Kumpulan Tulisan, Makalah, Pikiran, Komentar, Dakwah Komprehensif, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir, Nilai-Nilai Adat Basandi Syarak dalam Masyarakat Adat di Minangkabau, serta Buku Buya yang belum diterbitkan
INGATLAH SELALU BAHWA SYETAN MEMBUAT KITA SALING BERMUSUHAN Rasulullah Shallallàhu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ “Syetan telah putus asa untuk disembah oleh orang yang rajin shalat di Jazirah Arab. Namun dia selalu berusaha untuk memicu permusuhan dan kebencian.” (HR. Muslim 2812)
MAKNA PUASA SECARA ISTILAH SYARA’ Râsyid Ridhâ, dalam Kitab Al-Manar berkata, اْلإِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَغَشَيَانِ النِّسَاءِ مِنَ الْفَجْرِ إِلَى الْمَغْرِبِ إِحْتِسَاباً لِلَّهِ وَإِعْدَادًا لِلنَّفْسِ وَ تَهِـيِـيْئةً لَهاَ لِتَقْوَى اللهِ باِلْمُرَاقَبَةِ وَترْبِيَةِ اْلإِرَادَةِ “Menahan diri dari makan, minum dan bersenggama, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), karena mengharap keridhaan Allah dan menyiapkan diri untuk bertaqwa kepada Allah dengan jalan muraqabah (merasa selalu diperhatikan Allah) disertai mendidik kehendak dan keinginan.” (Râsyid Ridhâ, Al-Manâr, 1373/143)
PUASA ITU ADALAH MENAHAN (IMSAK)… Al-Imam Asy-Syaukânîy Rahimahullâh berkata, الْإِمْسَاكُ عَنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَغَيْرِهِمَا مِمَّا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ فِي النَّهَارِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَشْرُوعِ وَيَتْبَعُ ذَلِكَ الْإِمْسَاكُ عَنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ الْكَلَامِ الْمُحَرَّمِ وَالْمَكْرُوهِ لِوُرُودِ الْأَحَادِيثِ بِالنَّهْيِ عَنْهَا فِي الصَّوْمِ زِيَادَةً عَلَى غَيْرِهِ فِي وَقْتٍ مَخْصُوصٍ بِشُرُوطٍ مَخْصُوصَةٍ. “Menahan diri dari makan, minum, jima’ (bercampur dengan istri) dan lain-lain yang telah diperintahkan kepada kita untuk menahannya, sepanjang hari menurut cara yang disyariat-kan. Demikian pula diperintahkan menahan diri dari ucapan yang diharamkan atau dimakruhkan, karena ada hadits-hadits yang melarang hal itu, itu semua berdasarkan waktu dan syarat-syarat yang telah ditetapkan.” (Subulu As-Salâm II/206).
BERNIATLAH DENGAN SUNGGUH SEBAB, SEMUA IBADAH, NIATNYA DALAM HATI Al-Imâm An-Nawâwîy Rahimahullâh mengatakan: لا يصح الصوم إلا بالنية ومحلها القلب ولا يشترط النطق بلا خلاف “Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhatu At-Thâlibîn, 1/268)
Al-Imâm Abû Bakr Ad-Dimyâthîy Asy-Syâfi’îy menegaskan, أن النية في القلب لا باللفظ، فتكلف اللفظ أمر لا يحتاج إليه “Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan. Memaksakan diri dengan mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak perlu dilakukan.” (I’ânatu Ath-Thâlibîn, 1/65)
NIAT PUASA RAMADHAN; APAKAH HARUS BERNIAT SETIAP HARI ATAU TIDAK? Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah Rahimahullâh berkata, كُلُّ مَنْ عَلِمَ أَنَّ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ وَهُوَ يُرِيدُ صَوْمَهُ فَقَدْ نَوَى صَوْمَهُ سَوَاءٌ تَلَفَّظَ بِالنِّيَّةِ أَوْ لَمْ يَتَلَفَّظْ . وَهَذَا فِعْلُ عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ كُلُّهُمْ يَنْوِي الصِّيَامَ “Setiap orang yang tahu bahwa esok hari adalah Ramadhan dan dia ingin berpuasa, maka secara otomatis dia telah berniat berpuasa. Baik dia lafalkan niatnya maupun tidak ia ucapkan. Ini adalah perbuatan kaum muslimin secara umum; setiap muslim berniat untuk berpuasa.” (Majmû’ Fatâwâ, 6/79)
ALLAH BERFIRMAN ; PUASA ITU ADALAH UNTUK-KU DAN AKU SENDIRI YANG LANGSUNG MEMBALASNYA كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي “Amal setiap orang balasannya dilipat gandakan, setiap kebaikan dibalas dengan 10 kali lipat sampai 700 kali. Berfirman Allah Ta’âlâ: “Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang langsung membalasnya, karena ia telah meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya semata-mata untuk beribadah pada-Ku. (HR. Al-Bukhârîy 6938 dan Muslim 1945)
PERBANYAKLAH AMAL IBADAH DI BULAN RAMADHAN Al-Imam bnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullâh berkata, كان من هديه صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان الإكثار من أنواع العبادات، فكان جبريل يدارسه القرآن في رمضان، وكان إذا لقيه جبريل أجود بالخير من الريح المرسلة (وكان أجود الناس، وأجود ما يكون في رمضان) يكثر فيه من الصدقة والإحسان وتلاوة القرآن والصلاة والذكر والاعتكاف. ( زاد المعاد: ٢/١٣) Diantara petunjuk Rasulullah ﷺ di bulan ramadhan adalah memperbanyak melakukan berbagai macam ibadah. Dahulu Jibril dan Rasulullah ﷺ saling membacakan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Dan ketika Jibril menemuinya, maka Rasulullah ﷺ lebih cepat dalam berbuat kebaikan dibandingkan angin yang bertiup. (Beliau ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan) Beliau ﷺ memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al-Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. (Zâdu Al-Ma’âd, 2/13)
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang Mulia.” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 18)
— Al-Baqarah, Ayat 261: Perumpamaan (Infaq yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang meng-infaq-kan Hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan SEBUTIR Benih yang MENUMBUHKAN Tujuh Bulir, pada tiap-tiap Bulir SERATUS Biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
PERHATIKANLAH BAHWA, ALLAH DAN PARA MALAIKAT BERSHALAWAT KEPADA MEREKA YANG MAKAN SAHUR Dari Abû Sa’îd Al-Khudrî Radhiyallâhu ‘anhu, Nabi Shallallàhu ‘alaihi wa sallam bersabda, السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad, 3/44)
SELALU BERADA DIATAS SUNNAH, JIKA SEGERA BERBUKA PUASA
لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.”
(HR. Ibnu Hibbân, 8:277 dan Ibnu Khuzaimah, 3:275. Syaikh Al-Albânîy “Shahîh” Shahîh At-Targhîb wa At-Tarhîb, no. 1074)
BILA TELAH TIBA WAKTU BERBUKA SEGERA BERBUKA PUASA Dari Sahl bin Sa’âd Radhiyallâhu ‘anhu, Rasûlullâh Shallallàhu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Al-Bukhârîy, no. 1957 dan Muslim, no. 1098)
MAKAN DAN MINUM DALAM KEADAAN LUPA SAAT PUASA Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘anhu berkata, Rasûlullâh Shallallàhu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ “Siapa saja yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya, karena kala itu Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Al-Bukhârîy no. 1933 dan Muslim no. 1155)
SHALAT TARAWIH = SHALAT SEPANJANG MALAM Dari Abû Dzar dia berkata, “Rasûlullâh Shallallàhu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ”Siapa saja yang melaksanakan Qiyam Ramadhan (Shalat Tarawih) bersama dengan Imam hingga ia beranjak pergi meninggalkan masjid maka dicatat baginya Qiyamullail sepanjang malam.” (HR. At-Turmudzî, 806)
SHALAT TARAWIH AKAN MENGHAPUS DOSAMU MASA SILAM Dari Abû Hurairah Radhiyallâhu anhu, sesungguhnya Rasûlullâh Shallallàhu Alaihi wa sallam bersabda, مَنْ قامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan (Shalat Taraweh) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah, akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759)
KONSEP PAK NATSIR dalam pembangunan nagari sudah di giatkan sejak tahun 1970-an di SUMBAR dan di dukung penuh oleh Walikota Padang saat itu Kolonel Maritim Achirul Yahya ….
Tetapi karena di anggap berseberangan dengan kepentingan orba dan juga Pak Natsir masih di anggap duri dalam daging dan adalah orang PRRI yang disebut sebut bisa saja membangkitkan kembali kekuatan lama masyarakat Minang saat itu maka dan kemudian imbasnya adalah Kolonel Maritim Achirul Yahya di adu dengan para pecundang pembangunan yang sangat berminat akan kekuasaan dan uang …. Akhirnya konsep Pembangunan Nagari di Sumbar terhenti dan berdampak sangat pada kondisi Sumbar hingga saat ini.
AL FATIHAH ILMU YANG BESAR MENJALIN KEAKRABAN DENGAN ALLAAH KHALIQUR RAHMAAN. SAAT ALLAH MENJAWAB AL-FATIHAH DALAM SALAT KITA … BANYAK JUGA ORANG YANG MEMBACANYA DGN TERGESA-GESA TANPA HENTI DAN SEAKAN-AKAN INGIN CEPAT MENYELESAIKAN SALATNYA.
PADAHAL DI SAAT KITA SELESAI MEMBACA SATU AYAT DARI SURAH AL-FATIHAH TERSEBUT, اَللّهُ SWT MENJAWAB SETIAP UCAPAN KITA.
DALAM SEBUAH HADITH QUDSI اَللّهُ SUBHANAHU WATA’ALA BER-FIRMAN ; “AKU MEMBAHAGI SALAT MENJADI DUA BAHAGIAN UNTUK AKU DAN UNTUK HAMBA-KU.”
■ ARTINYA, TIGA AYAT DI ATAS IYYAAKA NA’BUDU WA IYYAAKA NASTA’IIN ADALAH HAK ALLAH, DAN TIGA AYAT KE BAWAHNYA ADALAH URUSAN HAMBA-NYA.
■ KETIKA KITA MENGUCAPKAN “ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘AALAMIIN” ALLAH MENJAWAB “HAMBA-KU TELAH MEMUJI-KU.”
■ KETIKA KITA MENGUCAPKAN “AR-ROHMAANIR – ROHIIM”, ALLAAH MENJAWAB “HAMBA-KU TELAH MENGAGUNGKAN-KU.”
■ KETIKA KITA MENGUCAPKAN “MAALIKI YAUMIDDIIN”, MAKA اَللّهُ MENJAWAB “HAMBA-KU MEMUJA-KU.”
■ KETIKA KITA MENGUCAPKAN “IYYAAKA NA’ BUDU WA IYYAAKA NASTA’IIN”, MAKA ALLAH MENJAWAB “INILAH PERJANJIAN ANTARA AKU DAN HAMBA-KU.”
■ KETIKA KITA MENGUCAPKAN “IHDINAS SIROOTHAL MUSTAQIIM, SIRAATHALLADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADDHOOLLIIN.” ALLAH MENJAWAB “INILAH PERJANJIAN ANTARA AKU DAN HAMBA-KU. AKAN KU PENUHI YANG IA MINTA.” (HR. MUSLIM DAN AT-TIRMIDZI).
■ BERHENTILAH SEJENAK SETELAH MEMBACA SETIAP SATU AYAT. RASAKANLAH JAWABAN INDAH DARIPADA اَللّهُ KARENA اَللّهُ SWT SEDANG MENJAWAB UCAPAN KITA.
■ SELANJUTNYA KITA UCAPKAN “AAMIIN” DENGAN UCAPAN YANG LEMBUT, SEBAB MALAIKAT PUN SEDANG MENGUCAPKAN HAL YANG SAMA DENGAN KITA.
■ BARANGSIAPA YANG UCAPAN “AAMIIN-NYA” BERSAMAAN DENGAN PARA MALAIKAT, MAKA اَللّهُ SWT AKAN MEMBERIKAN KEAMPUNAN KEPADANYA.” (HR. BUKHARI, MUSLIM, ABU DAWUD)
JIKA ARTIKEL INI BERMANFAAT SAMPAIKAN KEPADA SAHABAT2 WALAUPUN SATU AYAT
SABDA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM: “SESIAPA YANG MENYAMPAIKAN SATU ILMU DAN ORANG MEMBACA SERTA MENGAMALKANNYA MAKA DIA AKAN MEMPEROLEHI PAHALA WALAUPUN DIA SUDAH TIADA.” (HR. MUSLIM) MOGA BERMANFAAT
SIFAT MALU AKAN MEMBENTENGI MANUSIA DARI KEJAHATAN. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menyebutkan … “SIFAT MALU ITU TIDAK DATANG KECUALI DENGAN KEBAIKAN.” Maka Busyair bin Ka’b berkata: “Telah tertulis dalam hikmah, sesungguhnya dari sifat MALU itu terdapat ketenangan. Sesungguhnya dari sifat MALU itu terdapatketentraman.” (HR. Bukhari: 6120)
MALU yang dimaksud adalah MALU berbuat dosa. MALU berbuat keburukan. MALU tidak beradab. MALU mengambil yang bukan hak kita. MALU berbuat tidak baik terhadap tetangga. Namun .. TIDAK BOLEH MALU BERBUAT KEBAIKAN.
Malulah berbuat maksiat. Malulah berbuat dosa. Malulah korupsi. Malulah berbohong. Malulah untuk menipu. Sungguh Allah maha mengetahui atas apa yang kita lakukan.
Selanjutnya BILA MALU SUDAH TIDAK ADA, ANDA BOLEH MELAKUKAN APA SAJA SEKEHENDAK ANDA …
Sebab orang yang tidak memiliki rasa malu sama dengan ORANG GILA atau ORANG SAKIT JIWA … MOGA BERMANFAAT.
DOSA SYIRIK TELAH MEMBUAT LANGIT, BUMI, GUNUNG GEMETAR KETAKUTAN Ibnu Abbâs Radhiyallâhu ’anhumâ berkata, إن الشرك فزعت منه السماوات والأرض والجبال، وجميع الخلائق إلا الثقلين، وكادت أن تزول منه لعظمة الله. “Sesungguhnya dosa syirik telah membuat langit, bumi, gunung dan seluruh makhluk gemetar ketakutan kecuali jin dan manusia, hampir-hampir seluruh makhluk tersebut musnah karena takut kepada keagungan Allah.” (Tafsîr Ath-Thabarîy, 18/258)
ISI HARI MU DENGAN KETA’ATAN Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân Hafizhahullâh berkata, فما دمت معافا في بدنك، وفي أمن واستقرار ، فسارع إلى الاشتغال بالطاعات. “Selama tubuhmu sehat, hidup dalam keadaan aman dan tentram, maka bersegeralah menyibukkan diri dengan amalan keta’atan”. (Syarah Kitâb Al-Kabâir, hal. 565)
SAYANGI DIA, KAU AKAN DISAYANG Luqmân Al-Hakîm berkata kepada putranya, يا بنيّ، مَن رَحِمَ يُرْحَم، ومَن يصمِت يسلَم، ومَن يفعلِ الخير يَغْنَم، ومَن يَفْعَلِ الشَّرَّ يأثم، ومَن لَم يملك لسانه يندم Wahai putraku, ◼️Siapa saja yang menyayangi, maka ia akan disayangi, ◼️Siapa saja yang diam, maka ia akan selamat, ◼️Siapa yang melakukan kebaikan, maka ia akan beruntung, ◼️Siapa saja melakukan keburukan, maka ia berdosa, dan ◼️Siapa yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan menyesal. (Bahru Ad-Dumû’, hal. 152)
KAMU DICIPTAKAN UNTUK BERTAUHID وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56; Lihat Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, 7/38)
MARI SEMANGAT, JANGAN LEMAH Rasulullah ﷺ bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim, no. 2664)
ANEH, BANYAK DOSA TAPI MERASA SEBAGAI ORANG BAIK Al-Imâm Ibn Rajab Al-Hanbalî Rahimahullâh berkata, كان السلف يجتهدون في أعمال الخير ويعدون أنفسهم من المقصرين المفرطين المذنبين. ونحن مع إساءتنا نعد أنفسنا من المحسنين ! “Dahulu Para Salaf itu bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai amal kebaikan, dan menganggap diri mereka sebagai orang yang kurang dalam beramal dan orang yang lalai, serta orang yang banyak dosa. Adapun kita yang berlumuran dengan dosa-dosa, malah menganggap diri sebagai orang-orang yang baik !” (Majmû’ Ar-Rasâ’il Ibnu Rajab, hal. 254)
NABI ADAM DIKELUARKAN DARI SURGA HANYA KARENA SATU DOSA Al-Imâm Ibnu Rajab Al-Hanbalî رحمه الله berkata, آدم أُخرج من الجنة بذنب واحد ، وأنتم تعملون الذنوب وتكثرون منها وتريدون أن تدخلوا بها الجنة “Adam dikeluarkan dari Surga disebabkan oleh satu dosa, sedangkan kalian melakukan berbagai dosa-dosa dan memperbanyaknya, tetapi kalian menginginkan Surga dengan membawa dosa-dosa tersebut.” (Lathâifu Al-Ma’ârif, hal. 81)
KEBAHAGIAAN atau KESENGSARAAN Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah Rahimahullâh berkata, السعادة والهدى في متابعة الرسول صلى الله عليه وسلم، والضلال والشقاء في مخالفته “KEBAHAGIAAN dan petunjuk akan terwujud ketika seseorang mengikuti Rasûlullâh Shallallàhu ‘alaihi wa sallam. Dan kesesatan serta KESENGSARAAN terjadi ketika seseorang menyelisihi Rasûlullâh Shallallàhu alaihi wa sallam. (Majmû’ Al-Fatâwâ, 19/93)
RUSAKNYA BANGSA KARENA ULAMA CINTA DUNIA DAN KEDUDUKAN Abû Hâmid Al-Ghazâlîy berkata, ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه “Kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan.” (Muhammad Al-Ghazâlîy Abû Hâmid, Ihyâ’ Ulûmiddîn, 2/238)
ULAMA YANG CINTA DUNIA DAN JABATAN TIDAK AKAN BISA MENGAWASI PEMERINTAH DAN MENYELESAIKAN MASALAH Abû Hâmid Al-Ghazâlîy berkata, ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال “Siapa yang terpedaya akan kecintaan terhadap dunia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal.” (Muhammad Al-Ghazâlîy Abû Hâmid, Ihyâ’ Ulûmiddîn, 2/238)
HUKUMAN TERBURUK ADALAH KERASNYA HATI Al-Imâm bnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullâh berkata, ما ضُرِبَ عبدٌ بعقوبةٍ أعظمُ من قسوة القلب و البعدِ عن الله “Tidaklah seorang hamba dihukum dengan sebuah hukuman yang lebih buruk dibandingkan (dihukum) dengan kerasnya hati dan jauh dari Allah.” (Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Fawa’id, hal. 142)
YA ALLAH, JAGALAH AKU DENGAN AGAMAMU Ibrâhîm At-Taimîy Rahimahullâh (w: 192H) berdo’a, اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي بِدِينِكَ وَبِسُّنَّةِ نَبِيِّكَ، مِنَ الِاخْتِلَافِ فِي الْحَقِّ، وَمِنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى، وَمِنْ سُبُلِ الضَّلَالَةِ، وَمِنْ شُبُهَاتِ الْأُمُورِ، وَمِنَ الزَّيْغِ وَالْخُصُومَاتِ “Ya Allah, jagalah aku dengan agama dan sunnah Nabi-Mu dari perselisihan dalam kebenaran, mengikuti hawa nafsu, jalan-jalan kesesatan, dan kerancuan dalam segenap perkara, serta dari penyimpangan dan perdebatan.” (Ibnu Abdil Barr, Jâmîu Bayân Al-‘Ilm no. 2333, Asy-Syâthibîy, Al-I’tishâm, 1/143)
MATI HARI INI DIATAS SUNNAH ADALAH KARÂMAH Imâm Abdullâh bin Al-Mubarak Al-Khurasânîy berkata, اعْلَمُ أَنِّي أَرَى أَنَّ الْمَوْتَ الْيَوْمَ كَرَامَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ عَلَى السُّنَّةِ , فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ , فَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو وَحْشَتَنَا , وَذَهَابَ الْإِخْوَانِ , وَقِلَّةَ الْأَعْوَانِ , وَظُهُورَ الْبِدَعِ , وَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو عَظِيمَ مَا حَلَّ بِهَذِهِ الْأُمَّةِ مَنْ ذَهَابِ الْعُلَمَاءِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ , وَظُهُورِ الْبِدَعِ “Ketahuilah bahwa saya melihat kematian pada hari ini adalah suatu karamah bagi setiap muslim yang berjumpa dengan Allah di atas Sunnah. Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râjiûn ‘Sesunggunya kami adalah milik Allah, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya’. Kepada Allah kami mengeluhkan kehambaran kami, berpulangnya segenap kawan, sedikitnya penolong, dan tampaknya bid’ah-bid’ah. Kepada Allah kami mengeluhkan besarnya musibah yang menimpa umat ini dengan kepergian ulama dan Ahlussunnah, dan tampaknya berbagai bid’ah.” (Ibnu Wadhdhâh, Al-Bida’, no. 97)
KEBAIKAN AKAN MENJADIKAN WAJAH BERCAHAYA Ibnu Abbâs Radhiyallâhu ‘anhumâ berkata, إِنَّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَنُورًا فِي الْقَلْبِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ، وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ “Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. (Al-Jawâbu Al-Kâfîy, hal. 62)
PETAKA DOSA, MENJADIKAN WAJAHMU HITAM Ibnu Abbâs Radhiyallâhu ‘anhumâ berkata, وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ، وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ وَالْقَلْبِ، وَوَهْنًا فِي الْبَدَنِ، وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ، وَبُغْضَةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ “Sesungguhnya pada kejelekan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada alam kubur dan hati, kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.” (Al-Jawâbu Al-Kâfîy, hal. 62)
JUAL DIA, WALAUPUN HANYA DENGAN HARGA SERIBU RUPIAH Muhammad bin Abdillâh Al-Baghdâdîy pernah bersenandung, إِذَا مَا الْمَرْءُ أَخْطَأَهُ ثَلَاثٌ … فَبِعْهُ وَلَوْ بِكَفٍّ مِنْ رَمَادِ، سَلَامَةُ صَدْرِهِ وَالصِّدْقُ مِنْهُ … وَكِتْمَانُ السَّرَائِرِ فِي الْفُؤَادِ “Apabila seorang kehilangan tiga sifat, juallah dia, walaupun hanya dengan harga segenggam debu. Tiga sifat yang hilangitu adalah :
(1) Keselamatan hati;
(2) Kejujuran jiwa; dan
(3) Menyembunyikan rahasia orang lain di dalam hati.” (Ibn Hibbân, Raudhatu Al-‘Uqalâ`, hal. 53)
PANAH KEMATIAN MEMBIDIKMU Abul ‘Atâhiyah pernah menasihatibKhalifah Harun Ar-Rasyid, لَا تَأْمَنِ الْمَوْتَ فِيْ طَرْفٍ وَلَا نَفَسٍ … وَلَوْ تَمَنَّعْتَ بِالْحِجَابِ وَالْحَرَسِ وَاعْلَمْ بَأَنَّ سِهَامَ الْمَوْتِ قَاصِدَةٌ … لِكُلِّ مَدَرَّعٍ مِنَّا وَمُتَرَّسِ “Janganlah merasa aman dari kematian dalam sekejam maupun senafas. Walaupun engkau berlindung dengan tirai dan para pengawal. Ketahuilah bahwa panah-panah kematian selalu membidik setiap dari kita, yang berbaju besi maupun yang berperisai.” (Ibnu Hibban, Raudhatu Al-‘Uqalâ`, hal. 285)
EMPAT TANDA KEBAIKAN BAGIMU Abû Dardâ’ Radhiyallâhu ‘anhu berkata, «ليس الخير أن يَكْثُر مالك وولدك، ولكنَّ الخير أن يَعْظُم حِلْمُك، ويَكْثُر علمك، وأن تنادي النَّاس في عبادة الله، فإذا أحسنت حمدت الله، وإذا أسأت استغفرت الله» “Kebaikan itu bukan dengan semakin bertambahnya harta dan putra-putri anda, namun kebaikan adalah: 💡Anda semakin santun; 💡Bertambah ilmu; 💡Menyeru manusia agar beribadah kepada Allah; 💡Jika berbuat baik, anda memuji Allah, dan jika berbuat jelek, anda memohon ampunan Allah”. (Târikh Dimasyq, 47/158)
RIDHALAH DENGAN PEMBERIAN ALLAH, NISCAYA KAMU AKAN KAYA Abdullâh Ibn Mas’ûd Radhiyallâhu ‘anhu berkata, ارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس، أد ما افترض الله عليك تكن أعبد الناس، اجتنب ما حرم الله عليك تكن من أورع الناس. 1️⃣ Ridhalah dengan pembagian dari Allah untukmu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling berkecukupan; 2️⃣ Kerjakan apa yang Allah wajibkan atasmu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling baik ibadahnya; 3️⃣ Jauhilah apa yang Allah haramkan atasmu, niscaya engkau menjadi termasuk orang yang paling wara’.” (Shahîh, Abû Dâwûd, Az-Zuhd, no. 139)
CUKUP DENGAN AJARAN NABI Shallallàhu ‘Alaihi Wa Sallam Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah petunjuk Nabi Shallallàhu ‘alaihi wa sallam, janganlah membuat amalan yang tidak ada tuntunannya. Karena ajaran Nabi Shallallàhu ‘alaihi wa sallam itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Ath-Thabrânîy, Al-Mu’jam Al-Kabîr, no. 8770)
CARILAH KEMULIAAN DENGAN KETAATAN PADA ALLAH Al-Imâm Al-Mawardî Rahimahullâh berkata, إذا طلبت العزَّ فاطلبه بالطاعة، وإذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة، فمن أطاع الله عز وجل عن نصره، ومن لزم القناعة زال فقره. Apabila engkau mencari kemuliaan, maka carilah dengan cara mentaati Allah. Jika engkau mencari kekayaan, maka carilah dengan cara qana’ah (merasa cukup dengan yang ada). Siapa yang mentaati Allah ia pasti menjadi mulia dengan pertolongan-Nya. Dan siapa yang selalu qana’ah maka akan hilang kefakirannya. (Al-Imâm Al-Mawardî, Adabu Ad-Dunya Wa Ad-Dîn, hal. 226)
HATI YANG CINTA PADA DUNIA, SULIT MENERIMA NASIHAT Mâlik Bin Dînâr Rahimahullâh berkata, إن البدن إذا سقم لا ينجع فيه طعام ولا شراب ، وكذلك القلب إذا علق حب الدنيا لم ينجع فيه المواعظ “Sejatinya badan apabila terkena penyakit maka akan sulit untuk menelan makanan dan minuman. Demikian pula hati apabila telah tergantung dengan kecintaan kepada dunia, maka akan sulit menerima nasihat.” (Shifatu Ash-Shafwah, 2/172).
Semoga Bermanfaat. Wassalam BuyaHMA, Buya Masoed Abidin Madjo Kayo bin Zainal Abidin Faqih al Qadhi Imam Moedo Surau Lakuak KG bin Abdul Jabbar Inyiek Sinaro GGT TBS
BULAN SYA’BAN, PEMBUKAAN BULAN RAMADHAN Al-Imâm Ibn Rajab Al-Hanbalîy Rahimahullâh berkata, لما كان شعبانُ كالمقدمة لرمضان، شُرعَ فيه ما يُشرَعُ في رمضان، من الصيامِ وقراءةِ القرآن؛ ليحصُل التأهُبُ لتلقي رمضان، وترتاضَ النفوسُ بذلك على طَاعةِ الرحمنِ “Karena Bulan Sya’ban itu seakan seperti pembukaan Bulan Ramadhan, maka pada bulan tersebut disyariatkan amalan-amalan yang disyariatkan pada Bulan Ramadhan, seperti PUASA dan MEMBACA AL-QUR’AN. Hal ini agar siap menyambut Ramadhan dan jiwa menjadi terlatih dalam ketaatan kepada Ar-Rahmân.” (Lathâifu Al-Ma’ârif, 1/258)
MENGAPA DINAMAKAN BULAN SYA’BAN ? Ibnu Hajar Al-‘Asqalânî berkata, وَسُمِّيَi شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غُيْرُ ذلِكَ. “Dinamakan Sya’ban karena mereka Orang Arab berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.” (Fathul-Bârîy, Bab Shaumi Sya’bân, IV/213).
BULAN SYA’BAN, AMALAN DINAIKKAN KEPADA ALLAH ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasâ’i, no. 2357. Syaikh Al-Albânîy mengatakan hadîts ini hasan).
Nisfu Sya’ban adalah pertengahan bulan Sya’ban, yakni malam ke-15 pada bulan kedelapan kalender Hijriah. Malam ini dianggap istimewa, penuh berkah, dan ampunan, di mana catatan amal manusia diangkat
DO’A AWAL BULAN HIJRIYAH اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيطَانِ، وَرِضوَانٍ مِنَ الرَّحمَنِ “Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam, juga lindungilah kami dari gangguan syetan, dan agar kami mendapat Ridha Ar-Rahman.” (HR. Al-Baghâwî, Mu’jam Ash-Shahâbah, sanadnya shahîh. Al-Imâm Ibnu Hajar “Shahîh” Al-Ishâbah, 6:407-408). Syaikh Muhammad Shâlih Al-Munajjid, “Doa ini ada riwayatnya. Seorang muslim sangat bagus sekali mengamalkan do’a ini ketika masuk awal bulan, terlihat hilal.” (Fatâwâ Al-Islâm Suâl wa Jawâb, no. 322345)
SYA’BAN, BULAN AL-QUR’AN Salamah bin Kâhil Rahimahullâh berkata, كان يقال شهر شعبان شهر القراء “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan Bulan membaca Al-Qur’an.” (Lathâifu Al-Ma’ârif, 1/138)
MENYIBUKKAN DIRI DENGAN AL-QUR’AN DI BULAN SYA’BAN Al-Imâm Ibn Rajab Al-Hanbalîy Rahimahullâh berkata, وكان عمرو بن قيس إذا دخل شهر شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن “‘Amr bin Qais ketika memasuki Bulan Sya’ban, Beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an.” (Lathâifu Al-Ma’ârif, 1/138)
BERSIHKAN HATI. Bersih hati (qolbun salim) adalah keadaan hati yang selamat dari syirik, penyakit hati (hasad, riya, sombong, dendam), dan kecintaan berlebih pada dunia, serta penuh keikhlasan, ketaatan, dan kecintaan hanya kepada Allah.
NABI SHALLALLÂHU ‘ALAIHI WA SALLAM BIASA BERPUASA PADA BULAN SYA’BAN SELURUHNYA ‘Aisyah Radhiyallâhu ‘anhâ mengatakan, لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ “Nabi Shallallàhu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallàhu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Al-Bukhârîy no. 1970 dan Muslim no. 1156)
PERSIAPAN MENYAMBUT RAMADHAN,
RASULULLAH MEMPERBANYAK PUASA DI BULAN SYA’BAN Aisyah Radhiyallâhu ‘anhâ berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasûlullâh Shallallàhu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat Beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di Bulan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhârîy, no. 1969 dan Muslim, no. 1156).
Waktu luang adalah bentuk rezeki yang sangat besar, seringkali tidak disadari dan dilalaikan manusia, namun sangat berharga untuk meningkatkan ketaatan, beribadah, dan memperbaiki diri. Menggunakan waktu luang untuk hal positif
Semoga bulan ini membawa berkah dan keberkahan bagi semua. Amin!
Subhanallah Walhamdulillah, Walaa ilaaha illa Allah Allahu-Akbar Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim.
Semoga disekeliling kita dipenuhi berzikir kepada Allah SWT آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Subhanallah (Maha Suci Allah)
Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)
La ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah)
Allahu Akbar (Allah Maha Besar)
La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah)
Semoga zikir ini membawa ketenangan dan kebahagiaan dalam hati kita. Amin!
Mari kita ucapkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa kita masih diberi umur masuki tahun 2026′. Hari hari ini adalah kepunyaan Allah, maka jauhilah perbuatan maksiat.
Dia menerima Islam karena hatinya tergetar selalu mendengarkan suara adzan di Masjid Purus ditepi laut dan menengok umat Islam shalat dengan thaat walaupun sekitarnya banyak juga anak muda yang mulai mengabaikan suara adzan 👉
Demikian lah pengakuannya ketika meminta untuk disyahadatkan Masyaallah
Amatlah mudah bagi Allah untuk memberi kan hidayah kepada siapa saja, tidak perlu pilih bangsa dan adat nya, bila Allah telah berikan hidayahNyapastilah diterimanya Islam menjadi agamanya
Demikian lah pengakuannya ketika meminta untuk disyahadatkan Masyaallah
APA DAN BAGAIMANA DAKWAH ITU 👉 Dengan halus, santun dan cerdasnya Buya Hamka menasehati kita semua tentang Dakwah
Dakwah itu membina, bukan menghina
Dakwah itu mendidik, bukan ‘membidik’
Dakwah itu mengobati, bukan melukai
Dakwah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan
Dakwah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan
Dakwah itu mengajak, bukan mengejek
Dakwah itu menyejukkan, bukan memojokkan
Dakwah itu mengajar, bukan menghajar
Dakwah itu saling belajar, bukan saling bertengkar
Dakwah itu menasehati, bukan mencaci maki
Dakwah itu merangkul, bukan memukul
Dakwah itu ngajak bersabar, bukan ngajak mencakar
Dakwah itu argumentative, bukan provokatif
Dakwah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat
Dakwah itu realistis, bukan fantastis
Dakwah itu mencerdaskan, bukan membodohkan
Dakwah itu menawarkan solusi, bukan mengumbar janji
Dakwah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan
Dakwah itu menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat
Dakwah itu memperbarui masyarakat berkemajuan, bukan membuat masyarakat baru yang mengabaikan kemajemukan
Dakwah itu mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan
Dakwah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat
Dakwah itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan
Dakwah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari2 aib dan menyebarkannya
Dakwah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli pemikiran tanpa perasaan
Dakwah itu mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan yang mengabaikan perbaikan
Dakwah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis
Dakwah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan hanya buat meletihkan umat
Dakwah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan
Dakwah itu kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran
Dakwah itu siap menghadapi musuh, bukan selalu mencari musuh
Dakwah itu mencari teman, bukan mencari lawan
Dakwah itu melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran
Dakwah itu asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian
Dakwah itu menampung semua lapisan, bukan memecah belah persatuan
Dakwah itu kita mengatakan: “aku cinta kamu”, bukan “aku benci kamu“
Dakwah itu kita mengatakan: “Mari bersama kami”, bukan “Kamu harus ikut kami”
Dakwah itu “Beaya Sendiri”, bukan “Dibeayai/Disponsori“
Dakwah itu “Habis berapa ?”, bukan “Dapat berapa ?”
Dakwah itu “Memanggil/ Mendatangi, bukan “Dipanggil/Panggilan”
Dakwah itu “Saling Islah”, bukan “Saling Salah”
Dakwah itu di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga dimana saja, BUKAN HANYA DI PENGAJIAN
Dakwah itu dengan “Cara Nabi”, BUKAN DENGAN “CARA SENDIRI”
Maka, “HIDUPKAN DAKWAH, BANGUN NEGERI.”
Sebuah Catatan khusus : Mampu menahan marah atau dengan mengendalikan emosi negatif agar tidak meluap, dengan cara seperti menarik napas dalam-dalam, berhitung apa yang akan dilakukan untung ruginya, mengubah posisi dari duduk ke berdiri, dan berwuduk, membaca ta’awudz (A’udzu billah), dan diam.
Secara spiritual dapat juga dengan berpuasa atau memperbanyak zikir, karena marah berasal dari setan dan air dapat memadamkan api amarah.
Menahan amarah karena Allah sangat dianjurkan dalam Islam dan memberikan keutamaan besar, meskipun juga penting untuk mengelolanya agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental dengan cara yang sehat, bukan dipendam tanpa ekspresi sama sekali.
< Ubah Posisi: Dari berdiri ke duduk, lalu ke berbaring jika masih marah.
< Ambil Wuduk: Air dapat memadamkan api amarah.
< Membaca Ta’awudz: “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan).
< Diam dan Berpikir: Diam adalah sunah Nabi, beri waktu untuk berpikir jernih.
< Napas Dalam & Berhitung: Tarik napas panjang, hembuskan perlahan, sambil berhitung sampai 10.
< Berpuasa: Salah satu cara mengendalikan amarah.
< Berzikir & Syahadat: Memperbanyak zikir dan mengucapkan syahadat.
< Bacalah surah Kahfi, surah Yasin dan lainnya. Mari kita hidupkan malam malam ini dengan iktikaf di Masjid terdekat. Setelah tengah malam kita laksanakan Shalat Tahajjud.
< Perbanyaklah Taubat, berdoa dan berzikir, karena belum tentu umur kita entah sampai esok hari, Hanya Allah saja yang Maha Tahu. Semoga bermanfaat.
Bulan mempersiapkan diri untuk Ramadhan. Bulan pengampunan dosa. Bulan meningkatkan ibadah dan zikir Zikir sangat penting untuk mengingat kebesaran Allah SWT
Menahan marah adalah mengendali kan emosi negatif agar tidak meluap,
Dengan cara praktis seperti menarik napas dalam-dalam, berhitung, mengubah posisi (duduk/berbaring), berwudu, membaca ta’awudz (A’udzu billah), dan diam, serta secara spiritual dapat berpuasa atau memperbanyak zikir, karena marah berasal dari setan dan air dapat memadamkan api amarah.
Menahan amarah karena Allah sangat dianjurkan dalam Islam dan memberikan keutamaan besar, meskipun juga penting untuk mengelolanya agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental dengan cara yang sehat, bukan dipendam tanpa oekspresi sama sekali. L
Istighfar adalah permohonan ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan, yang diucapkan dengan kalimat seperti “Astaghfirullah” atau “Astaghfirullahaladzim”, sebagai bentuk penghambaan diri, pembersihan hati
< Ambil Wudu: Air dapat memadamkan api amarah ….. < Membaca Ta’awudz: “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan) …..
Cara Praktis & Spiritual ….. < Ubah Posisi: Dari berdiri ke duduk, lalu ke berbaring jika masih marah …..
< Diam dan Berpikir: Diam adalah sunah Nabi, beri waktu untuk berpikir jernih ….. < Napas Dalam & Berhitung: Tarik napas panjang, hembuskan perlahan, sambil berhitung sampai 10 …..
< Berpuasa: Salah satu cara mengendalikan amarah ….. < Berzikir & Syahadat : Memperbanyak zikir dan mengucapkan syahadat.
MUSIBAH SILIH BERGANTI لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung.
INGATLAH SELALU … bahwa ALLAHUSH – SHAMAD … Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala urusan … MAKA GANTUNGKANLAH SEMUA YANG KITA MAU DAN INGINKAN HANYA KEPADA ALLAH SAHAJA … caranya adalah IKUTI MAUNYA ALLAH MAKA ALLAH MEMUDAHKAN MENDAPATKAN APA YANG KITA MAU … In-syaa-Allaah Barakah. …
SAUDARA SEJATI. Syaikh Al-Allaamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata, “SEJATINYA SAUDARAMU adalah ORANG YANG MENASIHATI MU, MENGINGAT KAN KAMU (untuk taat) dan MEMPERINGAT KAN KAMU (dari kesalahan), dan bukanlah merupakan saudaramu orang yg membiarkanmu lalai, berpaling dan berbasa basi kepadamu… Akan tetapi saudaramu yg sesungguhnya adalah ORANG YANG MENASIHATI MU, MEMBERI KAN ARAHAN2 KEBAIKAN KEPADAMU, MENGINGATKAN MU, MENGAJAK MU KEPADA JALAN ALLAH, MENJELASKAN KEPADAMU JALAN KESELAMATAN SEHINGGA ENGKAU MENEMPUHNYA, dan MEMBERIKAN PERINGATAN KEPADAMU DARI JALAN KEBINASAAN, SERTA MENJELAS KAN AKIBAT BURUK DARINYA HINGGA ENGKAU MENJAUHI-NYA.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah: 14/12).
Doa untuk Negeri yang sedang mendapat serangan bertubi-tubi. يا الله يا قوي يا متين نسألك أن تحفظنا و علمائنا العاملين الذين استقاموا في إحقاق الحق و إبطال الباطل. اللهم ارعهم بعين رعايتك و احفظهم بحفظك و احمهم بحمايتك من مكر الماكرين و حسد الحاسدين و ظلم الظالمين و لا توكلهم إلى أنفسهم طرفة عين و سلمهم من شر الأمراء و السلاطين الجائرين المتكالبين على الدنيا الذين لا يخافونك و لا يخضعون لشريعتك يا رب العالمين
اللهم بمنك و فضلك ول علينا خيارنا من يرحمنا و يخاف منك و لا تول علينا بذنوبنا شرارنا من لا يرحمنا و لا يخاف منك
يا قوي يا متين ثبت أقدام علمائنا فإن وعدك حق و قد قلت في كتابك ” إن تنصروا الله ينصركم و يثبت أقدامكم ” انصرهم من أعدائك و ثبت أقدامهم و افتح لهم فتحا مبينا يا رب العالمين
اللهم أدخل الرعب في قلوب أعدائهم و شتت شملهم و فرق جمعهم و قلل عدهم و مزق قوتهم و دمرهم تدميرا يا قهار يا جبار يا قوي يا متين.
اللهم ارزقنا حبك حب من يحبك و حب العلماء الدالين عليك و الداعين إليك و ارزقنا طاعتهم و الثبات في الدفاع عنهم و السير على دربهم يا أرحم الراحمين و يا ذا القوة المتين. Ya Allah yang Maha Kuat dan Perkasa, Kami Memohon kepadaMu agar Kau jaga kami serta para Ulama Amilin yang istiqomah menyuarakan yang HAQ itu Haq dan yang Bathil itu Bathil. Jagalah mereka, lindungi mereka dari tipu muslihat, rasa dengki dan sikap semena-mena dari kaum Dzhαlimin. Jangan sekali-kali Kau tinggalkan ulama kami meski hanya sekedip Mata ya Allah. Ya Rαbbana, Selamatkan mereka dari kejahatan penguasa Dzhαlim, penguasa yang selalu haus dengan dunia, yang tidak memiliki rasa takut kepadaMu dan tidak mau tunduk kepada syariatMu ya Rαbbal Alamiiin. Ya Allah, dengan rahmat dan anugrahMu angkatlah pemimpin yang baik untuk kami, pemimpin yang sayang kepada kami dan tunduk serta takut kepadaMu. Dan jangan karena dosa kami yang begitu banyak Kau angkat untuk kami pemimpin yang jahat, tidak mengasihi kami serta tidak takut dan tunduk kepadaMu ya Allah. Wahai yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, Mantapkan langkah para Ulama kami, Kami yakin sepenuhnya bahwa janjiMu PASTI benar, dan kau telah berjanji dalam kitab-Mu. “Jika Kalian membela Allah, Maka Allah akan membela kalian dan memantapkan langkah-langkah kalian.” Ya Rαbbi, ku Mohon pertolonganMu untuk para Ulama atas musuh-musuh mereka, Mantapkan langkah mereka, anugrahkan kemenangan yang besar untuk Ulama dan Muslimin ya Rαbbal Alamiin. Ya Allah, Tanamkan rasa takut di hati-hati musuh-musuhMu, Pecah belah persatuannya, cabik-cabik kekuatannya, sedikitkan jumlahnya dan hancurkan mereka ya Qαhhhar ya Jabbar ya Qαwiyyu ya Matiin. Ya Allah, Tanamkan dalam hati kami rasa cinta yang mendalam kepadaMu, kepada para kekasihMu dan kepada para Ulama yang mengajak kami kepadaMu serta menunjukkan kami jalan menuju Ridhα Mu. Ya Allah, Anugrahkan kami ketaatan kepada para Ulama pewaris NabiMu, juga ketangguhan untuk senantiasa membela mereka serta Konsisten berjalan dibarisan mereka. Ya Arhamarrahimin, wa ya Dzal Quwwatil Matiin. Aamiin YRA..
WA billahi at-taufiq wa al-hidayah Wassalaam Buya Hma Majo Kayo Buya MAbidin Jabbar Buya Masoed Abidin
Di antara nama Allah Azza wa Jalla adalah al-Ghafûr (Yang Maha Pengampun), dan di antara sifat-sifat-Nya adalah maghfirah (memberi ampunan). Sesungguhnya para hamba sangat membutuhkan ampunan Allah Azza wa Jalla dari dosa-dosa mereka, dan mereka rentan terjerumus dalam kubangan dosa.
KEUTAMAAN ILMU AGAMA. Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhu pernah berkata,
“Pelajarilah ilmu agama! Sesungguhnya mempelajarinya adalah termasuk bagian dari rasa takut kepada Allah, menuntutnya adalah termasuk bagian dari ibadah, mengingatnya adalah termasuk bagian dari bertasbih, dan mencarinya adalah termasukbagian dari jihad.”
“Mengajarkannya kepada yang belum mengetahuinya adalah shadaqah, Mempergunakannya bagi yang memilikinya adalah pendekatan diri kepada Allah.” (Untaian Hikmah Pelembut Jiwa, Syaikh Shalih Ahmad Asy Syami Hal 148).
Hidayah yang telah tertanam di dalam hati melahirkan dhawq yakni rasa kesadaran ruhani yang tumbuh sempurna dan hatinya menjadi ingat akan garis-garis yang telah ditetapkan oleh Allah. Seseorang hamba akan menjadi fana’ dalam wujud Allah.
Jiwa yang merasakan fana’ dalam rahasia wujud Allah, pasti akan berhati-hati selalu di dalam bertindak dan berbuat apa saja.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللََّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ. “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2749).
DOSA TELAH DITAKDIRKAN ADA PADA MANUSIA DAN PASTI AKAN TERJADI. Allah Azza wa Jalla telah mensyariatkan faktor-faktor penyebab dosanya, agar hatinya selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat ‘ujub (mengagumi diri sendiri), ghurûr (terperdaya dengan amalan pribadi) dan kesombongan.
Dosa-dosa banyak diampuni di bulan Ramadhan, karena bulan itu merupakan bulan rahmat, bulan ampunan, dan bulan pembebasan dari neraka, dan bulan untuk melakukan kebaikan. Bulan bulan kesabaran yang pahalanya adalah surga. Allah Azza wa Jalla berfirman: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas”. (QS.az-Zumar/39:10).
PUASA ADALAH PERISAI DAN PENGHALANG DARI DOSA DAN KEMAKSIATAN SERTA PELINDUNG DIRI DARI AZAB NERAKA. Dalam hadits shahîh dijelaskan: الصَّحَابَةُ : أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّه قَالَ : جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ :بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْلَهُ قُلْتُ : آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّانِيَةُ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ : آمِِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّالِشَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ آمِيْن “Sesungguhnya Nabi mengucapkan amîn sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdo’a. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amîn”. Beliau menjawab: “Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata ; “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua makaia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata : “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkan nya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”. Seorang Muslim yang berusahamendapatkan ampunan dosa, akan berbahagia dengan adanya amalan-amalan shalih agar Allah Azza wa Jalla menghapuskan dosa dan perbuatan jeleknya, karena kebaikan bisa menghapus kejelekan.
SEBAB-SEBAB AMPUNAN YANG DISYARIATKAN DI ANTARANYA:
1. TAUHID. Inilah sebab teragung. Siapa yang tidak bertauhid, maka kehilangan ampunan dan siapa yang memilikinya maka telah memiliki sebab ampunan yang paling agung. Allah Azza wa Jalla berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya“. (an-Nisâ‘/4:48). Siapa saja yang membawa dosa sepenuh bumi bersama tauhid, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan ampunan sepenuh bumi kepadanya. Namun, hal ini berhubungan erat dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Apabila Dia berkehendak, akan mengampuni. Dan bisa saja, Dia Azza wa Jalla berkehendak untuk menyiksanya. Siapa yang merealisasikan kalimatut tauhîd di hatinya, maka kalimatut tauhîd tersebut akan mengusir kecintaan dan pengagungan kepada selain Allah Azza wa Jalla dari hatinya. Ketika itulah dosa dan kesalahan dihapus secara keseluruhan, walaupun sebanyak buih di lautan. ‘Abdullâh bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menyendiri kan seorang dari umatku (untuk dihadapkan) di depan semua makhluk pada hari Kiamat. Lalu Allah menghamparkan sembilan puluh sembilan lembaran (catatan amal) miliknya. Setiap lembaran seperti sejauhmata memandang.” Kemudian Allah berfirman: “Apakah kamu mengingkarinya? Apakah malaikat pencatat amalan menzhalimimu”. Maka ia pun menjawab: “Tidak wahai Rabbku”. Lalu Allah berfirman lagi: “Apakah kamu memiliki udzur?” Ia menjawab: “Tidak ada wahai Rabb”. Lalu Allah berfirman: “(Yang benar) ada, sesungguhnya kamu memiliki kebaikan di sisi Kami, tidak ada kezhaliman atasmu pada hari ini”. Lalu dikeluarkan satu kartu berisi syahadatain. Kemudian Allah berfirman: “Masukanlah dalam timbangan!” Ia pun berkata: “Wahai Rabbku apa gunanya kartu ini dibandingkan lembaran-lembaran itu?” Maka Allah berfirman: “Sungguh kamu tidak akan dizhalimi”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selanjutnya lembaran-lembaran tersebut diletakkan dalam satu anak timbangan dan kartu tersebut di anak timbangan yang lain. Ternyata lembaran- lembaran terangkat tinggi dan kartu tersebut lebih berat. Maka tidak ada satu pun yang lebih berat dari nama Allah”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi menyatakan: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًاَلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. “Allah berfirman: Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa dosa sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutu kan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan“. (HR Muslim). Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allah Azza wa Jalla dengan pengampunan seluruh dosa yang ada pada lembaran-lembaran tersebut dengan kalimat tauhid. Kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab. Allah Azza wa Jalla menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi; namun hamba tersebut telah mewujudkan tauhid, maka Allah Azza wa Jalla menggantikan nya dengan ampunan.
BERSEDEKAH. Bersedekah termasuk salah satu qurbah (ibadah yang mendekatkan diri) yang agung di hadapan Allah Azza wa Jalla . Dengannya, seorang hamba memperoleh kebaikan, sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla : تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ. “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan. sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imrân/3:92).
Dalam hadits Mu’âdz, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَبِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّهٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ. “Maukah aku tunjuk kan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai. Bersedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Dan shalat seseorang di kegelapan malam”. (at-Tirmidzi no: 2541).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang sangat dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau berjumpa dengan malaikat Jibril. Saat itu beliau lebih berbaik hati daripada angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Di antara bentuk sedekah terbaik adalah memberi makan orang yang puasa (ifthârus shâim). Disebutkan dalam hadits: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِشْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّا ئِمِ شَيْئًا “Barang siapa memberi buka puasa bagi orang yang puasa maka ia memperoleh pahala sepertinya, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh al-Albâni).
Pahala orang yang bersedekah dilipatgandakan sampai tujuh ratus lipat dan kelipatan yang lebih banyak lagi. Di bulan Ramadhan, penggandaan pahala itu semakin besar.
Di antara pemandangan yang sangat menarik, antusiasme orang di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dan masjid-masjid lainnya untuk memberi buka puasa bagi kaum Muslimin di bulan Ramadhan.
2. DO’A DENGAN PENGHARAPAN. Allah Azza wa Jalla memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkan nya. Allah Azza wa Jalla berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ. “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenan kan bagimu”. (QS.Ghâfir/40:60). Doa adalah ibadah. Doa akan dikabulkan apabila memenuhi kesempurnaan syarat dan bersih dari penghalang- penghalang. Kadangkala, pengabulan itu tertunda, karena sebagian syarat tidak terpenuhi atau adanya sebagian penghalangnya. Di antara syarat dan adab terkabulnya doa adalah kekhusyukan hati, mengharapkan ijâbah dari Allah Azza wa Jalla, sungguh-sungguh dalam meminta, tidak menyatakan insya Allah (Ya Allah Azza wa Jalla, kabulkanlah permintaanku bila Engkau menghendaki nya), tidak tergesa-gesa mengharap pengabulan, memilih waktu-waktu dan keadaan yang mulia, mengulangulang doa tiga kali dan memulainya dengan pujian kepada Allah Azza wa Jalla dan shalawat, berusaha memilih makanan dan minuman yang halal dan lain-lain. Di antara permohonan terpenting yang dipanjatkan seorang hamba kepada Rabbnya yaitu permohonan agar dosa-dosanya diampuni atau pengaruh dari pengampunan dosa seperti diselamat kan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Kepada seseorang yang berujar: “Saya tidak mengetahui do’amu dengan perlahan yang juga dilakukan Mu’âdz”. حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ “Permohonan kami di seputar itu“ Maksudnya doa kami itu berkisar pada permohonan agar dimasukkan surga dan diselamat kan dari neraka. Abu Muslim al-Khaulâni mengatakan: “Tidaklah datang kesempatan berdoa kepadaku, kecuali saya jadikan doa itu permohonan agar dilindungi dari api neraka.”
3. ISTIGHFÂR (MEMOHON AMPUNAN). Permohonan ampun ini merupakan pelindung dari adzab, penjaga dari setan, penghalang dari dari kegelisahan, kefakiran dan penderitaan, pengaman dari masa paceklik dan dosa; meskipun dosa-dosa seseorang telah menggunung sampai menyentuh langit. Dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman : يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ فِيْكَ وَلاَأُبَالِىْ يَاابْنَ آدَمَ لَؤْ بَلَغَتْ ذُنُوْ بُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أََتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. “Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli; Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohonampun kepada-Ku, Aku akan mengampuni mu dan Aku tidak peduli; Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalamkeadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukan Ku dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga”. (HR. at-Tirmidzi). Membaca istighfâr adalah penutup terbaik bagi berbagai amalan, umur, serta penutup majelis.
4. BERPUASA DI SIANG HARI DAN SHALAT MALAM KARENA IMAN, MENGHARAPKAN BALASAN PAHALA DARI ALLAH AZZA WA JALLA, IKHLAS SERTA DALAM RANGKA TAAT KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA. Dia berpuasa bukan dengan niat mengikuti orang banyak, juga tidak untuk mendapatkan sanjungan orang, tidak untuk melestarikan adat atau supaya sehat; juga tidak berniat pamer serta tidak untuk mensukses kan urusan duniawi. Dia juga tidak berniat untuk mendoakan keburukan yang tidak pantas buat seorang Muslim. Dia melaksanakan ibadah puasa terdorong oleh niat beriman kepada Allah Azza wa Jalla, merealisasikan ketaatan kepada-Nya dan mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadits dinyatakan : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka diampuni semua dosanya yang telah lewat. (al-Bukhâri dan Muslim). Alangkah luar biasanya seorang yang melaksanakan ibadah puasa lalu keluar dari ibadah nya dalam keadaan sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibundanya, yaitu tidak menanggung dosa dan berhati suci. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُم قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya menyunnah kan bagi kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkanpahala, niscaya dia keluar dari dosa dosanya sebagai mana saat dia dilahirkan oleh ibundanya“. Dengan melaksana kan semua ini berarti seorang Muslim telah menjaga waktu siangnya dengan puasa, memelihara waktu malamnya dengan shalat tarawih serta berusaha mendapat kan ridha Allah Azza wa Jalla
5. MELAKSANAKAN SHALAT MALAM PADA LAILATUL QADAR KARENA IMAN DAN INGIN MENDAPATKAN PAHALA. Lailatul Qadar adalah suatu malam yang Allah Azza wa Jalla muliakan, melebihi semua malam lainnya, suatu malam saat Allah menurunkan kitab-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman : إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur‘ân) pada malam kemuliaan“. (al-Qadr/97:1). Allah Azza wa Jalla menjadikan Lailatul Qadar ini lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam ini para malaikat turun dan menjadi kannya malam keselamatan dari segala keburukan dan dosa. Allah Azza wa Jalla mengkhususkan satu surat dalam al-Qur’ân yang membicarakan tentang malam ini. Orang yang terhalang dari berbagai kebaikan pada malam ini berarti dia terhalang dari semua kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencari Lailatul Qadar ini pada seluruh hari pada bulan Ramadhan, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, kemudian sepuluh hari kedua dan sepuluh hari terakhir. Orang yang ingin mendapatkan keberuntungan, maka dia akan antusias untuk melaksanakan shalat malam pada malam yang lebih baik dari delapan puluh tiga tahun dan empat bulan. Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ. “Barangsiapa melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lewat“. Untuk mendapatkan ampunan di malam itu, tidak disyarat kan untuk menyaksi kannya secara langsung. Namun syaratnya adalah orang melakukan qiyamul lail sebagaimana tertuang dalam hadits tersebut.
6. MELAKUKAN UMRAH. Ibadah umrah termasuk faktor yang menggugurkan dosa-dosa. Rasulullah bersabda: الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ. “Ibadah umrah ke ibadah umrah (berikutnya) adalah penggugur dosa antara keduanya. Dan pahala haji mabrur tiada lain adalah surga”. (al-Bukhâri no: 1650). Umrah di bulan Ramadhan pahala nya lebih besar daripada di bulan bulan lainnya. Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehabis pulang dari haji Wada’ berkata kepada seorang wanita dari Anshar bernama Ummu Sinân : “Apa yang menghalangimu untuk berhaji (denganku).” Ia menjawab: “Abu Fulan (suaminya) memiliki dua onta. Salah satu dipakainya untuk berhaji dan yang lain untuk mengairi persawahan.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمََضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِيْ. “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan dapat mengganti haji bersamaku.” (HR Bukhâri no 1863; Muslim no 3028). Betapa besar keberuntungan orang yang umrah di bulan Ramadhan. Ia bagaikan berhaji bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seperti orang yang menyertai beliau dalam ihram, sai dan thawaf dan seluruh manasik haji beliau.
KUMPULKAN KAMI BERSAMA HAMBA HAMBA MU YANG ENGKAU SAYANGI YAA RABBANA. Ya Allah sebagai mana Engkau kumpulkan kami di dunia ini dalam ketaatan padaMu. Kumpulkanlah pula kami kelak dalam surgaMu bersama para Nabi, Shiddiqin, syuhada dan orang-orang shaleh. Amiin Yaa Mujib as-Sailiin …
7. MENYEMPURNA KAN PUASA SEBULAN PENUH. Ada sekian banyak orang yang akan bebas dari api neraka di bulan Ramadhan, dan itu terjadi di setiap malam. Allah Azza wa Jalla menyempurnakan pahala orang-orang yang sabar tanpa perhitungan khusus. Ada Ulama yang mengatakan: مَنْ صَامَ الشَّهْرَ وَاسْتَكْمَلَ اْلأَجْرَ وَأَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدَرِ فَقَدْ فَازَ بِجَائِزَةِ الرَّبَّ. ”Barang siapa berpuasa sebulan penuh dan meraih pahala sempurna, dan berjumpa dengan malam lailatul qadar, sungguh ia telah menggapai hadiah dari Allah“.
Semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosa kita sekalian dan menutupi kekurangan- kekurangan kita dan memudahkan segala urusan kita. Aamiin ya Rabbal Alamiin.
“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklahia bertakwa kepada Allah Tuhannya.”
(QS. Al-Baqarah: 283).
Amanah adalah konsep yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk agama, etika, dan kemasyarakatan. Berikut beberapa makna dan implementasi amanah:
Dalam Agama: Amanah dalam konteks agama sering kali merujuk pada tanggung jawab untuk menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Ini mencakup kewajiban untuk beribadah, berlaku adil, dan menjaga hak-hak orang lain.
Dalam Etika dan Moral: Amanah juga berarti kepercayaan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk dikelola atau dijaga dengan baik. Ini bisa berupa barang, informasi, atau tanggung jawab tertentu. Menjaga amanah berarti bertanggung jawab penuh atas apa yang dipercayakan kepada kita.
Dalam Kemasyarakatan: Dalam konteks sosial dan kemasyarakatan, amanah bisa berarti komitmen untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan integritas dan profesionalisme. Ini mencakup berbagai bidang seperti pekerjaan, kepemimpinan, dan hubungan interpersonal.
Menjaga amanah bukan hanya tentang memenuhi kewajiban, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan kredibilitas.
Ketika seseorang menjalankan amanah dengan baik, dan JUJUR, mereka menunjukkan bahwa mereka bisa dipercaya dan diandalkan, yang sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis dalam masyarakat.
1. ORANG JUJUR TEMAN TERBAIK. وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا “Dan siapa saja yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang Allah berikan kenikmatan kepada mereka dari kalangannabi-nabi, para shiddiiqiin (orang-orang yang sangat jujur), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.“ (QS. An-Nisa’: 69).
2. Berikutnya firman Allah Subhanahu …. إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerima nya.” (QS. An-Nisa: 58).
Banyak manusia yang sibuk mencari dan meminta agar diberi amanah, jabatan, rezki dan tanggung jawab lainya, namun yang lebih banyak adalah yang melalaikan bahkan menyalah gunakan amanah yang diterimanya.
3. MAKA PELIHARA LAH AMANAH ITU DENGAN BAIK AGAR SELALU MENDAPAT KAN RAHMAT ALLAAH……!!! “Ingatlah apapun yang diamanahkan kepada kita akan dipertanggung jawabkan di akherat nanti …!!!
4. WALAUPUN ANDA TIDAK SENANG PADANYA, TAPI TETAP BERLAKU ADIL. كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا “Hendaklah kamu √ — menjadi orang-orang yang selalu menegak kan kebenaran karena Allah, √ — menjadi saksi dengan adil. √ — Dan janganlahkebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil.” (QS. Al Ma’idah: 8).
5. SEMUA HARUS DIPERLAKUKAN ADIL لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8).
“Sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat dan orang yang amanah, dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26).
6. ORANG ADIL AKAN MENDAPAT MIMBAR DARI CAHAYA. إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di mata Allah berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, berada di sebelah kanan Ar-Rahman Azza wa Jalla. Yaitu mereka yang berbuat adil ketikamenetapkan putusan hukum, dan adil terhadap pengikut dan rakyatnya.” (HR. Muslim no.3406).
7. LAKUKAN SURUHAN TINGGALKAN LARANGAN. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ. “Apa saja yang aku larang, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang telah membinasakanorang-orang sebelum kalian adalah banyak bertanya dan menyelisihi perintah nabi-nabi mereka.” (HR. Al Bukhari no.7288, Imam Muslim no.1337).
8. JALAN MENUJU KESUKSESAN ADALAH MENJAGA AMANAH. وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ “Dan sungguh beruntung orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)
KEKUASAAN ITU ADALAH AMANAH.
وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا “Kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaantersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825).
9. HATI HATI AKAN DATANG BENCANA, KARENA HILANG SIFAT AMANAH. أَوَّلُ مَا تَفْقَدُوْنَ مِنْ دِيْنِكُمُ اْلأَمَانَةَ وَ أَخِرُهُ الصَّلاَةَ “Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah AMANAH, dan yang terakhirnya adalah SHALAT.” (Syeik Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah, 1739)
JANGAN KHIANATI YANG BERKHIANAT KEPADAMU.
أَذِّاْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu”
(Abu Dawud, 3535 dan At-Tirmidzi, 1264).
ADAB KETIKA MEMAKAN MAKANAN. Dari Abu Hurairah, ia berkata,
مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sekali pun dan seandainya beliau menyukainya maka beliau memakannya dan bila tidak menyukainya beliaumeninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409)
Dari hadits Abu Juhaifah, ia berkata bahwa : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;
“Barakah itu turun di tengah-tengah makanan, maka mulailah makan dari pinggirnya dan jangan memulai dari tengahnya.”
(HR. Tirmidzi no. 1805 dan Ibnu Hibban no. 5245. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Mudah2an kita selalu HIJRAH dari upaya syetan, yang tak henti henti nya ;
1. membisikkan keraguan kepada manusia ketika melakukan kebaikan atau amal saleh ( waswasah ).
2. membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Segala yang berbau maksiat biasanya terlihat indah ( tazyin ).
3. memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan ( tamanni )
4. berusaha menanamkan permusuhan diantara manusia ( ‘adawah ).
5. menakut-nakuti ( takhwif ).
6. berusaha menghalang – halangi manusia menjalankan perintah Allah dengsn menggunakan berbagai hambatan, termasuk meninabobokkan sehingga lupa shalat tahajjud dan selalu telat shalat fardu ( saddun ).
7. janji palsu ( wa’dun ).
8. berusaha sekuat tenaga memasang sejumlah perangkap agar manusia terjebak ( kaidun ).
Peran dakwah Risalah diantaranya adalah membentuk tata-masyarakat yang universal bersatu punya prinsip persaudaraan, menjauhi perpecahan, menghindari hasut-fitnah, hidup bertoleransi dan saling menghargai, dengan menggerakkan upaya ta’awunitas atau gotongroyong.
Teliti lebih dahulu setiap berita yang diterima, agar tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum, akhirnya kamu menyesal atas perbuatanmu.
(Lihat diantaranya QS.49,al-Hujurat : 6-13.)
Dalam hidup ada bimbingan Rasulullah.SAW.
Jangan selalu mengikuti kehendak semata, nanti kamu benar-benar akan mendapat kesusahan.
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di hatimu.
Menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan, karena keimanan itu. Merekalah orang yang mengikuti jalan lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah.
Hendaklah mendamaikan antara yang berselisih !
Bila melanggar perjanjian, agar yang melanggar dilawan sampai kembali pada perintah Allah.
Jika telah kembali, damaikanlah dengan adil.
Berlakulah adil. Allah mencintai orang yang adil.
Orang beriman itu bersaudara.
Perbaikilah hubungan antara saudaramu.
Takutlah kepada Allah, supaya mendapat rahmat.
Jangan saling merendahkan (lelaki dan wanita). Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari yang menertawakan.
Akhlak karimah (mulia) mencakupi hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah), penataan sikap dan kepribadian manusia (ihsanisasi), dan pemeliharaan hubungan antar makhluk manusia maupun alam lingkungan (mu’amalah ma’an-naas).
Jangan memanggil dengan gelaran ejekan.[1]
Panggilan buruk adalah kufur sesudah beriman.[2]
Tidak mau tobat, merekalah orang yang zalim.
Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan).
Kebanyakan purba-sangka itu dosa.
Janganlah mencari-cari keburukan orang.
Janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Allah telah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa), dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Orang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Missi kerasulan Muhammad SAW memperbaiki tatanan laku perangai (moral) manusia, dengan mengedepankan akhlak mulia (al-Hadist).
Akhlak, menjadi jembatan yang menghampirkan makhluk dengan Khaliknya, dan menjadi parameter untuk menilai, sempurna atau tidak, ihsan seseorang.
Melaksanakan agama, artinya berakhlak sesuai dengan tuntunan agama Islam. Agama adalah sebuah identitas (ciri, shibgah).
Kebebasan manusia tanpa nilai agama (free of values), menjadikan manusia makhluk yang tidak bermakna manusia. Betapapun keperluan materi telah dapat dipenuhi, suasana hidup akan gersang manakala keperluan ruhanik (immaterial, spirituil) tidak diperhatikan.
Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan. Nilai hidup manusia lebih ditentukan oleh moral (akhlak) yang dimilikinya.
Kelanjutan hidup manusia di permukaan bumi turun temurun, karena terjalinnya hubungan setara antara dua jenis manusia. Lelaki dan Perempuan.
Risalah dakwah Muhammad SAW adalah, peduli martabat perempuan. Sebelum datangnya Islam, terjadi pelecehan jender perempuan. Terbukti pada, setiap kelahiran anak perempuan, disambut kematian. Memiliki anak perempuan sama halnya dengan menyandang kehinaan tiada taranya. Lihatlah QS.16,an-Nahl :57-60. Ketika itu, terjadi pembedaan jender, etnis dan rasilalisme.
Zaman modern kini, masih terasa di belahan dunia (Israel-Palestina, Hitam-putih Amerika Serikat, Albanian-Serbian di Kosovo), pada ujungnya ethnic cleansing, satu virus jahiliyah.
Bentuk virus jahiliyah di zaman modern, adalah kebiasaan miras, judi, candu, Narkoba, kehidupan bebas (vrij-homgaang, samen-leven), dan sejenisnya. Untuk menghadapi virus ini, perlu scanning anti virus. Menurut saya, bila CPU generasi ini ingin bersih, hendaknya dipakai program paradigma tauhid, saleh ubudiyah, penerapan ajaran Islam dengan benar, kesalehan sosial dengan akhlak karimah (mulia).
Wahyu al-Quran yang dibawa Muhammad SAW, menempatkan perempuan pada posisi azwajan, mitra sejajar berperan menciptakan sakinah (kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram, melalui mawaddah berupa kasih sayang.
“ dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.30, Ar Rum : 21).
Citra perempuan, diperankan sempurna oleh IBU (Ikutan Bagi Ummat), inti dalam keluarga (extended family).
Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist). Posisi ini adalah penghormatan mulia. “Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).
ISTRI PENDEK MENAWAN HATI Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah berkata, وَمِمَّا يُسْتَحْسَنُ فِي الْمَرْأَةِ … قَصْرُ أَرْبَعَةٍ يَدُهَا وَرِجْلُهَا وَلِسَانُهَا وَعَيْنُهَا فَلَا تَبْذُلُ مَا فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَلَا تَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهَا وَلَا تَسْتَطِيْلُ بِلِسَانِهَا وَلَا تَطْمَعُ بِعَيْنِهَا “Hal yang membuat istri itu menawan adalah “PENDEK” dalam empat hal: tangan, kaki, lidah dan mata. 🌹 TANGAN yang PENDEK sehingga tidak menghamburkan harta suami. 🌹 KAKI yang PENDEK, sehingga tidak keluar rumah kecuali ada keperluan. 🌹 LISAN yang PENDEK sehingga tidak suka mencela. 🌹 MATA yang PENDEK pandangannya, sehingga tidak mudah ingin beli ini dan itu.” (Raudhatu Al-Muhibbîn, hal. 340-341)
Karena itu, wajib kaum perempuan menjaga marwah secara pasti. Disini rahasia besar dari aturan “aurat”, ujud ciri-ciri feminim.
Perempuan mempunyai “sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, rasionalitas menjadi intuisi, dan dorongan seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan”.[3]
Bahkan, “hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap istri terlalu maskulin”.[4]
Menggejalanya mode unisex, adalah limbah budaya western pasti berdampak kepada hilangnya citra kaum perempuan.
TIPE PEREMPUAN TIDAK BOLEH DITIRU
a) Kufur dan khianat kepada agama dan suaminya, contohnya isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka.
“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing),[5] Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. (QS.66,at Tahrim :10),
Nabi-nabi sekalipun, tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah, apabila mereka menentang agama Allah, dan mengingkari risalah Rasulullah.
b) Meninggalkan bengkalai sampai tua, ibarat di siang hari menenun, dan malam mengungkai kembali,
“ dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.[6]Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS.16, an-Nahl :92).
ADA TIGA TIPE PEREMPUAN PERLU DICONTOH ;
MENGHINDAR DARI KEZALIMAN DAN KEMUSYRIKAN, selalu mengharap rumah di sorga, seperti Asiyah interi Firaun itu. “ dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu[1488] dalam firdaus,[7]dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
MENDIDIK GENERASI MEMEGANG TEGUH AMANAH, membela agama Allah, seperti isteri ‘Imran.
“ (ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. “ Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS.3, Ali Imran : 35-36),
SELALU MEMELIHARA FARAJ, MENJAGA DIRI DAN MARTABAT, seperti Maryam ;
“ dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat.” (QS.66, at Tahrim : 12).
Rujukan dari akhlak adalah wahyu Allah. Tatanan adab pergaulan berakhlak adalah, selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah.
Tuntunan akhlak dan ibadah tidak sebatas teori. Tampak pada semua perilaku dalam tatanan kehidupan.
Para Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia bertugas memberikan tuntunan akhlak dalam semua perilaku kehidupan.
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS.33, al Ahzab : 21).
Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagai “Hanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al Hadist).
Pentingnya akhlak di ungkap banyak penyair (ahli hikmah) إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ، وَ انْهُمُوا ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوا Artinya, “tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”.
Akhlak atau Budi Pekerti, akan selalu hidup, walaupun pelakunya sudah tiada. “Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”.
Dengan berakhlak kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau menanamkan ruhul infaq dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa.
” Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.” (Q.S. Al Lail, 19 – 20).
Itulah tujuan hidup berakhlak yang hendak kita capai. Begitu khittah yang hendak kita tempuh. Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil. Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syarak , syarak basandi Kitabullah. Menjaga akhlak generasi dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya.
Kekuatan moral yang kita miliki, ialah menanamkan dalam diri masing-masing, untuk membina umat dalam masyarakat di kota maupun nagari, yang telah kita ketahui kekuatannya dalam akhlak mulia. Tahu di ereng jo di gendeng, tahu dengan malu dan sopan.
Semoga salam dan salawat kita sampai kepada beliau, Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.
Semoga bermanfaat. Salam hormat. Wassalam Buya Masoed Abidin Majo Kayo bin Zainal Abidin Faqih Qadhi Imam Moedo bin Abdul Kabar Inyiek Sinaro.
BERGULING-GULING DI SURGA Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ “Sungguh aku benar-benar melihat seorang berguling-guling di surga (merasakan kenikmatannya) disebabkan sebuah pohon yang ia potong dari tengah jalan yang sebelumnya mengganggu manusia.” (HR. Muslim No. 1914)
ZAMAN YANG HANYA MENGURUS PERUT Ibnu ‘Abbâs Radhiyallàhu ‘anhumà berkata, ليأتين على الناس زمان يكون همةأحدهم فيه بطنه، ودينه هواه ( الزهد لابن المبارك (٥٧٠ ) “Sungguh akan datang kepada manusia, sebuah zaman yang mana ambisi salah seorang dari mereka hanya urusan perutnya dan agamanya adalah hawa nafsunya.” (Az-Zuhd Li Ibni Al-Mubârak, hal. 570)
Masyarakat Minangkabau dan Melayu dengan falsafah “adat basandi Syara’, dan Syara’ basandi kitabullah”, mengajarkan pepatah tentang akhlak ini, di antaranya ; “Nan kuriak kundi, nan sirah sago [8], Nan baiak budi, nan indah baso”, atau “Bahaso manunjuakkan bangso”
Artinya, bahasa menunjukkan bangsa. Baik buruk perangai (akhlak), menunjukkan tinggi rendahnya asal turunan bangsa itu.
Catatan kaki [1]Meremehkan orang lain, sama halnya dengan mencela dirimu sendiri, karena sesama mukmin adalah ibarat batang tubuh yang satu. [2]Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti memanggil orang mukmin dengan fasik, kafir dan sebagainya. [3] Hani’ah, HISKI 1997. [4] Armiyn Pane, Belenggu. [5]Maksudnya: nabi-nabi Sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama. [6]Kaum muslimin yang jumlahnya masih sedikit itu telah Mengadakan Perjanjian yang kuat dengan Nabi di waktu mereka melihat orang-orang Quraisy berjumlah banyak dan berpengalaman cukup, lalu timbullah keinginan mereka untuk membatalkan Perjanjian dengan Nabi Muhammad s.a.w. itu. Maka perbuatan yang demikian itu dilarang oleh Allah s.w.t. [7]Sekalipun isteri seorang kafir, seperti Fir’un, bila ia menganut ajaran Allah, dan menghindari kezaliman, maka ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah. [8] Kuriak=rintik-rintik kundi=biji saga. Arti peribahasa ini adalah “tiada yang lebih baik dari budi bahasa”, Anas Nafis, Peribahasa Minangkabau, Jakarta, Intermasa, 1996, kerjasama dengan YDIKM, hal.47.
You must be logged in to post a comment.