Tebus Dosa
Aku sedang berjalan melewati koridor fakultas sosial. Kepalaku masih pening, mungkin karena efek begadang semalam mengerjakan laporan praktikum lensa cembung. What? Lho kok?!
Suamiku mana? Anakku mana?
…
“Udah beres tugasnya?” tanya Karra.
“Udah ra.”
“Kok kamu keliatan capek gitu?”
“Aku nggak ngerti ra, kenapa aku ada disini?”
“Maksudnya?” Karra terheran.
“Aku kayak terbangun di masa ‘ini’, dari masa depan yang penuh penyesalan. Terus kenapa kamu ada disini? Bukannya kamu ada di Jerman?”
“Hahahaha… kebanyakan nonton science fiction kamu. Udah ah, sini liat tugasnya, aku belum beres eum…”
Kepalaku masih berputar-putar. Aku yakin sekali, aku sedang kembali ke masa laluku untuk sebuah alasan. Tapi untuk apa?
…
Sore ini, 1 Desember 20xx. Aku terjebak hujan di kost2an Karra. Padahal aku harus ketemu dengan seseorang.
Hujan masih deras sampai jam 8 malam, dan aku pulang dengan Melly.
Suasana kotaku masih adem tanpa takut begal, rampok dsb di tahun itu.
Dan aku pun lupa untuk menghubungi dan bertemu orang tersebut.
…
Tangisan bayi 10 bulan dengan merdunya mengalun bersama adzan awal, tepat pukul 3 subuh. Aku segera menyusuinya, dan dia pun kembali tidur sangat pulas. HP ku bergetar. Pesan WA masuk:
“Kanna, untung dulu kamu tak jadi bertemu dia ya… Ternyata menurut teman2ku dia predator perempuan. Alhamdulillah kamu selamat, sampai ketemu suami yg baik dan sholeh. Btw apa kabar indo? Lagi musim apa disana?”
Masih tertegun sejenak. Bisa ya tebus dosa lewat jalan mimpi? Aku melihat wajah suami dan anakku yang tertidur pulas. Alhamdulillah.
…
Sabtu, 9 Desember 2017. Pojok kota kembang yang meriang.
Untuk Perempuan Sejagat Raya
(Based on true story)
Perempuan. Nulis ini agak gemeter juga, soalnya saya sedang menjalani perempuan (mungkin) seutuhnya yakni menjadi seorang ibu. Ok, kita mulai dari ibu. Menjadi ibu emang berat (banget a.k.a lebay) sejak mengandung sampai akhir hayat jiwa seorang ibu didedikasikan hanya untuk anak tercinta. Mengubur dalam-dalam mimpi yg tak sejalan dengan kesempatan & kenyataan. Merantai dua kaki tak (lagi) bebas melangkah. Hmmm mungkin ada juga yg tak separadigma dgn saya.
Perempuan. Untuk semua perempuan tolong jaga harga diri & kehormatan. Godaan seks yg mulai merambah dunia digital menjadi tantangan untuk seluruh perempuan. Baik sebagai pelaku atau korban. Sesungguhnya ketika telah terjebak dunia hitam semua terasa manis. Untuk pelaku pelecehan perempuan; tolong ingat ibumu yg telah mengandung & merawatmu, sodara (adik/kakak) perempuanmu.
Untuk perempuan yg terjebak di dunia hitam. Keluarlah sekuat tenaga. Landaskan tekad, iman dan harapan. Hidup kalian tak berhenti sampai disitu. Dan untuk perempuan yang diiming2kan akan dinikahi oleh laki2 penghancurmu, ingat selalu ; “Bagaimana mungkin kamu hidup dengan orang yg telah menghancurkanmu.”
Bangkitlah. Mungkin candu itu akan perlahan sirna.
Perempuan itu istimewa. Seburuk apapun masa lalu ketika memiliki anak, ucapanmu menjadi rentetan do’a yg terijabah entah kapan.
Perempuan. Saat tak kunjung memiliki keturunan pasrahkan pada Nya. Yang memvonis hanyalah manusia biasa (a.k.a dokter).
Perempuan. Jangan pernah berhenti berharap akan masa depan yg cerah (yg sekarang terjebak d dunia hitam). Jangan pernah berhenti berharap akan keturunan yg sholeh/sholehah.
Perempuan, itu istimewa melebihi (bahkan lebih lebih lebih) berharga dari logam mulia manapun (berlian sekalipun). Perempuan setegar karang, selembut sutra.
Jadilah perempuan seutuhnya dalam menghadapi hidup. No bucin.
#8oktober2019
[share] Itu Kamu (karya helenarinthasari)
Aku ingin terjebak dalam ruang dan waktu yang sama denganmu, tanpa sengaja, tanpa tendensi apapun, sehingga kepergian kita selama beberapa saat tidak perlu dipertanyakan, sebaliknya, dimaklumi.
Ada beberapa pilihan menarik buat aku dan kamu; tak sengaja bertemu di kereta atau pesawat dengan nomer kursi bersebelahan, terjebak di lift sebuah mall, menjadi sandera saat sebuah perampokan di bank terjadi, tak sengaja nonton film enggak laku di bioskop yang nyaris kosong, berputar-putar tak tentu arah karena kita tersesat saat bepergian bersama, sama-sama menjadi pemenang tiket gratis menginap beberapa hari di sebuah pulau, sama-sama opname dan dapat tempat tidur bersebelahan di rumah sakit, atau kalau mau ekstrim; ikut uji coba pesawat luar angkasa dan terjebak di bulan selama beberapa hari, terdampar di sebuah pulau antah berantah, sama-sama terlempar di suatu masa karena enggak sengaja kita menemukan mesin waktu, atau kita sama-sama bertemu di mimpi.
Setelah kupaparkan ide-ide gilaku, kamu terdiam, gelisah, dan memalingkan mukamu dariku. Aku menyadari kata-kataku ekstrim dan maknanya sangat bias untukmu.

