Dari sekian banyak hal yang saya rindukan dari Indonesia, semisal bidadari berpipi tembem, Haura Hanan, makanannya, rumahnya, orang-orangnya, masjidnya, ternyata ada yang tidak saya rindukan dari negara saya. Itu adalah polisi tidur.
Saya tidak ingat pernah bertemu polisi tidur (speed bump) atau tidak selama di Brisbane sini. Kalau ditanya ada atau tidak di Australia, saya takin ada. Istilahnya aja ada kok. Cuma saya belum pernah saya temui. Cukuplah itu membuktikan kalau jumlah polisi tidur di sini tidak sebanyak di Indonesia
Apa sih sejarahnya polisi tidur begitu menjamurnya di Indonesia? Apa memang pengguna jalan kita sebengal itu di awal mula jalan semakin ramai? Tapi tidak usahlah kita bicara Indonesia, Batam deh. Di Batam orang sebegitu mudahnya membuat polisi tidur. Di kompleks perumahan saya misalnya. Ada mungkin polisi tidur tiap 10-20m. Sebuah tantangan untuk siapapun yang naik satu motor untuk berempat atau kendaran lain yang ceper.
Di sini, meskipun pengendara mobilnya banyak yang ugal-ugalan, sepertinya karena jumlahnya tidak sebanyak di kita, masih disertai etika mengemudi yang oke. Sehingga polisi tidur tidak terlalu dibutuhkan





