Halaman kosong
Jejak kata hilang,
rintik hujan membasuh,
Sore Gerimis
Rintik jatuh,
langkah tertahan,
daun bergetar di jalan basah.
Langit makin redup,
waktu berhenti sejenak,
doa tumbuh di sela rintik
Jejak dari Penat
Dari kumpulan penat,
percakapan jadi benih kata.
Kutuliskan sekenanya,
seperti embun yang jatuh pelan.
Tanya yang Diam
Tanya yang kuabaikan
pelan di tepi sunyi,
tak menuntut jawaban,
juga tak menagih prasasti.
Hanya duduk saja
di kursi batin yang kosong,
menjadi bayang samar
yang sesekali menatapku,
lalu pergi lagi tanpa suara.
Lupa yang Tak Bertanggal
Biarlah lupa itu ada,
tentang jatuh cinta
yang tanpa segores prasasti,
tak menapakkan jejak,
tak menuliskan tanggal terjadinya.
Seperti singgahnya angin,
seperti hujan yang tiba-tiba reda,
tanpa catatan,
tanpa sebuah penanda.
Tetap hidup dalam diam,
mengalir di sanubari,
meski tak pernah tercatat
di kalender hari.
Belukar Kata di Perjalanan
Kemarin yang tak kucatat
hari pun tanggalnya hilang,
aku berjalan, siapa tahu kutemukan
sederet kata-kata
yang berkembang biak, menjalar
bagai belukar subur.
Mereka menyusun nada,
denting yang tak perlu melengking,
cukup menghujam dalam sanubari.
Dan dari sanubari itu,
lahirlah puisi-puisi
yang mengisi bilik-bilik sepi,
menjadi teman perjalanan
yang tak pernah kutulis,
namun selalu kutemukan.
Roda Tak Pernah Berulang
Aku tak pernah mencatat kenang
tak pernah merayakan pergantian
apalagi yang disebut ulang tahun.
Untuk apa menghitung hari,
hidup tak kan terulang,
roda berputar—
kadang di atas, kadang di bawah,
benar adanya.
Namun ya, namun,
tak kan pernah kembali
pada titik jalan yang sama,
pada jari-jari roda yang terulang.
Hidup hanya sekali,
sekali berputar, sekali singgah,
sekali meninggalkan jejak.
Dan jejak itu,
tak pernah bisa diputar ulang.
Kabut Kata
Aku lupa menderet angka,
tahun berapa mulai bersajak,
kapan kata bercengkerama di kepala,
bercanda, mengeram,
meloncat jadi kalimat.
Keyboard segera menangkap,
agar tak lenyap bersama uap,
meski tak dipanggang matahari,
luruh bersama cubitan angin,
mengendap dalam bungkusan kabut.
Di sanalah kata berdiam,
menunggu jadi puisi,
seperti jejak yang
tak pernah sama,
namun selalu kembali.
Bahasa Sunyi
Sekali ditulis,
tak berhenti,
mengalir.
Ditertawakan,
dicintai,
disukai,
dicemooh,
diabaikan.
Menemukan,
merangkul,
hidup kembali
dalam jiwa yang sudi.