Rahasia bahagia: Melihat gelas setengah penuh, daripada setengah kosong

Image

Glass half full, rather than half empty

Saya mendapat ide tulisan ini dari membaca buku berbahasa inggris (lupa judul bukunya 😦 -akan kutambahkan di kesempatan berikutnya jika ingat). Dalam buku itu dikatakan bahwa salah satu kunci bahagia adalah melihat gelas setengah penuh, daripada setengah kosong. Dan saya sangat setuju dengan pernyataan ini. Terkadang kita melihat sesuatu dengan semua sisi negatifnya, daripada melihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Hal ini yang kemudian membuat kita terlarut dalam suatu kesedihan ataupun selalu merasa kita ini rendah atau tak bisa apa-apa. Ya hal ini selaras dengan “ungkapan rumput tetangga itu lebih hijau”, melihat hidup atau pencapaian orang lain juga terkadang selalu penuh keindahan dan kita hanya jalan di sini saja. Padahal ada banyak hal yang ada dalam diri kita yg bisa jadi orang lain melihatnya lebih/sempurna.

Kita semua terlahir untuk bahagia

Kita semua terlahir untuk bahagia. Lihat ke dalam cermin dan katakan dengan jujur apa yang kamu lihat dalam dirimu. Teriakkan ke dalam diri kamu bahwa segala yang terjadi (jika itu bukan hal yang kamu inginkan) pasti ada hikmahnya. Bahwa apa yang sudah digariskan oleh Allah itu ada sisi positifnya.

Saya sedikit tergelitik membaca chapter dalam buku tersebut dengan judul Apakah Harvard membuat kamu lebih pintar?

Dalam pembahasan ini saya menjadi terpikir pembicaraan saya dengan ayah saya yang sudah lampau. Kenapa dulu ayah saya tidak memaksa memasukkan saya ke SD, SMP, ataupun SMA unggulan dstnya?

Saya lahir dan besar di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Saya hanya masuk SD dimana untuk kalian ketahui, sekarang SDnya sudah tidak ada 😦 . Kami sekelas hanya 12 orang. Dari kelas 1-3 hanya punya 2 orang siswa laki-laki. Dan ketika di kelas 3, satu siswa pindah sekolah. Yang artinya dari kelas 4-6 hanya satu siswa laki-laki di kelas saya. Kenapa ayah saya tidak berpikir bahwa SD ini bahkan sudah akan bubar dan memindahkan saya ke tempat lain? Ayah saya orang yang optimis dan berpikiran maju. Karena untuk ayah saya, beliau percaya semua guru baik dan semua sekolah baik. Bagaimanapun anak bertumbuh ditemani orang tua di rumah, tidak hanya di sekolah saja.

Contoh lain yang ingin saya sampaikan, seiring saya juga belajar dari pengalaman dan melihat sekitar adalah orang yang masuk pesantren belum tentu dia alim. Semua bergantung pada keluarga juga. Saya pun punya pengalaman teman yang seperti ini. Berasal dari pesantren dsb, tetapi ketika kuliah dia ternyata mempunyai pergaulan bebas yang menurut saya waktu itu tidak mencerminkan lulusan pesantren. Sama juga ketika banyak mahasiswa S1 sekolah ke luar negeri. Kemauan itu berasal dari anak itu sendiri atau dari orang tua? Karena bisa jadi ada kemauan dari orang tua sehingga anak akhirnya mau, tetapi ketika menjalani menjadi beban, dsb. Tetapi ketika kemauan berasal dari dalam diri anak itu sendiri, saya percaya bahwa mentalitasnya akan berbeda. Orang tua tentu harus mengarahkan, tetapi pilihan dan konsekuensi akan kembali pada si anak tersebut.

Orang tua tentu harus mengarahkan, tetapi pilihan dan konsekuensi akan kembali pada si anak tersebut

Kembali lagi ketika saya masuk SMP dan SMA, kenapa saya tidak dimasukan unggulan di kota saya? Ayah saya bilang bahwa bisa jadi kalau saya masuk sekolah yang unggul, saya belum tentu bersinar, tetapi ketika saya masuk SMP atau SMA ini, saya menjadi bersinar. Maksud dari bersinar adalah saya cukup menjadi yang unggul dstnya. Dan saya merasakan sekali manfaatnya. Rasa percaya diri saya banyak tumbuh dari sana. Bertemu dan dimasukkan dalam kelas unggulan, belajar berorganisasi, menemukan hal yang saya suka, rasa percaya diri saya tumbuh dengan baik. Semua hal yang saya belum tentu dapatkan kalau saya ada di SMP atau SMA unggulan. Karena bisa jadi saya minder dan saya tidak percaya diri, dsb.

Tentu saja ada banyak faktor yang mempengaruhi pribadi seseorang, tetapi bisa jadi kebahagiaan itu tercipta ketika kita bisa menjadi diri kita sendiri dan tidak terpaku pada orang lain. Belajar dari kesuksesan orang lain tentunya akan menjadi motivasi yang bagus untuk diri kita. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu produktif dan selalu bisa menciptakan kebahagian kita sendiri.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu produktif dan selalu bisa menciptakan kebahagian kita sendiri

Perpustakaan Aachen, primadona!

Memang semenjak aku SD suka sekali ke perpustakaan. Masih ingat di benakku, perpustakaan SD kami sangat kecil, buku-buku yang ada di sana pun bukan yang terbaru, kalaupun ada buku cerita hanya buku-buku cerita lama. Yang membuat aku suka membaca mungkin karena orang tuaku memperkenalkan aku pada buku. Pada banyak kesempatan ayahku akan mengajakku ke toko buku, bahkan kami dulu membeli majalah Bobo lama. Jalan-jalan ke toko buku bekas dan mencari buku bacaan yang menarik menjadi salah satu kegiatan yang aku suka. Yang terpenting aku bisa membaca.

Kecintaanku pada membaca bertambah ketika aku masuk SMP, perpustakaan di SMP lebih bagus dan buku-buku fiksinya banyak yang aku suka. Aku juga kenal perpustakaan kota dan perpustaakaan ini menjadi salah satu tempat favoritku selepas pulang sekolah. Di sana aku pernah melihat buku karya salah satu ayah teman aku dan bercita-cita suatu saat ingin membuat buku. Terlebih lagi dulu aku kemudian tahu tempat menyewa buku di kotaku, “NanCita”. Tempat ini menjadi tempat favorit lain untuk dikunjungi. Dulu aku bersama beberapa teman selalu rutin kesana, dan aku meminjam mulai dari komik sampai novel-novel tebal. Komik favoritku: Detective Conan, novel karya Agatha Christie, buku seri Harry Potter dan banyak novel lain yang aku baca dari tempat sewa ini. Tepat sekali agaknya ungkapan dengan membaca membuka jendela dunia. Dari membaca buku-buku ini wawasanku menjadi lebih luas dan berani bermimpi.

“…dengan membaca membuka jendela dunia

Image
Bersama ayah di perpustakaan Aachen

Ketika kuliah, aku sudah jarang membaca buku fiksi, hanya beberapa yang biasanya aku beli. Nampaknya, setelah aku pikir, aku juga masih cukup rajin ketika masa kuliah untuk ke perpustakaan, tetapi lebih untuk mencari buku-buku sumber kuliah tambahan atau terhubung ke koneksi internet yang handal :).

Ketika sampai di Aachen aku cukup kagum dengan indahnya perpustakaan di sini. Memang ke perpustakaan kota ini bukan untuk me time, tapi lebih tepatnya untuk anakku. Aku merasa berbunga-bunga di sini. Tempat yang nyaman, buku berlimpah, mainan berlimpah, dan suasanayang membuat sangat betah berada di perpustakaan ini. Sistem peminjaman buku di sini berbeda dengan di Indonesia. Di sini anak boleh meminjam banyak buku tak terhingga dan waktu pinjamnya satu bulan serta bisa diperpanjang. Ada mainan-mainan edukatif pula yang bisa dipinjam dengan maksimal dua mainan. Primadona!

Pemerintah benar-benar memperhatikan kesejahteraan anak di sini, buku-buku silih berganti dan tak pernah habis dipinjam banyak orang. Saya tetiba teringat pengalaman waktu SMP, ketika saya menjadi pelanggan perpustakaan pusat kota. Akan sangat sulit menemukan buku fiksi yang saya inginkan walaupun di list judul buku tersebut tersedia di perpustakaan tersebut. Hal ini dikarenakan keberadaan buku tersebut mungkin hanya satu atau dua buah. Dan saya akan sangat berbinar-binar ketika bisa mendapatkan buku yang saya inginkan. Tetapi di sini, saya tak pernah kehabisan buku untuk anak saya. Bukan hanya saya, tapi anak saya juga sangat senang diajak ke perpustakaan, karena disana ada pojok untuk bermain. Perpustakaan bukan menjadi tempat dengan buku-buku lawas dan membosankan, tetapi sebaliknya, menjadi tempat yang menyenangkan dan merindukan untuk dikunjungi.

“..tempat yang menyenangkan dan merindukan untuk dikunjungi

Semoga di Indonesia semua perpustakaan bisa seperti ini kelak, tidak hanya di kota-kota besar tetapi di kota kecil bahkan hingga ke pelosok. Saya selalu kagum dengan para pejuang perpustakaan di daerah. Berjuang membangun dan mendapatkan buku-buku untuk membangun perpustakaan kecil di desa. Demi anak-anak buruh, nelayan, petani, dsb agar mendapatkan hak yang sama untuk membaca. Semoga kita selalu bisa berkontribusi untuk daerah kita memajukan anak-anak dengan buku dan budaya membaca.

Mengejar asa di Aachen, Jerman

IMG-20200415-WA0000 copy 2

Kenapa memilih Aachen?

Yang saya tahu Pak Habibie bersama Bu Ainun pernah menghabiskan masa di sini. Tentunya semua mengenal sosok Pak Habibie sebagai salah satu lulusan RWTH Aachen. Apakah kebanyakan mahasiswa yang kesini karena Pak Habibie?

Bisa jadi salah satunya!

Saat saya berada di sini, saya menemukan bahwa Aachen bukanlah kota besar. Kota ini kecil tapi  indah dan nyaman. Di sini saya menemukan banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu, banyak diantaranya adalah anak S1. Bagi saya hal ini luar biasa, dulu saya sama sekali tidak membayangkan bagaimana rasanya jika mengambil Bachelor Degree di luar negeri seperti mereka, apalagi kebanyakan bukan dengan bahasa inggris, melainkan bahasa jerman. Buat saya mereka keren sekali. Harus mengikuti kursus bahasa, penyetaraan dsb. Dan mereka berani jauh dari keluarga di usia yang masih muda. TOP banget!

Saya sendiri ke sini bukan karena Pak Habibie atau punya ambisi pribadi, tapi karena suami 😀 (jawaban jujur). Suami saya sudah lebih dulu menginjakkan kaki di sini dan memilih RWTH sebagai pelabuhan hatinya. Setelah banyak sekali pertimbangan, saya memilih melanjutkan di bidang material korosi, sesuai dengan penempatan saya di LIPI dan bukan melanjutkan ke kimia organik. Dilema sebenarnya. Bagaimanapun saya tetap cinta dengan kimia organik, karena saya bertumbuh dengan berbagai macam molekul yang masih membekas di otak saya. Bahkan reaksi-reaksi kimia masih terngiang-ngiang di pikiran saya. Semoga saja ilmu saya itu tetap bisa saya manfaatkan dan hubungkan dengan apa yang saya dalami saat ini.

Bagaimana saya bisa mendapatkan Profesor di bidang korosi ini? Panjang ceritanya! …dan bagaimana saya bisa ke sini pada akhirnya? Besiswa apa? …ini pun tak mudah mendapatkannya (semoga bisa menuliskan di  kesempatan lain). Segala sesuatu memang perlu doa, usaha serta proses. Yang pada akhirnya ketika kamu mencapainya, maka kamu akan besyukur atas nikmat luar biasa serta proses panjang lagi melelahkan hati dan pikiran yang pernah dijalani.

Dan marilah kita mulai mengejar ilmu, cita dan asa di sini…di Aachen.

Yang pada akhirnya ketika kamu mencapainya, maka kamu akan besyukur atas nikmat luar biasa serta proses panjang lagi melelahkan hati dan pikiran yang pernah dijalani.

Akhirnya ku menemukanmu…

#Sekian lama tak posting tulisan, rindu pula akan luapan hati dan sharing ilmu dan pengalaman

#finally married and be new mom

akhirnya kumenemukanmu
saat hati ini mulai merapuh
akhirnya kumenemukanmu
saat raga ini ingin berlabuh

kuberharap engkaulah
jawaban segala risau hatiku
dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku

Reff:
jika nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau disampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku

Dengung pelan lagu ini seolah mengingatkanku pada setahun lalu, memori di tahun 2014 akhir ketika pilihan itu hadir dalam hidupku. Seseorang yang mengajakku untuk tak sekedar menjalani kebersamaan tanpa arah, tetapi mengajak untuk membangun rumah tangga bersama.

all of us

Dengan segenap hatiku, dengan bermunajat padaNya, aku niatkan menjadi pasangan hidupnya, begitupula sebaliknya. Proses ini belangsung cukup cepat. Sekitar 2 bulan kami mengenal, saling mengenalkan kepada keluarga masing-masing, dan akhirnya diputuskan 14 Maret 2015 melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah..setahun sudah kami bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling belajar memahami. Alhamdulillah pula 6 bulan sudah hadir di tengah kami, penyejuk hati kami, penyemangat kami dalam berikhtiar, buah hati kami 😀

 

 

Merengkuh Cita LIPI #7 Wawancara LIPI continued

2013-11-06 13.05.46Waktu yang hanya 30 menit membuat kita harus memaksimalkan “mempromosikan diri” agar pewawancara yakin kita orang yang tepat untuk direkrut, dalam kasusku bidang ilmuku sebenarnya adalah Kimia Organik, agak menyimpang dari Material ataupun Metalurgi, sehingga aku meniatkan diri untuk berusaha semaksimal mungkin dalam tes ini. Saran untuk pemaksimalan wawancara salah satunya adalah menjawab dengan menghubungkan pengalaman kita sebelumnya. Misal aku menjawab dengan menghubungkan:

“Dari pengalaman saya menjadi ketua komunitas, maka….”

“Saya mendapatkan keterampilan…. ketika saya melaksanakan praktek kerja lapangan di….”

“Saya banyak mempelajari mengenai hal tersebut ketika saya di….”

Dan berbagai contoh lain sehingga tanpa mereka menanyakan background organisasi atau pengalaman kita, mereka bisa setidaknya mengetahui ketika kita menjawab pertanyaan mereka.

Ada beberapa trik yang juga bisa dilakukan dalam menjawab kelebihan kekurangan diri. Sebelumnya lebih baik teman-teman mendaftar list kelebihan kekurangan ini. Cara terbaik adalah mendeskripsikan kemampuan dan pengalaman terkait atas kelebihan itu. Ketika menjawab kelemahan, maka lebih baik ketika kita bisa memberikan bumbu nilai tambah didalamnya, dengan kata lain menjadikan kelemahan itu menjadi kekuatan kita, misal:

“Saya kadang tergesa-gesa dalam mengerjakan pekerjaan karena saya ingin segera menyelesaikannya dan bisa mengerjakan pekerjaan yang lain…”

“Saya kadang tidak sabar dalam menghadapi rekan kerja yang terlalu santai dalam bekerja, tetapi saya selalu berusaha sadar bahwa tiap orang memiliki cara pandang dan kemampuan yang berbeda-beda, dan saya tetap menghargai dan menghormati mereka…”

Beberapa hal yang bisa kutambahkan untuk sekedar sharing…

  • Silakan teman-teman pelajari dan gali lebih dalam dengan mencari di internet contoh-contoh pertanyaan yang muncul dalam wawancara. Berlatihlah seolah-olah pertanyaan tersebut ditanyakan dan pikirkan jawabannya. Sehingga ketika wawancara, rekan-rekan tidak membutuhkan banyak waktu untuk berpikir.
  • Dalam menjawab pertanyaan tentunya harus tenang, fokus memperhatikan isi pertanyaan dan menjawab ketika dipersilahkan.
  • Baju yang teman-teman pakai juga sangat penting dipersiapkan, rapi dan sopan.
  • Sempatkan membaca mengenai LIPI dan Puslit yang memanggil wawancara, karena itu sangat bermanfaat ketika wawancara (bisa dibaca dari website).
  • Beberapa hal yang juga diperhatikan adalah mengenai sikap, gerakan tangan, mimik muka, senyum, menjawab dengan optimis, tatapan mata yang meyakinkan serta salam dan jabat tangan kepada pewawancara.
  • Jangan lupa makan, berdoa, meminta doa dari keluarga ketika akan melaksanakan tes.

Selamat berjuang. Semoga sukses 🙂

baca juga:

Merengkuh Cita LIPI #6 Psikotes LIPI

Merengkuh Cita LIPI #7 Wawancara LIPI