya lakukan, saya menyadari bahwa hidup saya sebenarnya hancur dan untuk menutupi rasa malu dan hancur itu saya melakukan aktifitas-aktifitas yang ‘baik’ dihadapan manusia, tetapi tidak dihadapan Allah.
Saya mengalami kehancuran hati sejak kecil oleh karena diri saya sendiri, keluarga saya dan juga termasuk teman-teman (lingkungan pergaulan) saya. Saya terlahir dengan keadaan lemah sebagai seorang pria, dan itu didukung dengan kondisi keluarga saya dimana saya melihat mama saya yang seolah-olah memerintah atas keluarga saya dan ayah saya seperti tidak menunjukkan seorang ayah yang dipikiran saya “macho”. Jadi saya sejak kecil menjalani hidup di bawah otoritas keluarga khususnya mama saya. Saya memiliki seorang saudara perempuan, kakak saya, yang waktu itu sering sekali bertengkar dengan dia dan dia selalu yang menang, sehingga saya menganggap diri saya ini seorang pria yang lemah. Tidak hanya di situ saja, bahkan di pergaulan saya dengan teman saya sejak dari SD sampai SMA pun saya dijuluki seorang pria yang lemah, dengan kata kasarnya disebut “banci”. Hal itu sangat membekas di hati saya dan itulah yang menjadi salah satu luka batin saya sejak kecil sebelum saya mengalami pemulihan. Sewaktu kecil juga oleh karena kenakalan saya, saya mencuri uang orangtua saya. Apa tujuannya? Ya, tujuannya supaya saya dapat jajan di sekolah, karena saya iri dengan teman saya yang sering jajan, dan saya sering menjadi peminta-minta kepada teman saya. Hal ini karena saya merasa saya kurang diperhatikan oleh orangtua saya. Sewaktu ibu saya mengetahui perbuatan saya ini, ia memanggil saya dan menghukum saya dengan sekuat tenaga. Dia menghukum saya, memukul saya pakai rotan, bahkan memijak saya dengan kakinya. Tidak sampai disitu, ia juga mengurung saya dikamar dan tidak memberi saya makan, bahkan saya mendengar bahwa ia mau berikhtiar memasukkan saya ke panti asuhan. Ia menyeret saya keluar dari rumah, sementara saya hanya bisa menangis dan tidak melawan karena waktu itu saya masih SD dan kekuatan saya tidak seberapa. Saya sangat kepahitan dengan ibu saya dan tidak terkecuali ayah serta keluarga saya. Mereka memperlakukan saya begitu kejam. Dan rasa itu terus ada sampai sebelum saya benar-benar menerima YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamat saya dan mengalami pemulihan. Sejak saat itu saya menjadi sering memberontak sama orangtua saya, bahkan mengutuki mereka kalau saya benar-benar marah (sungguh alangkah berdosanya saya ini).
Waktupun semakin berlalu dan akhirnya akupun lulus SMA, dan ikut bimbel di Bogor di tempat kakak saya. Waktu itu kakak saya sudah bertobat dan lahir baru namun saya belum mengetahuinya. Suatu hari, saat saya sedang belajar untuk persiapan SPMB, saya didatangi oleh teman kakak saya, namanya Desmon, dan ia bercerita banyak tentang hidupnya yang lama dan bagaimana ia diubahkan oleh Tuhan secara luar biasa. Saya pikir hidupnya yang lama itu tidak jauh berbeda dengan kehidupan saya, dan saya kagum melihat perubahan hidupnya. Sampai ia bercerita bagaimana ia menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, dan hidupnya diubahkan ia pun juga menantang saya untuk saya mau lepas dari hidup saya yang lama dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus dan menjadikan Dia sebagai Penguasa pribadi atas hidup saya. Waktu itu Tuhan melembutkan hati saya dan saya pun menerima Dia sebagai Tuhan Juruselamat saya. Saya didoakan oleh orang itu dan saya menangis, tetapi ada sukacita yang besar dalam hidup saya, saat say mengetahui saya diselamatkan dan menjadi manusia yang baru di dalam Tuhan. Itulah awal saya lahir baru.
Saya pun diterima masuk di ITB dan saya dimuridkan oleh seorang abang yang luar biasa di persekutuan SION, namanya adalah Daniel. Oleh karena hidupnya, kepribadian saya dibentuk. Saya diajak oleh dia mengikuti suatu retrat, dan saat saya mengikuti retreat itu saya mengalami pemulihan demi pemulihan dalam hidup saya. Saya yang tadinya membenci orangtua, keluarga, dan teman-teman saya menjadi mengasihi mereka. Pembaca dapat mengetahui, bahwa saat ini saya sangat sayang sama ibu saya dan ayah saya, bahkan saya masih mendoakan mereka agar hidup mereka diubahkan dan menerima Yesus dengan sempurna sama seperti saya yang terlebih dahulu dipanggil oleh Dia. Hubungan saya dengan orangtua saya saat ini semakin baik, bahkan kami sering bertelepon dan bercanda, dan tertawa lewat telepon hahaha. Ibu saya setiap menelepon saya selalu menasihatkan hal-hal yang baik, dan nasehat itu sangat saya rindukan dan semakin menguatkan saya dan semakin membuat saya mengasihi dia sebagai ibu yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Saat ini pun saya bisa berkata, bahwa tidak ada ayah dan ibu yang lebih baik daripada ayah dan ibu yang telah Tuhan beri pada hidup saya. I love you my mom and my dad.
Itulah kisah bagaimana saya yang dahulunya sampah dan menganggap saya sebagai seorang yang ditolak, sekarang sudah dipulihkan oleh kasih karunia ALLAH dalam pribadi YESUS KRISTUS. Suatu berkat yang terindah saat saya boleh mengenal Kristus di kampus ITB yang luar biasa ini.
Ditulis dalam kesaksian | Leave a Comment »
“Saya menjadi bagian dari persekutuan yang tidak memalukan.
Saya telah melangkah melewati garis.
Keputusan telah saya buat. Saya adalah murid Yesus.
Saya tidak akan berpaling ke belakang, berhenti, lamban,
mundur, atau diam.
Masa lalu saya telah ditebus, masa sekarang masuk akal,
masa depan saya terjamin.
Saya sudah selesai dan tidak lagi melakukan kehidupan
yang rendah, menyimpang, rencana kecil-kecilan,
lutut yang halus,mimpi yang tidak berwarna,
visi yang jinak, perkataan duniawi, hidup murahan,
dan sasaran yang kerdil.
Saya tidak memerlukan keunggulan, kekayaan,
posisi, sorak pujian atau popularitas.
Saya tidak perlu selalu benar, nomor satu, top,
dikenal, dipuji, dihormati atau dihargai.
Saya sekarang hidup dengan iman, bersandar pada hadiratNya,
hidup penuh kesabaran, diangkat oleh doa,
dan bekerja melalui kuasa.
Wajahku menatap kedepan, jalanku cepat,
tujuanku sampai ke surga, jalanku sempit dan kasar
Teman-temanku sedikit, Penuntunku dapat diandalkan,
misiku jelas, tidak dapat dibeli, diperdaya, atau ditunda.
Aku tidak akan menjauhkan diri dari pengorbanan,
bimbang dihadapan lawan atau bernegosiasi dengan musuh,
atau berliku-liku disimpang siuran penundaan.
Saya tidak akan menyerah, tutup mulut, atau berhenti
sampai saya dapat berdiri, tetap menimbun, tetap berdoa,
bayar harga, tetap memberitakan bagi Kristus.
Saya seorang murid Kristus.
Saya harus terus pergi sampai Dia datang,
memberi sampai habis, berkhotbah semua yang kutahu,
dan bekerja sampai Dia menghentikan saya.
Dan pada waktu Dia datang kepada milikNya,
Dia tidak mempunyai masalah terhadap diri saya-panjiku jelas.”
– – ditemukan di rumah sebuah gembala gereja di Afrika yang mati martir
Ditulis dalam VISI HIDUP | Leave a Comment »
Mujizat pasti dialami oleh mereka yang hidup di dalam Tuhan. Demikian keyakinan John Winata. Setelah mengalami kecelakaan dasyat yang nyaris merenggut nyawanya, ia mengalami mujizat kesembuhan. Peristiwa itu akhinya membawa John kembali kepada Tuhan dan melayani-Nya. Berikut kisahnya.
Pada tahun 1991, John pindah ke Jakarta untuk melanjutkan karier di dunia reli. Namun, ia merasa tidak maksimal secara prestasi, sehingga ia memilih menjadi manager tim pada tahun 1994. Pada tahun 1995-1997, ia pun menjadi manager pereli nasional Tonny Hardyanto (Impressa Motorsport) dan pada saat bersamaan, ia menjabat sebagai Dirut Impressa Motorsport.
Irwawan Poedjadi: Saya kaget, itu mobil udah tidak berbentuk. Ternyata, pengendaranya tuh udah nggak ada di tempat duduk, yang saya lihat adalah Saudara John dia ada di bawah kursi. Jadi, dia di bawah, tidur. Nah, Dia masih terikat ke seatbealt dan kursinya udah terpental ke mana. Dan dia tidak bisa dibuka, dan ini (perlu) cukup waktu kira-kira hampir 20 menit untuk (seatbealt) dia itu dibuka, dikeluarkan dari dalam. Saya teriak-teriakin, hei John, bangun. cuman.. bangun… bangun… bangun.. dan saya nangis. Terus seingat saya lagi, dia nggak… (menangis).
Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat membuat harapannya bangkit. Semangat John untuk sembuh dari lumpuh dibuktikan dengan melatih otot-otot kakinya. Setelah satu setengah bulan dirawat di Australia, John pulang ke Indonesia. Sesampainya di bandara, ia disambut oleh kedua orang tuanya. Sambutan keluarganya itu membuat John terharu dan semakin merasakan kebaikna Tuhan.
Setelah mengalami kesembuhan, John pun meninggalkan pekerjaannya sebagai manager tim reli pada tahun 1998. karena, menurutnya pekerjaan itu banyak menyita waktunya di hari Minggu. Ia pun memulai usaha di bidang periklanan. Selain itu, ia pun melayani Tuhan dengan menjadi pemain drum di gereja.

