Feeds:
Posts
Comments

Sabtu, 1 Syawal 1447H (21/03/2026) | Silaturahim di rumah dan di Priok

  • Setelah shalat Subuh BMW tidak tidur, jam 6:30 mandi dan bergegas ke lapangan bola Depen bersama LY. Oca dan keluarga berangkat duluan, mungkin terlalu lama menunggu. Tapi sayangnya tidak kasih tahu alias pamit berangkat duuann. Komunikasi atau adab? Catatan khutbah ada di postingan lain. Kasing angpo buat Reno dan Adit Remaja Masjid.
  • Bada shalat pulang bareng Oca, LY dan Yeira via pintu belakang lapangan karena pintu depan sempit dan ngantri panjang. Lewat pintu belakang rumputnya agak tebal dan basah karena bekas hujan malam sebelumnya. Di pertigaan Penerangan VI jumpa Is dan Xabier + Zayd – Oca dan Yeira bergabung mereka. LY dan GW berjalan duluan ke rumah.
  • Sampe rumah bermaafan dengan keluarga Oca dilanjut makan ketupat sayur dari katering
  • Jam 10:30 Fay kirim pesan mau berangkat ke rumah. Tapi kemudian ada pesan susulan bahwa dia harus mengejar maling yang berusaha masuk rumah. Koordinasi dengan lingkungan dan RT yang juga anggota WAG masjid.
  • GW sempat tiduran dulu bada Dzuhur.
  • Jam 14:30 Fay dan keluarga tiba, lengkap dengan 2 baby sitters (Sinta dan Tia). Anak2 suka dengan kucing terutama Ashraf yang jarang pegang kucing. Makan ekrim. Bagi angpo dan mainan dari Nice So yang dibeli GW 5 hari sebelumnya.
  • Jam 17:30 foto bersama dan kemudian mereka pulang.
  • Kita siap2 ke Tanjung Priok (mbak Nani) dan baru berangkat sekitar 17:45. Mepet waktu Maghrib. Sempat isi BBM dulu. Hujan deras. Tida di Priok tepat 19:00. Alhamdulillah sempat Maghrib lanjut Isya BMW di At Tauhid.
  • Sepulangnya dari masjid naik mobil Oca ke Mang Engking di Kelapa Gading menyusul Ka Yeni, Iput dan mbak Nani.
  • Selesai di Mang Engking menjelang 22:00 – langsung pulang karena besoknya mau ke Cilegon.
Image

Ahad, 2 Syawal 1447H (22/03/2026) | Silaturahim ke Cilegon (Om Har)

  • Jam 10:30 GW udah siap tapi LY baru bangun tidur, padahal janjian ketemuan Iput di Rest Area 13.5 jam 11:00. Dapat kabar ternyata Iput makan dulu di Rest Area sekitar 11:30. Iput Meta Elfano Ka Yeni.
  • Bada Dzuhur kita baru berangkat ke Rest Area. Cukup lama di Rest Area, ngopi juga di KopKen.
  • Baru nyampe Cilegon menjelang Ashar. Shalat Asar di Masjid Al Muhajirin dekat rumah Om Har.
  • Ternyata Dik Hari dan keluarga lengkap ada di rumah Om Har. Ternyata acara di rumah istrinya (Dina) selesai pagi hari. Hari menyiapkan makan lengkap: Sate Bebek, Bakso, Lontong. Asik pol. Juga ada kopi hitam dan kopi gula aren.
  • Ada kisah lucu: Alifa (bungsu Hari) bergumam bahwa tinggal 100 lagi genap satu juta yang terdengar Ka Yeni yang sedang shalat Ashar tanpa diketahui Alifa. Bada shalat Ka Yeni langung menggenapkan “Dik, ini doamu diijabah Allah …” sambil memberi angpo 100. Ha ha …seru banget
  • 17:30 pamitan dan rencana mau beli bunga buat nyekar, diantar Dik Hari. Alhamdulillah tokonya tutup.
  • Gak jadi ke makam, langsung tancap ke rest area terdekat buat shalat Maghrib dijama Isya. Rest Area nya gak bagus, jorok, termasuk masjid / musholla nya. Ya udah gak papa. Bocil tukar mobil masuk ke mobil Ka Yeni semua.
  • Lanjut perjalanan 40 menit menuju Rest Area 14. Iskandar shalat Isya. Lanjut ke Solaria – ternyata last order, pindah ke McD. GW gak makan, baca tentang ulama Ibnu Hazm dan kitabnya Al Muhalla. Gak layak dibaca. Kirim WA ke Dik Hari tentang Ibnu Hazm ini.
  • Sekitar jam 22:00 sudah di rumah. GW makan lontong karena mau puasa Syawal hari Senin esoknya.
Image

Senin, 3 Syawal 1447H (23/03/2026) | Puasa Syawal #1

  • Sahur 7 biji kurma saja
  • Tidur setelah Dzikir Pagi 100 hingga 11:00
  • Bada shalat Dzuhur (masbuq) tiduran di mesjid sampai jam 13:30
  • Bada Isya tidur pulas sd 23:30. Ingin membiasakan shalat malam. Alhamdulillah malem 1 Syawal bisa juga shalat malam hingga kini. Semoga istiqomah. Aamiin ya Rabb

#cilegon #lebaran #priok #silaturahim #budiarso #idulfitri #syawal #fay #dian

Hari ini bersyukur sekali diberi kemudahan Allah untuk shalat Maghrib di akhir waktu menjelang Isya karena perjalanan silaturahim ke tempat tinggal mbak Nani di Jl. Ganggeng Raya, Priok. Ini merupakan 1 Syawal 1447 H dan baru bisa berangkat ke Priok sekitar 17:45 karena Dian dan keluarga silaturahim ke rumah sejak sekitar 14:30. Kalau berangkat bada Maghrib kasihan Ka Yeni yang sudah di rumah mbak Nani.

Alhamdulillah setelah perjalanan via tol dengan kondisi hujan lebat bisa sampai tujuan jam 19:00 dan lokasi mesjid At Tauhid berseberangan dengan rumah mba Nani. Lega rasanya masih keburu Maghrib dan lanjut Isya BMW. Masyaallah masjid ini menjalankan sunnah dengan bacaan imam shakat yang tartil dan merdu, tanpa dzikir bersama bada shalat.

Image

Doa agar Kuat Dzikir, Syukur, dan Ibadah Usai Shalat – Rumaysho.Com https://share.google/OSRuyXJ4Ft2RNRstP

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK.

Artinya: Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu.

Uraian manfaatnya dijelaskan sangat baik di link di atas.

Versi Syarah Hishnul Muslim:

“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk berdzikir kepada Engkau, bersyukur kepada Engkau, dan mengerjakan ibadah yang baik kepada Engkau.” 1)

Sahabat yang meriwayatkan Hadis adalah Mu’adz bin Jabal.”*;,.

“Berdzikir kepadaMu.” Ini mencakup seluruh jenis sanjungan dan pujian. Termasuk pula membaca Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu agama.

Pada doa ini Nabi Muhammad lebih mendahulukan dzikir atas syukur, karena hamba jika dia tidak berdzikir maka otomatis ia tidak akan bersyukur. Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, tepatnya pada firman Allah yang berbunyi:

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlnh kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. ” (QS. Al-Baqarah: 152) 

“Dan beribadah dengan baik kepadaMu.” Di sini ibadah dibatasi dengan kata “baik”. Karena ibadah yang baik adalah ibadah yang ikhlas. Dan ibadah itu jika tidak ikhlas maupun tidak sesuai dengan sunnah Nabi maka tidak akan diterima dan tidak berguna bagi pelakunya.

1.) Abu Dawud, 2/86,lno. 1522), dan An-Nasa’i, 3/53, dishahihkan Al-Albani menshahihkannya dalam Shahilr Abi Dauud,l/284. (Q)

Wass, GW

Image

“Minal ‘Aidin wal Faizin” sering kita ucapkan, tapi tanpa kita sadari, maknanya kerap disalahpahami.

Ucapan ini bukan berarti mohon maaf lahir dan batin. Lebih dari itu, ia adalah doa yang artinya: “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada Allah dan meraih kemenangan.”

Semoga setiap ucapan yang keluar dari lisan kita bukan hanya tradisi, tapi benar-benar mengandung makna dan harapan.

Mari luruskan pemahaman, tanpa menyalahkan.
Mengingatkan, tanpa merendahkan.
Karena sejatinya, kita semua sedang belajar.

Barakallahu fiikum

Image

Muhasabah Diri 27 Ramadhan 1447 H

Oleh: Ustadz Fathul Imam
(Muhasabah jam 3:00 pagi)

1. Penyesalan Orang yang Telah Mati

Orang yang sudah mati sangat ingin kembali hidup ke dunia hanya untuk beramal shalih.
Mereka menyesal karena waktu hidupnya terbuang sia-sia tanpa banyak amal.
Oleh karena itu, selagi kita masih diberi kesempatan hidup, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu dan beramal shalih.

2. Pentingnya Menuntut Ilmu

Kita perlu selalu menuntut ilmu agama, karena ilmu adalah cahaya yang membimbing amal kita.
Tanpa ilmu, ibadah bisa salah arah atau bahkan tidak diterima.

3. Hakikat Ibadah: Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban, Tapi Bentuk Syukur

Ibadah bukan hanya untuk “menggugurkan kewajiban”, melainkan wujud syukur atas segala nikmat Allah.
Syukur ada tiga bentuk utama:

a. Syukur dengan hati
Mengakui bahwa segala sesuatu adalah anugerah dari Allah, bukan karena usaha kita sendiri.
Semuanya pemberian Allah, bukan kita yang menciptakan.

  • Kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: Beliau diberi tahta kerajaan yang besar, harta melimpah, kekuasaan atas jin, manusia, burung, dan angin, serta keistimewaan dunia dan akhirat.
    Semua itu karunia Allah semata (lihat QS. An-Naml: 15-44, QS. Shad: 30-40).
  • Bandingkan dengan Zulkarnain (raja adil dengan kekuasaan luas), Namrud (raja sombong), dan Qarun (kaya raya tapi sombong karena hartanya, akhirnya ditelan bumi – QS. Al-Qashash: 76-82).
    Qarun punya harta sangat banyak tapi tidak punya tahta seperti Sulaiman.
    Intinya: Harta, kekuasaan, dan segala keistimewaan hanyalah titipan Allah.

b. Syukur dengan lisan
Sering mengucapkan Alhamdulillah dalam segala keadaan.

  • Kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam: Disebut sebagai hamba yang paling banyak bersyukur (QS. Al-Isra: 3 – “Dzurriyyata man hamalna ma’a Nuh, innahu kana ‘abdan syakuran”).
  • Mulailah segala sesuatu dengan Bismillah, dan perbanyak ucapan Alhamdulillah untuk melatih hati bersyukur.

c. Syukur dengan perbuatan/amal shalih
Mengamalkan nikmat yang diberikan Allah untuk ketaatan kepada-Nya.

  • Kisah keluarga Nabi Daud ‘alaihissalam: Mereka bersyukur dengan amal (QS. Saba: 13 – mereka membuat mihrab, patung, bejana besar, dan periuk tetap di tempatnya sebagai bentuk syukur).
  • Sedikit sekali hamba yang benar-benar bersyukur dengan tindakan (bukan hanya ucapan).
    Contoh di bulan Ramadhan: Shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, berbuat baik kepada masyarakat, sedekah, dll.

4. Menjadi Produktif di Sisa Waktu

Agar hidup lebih produktif:

  • Lakukan semua hal yang bermanfaat dan berfaedah bagi akhirat.
  • Kurangi atau hilangkan hal-hal mubah (yang diperbolehkan tapi tidak berpahala besar) yang menyita waktu.
  • Prioritaskan amal yang mendatangkan manfaat besar di sisi Allah.

Sebaiknya kita fokus pada hal-hal yang mendekatkan kepada Allah dan bermanfaat bagi orang lain.

5. Empat Hal yang Akan Ditanyakan di Padang Mahsyar

Di hari kiamat, setiap orang akan ditanya tentang empat perkara (berdasarkan hadits riwayat At-Tirmidzi dan lainnya):

  1. Umur kita: Untuk apa kita habiskan?
  2. Badan kita: Untuk apa kita gunakan?
  3. Ilmu kita: Untuk apa kita amalkan?
  4. Harta kita: Dari mana asalnya, dan untuk apa kita belanjakan?

Hisablah diri sendiri sebelum dihisab oleh Allah.

6. Kunci Mengingat Akhirat: Selalu Ingat Kematian

Yang terbaik adalah selalu mengingat kematian.
Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.

Kematian adalah hal paling pasti dalam kehidupan:
“Kullu nafsin dzaiqatul maut” – Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian (QS. Ali Imran: 185; QS. Al-Anbiya: 35; QS. Al-‘Ankabut: 57).

Lelah kita sebaiknya lillah (karena Allah), bukan untuk dunia semata.
Semoga muhasabah ini menjadi pengingat bagi kita untuk memperbaiki diri di sisa Ramadhan ini, dan seterusnya hingga akhir hayat.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur. Aamiin.

GW 18/03/2026

Image

Malam 27 Ramadhan 1447H

1. Parameter Diterimanya Amal (Al-Qabul)

Bagaimana kita tahu puasa dan ibadah kita diterima Allah? Para ulama memberikan kriteria berikut:

  • Kebaikan Berlanjut: Menurut Hasan Al-Basri, tanda diterimanya suatu amal shalih adalah munculnya keinginan untuk melakukan amal shalih berikutnya. “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”
  • Konsistensi (Istiqomah): Barangsiapa yang kualitas ibadahnya setelah Ramadhan tetap terjaga sama seperti saat bulan Ramadhan, itu adalah tanda nyata amalnya diterima.
  • Rasa Khauf (Takut): Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan para salafus shalih tetap merasa khawatir dan takut jika amal mereka tidak diterima, meski sudah beribadah maksimal. Hal ini menjaga seseorang dari sifat sombong (ujub).
  • Pernyataan Abdullah bin Mas’ud: Beliau seringkali mengingatkan untuk memeriksa hati setelah berlalunya musim ketaatan; apakah hati semakin dekat kepada Allah atau justru menjauh?

2. Menjadi Hamba Allah, Bukan Hamba Ramadhan

  • Prinsip Utama: “Janganlah menjadi penyembah Ramadhan (Ramadhaniyyun), tetapi jadilah penyembah Pemilik Ramadhan (Rabbaniyyun).” Ramadhan akan berlalu, namun Allah Swt. kekal abadi.
  • Muhasabah: Apakah kita rajin shalat karena bulannya, atau karena Allah? Ibadah harus berlandaskan tauhid, bukan sekadar mengikuti euforia musiman.

3. Amalan Prioritas Pasca Ramadhan (Saran Ulama)

Setelah hari raya, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Berikut adalah kurikulum ibadah selanjutnya:

  1. Puasa Syawal: Segera memulai puasa 6 hari di bulan Syawal (mulai tanggal 2 Syawal).
  2. Menjaga Shalat BMW: Menjaga shalat Berjamaah di Masjid, di Waktu awal (shaf terdepan).
  3. Tilawah Al-Qur’an: Melanjutkan target bacaan yang sudah dimulai di Ramadhan agar tidak menjadi “Mahjur” (Al-Qur’an yang ditinggalkan).
  4. Qiyamul Lail: Membiasakan Tahajud. Tantangan terbesarnya: Apakah di malam 1 Syawal kita masih bangun untuk qiyamul lail atau langsung berhenti total?

4. Pengingat & Doa Pamungkas

  • Kesadaran Akhirat: Kehidupan kita masih sangat panjang. Dunia hanyalah terminal singkat; persiapkan bekal untuk perjalanan panjang setelah mati.
  • The Last Ramadhan: Selalu tanamkan di hati, “Mungkin ini Ramadhan terakhirku.” Perasaan ini akan membuat setiap sujud kita lebih khusyuk.
  • Doa Malam Lailatul Qadr:
    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
    Makna Mendalam: Kata “Afuwwun” (Memaafkan) berarti menghapus sampai bersih ke akar-akarnya tanpa menyisakan bekas dosa sedikit pun, berbeda dengan Maghfirah yang hanya berarti menutupi dosa.

Dalam kultum shalat traweh (16/03/2026) penceramah, ustadz Zulfa Hendra, sedang semangat mendakwahkan pentingnya meraih lailatul qadr karena pahalanya 1000 bulan alias 83 tahun. “Mana diantara kita yang di sini usianya mencapai 83 tahun?” beliau bertanya dengan nuansa seolah “tidak ada”. Ternyata di pojok paling kanan, shaf terdepan, ada bapak-bapak yang mengangkat tangannya. Ketika ustadz bertanya untuk konfrmasi, jamaah tersebut mengiyakan bahwa usianya 83 tahun.

Namanya Pak Dursen. Beliau tergolong jamaah masjid Jami Nurul Ikhlas, Komplek Depen, Pesanggrahan, yang rajin shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) dan juga shalat sunnah seperti traweh. Selama Ramadhan 1447H ini beliau setiap malam ikut shalat traweh dan witir dan seringkali berada di shaf terdepan, sebelah kanan dari arah khutbah penceramah.

Saya mengenal Pak Dursen ini sudah lama sekali dan memang benar adanya beliau ini rajin ke mesjid. Saya pernah ke rumahnya, di samping belakang Komplek Depen. Perawakannya ramping namun sehat. Ketika saya tanya apa resepnya bisa sehat dan rajin ibadah hingga sekarang, jawabnya sederhana tapi nunjek ulu ati: “Takwa”. Masyaallah.

Saya banyak belajar dari beliau ini tidak hanya dalam rajinnya ke mesjid namun juga dari sisi kehidupan beliau. Setiap pagi sekitar jam 7:00 sering saya melihat beliau ini mengantarkan gorengan ke gerobak dorong penjual yang ada di dekat Indomart. Ketika ketemu saat traweh, saya tanyakan apakah masih menggoreng jajanan untuk gerobak dorong, iya jawab “Masih”. Luar biasa. Usia 83 masih semangat mencari nafkah halal untuk keluarganya.

Semoga Allah subhanahu wa taala selalu merahmati Pak Dursen …

GW

https://music.youtube.com/watch?v=Z9VvqHPfM4g&si=bpr0Mbwp32Luw2jf

Sabar – Syukur – Takwa (paling tinggi)

Design a site like this with WordPress.com
Get started