Oleh: ka2cupie | Mei 22, 2012

.:: Duta-Duta Setan Berparas “Bidadari.

ImageDan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”(QS. Luqman [31]: 6).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas  bahwa ayat ini diturunkan ber-hubungan dengan Nadar bin Haris. Ia membeli seorang hamba wanita yang bekerja sebagai penyanyi. Ia menyuruh wanita itu bernyanyi untuk orang yang hendak masuk Islam. Ia berkata kepadanya: “Berilah ia makanan, minuman dan nyanyian”. Kemudian ia berkata kepada orang yang akan masuk Islam itu: “Ini adalah lebih baik dari yang diserukan Muhammad kepadamu, yaitu sholat, puasa dan berperang membantunya”.

Tidak salah rasanya jika kita memuat “Duta-Duta Setan Berparas Cantik” sebagai judul artikel kali ini, karena sebagaimana yang dituturkan Ibnu ‘Abbas mengenai sebab diturunkannya surat Luqman ayat ke-6 di atas, kita semakin tahu dan yakin, bahwa di antara manusia itu ternyata ada yang tidak mengindahkan perkataan-perkataan bermanfaat yang sejatinya dapat meng-upgrade keyakinan mereka kepada agama dan memperbaiki budi pekertinya. Mereka lebih enjoy mengatakan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaatnya, dan mereka dengan suka rela menyampai-kan khurofat-khurofat, dongengan-dongengan orang purbakala, lelucon-lelucon yang tidak ada artinya, seperti yang dilakukan Nadar bin Haris demi menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka layaknya duta-duta setan yang mendapat amanah untuk menghalau manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik disadari ataupun tidak. Baca Selengkapnya..

Oleh: ka2cupie | Januari 8, 2010

Islam: Sunnah & Jama`ah

Image

Arti dari Islam adalah menyerah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan bertauhid, kepada-Nya di atas ajaran-ajaran Rasulullah Salallohu Alaihi Wasalam. Islam adalah agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala satu-satunya. Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan diridhai-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Tidak ada satu agama pun akan diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala selain Islam. Barangsiapa yang datang di hari kiamat dengan agama selain Islam, maka orang itu pun akan kekal di neraka jahannam.

Baca Selengkapnya..

Oleh: ka2cupie | November 18, 2009

Anugrah

ImageAnugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kepada Kaum Yang Beriman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Allah meneguhkan menganugerahkan tsabāt) kepada orang-orang yang beriman dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” [QS. Ibrāhīm (14): 27] Baca Selengkapnya..

Oleh: ka2cupie | Juli 9, 2009

Baik atau Diam

Be Power full Communication
bicara BAIK atau DIAM

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنََّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia
berkata baik atau diam”. (HR. Mutafaq’Alaihi)

Sobat Grimis yang budiman, setelah menjadi pribadi yang komitmen untuk sukses. Yaitu menjadi pri-badi yang no but, no if. Dengan modal awwalnya yaitu menjadi pribadi yang beriman.

Juga, penting untuk dimiliki bagi kamu-kamu yang mempunyai bakat cuap-cuap, penceramah, khatib, salles marketing and pokoknya yang senang berinteraksi dengan buanyak manusia dweh…, apa itu? Yaitu kemampuan ber-komunikasi yang power full.
Berkomunikasi tanpa ragu ketika menyuarakan kebenaran, al haq, harus dengan lantang. Tidak samar-samar.

Kebenaran dalam Islam itu ketika diiba-ratkan sebuah malam, maka malamnya pun seakan siang hari. Lalu bagaima-na siang harinya?

Ini menandakan sangat gamblang-nya kebenaran di dalam Islam.

Sebelum how to nya (baca -agar memilikinya-) yups kita intip bagaimana orang-orang yang telah sukses dengan kekuatan yang dimilikinya berupa kemahiran power full communication.

Dan eit.. ingat pakem kita..!! jangan lupa dan jangan dilupain. Bahwa sebaik-baik contoh dan idola adalah Nabi Muhammad .

Sungguh luar biasa ketika Rasulullah menyampaikan dakwah berupa wahyu Allah kepada manusia. Manusia dibuatnya tersanju-ng dan terkesima.

Masalah reaksi -seperti Rasulullah dihina, diejek de el el-, itu perkara lain. Justru karena dengan power full communikation lah, kemudian ada reaksi. Itu khan wahyu. Betul sekali… emang wahyu…

Ketika Nabi menyampaikan dakwah di hadapan para sahabatnya dalam acara pemakaman seorang saha-bat yang meninggal, beliau memberi-kan wasiyat tentang kematian.

Trus, bagaimanakah keberadaan sahabat-sahabatnya ketika mendengar-kan nasihat beliau ? Di ceritakan, para sahabat diam terkesima, tidak bergeming sekan-akan di atas kepala mereka ada burung yang sedang hinggap alias bertengger.

Nah.. sungguh luar biasa khan, Pribadi Nabi ?
Asal tau saja ya, ketika sang junjung-an nabi memberikan khutbah, tidak seperti kamu sahabat.. hehe.. Nabi berapi-api, semangat ketika berkhutbah, bahkan dalam sebuah riwayat, sampai memerah matanya.

Maka jangan heran kalau kita banyak jumpai di masjid-masjid ketika hari jum’at. Pemandangan apa yang dapat kamu rekam sobat?

Kalau nggak ngobrol, maka mayori-tas peserta jum’atan terkantuk-kantuk sampai tertidur pulas. Tidak sedikit, ada juga yang ngorok. Ketika bangun, eh…khutbahnya dah slese. Ayo.. bangun-bangun..!! bagaimana mau menjadi bertakwa dwonk? padahal salah satu fungsi khutbah jum’at adalah untuk berwasiat takwa.
Nah sobat, tidak bisa 100% kita menyalahkan peserta sholat jum’at. Bisa jadi Salah satu penyebabnya adalah sang khatib itu sendiri.

Sudah yang disampaikan masalah-masalah bid’ah, kisah-kisah dari hadits-hadits palsu. Semacam jika kamu membaca “ya lathif” 16 ribu kali maka akan mendapat rizqi, terbebas dari huta-ng dan membujang serta de el el dech. Trus gaya penyampaiannyapun seakan ibu atau ayah yang sedang me “nina bobo, oh nina bobo..”. wal hasil ya pada teller semua..

Tetapi akan berbeda sobat, ketika seorang khatib yang memiliki power full komunication. Dia berdiri tegap, pandangan matanya mengarah semua jama’ah, berbicara lantang seakan se-orang komando memerintahkan sebu-ah regu pasukan tempur untuk meluluh-lantakkan musuhnya.

Walhasil, kalau seperti itu, dijamin para pendengarpun gak bakalan ngantuk. Tul nggak?
So, sobat, ternyata untuk bisa men-jadi pribadi yang memiliki kemampuan power full communication itu bisa diusahakan dan dilatih.. Baca Selengkapnya..

Oleh: ka2cupie | Juni 25, 2009

iTamkin & Khilafah, Kapan & Bagaimanakah?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik” [QS. an-Nūr (24): 55]

Saudaraku kaum muslimin!

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berjanji dan janji-Nya pasti tidak akan pernah diingkari.

Nash al-Qur`an menjelaskan bahwa khi-lāfah, tamkīn ad-dīn (kedaulatan agama) dan rasa aman adalah anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya berasal dari-Nya semata, tidak dari selain-Nya.

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS. Āli ‘Imrān (3): 126]

“Sesungguhnya Kami telah mentamkinkan kalian di muka bumi” [QS. al-A’rāf (7): 10]

Bahkan dalam al-Qur`an terdapat satu surat yang diberi nama “an-Nashr” atau ke-menangan (surat ke-110), yang di awalnya terdapat kata an-Nashr yang disandarkan ke-pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Apabila telah datang pertolongan (keme-nangan) Allah dan kemerdekaan” [QS. an-Nashr (110): 1] 1

Oleh karena itu, para nabi, orang-orang shalih, para imam dan para da`i sepanjang sejarah, mereka senantiasa bertadarru` (mengais kasih) dan beristinshar (memohon kemenangan) hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Nabi Nuh memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Nuh berdoa: “Ya Rabbku, tolonglah aku, ka-rena mereka mendustakan aku” [QS. al-Mu’-minūn (23): 26]

Muwahhidīn (orang-orang yang bertauhid) ketika terdesak oleh pasukan Jalut, dengan penuh ketundukan mereka berdoa:

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir” [QS. al-Baqarah (2): 250]

Inilah aqidah orang-orang beriman yang mencari kemenangan dan kedaulatan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rabbul `alamin. Mereka tidak mencari kemenangan kepada sekedar pamer dengan tokoh berdarah biru, tidak bergantung dengan peralatan canggih kelas satu dan tidak pula kepada kebesaran suatu organisasi, atau dengan kekuatan fatamorgana semu lainnya. Baca Selengkapnya..

Oleh: ka2cupie | Juni 19, 2009

Iman Bertambah dan Berkurang

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا…
“…dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya)….” [QS. al-Anfāl (8): 2]
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
…“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapa di antara kalian yang bertambah iman-nya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.” [QS. at-Tawbah (9): 124]
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengum-pulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada me-reka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka men-jawab: “Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik Pelindung.” [QS. Āli-‘Imrān (3): 173]

Ayat-ayat di atas dengan jelas sekali menerangkan tentang bertambah-nya iman. Dan walaupun tidak disebutkan tentang berkurangnya iman, namun dengan ditetapkan kata “bertambah” berarti mencakup pula kata “berkurang”, karena sesuatu yang dapat “bertambah”, maka sudah pasti akan mengalami pula “berkurang” [1].
2. Dalil-dalil dari al-Hadits:
Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:
لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia melakukan zina.” (HR. al-Bukhāriy 2475 dan Muslim 2/41)
Yang dimaksud dengan ketiadaan (hilang) iman dalam hadits adalah hilangnya kesempurnaan iman, seperti peribahasa ‘Arab yang berbunyi:
لاَ مَالَ إِلاَّ إِبِلٌ
“Tiada harta benda kecuali unta.”

Artinya bahwa tidak ada harta benda yang berharga seperti unta. Hadits tersebut menunjukkan bahwa seorang yang beriman akan turun (tidak sempurna) keimanannya “ketika” berzina, walaupun dalam ungkapan disamakan dengan “tidak ada” iman[2].

Senada dengan hadits di atas, maka Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:
لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ
“Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki amanah.” (HR. Ibnu Abī Syaybah dalam al-Īmān No. 7, Ahmad 3/135 & 251, al-Lālikā’iy 5/924 dan lain-nya. al-Albāniy dalam Hāsyiyah al-Īmān karya Ibnu Abī Syaybah hal. 5 berkata: Hadits Shahih dan Sanadnya Hasan)

Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:

Hadits lainnya, Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda tentang keadaan kaum wanita:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا
“Bukankah ketika haid dia tidak shalat dan tidak shawm (puasa)?, mereka menjawab: Ya, benar.Kemudian beliau bersabda: Itulah kekurangan aga-manya.” (HR. al-Bukhāriy No. 304 dan Muslim dalam Syarh an-Nawawiy 2/66)
Imam al-Hulaymiy –Rahimahullah– berkata[3]:

“Apabila shalat wanita berkurang daripada shalat laki-laki menyebab-kan agama wanita pun berkurang dari agama laki-laki, walaupun dia (wanita) tidak dihitung sebagai orang yang bersalah karena mening-galkan shalat (saat haid) dari agama laki-laki, maka bukankah sudah semestinya apabila ada orang yang sengaja meninggalkan shalat akan berkurang agamanya daripada orang yang melanggengkan shalat?”
Maksud beliau, bahwa perbuatan maksiat jauh lebih pantas dan lebih pasti akan mengurangi agama (iman) seseorang.
Imam al-Baghawiy –Rahimahullah– berkata[4]:

“Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa iman adalah perkataan dan per-buatan serta aqidah, dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, karena dalam al-Qur’an dikemukakan tentang bertambahnya iman dan dalam hadits dikemukakan pula tentang ber-kurangnya agama (iman) bagi kaum wanita.”
3. Dalil-dalil dari Atsar Shahabat:
‘Ibnu ‘Abbās –Radhiyallahu ‘anhumā– berkata[5]:
( اَللَّهُمَّ زِدْنَا إِيْمَانًا وَيَقِيْنًا وَفِقْهًا )
“Ya Allah, tambahkanlah iman, keyakinan dan pemahaman kepada kami!”
Abū ad-Dardā’ –Radhiyallahu ‘anhu– berkata[6]:
( اَلإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَيَنْقُصُ )
“Iman bisa bertambah dan juga berkurang.”

Abū Hurayrah–Radhiyallahu ‘anhu– berkata[7]:
( اَلإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ )
“Iman bisa bertambah dan juga berkurang.”
‘Urwah bin az-Zubayr –Radhiyallahu ‘anhu– berkata[8]:
مَا نَقَصَتْ أَمَانَةُ عَبْدٍ قَطْ إِلاَّ نَقَصَ إِيْمَانُهُ
“Tidaklah sifat amanah seorang hamba pudar (berkurang), tiada lain adalah karena berkurang imannya.”

Oleh: ka2cupie | Agustus 6, 2008

Host unlimited photos at slide.com for FREE!

Oleh: ka2cupie | Agustus 6, 2008

Judul pertemuan pada malam yang diberkahi ini –seperti yang kalian dengar- adalah: Tauhid Terlebih Dahulu. Mengapa tauhid didahulukan? Karena ini merupakan manhajnya Allah, yang disyariatkan kepada segenap para Nabi ‘alaihimushalatu wassalam. Tak seorang Rasulpun yang mendakwahi umatnya melainkan mengawalinya dengan tauhid, walaupun dakwah-dakwah mereka (disamping dakwah tauhid) mencakup semua kebaikan bagi manusia. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku melaikan wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang dia ketahui kepada ummatnya dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang dia ketahui.” (Riwayat Muslim di dalam Kitabul Imarah, Bab Wujubul Wafa’ bi Bai’atil Awal fal Awal no: 1844 dan selainnya)

Maka para Nabi membawa setiap kebahagiaan dan perkara yang membahagiakan manusia, akan tetapi mereka memulai dari perkara yang terpenting, kemudian perkara penting berikutnya.

Barangsiapa memperhatikan Al Qur’an, niscaya dia akan melihat bahwa dakwah setiap Nabi memiliki kesamaan yang sangat erat dalam permasalahan pokok yang agung; diantaranya (kesamaan dalam masalah, ed.) tauhid, penetapan tentang kenabian, penetapan adanya hari kebangkitan dan pembalasan.

Namun inti tema dakwah mereka dan menjadi sebab pergolakan antara mereka dengan umatnya adalah tauhid, yaitu tauhidul ibadah (mengesakan ibadah hanya kepada Allah). Karena tidak akan engkau lihat di dalam Al Qur’an, pertentangan antara nabi dengan ummatnya dalam perkara Tauhid Rubiyyah (keyakinan bahwa hanya Allah sebagai pencipta, pemberi rezki dan pengatur alam semesta) dan Tauhid Asma’ wa Sifat. Tiada keraguan sedikitpun bahwa mereka mendustakan dan mengingkari hari kebangkitan, akan tetapi yang sangat mereka dustakan adalah dakwah kepada pemurnian agama hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka engkau lihat ini adalah dakwah seluruh para Nabi.

Baca Selengkapnya..

Oleh: ka2cupie | Juli 12, 2008

Cinta

Image

Cinta? Apa sih cinta itu?

Cinta adalah kata yang indah,penuh keromantisan dan menjanjikan kebahagiaan bahkan terkadang sebaliknya yakni malah menjerumuskan ke jurang kenistaan yang amat dalam dan penuh penyesalan.

Banyak orang berkata cinta itu adalah “anugrah”, yah itu memang tidak salah akan tetapi cinta itu bisa mulia atau sebaliknya hina tergantung dari jenisnya.

Yakni cinta itu akan mulia jika cinta itu memang cinta yang sesungguhnya atau cinta yang hakiki yang berlandaskan syariat Allah swt,dan juga sebaliknya cinta itu dikatakan hina apabila berlandaskan kepada hawanafsu belaka.

Namun pada jaman sekarang ini sulit sekali ditemukan cinta yang hakiki akan tetapi malahan banyak cinta yang palsu yang hanya berlandaskan hawanafsu belaka, sebagai contohnya di jaman sekarang ini yaitu “pacaran” apakah pacaran dikatakan cinta? Dari pandangan islam itu bukanlah cinta akan tetapi suatu kajoliman/kejahatan terhadap pasangannya. Kenapa? Karena: apakah dikatakan cinta, bila seorang yang mencintai yang dicintainya justru malah mengajak ke jurang neraka dengan mengajaknya pacaran? Padahal sudah jelas kalau pacaran itu dilarang dalam islam karena perbuatan-perbauatannya itu jelas-jelas melanggar hukum Allah. Lalu apakah solusinya apabila seorang mencintai seseorang? Ya nikahilah iya, bukankah lebih baik bila kita menghalalkan yang haram sebelum kita terjatuh kedalam lembah kenistaan bukan malah mengajaknya pacaran atau yang semacamnya yang bisa menjerumuskan ke neraka jahannam. Lalu apakah cinta yang hakiki itu?

Baca Selengkapnya..

Oleh: ka2cupie | Juli 3, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai