Kawan..,
Seorang Rakyat(Dirga) bertemu Seorang Wakil Rakyat(Cupu) yang sedang nongkrong diwarung pecel di depan RAMAYANA.
Dirga : “Wah, merakyat juga ente,”
Cupu : “Yah, pantes-pantesnyalah, namanya juga Wakil Rakyat.”
Dirga : “Lho, sebetulnya ente tidak merakyat?”
Cupu: “Tidak terlalu, saya cuma pura-pura merakyat.”
Dirga: “Busyet, ente mewakili rakyat mana sih?”
Cupu: “Umbul iwak, Kluwek, Umbul kunci.”
Dirga: “Astaga, daerah mana tuh?”
Cupu: “Ada koq di peta,kecil-kecil gambarnya.”
Dirga: “Ente asal dari sana?”
Cupu: “Bukan.”
Dirga: “Ente tahu, aspirasi mereka daerah sana apa?”
Cupu: “Yah, kira-kira saja, paling-paling soal kesejahteraan kan?”
Dirga: “Busyet, kenapa ente nggak mengatakan soal kebebasan?”
Cupu: “Well, siapa yang berani ngomong soal kebebasan sekarang ini, kalo bukan tokoh-tokoh penting”
Dirga: “Ente kan termasuk tokoh penting?”
Cupu: “Bukan, saya cuma tokoh gombal saja kok.”
Dirga: “Tokoh gombal bagaimana?”
Cupu: “Lho saya ini Cuma politisi kecil, selalu mengintip kesempatan untuk naik,selalu berfikir tentang jenjang karier, apapun yang bisa jadi batu loncatan,berangkat! Pokoknya saya selalu memikirkan diri sendirilah.”
Dirga: “Tapi ente Wakil Rakyat kan?”
Cupu: “Yeah,actually, saya mewakili diri saya sendiri.”
Dirga: “Astaga…”
Cupu: “Kenapa Astaga?”
Dirga: “Saya kira ente mewakili rakyat.”
Cupu: “Eh, saya sendiri kan juga rakyat? Boleh dong saya mewakili aspirasi saya sendiri, ingin dianggap, ingin dipandang, ingin punya makna dalam hidup. Dulu cuma ikut Karang Taruna, sekarang jadi Wakil Rakyat, yah namanya juga memburu kemajuanlah.”
Dirga: “Apa sih pemikiran ente tentang kemajuan?”
Cupu: “Gudung-gedung tinggi.”
Dirga: “Busyet dah.”
Cupu: “Kenapa Busyet?”
Dirga: “Ente suka membaca pemikiran para negarawan besar, para ahli sejarah, para ahli filsafat tentang Negara?”
Cupu: “Tidak,Paling banter saya baca koran. Kalau majalah saya baca ramalan bintang doang. Hahahaha!”
Dirga: “Tidak Biasa baca buku-buku berat?”
Cupu: “Tidak, Untuk apa? Hanya orang-orang bego yang buang waktu untuk baca buku.”
Dirga: “Busyeeet.”
Cupu: “Kok busyet lagi?”
Dirga: “Ente hebaat.”
Cupu: “Lho kok hebat? Saya ini bukan pemikir, bukan apa itu namanya? Cendikiawan?Nggak Intlek! Saya nggak betah baca, nggak seperti Soekarno kalo berpidato,Saya kaku, Saya cuma orang biasa koq,disuruh jadi Wakil Rakyat ya mau. Lumayanlah daripada cuma di Karang Taruna. Fasilitasnya juga lumayan. Mosok orang yang berfikir kayak saya ini hebat?”
Dirga: “Lho jelas.. ente jelas hebat.”
Cupu: “Kenapa???”
Dirga: “Ente orang jujur,”hi..hi
(Refrensi SGA/SdP)
Filed under: Uncategorized | 2 Comments »