Minim Polisi Tidur

Dari sekian banyak hal yang saya rindukan dari Indonesia, semisal bidadari berpipi tembem, Haura Hanan, makanannya, rumahnya, orang-orangnya, masjidnya, ternyata ada yang tidak saya rindukan dari negara saya. Itu adalah polisi tidur.

Saya tidak ingat pernah bertemu polisi tidur (speed bump) atau tidak selama di Brisbane sini. Kalau ditanya ada atau tidak di Australia, saya takin ada. Istilahnya aja ada kok. Cuma saya belum pernah saya temui. Cukuplah itu membuktikan kalau jumlah polisi tidur di sini tidak sebanyak di Indonesia

Apa sih sejarahnya polisi tidur begitu menjamurnya di Indonesia? Apa memang pengguna jalan kita sebengal itu di awal mula jalan semakin ramai? Tapi tidak usahlah kita bicara Indonesia, Batam deh. Di Batam orang sebegitu mudahnya membuat polisi tidur. Di kompleks perumahan saya misalnya. Ada mungkin polisi tidur tiap 10-20m. Sebuah tantangan untuk siapapun yang naik satu motor untuk berempat atau kendaran lain yang ceper.

Di sini, meskipun pengendara mobilnya banyak yang ugal-ugalan, sepertinya karena jumlahnya tidak sebanyak di kita, masih disertai etika mengemudi yang oke. Sehingga polisi tidur tidak terlalu dibutuhkan

Ranking Universitas Australia

Ternyata kampus saya tidak masuk top 10 universitas di Australia. Padahal saya sudah merasa Griffith punya sistem perkuliahan jempolan meski berada di tengah hutan. Yah, mungkin memang kampus lain yang lebih baik. Tetangga kami, UQ, bahkan “cuma” ranking 6. Bagi saya ini cukup mengagetkan karena sepertinya di Bali kemarin pernah dengar UQ itu kampus terbaiknya Aussie.

Image

Selalu ada langit di atas langit?

Santri Kilat IISB

Bukber terakhir ramadan ini dengan IISB ditutup dengan beberapa perlombaan di santri kilatnya. Seperti biasa karena kekurangan orang, saya merangkap mengisi materi klasikal (tentang Al-Qur’an) dan juga menjadi juri lomba azan.

Image

Materi klasikal juga seperti biasa. Chaos. Berisik. Saya tak mengerti dengan anak-anak ini, karena meskipun anak Indonesia dengan muka pribumi, kenapa berbeda sekali dengan ingatan saya ketika kami masih anak2? Zaman saya dulu, anak sekolahan pada malu kalau disuruh jawab pertanyan. Takut salah lah, malu diliat banyak orang lah. Nah bocil yang saya temui di Brisbane sini? Ketika ada pertanyaan yang dilempar teriak rebutan mau jawab. Ada yang serius, ada juga yang bercanda. Disuruh maju ke depan juga pada berani tak peduli dengan benar dan salah. Oleh sebab itu kondisi madrasa atau santri kilat ini selalu bising dan kacau, kekacauan yang bagi saya bernilai positif.

Entah apa karena perbedaan zaman atau sudah kena budaya aussie, saya merasa kebanyakan mereka lebih sosial dan vokal.

Mt. Coot-tha dan Planetarium

Pergilah saya bersama rombongan Griffith ke perbukitan Coot-tha dan planetariumnya. Event karyawisata seharga 10 AUD yang luar biasa setimpal. Dapat makanan dan jalan-jalan yang aslinya berharga jauh di atas yang saya bayarkan. Ditambah lagi, saya beruntung ada Roger (Palau) dan Ake (Fiji), teman IAP yang ternyata juga ikut.

Image

Mt. Coot-tha Lookout menawarkan pemandangan kota ala helicopter view. Bisa melihat sebagian besar bagian city-nya Brisbane. Keren, kecuali teleskop yang malfungsi meski sudah disumbangi koin 2 AUD. Lalu planetariumnya luar biasa. Jadi sadar saya sebagai manusia ini kecil sekecil-kecilnya dibandingkan alam semesta yang maha raksasa. Apalah arti masalah kita dibanding bintang dan galaksi di angkasa. Jadi bertanya juga di dunia yang seluas ini, kayaknya manusia yang hidup nggak cuma kita yang ada di bumi deh…

Masak – Brisbane #3

Image

Tiada hari tanpa memasak. Mau tak mau. Beli makanan jadi terlalu mahal untuk dilakukan tiap hari. Saya pikir saya akan sesekali beli makanan di luar, tapi ternyata lebih jarang dari sesekali. Sudah lebih 2 bulan sekarang saya di sini dan terakhir kali makan di luar adalah ketika hari kedua orientasi di kampus.

Dan meski selalu masak tiap hari, sepertinya skill saya ga nambah2 amat hmm

Kuliah – Brisbane #2

Enaknya kuliah di sini, rasanya tuntutannya lebih santai ketimbang masa saya di Semarang tahun lalu. Nggak tau ya. Mungkin karena dosennya yang kasual, tidak ada hierarki. Saya sebagai mahasiswa merasa menjadi teman berdiskusi saja. Padahal mah secara tugas per matkul sama beratnya dengan di Indonesia kemarin. Dugaan saya karena pendekatan dalam pengajaran ini yang membuat saya merasa lebih nyaman dalam mengakses ilmu di sini.

Image

Dan bukan sama sekali karena ilmunya yang lebih canggih lho ya ketimbang dosen saya di Undip kemarin. Secara keilmuan, saya merasa dosen Undip sama jagonya, atau mungkin lebih jago berkat kompleksitas isu dan permasalahan Indonesia. Maklum, sudahlah penduduknya banyak, pada bebal pula. Saya merasa dosen Undip kemarin sama jagonya lantaran apa yang saya dapat di Griffith sini secara garis besar mirip dengan prinsip urban planning yang saya dapat sebelumnya. Bahkan merasa beruntung apa yang disampaikan Aysin gampang masuknya, linier dengan apa yang disampai Bu Wiwik dkk. Cuma memang karena kuliahnya urban planning, jadi mesti sesuai dengan konteksnya. Alias perlu belajar konteks wilayah Australia yang beda banget sama negara kita.

Gimana ya, mungkin memang dalam perkuliahan, cara pendekatan dosen-mahasiswa itu menentukan banget untuk transfer ilmu

Cuaca – Brisbane #1

Sudah mau 2 bulan saya tinggal di Brisbane untuk berkuliah. Cukuplah waktu itu bagi saya untuk menyatakan impresi mengenai kota ini. Yang pertama mungkin cuaca

Image

Cuacanya ramah. Persis Indonesia. Karena tiba sewaktu summer, cuaca di sini sedang sering panas dengan sesekali dingin di malam harinya. Panas yang saya maksud adalah 32-33 derajat dan dinginnya 19-23 derajat. Mirip sekali dengan Batam kalau malamnya tidur pakai AC. Masalah hujan juga mirip-mirip di Batam. Kadang 2 minggu nggak hujan, lalu kemudian bisa 2 hari full hujan. Seperti kemarin ini, yang turun hujan setelah sekian lama tidak. Tidak perlu ada penyesuaian mengenai cuaca di sini bagi saya.

Yah begitulah, cuaca adalah bagian terbaik Brisbane yang saya sukai. Mungkin karena kemiripannya itu dengan tempat tinggal saya

Film yang Ditonton Selama di Bali Kemarin

Selama di Bali kemarin, selain main pokemon, menonton film menjadi hiburan utama saya ketika tidak “kuliah” dan mengerjakan tugas. Waktu menonton saya meningkat jauh. Jauh di atas lama saya menonton film dalam satu tahun kayaknya. Bisa dibilang saya menikmatinya. Namun tidak hanya menikmati, saya selalu berusaha untuk menaruh kesan pesan tiap menonton film. Berikut kesan pesan dari film yang saya tonton selama ngekos di Tukad Balian.

Continue reading “Film yang Ditonton Selama di Bali Kemarin”

Enam Tahun

Selang enam tahun, apa lagi yang belum kuketahui?

Aku tau bagaimana cara membuatmu tertawa. Pun aku tau bagaimana caranya membuatmu menangis. Aku jago melakukan keduanya

Aku tau jam berapa biasanya kau tidur dan bangun, seperti apa gayamu sewaktu tidur, juga metode paling tepat untuk membangunkanmu.

Aku tau makanan apa yang kau suka. Makanan yang kau benci. Makanan yang kau tak akan berkomentar rasanya bagaimana.

Aku tau kapan kau ingin diperhatikan. Kapan ingin tak dianggap, yang penyebabnya adalah karena tak diperhatikan

Aku tau kau tidak suka kata “sorry”, tapi membuka pintu maaf untuk kata “maaf”

Aku tau saat kau marah. Tau saat kau bersedih. Tau saat kau ingin menjadi dirimu sejadi-jadinya dengan tetap mengindahkan orang lain.

Aku tau saat kau lapar dan kau tak mau mengakuinya.

Aku tau kapan kau suka mendengar lagu. Kapan kau bersenandung. Kapan kau menikmati sebuah lagu hingga tanpa sadar bernyanyi sendiri.

Aku tau kapan kau akan mengeluh di malam hari untuk mulai bercerita dan kapan kau memutuskan untuk mendiamkan suatu masalah sampai keesokan harinya.

Aku tau masa lalumu. 

Aku tau kapan kau membutuhkanku.

Dan aku tau semua yang kuketahui, kau pun mengetahuinya atas diriku. 

Jadi, selang enam tahun, apa lagi yang belum kuketahui? Banyak, banyak, banyak lagi hal yang menjadi misteri. Menunggu untuk diungkap hingga sesaat sebelum kita berdua mati.