Feeds:
Pos
Komentar

ANTI D’MASSIVE

Barusan saat lihat-lihat di youtube.com ada comment kaya gini

d massiv plagiat:
dan kamu = high over heels nya switchfoot
cinta ini membunuhku = i don’t love u nya MCR
DILEMA = soldier poem’s nya MUSE
sebelah mata = fall out boy banget
cinta sampai disini = lifehouse pak
lukaku = drive nya INCUBUS
tak pernah rela = KEANE BOSS

KAPAN BOSS ALBUM KEDUANYA???
GUE TUNGGU!!! KLO NJIPLAK YG LEBIH MIRIP LAGI DONK!!! HAHAHAHAHEHEHEHE
EMENG NYA KUPING ORANG INDONESIA BUDEK2 APA, GAK PERNAH DENGER LAGU ORANG BULE…

Well, aku udah tau kalo lagu Dilema memang intronya mirip (baca:jiplak abiss) intro lagunya Soldier’s Poem punya Muse. Bahkan irama, tempo dan mood drumnya juga sama. Bagaimana dengan lagu-lagu lainnya? Coba kita dengarkan satu per satu.

Tak Pernah Rela vs Is it Any Wonder – Keane
Di atas memang nggak ada judul lagu Keane yang dibilangin jadi korban oleh D’masiv, tapi setelah didengar-dengar, gitar pada intro lagu memang mirip dengan lagu Keane yang judulnya Is it any wonder. Tapi secara keseluruhan, nggak mirip-mirip banget dan bisa dibilang masih batas kewajaran.

Lukaku vs Drive – Incubus
Wow… Irama gitar akustiknya memang mirip. Coba aja nyanyi lagu lukaku diiringi gitar intro Drive, pasti nyambung. Masuk ke dalam lirik, nadanya nggak ada persamaan. Oiya, udah tau juga bunyi scratching turntable punya DJ yang ada di lagu D’masiv ini juga ada di lagu Drive punya incubus? Hohoho… :D

Cinta sampai di sini vs Into The Sun – Lifehouse
Sebenarnya nggak terlalu tau dengan lifehouse(pertamanya aku kira malah full house…), jadi bela-belain nyari lagunya di youtube. Pas didengarin, well tidak terlalu mirip kok. Memang intronya memiliki irama gitar yang sama pada beberapa bagian dengan Cinta sampai di sini, tapi tidak kelihatan seperti ngejiplak. Cinta sampai di sini bisa dibilang masih lagu yang “bersih”.

Sebelah Mata vs The Take Over, The Break’s Over – Fall Out Boy
Di atas memang tidak disebutkan lagu Fall Out Boy yang mana yang diduga dijiplak sama D’Masiv, tapi sumber di internet menyebutkan (Ketawa gw nulis kaya ginian), kalo lagu yang dimaksud adalah The Take Over, The Break’s Over. Ok, kali ini aku berpendapat nggak ada satu pun nada yang terdengar di telinga yang terdengar sama dengan lagu D’masiv. Setidaknya itu di telingaku. Atau mungkin bukan lagu yang ini? Ada yang mau membantu? Embarassed

Dilema vs Soldier’s Poem – Muse
Nggak usah dibahas. Pertama kali dengar lagu dilema (diputar di Winamp di komputer), yang terlintas di benak saat itu, “Perasaan nggak ada masang lagu muse deh di playlist…” Intronya sama persis. Mood drumnya, dan gitarnya juga. Kalo kamu penggemar Muse, pasti pikirannya sama kaya aku. Halah…

Cinta ini Membunuhku vs I don’t love You – MCR
My Chemical Romance’s I don’t love you sama dengan cinta ini membunuhku? Ya, intronya memang rada mirip. Gebukan drumnya juga sama. Tapi, nada verse dan reffnya jauh berbeda. Sungguh terlalu kalau dikatakan menjiplak.

Dan Kamu vs High Over Heels – Switchfoot
Wah ini mah mank mirip. Kebetulan ada videonya, coba aja diputar dan dengarkan dengan seksama.

Well, overall memang lagu-lagunya hanya mirip di intro saat lirik belum masuk ke dalam lagu, (walaupun ada yang parah kaya Dilema & Dan Kamu) tapi nggak bisa dipungkiri D’masiv mank termasuk band yang sukses untuk debut album pertama. Well, semoga aja album kedua mereka lebih bagus, soalnya jujur aja, aku juga termasuk suka dengan lagu-lagu yang dibawakan D’masiv. Lagian, di antara kalian juga termasuk lagu “bersih” yang hits sekarang ini. Peace…

Oiya, ada juga yang bilang lagu D’masiv berjudul Diam tanpa kata intronya mirip dengan Awakening – Switchfoot. Memang mirip sih, tapi cuma intro dan nada pas suku kata pertama saat lirik masuk.

dikutip dari nasyarobby

KANGEN IS BAND

Kangen Band merupakan salah satu grup musik dari Indonesia. Anggotanya berjumlah 6 orang yaitu Doddy, Andika, Tama, Lim, Nory, dan Barry. Grup musik ini dibentuk pada tahun 2005 di Lampung. Lagu populernya ialah Tentang Bintang,dan lagu adaptasi dangdutnya adalah Selingkuh. Oleh beberapa pihak yang iri dan tidak suka, band ini dianggap tidak berkualitas. Band ini dianggap mempunyai musikalitas, dalam, dan luar biasa meskipun begitu band ini cukup sering direquest oleh pendengar radio.

Walaupun terdaftar sebagai band “kelas satu” di belantika musik Indonesia, band ini memiliki prestasi mencengangkan untuk sebuah band underdog, band ini mampu mengumpulkan massa dan fans tanpa satupun videoklip milik mereka yang diputar di TV. Otomatis band ini menuai jajaran penggemarnya lewat penyebaran CD dan VCD bajakan.

Ada kabar menarik bahwa mereka sudah mempunyai 472 stok lagu yang diciptakan oleh mereka sendiri yang sudah ada di album perdana mereka dan album mereka berikutnya.[rujukan?] Pada tahun 2007, mereka membintangi sebuah sinetron berjudul Aku Memang Kampungan, yang bercerita tentang perjalanan karir mereka.

Setahun usai album perdana dirilis, Kangen kembali mengeluarkan album kedua. Album bertajuk Bintang 14 Hari ini menyajikan warna musik yang berbeda dengan menampilkan unsur Melayu dan mengeksplorasi unsur Jawa. Di album ini, Kangen menggaet arranger Andi Bayau dan masih setia dengan backing vocal Eren.[1][2]

Pada 6 Mei 2009 Kangen Band meluncurkan album ketika mereka. Album yang menjagokan lagu “Terbang Bersamaku” ini diberi judul Pujaan Hati.

Selain bermusik, Kangen Band juga akan menjajal dunia layar lebar. Hal ini terkait dengan kisah hidup Kangen Band yang akan diangkat ke layar lebar. Film ini nantinya akan disutradarai oleh Lola Amaria.16kangen[1]

My World is Music

Banyak sekali musik di dunia ini.

Tapi jangan sampai kalian semua bosan.

Karna musik itu bernyawa.

jangan biarkan mereka mati.

Cintailah musik seperti kau menyayangi dirimu…….

Bawalah mereka sampai kau mti. Jangan kau sekali-kali tidak menganggap musikmu sebagai hidupmu.

Musik tidak bisa kau ciptakan dengan mudah. Musik adalah suatu kesenian yang tak mudh membuatnya. Musik memiliki kualitas. Dan tidak seperti membalik tangan untuk menciptaknnya.

IM A MUSICIAN

Image

KOMPAS BAND

Image

Image

MARK King, raja bas dari kelompok musik Inggris, Level 42, datang lagi ke Indonesia. Bersama Level 42, King pernah menggelar konser di Jakarta pada tahun 1989. Band pembawa musik jenis jazz funk bentukan tahun 1980 itu sebenarnya telah bubar pada tahun 1994. Setahun lalu, King menghidupkan lagi Level 42 dengan formasi baru. King tetap menjadi pilar kelompok tersebut sebagai pemain bas, sekaligus vokalis utama.

“Mungkin saya hanya bertambah tua. Tetapi, rasanya main band sekarang ini kami merasa mendapat banyak tenaga dan semakin menyenangkan saja,” kata King yang ditemui Kompas, Jakarta Post, dan Suara Pembaruan di Hotel Hilton, Jakarta, Selasa (17/6) siang.

Level 42 kali ini dikawal pemain baru, yaitu Nathan King, adik Mark King yang memainkan gitar, Lyndon Connah (keyboards), Gary Husband (drum), dan Dean Freeman (saksofon). King masih menunjukkan diri sebagai seniman bas yang oleh majalah Bass Player disebut sebagai salah seorang tokoh penting di dunia bas pada abad kedua puluh.

King bersama Level 42 akan bermain dalam konser bertajuk “Star Mild Music Level 42” yang digelar Buena Produktama di lapangan tenis tertutup Senayan, Jakarta, Selasa malam. Konser serupa juga digelar di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.

Mark King, yang pada tahun 1987 digelari sebagai pemain bas terbaik versi majalah Making Music, dikenal sebagai salah seorang raja dalam permainan bas dengan gaya slap. Dia memainkan bas dengan cara tidak memetik dawai, melainkan memukul-mukul dawai bas dengan jempol. Setiap kali mendemonstrasikan slap style, penonton memberi tepuk sorak panjang. Misalnya ketika King membawakan lagu kondang Love Games, Sun Goes Down, atau Lessons in Love. Karena jempol dahsyatnya itu, King pernah disebut sebagai “Royal Thumbslinger”.

King “Si Jempol Maut” itu naik ke pentas membawa bas dengan ruas-ruas atau fret bas yang menyala. Di tangan King, bas itu mengeluarkan bunyi-bunyi yang perkusif, bunyi mengentak dan berdentam-dentam yang lazim keluar dari alat musik pukul. Cita suara serupa itu memang menjadi salah satu ciri jenis musik jazz funk yang dimainkan Level 42.

Saat tampil, jempol kanan King tampak diplester. Itu bukan karena luka, tetapi sebagai pelindung agar tidak lecet saat jempol diadu dengan dawai bas yang terbuat dari bahan berunsur logam. King sengaja melapisi jempolnya dengan plester, karena dulu, pada awal karier Level 42, jempol itu pernah berdarah-darah saat dia tampil dalam konser di Belanda. Darah berlelehan dan konser terpaksa ditunda beberapa saat. King awalnya merasa kagok bermain bas dengan jempol di plester, tetapi dia kemudian menjadi terbiasa.

King mengaku, riwayat suara bas yang perkusif itu sebagian merupakan efek kemampuannya sebagai pemain drum. Sebelum bergabung dengan Level 42, King adalah pemain drum dari band lokal di kampung halamannya di Isle of Wight, Inggris. Ketika bergabung dengan Level 42, kelompok itu mempunyai Phil Gould, pemain drum yang kata King lebih baik dari dia. “Jadi, serasa saya main drum saat memainkan bas,” kata King dalam sebuah wawancara.

KING menjadi tokoh sentral Level 42 yang dibentuk di London pada tahun 1980 dengan formasi awal Mike Lindup pada keyboards, Boon Gould (gitar), dan Phil Gould (drum). Mereka memainkan jazz funk, jenis musik yang rancak dan cerah, dan biasanya bertempo cepat. Jazz funk juga banyak digemari di Indonesia dan kemudian melahirkan band yang mencoba bergaya funk semisal Funk Section.

Jika melacak pengaruh, King mengakui, musik yang dimainkan Level 42 berhulu dari pengaruh Miles Davis (1926-1991). Miles adalah peniup trompet jazz yang menjadi tokoh penting dalam perkembangan jazz. Miles yang terus bereksplorasi hingga akhir hayatnya bermula dari era jazz bebop tahun 1940-an bersama Charlie Parker dan Dizzy Gillespie. Dia kemudian turut membidani cool jazz, dan kemudian ikut melahirkan jazz fusion.

“Kami mendapat banyak pengaruh dari jazz, dan Miles adalah pengaruh utama,” kata King yang saat ditemui menghabiskan sebotol besar air mineral. King tidak mau menyebutkan usianya ketika ditanya.

Dia mengaku tidak secara langsung terpengaruh musik Miles, tetapi setiap musisi yang dikagumi King selalu saja pernah terlibat dengan musik Miles Davis. King menyebut deretan panjang musisi, seperti John McLaughlin dari Mahavishnu Orchestra, Herbie Hancock, Tonny Williams, Chick Corea, Billy Cobham, Wayne Shorter, Joe Zawinoel, dan pemain bas Jaco Pastorius.

“Bisa panjang deretan musisi yang terpengaruh Miles. Mereka membentuk semacam pohon keluarga. Setiap musisi yang saya kagumi itu pernah bekerja dengan Miles. Dari fakta itu saja, mungkin Level 42 terpengaruh bukan dari sisi musik, tetapi spirit,” tutur King.

PETA belantika musik telah banyak berubah. King masih sempat mengikuti perkembangan musik mutakhir, termasuk melalui lagu-lagu yang sering didengar anak-anaknya. King adalah bapak empat anak berusia 20 tahun dan 17 tahun serta ada yang masih berusia 6 tahun dan 4 tahun.

“Musik sekarang sudah menjadi sesuatu yang dimanufakturkan. Musik ditentukan oleh orang yang bukan musisi. Musik juga diatur oleh media. Bakat-bakat baru yang muncul terkesan instan saja,” komentar dia.

Muncul kembali bersama Level 42 formasi baru di era MTV ini, King merasa tidak gamang menghadapi publik muda. Di Eropa, misalnya, konser Level 42, kata dia, didatangi banyak penggemar muda. Di Jakarta, penonton konser Level 42 kebanyakan berusia 30-40 tahun. Ketika mereka remaja, atau beranjak dewasa, Level 42 sedang jaya di radio.

“Ketika Level 42 memulai pada tahun 1980-an, orang melihat musik kami sebagai musik alternatif yang tidak mengikuti zaman. Sekarang orang masih melihat kami memainkan musik alternatif. Namun, ini alternatif dari musik-musik sampah yang kini banyak di pasaran,” kata King.

Level 42 menghasilkan 17 album dan mampu menjual jutaan album dalam 14 tahun karier. King memutuskan untuk “setengah pensiun” selama delapan tahun. Dia kembali ke kampung halamannya di Isle of Wight yang, kata King, merupakan tempat yang indah dan nyaman. Sesekali dia tampil tunggal di Jazz Cafe, London.

“Kami telah lama bermain dan situasi musik telah banyak berubah. Generasi baru musisi dan publik pun bermunculan. Kami berpikir saat itu sudah waktunya bagi kami untuk berhenti. Saya kembali ke Isle Wight dan menikmati sekali tinggal di rumah. Saya juga menambah anak, menjadi bapak rumah tangga yang mengasuh dan mendidik anak-anak” katanya sambil tertawa.

Mengapa King membangkitkan kembali Level 42 setelah delapan tahun absen? “Saya merasa ini merupakan saat yang tepat untuk melakukannya!”

Pada konser di Jakarta, Mark King tampak sebagai “pensiunan” bintang yang menikmati hidupnya dengan kemampuan bermusik yang masih terjaga. Sementara sebagian penonton boleh jadi bernostalgia dengan era tahun 1980-an kala mereka lebih muda dari hari ini. Lihatlah di Senayan, mereka berjingkrak-jingkrak dalam lagu Lessons in Love atau Love Games yang dimainkan Level 42 di bawah komando jempol bas Mark King.Image

Halo Dunia

Selamat pagi dunia biarkan semua rizki yang dilimpahkan Allah swt dapat sampai ke kita secara langsung

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai