Setiap orang punya perjalanan hidup sendiri. Masing-masing merasa harus pergi dari satu tempat ke tempat lain berbekal petunjuk arah dari pengembara terdahulu dan orang lain agar tidak tersesat. Itu yang saya pahami dari dulu, namun hari ini pendapat itu berubah. Ternyata perjalanan kita masing-masing saat ini adalah peta untuk kita di masa depan agar dia tidak tersesat…
Saya ceritakan sebuah saga yang sudah familiar bernama “One Piece”. Dari awal si tokoh utama Luffy, sudah mendeklarasikan diri untuk menjadi Raja Bajak Laut. Dia punya tujuan yang jelas, tapi tidak tahu caranya kesana bagaimana. Yang dia tahu, karena Raja Bajak Laut harus punya kru, apapun rute Grand Line yang dia pilih ujung-ujungnya dia harus menemukan krunya satu per satu. Entah bagaimana caranya, entah di mana.
Itu tadi fase pertama. Protagonistnya punya end goal.
Fase kedua, Luffy punya kru seorang navigator. Dari sini perjalanan dia jadi cukup jelas, karena rute yang harus diambil sudah dipetakan oleh krunya yang bernama Nami. Meskipun di tengah jalan Luffy ingin melakukan sidequest tidak penting, Nami punya cara untuk selalu membuat Luffy “on track” lagi dan melanjutkan perjalanannya.
Ini saya sebut fase kedua. Protagonistnya punya plan dan strategi untuk mencapai goal.
Nah, ada sebuah fase ketiga yang cukup unik. Di fase ini, semua plan dan strategi yang sudah dibuat, tidak ada yang berjalan lancar, malah gagal semua dan “acakadut”. Tapi di saat yang sama, hal yang tidak diplanning sama sekali malah terjadi dan membuat perjalanan Luffy malah tetap on track, dan mungkin dengan outcome yang jauh lebih bagus daripada kalau diplanning sendiri. Ini katakanlah “The Irony of Effort”. Hal yang kamu usahakan malah tidak berkontribusi sama sekali terhadap kesuksesan yang terjadi. Justru yang tidak diusahakan malah jadi penentu kesuksesan.
Sekarang pembaca mungkin sudah sadar kalau saga One Piece sekarang sedang berada di fase ketiga.
Tapi
Hari ini
Saya mengalami sendiri dalam hidup saya kalau ada fase keempat. Setelah melewati tiga fase tersebut.
Di One Piece, sudah bisa ditebak dari pertengahan cerita bahwa untuk menemukan One Piece, Luffy dan kru-nya harus menemukan Road Poneglyph, yaitu petunjuk untuk mencapai pulau terakhir. Di situlah saya menyadari bahwa fase keempat itu bukan “mencari peta untuk menjadi Raja Bajak Laut”, tapi “menyusuri perjalanan random ga jelas sebelumnya, agar Road Poneglyph tersebut terkumpul sendiri dan mengantarkan Luffy ke One Piece dan secara tidak sengaja sekaligus menjadi Raja Bajak Laut.”
Jadi untuk mencapai tujuan hidupnya, Luffy bukan mencari peta (meskipun dia sudah berusaha mencari petanya). Tapi perjalanan dia justru menjadi peta itu sendiri agar dia bisa sampai di tujuan.
Hari ini saya merenung hampir seharian di sela-sela pekerjaan. Di fase pertama hidup saya, jalannya seolah sesuai plan yang saya buat. Tidak ada deviasi aneh-aneh, karena setiap deviasi yang mungkin, memang sudah diprediksi cara mengatasinya. Yang pasti, tujuan saya jelas mau kemana, dan memang akhirnya tercapai.
Di fase kedua hidup saya, ini nyaris seperti komedi. Saya tahu mau apa dan kemana. Saya tahu plannya bagaimana. Tapi semua yang saya usahakan seolah ga bisa disambungkan ke tujuan itu, atau gagal. Ibarat sebuah perjalanan, saya udah pegang petanya, udah tahu mau kemana, tapi di rute yang paling dekat selalu harus muter lagi karena suatu hal.
Tapi ujung-ujungnya tetap nyampe, karena meskipun saya muter-muter, tapi tetap tahu caranya balik lagi ke tujuan. Ini fase kedua.
Di fase ketiga lebih aneh lagi. Intinya semua rencana ga ada yang jalan, tapi ujung-ujungnya tetap works dengan alasan absurd yang tidak pernah kita plan sebelumnya atau kita duga.
Bagi saya itu salah satu titik yang paling membingungkan. Saya tidak mau cerita detail karena alasan personal yang menyangkut orang lain. Yang jelas, waktu itu saya sudah punya plan baik-buruknya apa yang terjadi pada saya, sudah ada mitigasinya. Tapi yang bikin kaget justru malah hal buruk tersebut terjadi pada orang lain, dan malah saya yang “aman”. Kalau di analogikan, persis seperti orang yang sudah terbiasa dan siap mengorbankan diri di saat kapal mau karam, tapi yang terjadi justru sebaliknya malah saya sendiri yang selamat.
Di posisi seperti itu (kalau kalian pernah merasakan hal yang sama), justru kita yang survivor malah jadi bingung. “Lah kenapa kita yang selamat? Secara rasional malah kita yang paling ga aman? Kalo selamat malah kita ga punya plan sama sekali.”
Mungkin bertahun-tahun saya bingung dengan hasil tersebut. Di fase itu, saya jalan tanpa plan sama sekali. Sikap yang saya ambil adalah sepenuhnya terbuka dengan apa yang akan terjadi. Persis seperti orang Berkelana Tanpa Peta. Ibarat zombie, saya merasa memang pada dasarnya saya sudah mati, cuman jasadnya jalan-jalan aja sendiri. Jadi ga ngaruh juga mau pergi dengan tujuan tertentu. Toh, pas sampai ke tujuan, kita sebenarnya sudah done dengan hidup.
Nah, hari ini, saya merasa tanda-tanda tersebut makin jelas.
Seolah Allah sendiri mau bilang: “Nih kamu dulu pengen ini kan? Tuh udah datang sendiri. Kamu mau apa sekarang”, atau ditunjukkan: “Tuh, ciri-ciri pulau tujuannya udah match kan? Sekarang bisa tuh ke situ. Jadi mau ke situ ga?”
Masalahnya, semesta seolah menyiratkan tiba-tiba semua tanda-tanda ini akan menerima dampak dari apapun dan arah bagaimanapun yang saya putuskan untuk diambil.
Ibarat kode nuklir. Tiba-tiba saya dikasih ijin buat pencet tombol. Tapi saya tahu kalau dipencet, it won’t end well.
Saya ngeri sendiri karena jujur, ga menyangka kalau konsekuensinya bakal seperti ini. Seandainya hidup saya dulu berjalan sesuai plot planning utama saya, saya bakal sampai ke tujuan lebih awal. BUT IT WILL BE TOO F**CKING EARLY, and there’s nothing I can do about it. Literally meaningless comedical journey, because it’s like arriving at the destination without the tools needed to do anything at the destination.
Sekarang saya mengerti kenapa Gol D Roger dan krunya ketawa di Laugh Tale. Misteri yang sebelumnya hampir ga pernah kepikiran kenapa dia bisa ketawa. Tapi sekarang jelas, kalau saya yang mengalaminya sendiri. Mungkin saya juga bakal ketawa.
Jadi perjalanan sidequest ga jelas tanpa peta tadi untuk apa?
Yak, ini seolah Allah bilang…
“Aku sengaja bikin kamu muter-muter tanpa peta karena kalau kamu pakai peta, kamu ga bakalan menemukan alat-alat ini… kru-kru ini… pengetahuan-pengetahuan ini… Yang justru kamu butuhin sekarang untuk menentukan masih mau tetep lanjut atau engga?’
Kalau tanpa perjalanan itu, di posisi sekarang, mungkin saya bakal kaget. Ibarat kode nuklir, mau saya pencet atau tidak, it will completely destroy my world and identity. “Not pressing” means other will press this button with the same random damage. Pressing it means it will damage you, but you know you won’t mind being damaged. Allah only showed me previously that pressing this would also mean that there is a super unlikely chance that I ironically survived at the expense of others, and that would torture my entire being. The world will never be the same after this.
Saya menduga di fase akhir dan fase kelima One Piece, Luffy mungkin akan menemukan challenge serupa. Tapi bukan Luffy yang stres, melainkan kita para pembaca. Mungkin Oda akan memberikan tongkat One Piece pada kita para pembaca, dan harus kita yang memilih. It was inevitable. Luffy tetap akan jadi Raja Bajak Laut at the expense of our choices and dilemma.
Saat menulis artikel ini, sebenarnya kadang-kadang saya berhenti untuk mencerna tulisan saya sendiri. Bisa dibilang, ternyata pilihan yang saya punya itu bukan soal “haruskah saya pencet atau tidak?”, memang harus dipencet. Tapi pilihan yang saya punya dan Allah berikan untuk saya adalah: “Apa yang akan kamu lakukan setelah itu dipencet? Karena apapun yang terjadi memang sudah takdir kamu untuk mencet ini.”
Al-Baqarah: 216
“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui…”
Sesuatu yang saya kejar-kejar dari dulu dengan penuh passion ternyata tidak pernah datang karena memang lebih baik terjadi di waktu sekarang… Hal yang saya benci dari dulu ternyata malah menjadi kunci penting jembatan untuk pergi ke hal yang saya tuju…
Sangat ironis…
Al-Kahfi: 24
“Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan hal itu besok,’ “
Hal yang sangat saya yakini akan terjadi sampai lupa mengucap “Insya’ Allah” ternyata malah tidak terjadi. Ketidak jadiannya juga karena global level event yang highly unlikely. Tiba-tiba ada perang Iran – Israel, dan kita semua terdampak. Maafkan kesombongan itu ya Allah.
Tulisan ini sekadar catatan pribadi buat saya sendiri di masa depan, agar tidak melupakan momen krusial ini, dan meneguhkan hati saat melihat ke belakang.
Perkiraan saya, sekitar Juli mungkin hasilnya sudah dibukakan. Tidak ada pilihan lain selain menjalaninya dengan baik. Tidak ada plan apa-apa yang mungkin lagi dibuat. Hanya bisa bertawakkal, dan berpasrah diri.
Saya baca kembali surat Adh-Dhuha, yang selama ini saya tahu namun tidak pernah relate dengan maknanya, karena saya pikir itu hanya eksplisit untuk Rasulullah.
Sekarang, betapa itu sangat relatable…
Demi waktu duha dan demi waktu malam apabila telah sunyi,
Tuhanmu tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.
Sungguh, di akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan.
Sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu);
mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu, lalu Dia memberimu petunjuk;
dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?
Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.
Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).







