Ratapanku adalah sedihmu!
Raguku mimpi burukmu!
Sepiku sayatan batinmu!
Oi kelamnya hati!
Datanglah pada kanda!
Peluklah jiwa kotor ini!
Setubuhilah kebejatan nista ragu!
Oi cinta!
Aku nyawa keduamu!
Datanglah sinar api!
Bakarlah semua gelap!
Oi cinta!
April 4, 2009Kau dan aku
March 23, 2009
Adalah lukisan Rembrandt atau Picaso.
Diatur seimbang pencahayaan dan rupa sempurna.
Takdir digariskan antara tanganku dan tanganmu.
Kau dan aku
Adalah sepasang embun perawan.
Sejuk dan belum tercemar lingkungan.
Suatu pagi, kau dan aku menyatu dalam satu embun saja.
Kau dan aku
Adalah batas nyata hitam dan putih.
Engkau menyejukkan langit.
Aku membarakan bumi
Kau dan aku
Adalah lilin dan apinya.
Aku terbakar olehmu.
Menghasilkan cahaya dari simfoni persetubuhan kita.
Kau dan aku
Adalah karya seni tiada banding.
Terukir emosi, rasa, cinta, benci, semua.
Terbingkai kata, “Kau dan aku”.
*kadang pasangan selalu merasa sama. Padahal tidak selamanya begitu. Perbedaan adalah pengorbanan yang begitu indah. Semoga cinta adalah bingkai tepat untuk “Kau dan aku”.
desahan tengah malam
March 23, 2009Supernova yang terbangun saat tengah malam adalah suatu keabstrakan yang tercipta perlahan. Diiringin oleh bintang-bintang yang melebur secara perlahan bersama belaian dingin di tubuhku. Terasa begitu lembut dan dingin sekali. Suatu malam di suatu hari, di suatu belahan bumi ini. Pergelutan antara batin dengan batin terasa begitu menyenangkan. Lihatlah realita ini yang aku alami. Bersimbah air kenikmatan yang turun dari langit ketujuh. Tanpa rindangnya pohon yang menyejukkanku. Hanya langit yang berkalang mendung terus menghujami aku dengan tombak-tombak air yang perkasa. Ah sakit, begitu ujarku sambil mendesah kedinginan. Tapi terus saja terjadi langit menghukumku. Atas apa yang kurasa. Sial! Butiran dingin itu menelusupi ke dalam pori tubuhku, menggelitiki nikmat sekujur tubuhku dan membuatku mengeluarkan teriakan yang menyakitkan. Ah, ah, dan ah. Betapa hangat kurasa jika tetes itu berubah menjadi pelukan ambisi dan nafsu. Hangat yang kurasa, lembut yang kurasa, halus yang kurasa, adalah fatamorgana yang membuatku membiarkan kini terbuang oleh esok.
*adakah manusia sering terbuai dalam derita?
Oral pertama kali denganmu
March 23, 2009Masih ingat pada suatu waktu di suatu masa yang lalu. Aku dan kamu berjejer di suatu tempat di suatu dimensi. Menatap mendung berarak mendinginkan suatu waktu itu. Masih ingatkah kau? Diam tercipta sejak kita menginjak hitam di tempat itu. Hitam untuk pertama kali dalam catatan kita berdua. Masih ingatkah kau? Abu-abu di langit dan hitam di bumi membuat kita menjadi sepasang keabsurdan antara itu. Suatu kata yang berasal dari suatu pikiran membuatmu risau. Belum terucap di antara bibir tipismu yang begitu indah. Terpukau aku dalam pesona merah menyala. Bertanyalah kau dan berkatalah kau. “Cinta?”. Jawaban atas tanyaku padamu berhari lalu di suatu tempat di suatu suasana berbeda dengan ini. Benar, ucapan pendek dan kata pertamamu di suasana dan tempat ini. Mendung dan dingin ini menggit dan kau seolah menggigitku dalam bait yang sempurna. “Cinta?”. Lagi kau ulangi katamu itu. Masih saja aku termenung menatap kata loncatan dan benda membuyar dari mulut mungilmu. Ragu, ragu dan ragu. Kau telah membuatku ragu dalam lamunan adab. Itu suatu masa, suatu waktu, suatu masa lalu. Kini kuingat jelas kata pertamaku di telingamu setelah itu. “Tidak!”
*setiap sesuatu memiliki nilai sendiri. Ibarat koin uang munafik. Manusia hanya sebuah onggokan norma tak berhati.
kompilasi ini
March 23, 2009Kompilasi 1
Tertatah sudah semua luka dalam goresan yang perlahan menguat. Mengental dan mengeras seperti kapur yang tergerus dalam gua gelap. Mencuatkan kekerasan yang semakin lemah dan melemah. Apakah memang sakit rasa jika tertolak cinta? Entahlah, mungkin saja iya, mungkin saja tidak. Gelengan tidak dan anggukan iya semakin membias dan melamunkan rasa yang menggigit, sakit. Lalu sadarkah kamu atas apa yang telah kau renggut dari bahagiaku? Membaca satir yang mungkin menggemakan kebencian jauh di dalam hatimu. Memupuskan harapan yang tersiap perlahand alam rahasia pasti. Mampukah dan mampukah mudahkah melupakan aku?
Kompilasi 2
Membuyarkan semua mimpi yang telah hebat terukir dalam mimpi. Keberanian unuk melawan kebanyakan ruang yang telah teringinkand alam buaian. Melodi perlahan mampu melenakan hati yang tengah berkecamuk dalam tatah suci kehidupan. Menarikan o amuk o amuk dalam melodi senja yang melengking. Melanggamkan perlahan tak tik tuk sepatu yang berkaki cinta. Menginjak makna dan melampiaskan amarah. O sakit!
Kompilasi 3
Tuk tuk tuk. Kagum pelukanmu yang begitu erat. Hangat dan panas kurasa menguasai sekujur tubuh yang ringkih ini. Ah, nikmat sekali persetubuhan dengan mimpi yang kau ukir. Lama-lama perih yang kuredam mencuat dan mencakar punggung hitamku. Seolah membangunkan tarian kecap ilusi dalam akhir malamku. Dalam sekali rasa perih yang membekaskan goresan darah kering. Oh pelukan, betapa sayatan ini nikmat dan menyatu dengan persetubuhan kita. Ah, ah, ah, sepi dan sakit. Hanya anumu dan anuku yang membias dalam kata-kata ah, ah, ah.
Posted by lampu redup 

