Alhamdulillah akhirnya dapat rumah. Ya, dengan beasiswa yang tidak besar, mencari rumah di negeri kincir angin cukup sulit karena mereka terkadang ‘saklek’ sama aturan. Bila mengikuti aturan, harusnya hanya akan dapat kamar. Kalau dipikir-pikir, seakan ga mungkin dapat. Sudah tiga bulan mencari kesana-kemari, mulai dari makelar komersil sampai sosial, mendatangi lebih dari sepuluh makelar, daftar sana-sini, telepon dan juga nanya-nanya sama orang. Ternyata ‘pintu’ itu terbuka dari arah yang tidak disangka-sangka.
Hari ini tidak banyak yang sempat dilakukan, setelah kemarin bersepeda keliling kota seharian bila dijumlahkan lebih dari 33 kilo. Dan setelah baru bisa tidur sekitar jam 1 malam, bangunnya kembali kesiangan. Akhirnya tadi setelah chatting dengan istri tercinta, dan melihat dua ‘angels’ yang nongol sebentar di layar komputer, makan dan juga mencuci, akhirnya jalan mencari tempat-tempat kemungkinan mendapatkan barang second-hand, termasuk toko-toko yang mungkin menjadi ‘sumber’ barang.
Sampai rumah sudah malam (walaupun masih terang), ternyata nunggu maghrib masih lama. Tidak terasa mata sudah pengen memejam. Laptop diistirahatkan dulu dari pencarian barang, dan ‘ngarengkol’.
Eh, tiba-tiba dibangunin dan ingat belum maghrib. Waktu menunjukkan hampir isya. Jadi setelah maghrib, tunggu sebentar, langsung isya. Sebenernya kalau boleh diinget-inget, sepertinya hal ini sering terjadi. Maksudnya terbangun tiba-tiba. Tapi biasanya kembali tidur. Padahal sepertinya malaikat nih yang ngebangunin, tapi dasar manusia lebih senang ‘ngarengkol’. Pengennya sih nunggu sampai subuh, sekitar 2 jam lagi, tapi bingung mau ngapain. Mau ngeweb juga udah bosen. Mau baca, ga semangat. Mata udah berat. Besok kayaknya mau bersiin rumah. Harus save energy…. ah.. kayaknya bobo lagi. Kang Malaikat, tolong bangunin subuh ya, jangan terlalu awal tapi jangan telat ya :D.
