Posted by: lpimuny | January 17, 2009

Edisi 3

Kita Sedang Berperang!!!

             

Genderang perang sudah bertalu saatnya kita menyerang pasukan musuh yang menghadang. Siapkan bekalmu: iman yang kokoh, fisik yang kuat, ilmu yang mantap, senjata yang lengkap. Karena musuh kita sudah semakin dekat bahkan mungkin tanpa kita sadari sudah masuk dalam hari-hari kita. Kok bisa? Yang mana musuhnya? Kok nggak kelihatan?

Umat muslim saat ini sedang dihadapkan dengan perang. Perang yang lebih dahsyat dari perang yang lainnya. Perang yang bisa merubah nilai-nilai agama Islam yang sudah ada pada diri umat Islam sehingga uamt Islam keluar dari nilai-nilai Islamnya. Istilahnya biasa disebut dengan Ghazwul Fikri, Ghozwul berarti serbuan, fikir berarti pemikiran. Berarti suatu bentuk penyerbuan dengan bentuk pemikiran atau ideologi. Cara ini ditempuh oleh musuh-musuh Islam setelah mereka kalah dalam perang salib. Musuh-musuh Islam sadar kalau mau menghancurkan umat Islam tidak dengan perang fisik. Karena dengan perang fisik mereka tidak akan menang menghadapi umat Islam. Karena umat Islam tidak takut mati, justru matilah yang dicari (syahid). Makanya mereka menggunakan Ghazwul Fikri sebagai cara untuk menyerbu umat Islam.

Musuh-musuh Islam selalu ingin menjauhkan umat Islam dari ajaran yang suci ini. Mereka selalu berusaha untuk memasukkan ajaran-ajaran mereka, setelah umat Islam kosong Islamnya. Mengenai hal ini Allah sudah mengingatkan hamba-Nya dalam surat Al-Baqarah: 120 ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti jalan mereka. Katakanlah, ” Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi penolong dan pelindung bagimu.” Musuh Islam tidak akan berhenti menyerang hingga mereka memadamkan agama Allah. ”Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah akan tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff: 8). Sudah sangat jelas sekali musuh-musuh Islam akan selalu berusaha menghancurkan Islam dengan berbagai cara. Apakah kita kan termasuk orang-orang yang lalai setelah datang pengetahuan terhadap kita? Hanya tinggal diam tak membela panji Islam ini. Coba lihat kembali diri kita.

Banyak cara yang dilakukan oleh musuh-musuh kita dengan Ghazwul Fikrinya. Pertama, dengan pendangkalan atau peragu-raguan. Umat Islam dibuat ragu akan agamanya. Dengan dalih jika kita mengikuti ajaran Islam akan ketinggalan zaman. Contohnya dalam hal fashion mereka menyebarkan gaya pakaian yang sangat tidak sesuai dengan gaya pakaian yang diajarkan Islam. Sasaran mereka kaum muda yang cenderung berpikiran mengikuti mode yang sedang trend. Mereka mengatakan nilai-nilai Islam sudah tidak bisa diterapkan dizaman modern ini. Islam cuma agama ritual, masalah yang lain tidak perlu menggunakan ajaran Islam. Padahal Allah sudah menjadikan agama Islam sebagai petunjuk hingga akhir zaman. Sudah saatnya kita kembali pada Al-Qur’an dan Al Hadits, yang mengatur segala segi kehidupan yang memberikan jaminan ketentraman hidup jika kita menerapkannnya dalam hidup kita.

Kedua, dengan menghilangkan kebanggana terhadap Islam. Dengan menyebarkan isu bahwa Islam adalah agama teroris, agama yang cinta kekerasan, tidak menjunjung HAM, terutama bagi kaum wanita. Cara ini sangat mudah dipercaya oleh umat Islam yang belum paham benar dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, mulailah pompa kembali semangat belajar Islam dengan menghadiri majelis-majelis Ilmu yang bisa memberikan pemahaman yang lebih mendalam lagi terhadap Islam agar musuh-musuh Islam tak kuasa lagi menyerang kita.

Ketiga, budaya westernisasi. Musuh Islam meyerang dengan membawa budaya-budaya barat ke negara-negara yang terdapat umat Islam di dalamnya. Mereka menyebarkan gaya hidup barat seperti cara berpakaian, musik, model rambut, kapitalisme, hedonisme(senang-senang, hura-hura). Sasaran mereka jelas anak muda yang mudah mengikuti gaya baru yang berkembang tanpa berpikir panjang karena takut dikatakan ketinggalan zaman.

Musuh Islam menyebarkan serangannya untuk menghancurkan umat Islam dengan media massa. Hampir semua sarana media massa mereka gunakan untuk meracuni umat Islam dengan pemikiran-pemikirannya. Menyelipkan pemikirannya dalam sinetron TV yang sangat digemari orang Indonesia yang mayoritas muslim, menyelipkan pemikirannya dalam tulisan-tulisan di media cetak, dan menyelipkan pemikirannya dalam acara musik di radio.

Ternyata cara musuh Islam menyerang kita dengan cara ini hasilnya lebih besar dibandingkan dengan perang fisik. Dampaknya tidak hanya sedikit dari umat Islam, tapi sebagian besar umat Islam terjerumus di dalamnya. Sebagai umat Islam tentunya kita tidak akan rela Islam dihancurkan. Bangunlah wahai umat Islam, kita tegakkan kembali ajaran suci ini, jangan pernah takut untuk melawan musuh-musuh Allah. Telah datang kebenaran dan kebenaran itu pasti datang, dan kebenaran itu akan memusnahkan kebatilan. Dan kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti musnah. 

 

 

Posted by: lpimuny | January 17, 2009

Edisi 2

Hari Kebangkitan Nasional Indonesia

 

Masih ingatkah dulu ketika kita duduk di bangku sekolah dasar, guru meminta kita untuk menghafal hari-hari besar nasional. Dan menjadi kebanggan tertinggi ketika kita mampu menghafal dan mampu menjawab ketika ditanya. Kini hafalan itu mungkin hanya menjadi kenangan dan terlupakan dari ingatan kita. Bahkan kita sebagai generasi muda untuk memaknai moment hari besar nasional pun sering tak bisa.

Belum lama ini moment hari besar nasional baru saja diperingati oleh bangsa Indonesia tercinta ini. Hari kebangkitan nasional namanya, tanggal 20 Mei sebagai kelahiran organisasi Boedhi Utomo ini biasa diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi tanggal tersebut sesungguhnya tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, karena organisasi Boedhi Utomo justru mendukung bangsa Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota freemasonry Belanda. Seharusnya tanggal 16 Oktober yang dijadikan hari kebangkitan nasional yaitu tanggal lahirnya organisasi Syarikat Islam. Organisasi yang jelas bersifat nasional untuk seluruh rakyat Indonesia dan bersikak non-kooperatif dan anti terhadap penjajah kolonial Belanda (Rizki Ridyasmara: era muslim.com).

Indonesia sebagai penganut agama Islam terbesar di dunia sering merasa tidak percaya diri untuk menunjukkan eksistensinya sebagai kelompok mayoritas. Tanpa kita sadari budaya yang ditawarkan oleh barat dengan paradigma hedonisme telah membelenggu dalam kehidupan kita. Perlu kita ingat kembali pada masa lalu peranan umat Islam untuk membebaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme dan imperialisme barat sangatlah besar, pelopor kebangkitan nasional adalah umat Islam. Kutipan di atas bisa menjadi bukti bahwa Syarikat Islam dengan H. O. S Cokroaminoto sebagai salah satu tokohnya telah memperkenalkan paradigma nasionalisme untuk membela dan membangun nusantara. Masihkah kita minder dengan keislaman kita?

Tulisan ini tak bertujuan untuk mengungkap kesalahan sejarah yang memang tak bisa dipungkiri banyak terjadi di negeri kita ini. Hanya ingin untuk  membangkitkan semangat umat Islam terutama kita sebagai generasi muda Islam untuk bangkit dan menunjukkan eksistensinya sebagai generasi muda pewaris negeri ini. Kaum muda merupakan simbol kekuatan, dari segi fisik jelas pemuda memiliki tenaga yang lebih kuat dari orang tua. Dari pemikiran pemuda mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan dan mewujudkan pemikirannya. Sebuah kondisi yang seharusnya ada pada diri kaum muda. Untuk menyadarkan kita kaum muda coba buka kembali firman Allah dalam surat Al-kahfi: 13 ”Sesungguhnya mereka itu pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”.

Berawal dari Firman Allah di atas sesungguhnya kita kaum muda memiliki tanggung jawab yang besar, ada hak-hak umat yang harus ditunaikan, dan amanat yang tak ringan terpikul di pundak kaum muda. Kita harus berpikir panjang, banyak beramal karena kehidupan kita bukan hanya miliki kita, tak ada waktu lagi untuk berhura-hura berlarut dalam kehidupan yang hedonis dan berpikir sempit untuk kehidupan duniawi saja.

Tentunya kita semua menginginkan negeri kita ini bangkit dari segala macam keterpurukan. Dan ditangan generasi mudalah kuncinya. Dan sebagai generasi muda Islam kita menjadi cermin seperti apa masa depan Islam di negeri ini kedepannya. Apakah kita akan membiarkan orang-orang beranggapan bahwa Islam tak mempunyai peran dalam memajukan bangsa ini? Bangsa yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam. Bangkitlah kau generasi muda Islam untuk membangun bangsa ini, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bisa menjadi pelopor bangkitnya kembali kejayaan negeri ini. Karena dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya.

Posted by: lpimuny | January 17, 2009

Edisi 1

Tak Sekedar Label “Muslimah”

Muslimah…

Kehadiranmu adalah berkah alam

Menjadi cahaya yang menerangi oase kehidupan

Menjadi inspirasi bagi semua profesi

Penulis,  dokter, pujangga

Semuanya harus bertekuk lutut kepadanyamu

Hanya demi menguak keajaiban semua yang kau miliki

Dan aku bangga menjadi bagianmu

(mur_zakyi, 2008)

 

Mendengar sebutan muslimah yang tidak sekedar label muslimah serta peranya yang selama ini diperdebatkan kelihatanya kita perlu mengutip perumpamaan tentang muslimah yang diutarakan oleh Syaikh Yusuf Qardhawi dalam bukunya ’Skala Prioritas Gerakan Islam’.

 

‘Bunga-bunga’ itu tidak tumbuh mekar selain karena laki-laki ingin selalu memaksakan kemauannya, juga karena muslimahnya yang tidak mau atau memiliki keberanian untuk melepaskan diri dari keterikatan tersebut.

            Ya, seharusnya bunga-bunga itu mekar dengan leluasa untuk mengharumkan perjalanan yang suci ini. Yang pasti kepeloporan dan kejeniusan bukan hanya milik laki-laki banyak mahasiswi yang berprestasi akademik lebih baik dibanding mahasiswa karena lebih tekun. Sehingga selayaknya mereka bisa eksis bila mampu menunjukkan kepeloporan dan kepiawaiannya dalam bidang dakwah, ilmu pengetahuan, pendidikan, sastra dan bidang lainnya.

 

Berikut komentar mbak Heni, mahasiswa UNY yang kini aktif menjadi pengelola LPIM ”mahasiswi harus bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan kuliah, dakwah, berbakti dengan orang tua, dan kebutuhan untuk mencari bekal keterampilan muslimah. Sehingga ia akan mampu menjalankan peran-perannya dengan baik.

 

Satu hal yang kontras dengan semangat awal Islam yang memuliakan dan memberdayakan muslimah, di masa sekarang ini muncul pemikiran ekstrim mengenai hubungan laki-laki dan wanita serta peranan wanita di tengah masyarakat. Aliran pemikiran ini mengambil pendapat yang paling keras sehingga mempersempit ruang gerak wanita. Orang-orang  yang berhaluan keras ini memakai dalil surat al Ahzab ayat 33, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu…” mereka berdalih, “kenapa kalian menuntut wanita agar memegang peran yang menonjol dalam gerakan Islam? Ikut bergerak dan memimpin serta menampakkan keberadaannya dalam gerbong amal islami, padahal mereka telah diperintahkan untuk tinggal di rumah-rumah mereka. ”

 

Banyak kasus yang terjadi seorang muslimah yang masa sebelum menikahnya mampu melakukan banyak aktivitas dakwah dan amaliyah lainnya setelah menikah harus rela atau terpaksa meninggalkan semua aktivitasnya tersebut.  Namun apa daya persoalan internal yang dihadapi belum juga beres. Selama ini ia sudah bekerja keras menyeimbangkan tugasnya di dalam rumah tangga dengan aktivitas mengikuti ta’lim, mengisi ta’lim, mengikuti baksos untuk orang-orang yang terkena musibah banjir, tetapi rupanya sifat ananiyah (egoisme) dan sense of belonging (rasa kepemilikan) suaminya begitu besar. Tiba-tiba saja ia diminta menghentikan semua aktivitas amal shalehnya dan berdiam di rumah melayaninya dan anak-anak sebagai jalan pintas menuju surga, “Kamu tidak usah repot-repot ngurusin orang, sementara ada jalan pintas menuju surga dengan berbakti pada suami dan keluarga.” muslimah ini pun sebenarnya tak ingin membantah perkataan suaminya, karena ia juga tahu kebenaran tentang besarnya pahala berkhidmat di rumah tangga. Namun apa jadinya dengan sebuah dunia luar yang ingin ia sediakan sebagai bi’ah yang baik bagi anak-anaknya, generasi mendatang. Bukankah ia harus ikut juga berperan untuk itu. Apalagi selama ini ia meniatkan pernikahan adalah satu noktah dari garis perjuangan yang panjang, sehingga menikah harusnya justru akan meningkatkan perjuangannya.

 

Menurut dosen ibu Nurfina, salah satu dosen FMIPA UNY mengatakan, jika seorang istri ingin beraktivitas di luar rumah tetap harus dengan izin suaminya. Dan seorang suami tidak bisa egois dengan berpendapat bahwa hanya dirinya saja yang boleh maju. Sementara istri tetap harus di rumah mengurusi suami dan mendidik anak. Suami harusnya memberi kesempatan untuk istrinya agar mengembangkan kemampuannya dan menunjukkan karyanya di masyarakat tanpa melupakan kewajibannya sebagai istri dan ibu.

 

Bagaimana halnya dengan wanita-wanita Afghanistan yang ditemui Zainab al Ghazali di barak-barak pengungsi di Pakistan saat invasi Uni Soviet dulu, mereka telah mempersembahkan segala-galanya, suami, anak-anak, harta dan tanah air mereka demi perjuangan tetapi mereka masih lagi bertanya, “Apa lagi yang bisa kami berikan, korbankan untuk jihad fisabilillah, ya Ibu?” Zainab al Ghazali menjawab dengan penuh rasa haru, “Ada…, kalian masih senantiasa memiliki cinta. Berikanlah cinta, simpati dan doa kalian untuk setiap mujahid yang berjuang di jalan Allah.” Subhanallah! Adakah yang salah dengan mereka, dengan obsesi-obsesi mereka yang luar biasa untuk habis-habisan di jalan Allah?

 

System Islam yang tegak begitu mendukung kiprah perjuangan muslimah, ditambah team work dan dukungan yang baik di dalam keluarga inti dan dilengkapi pula dukungan sinergis dari komunitas yang ada saat itu. Menurut Mbak Novi pengelola LPIM Yogyakarta, sumbangan terbesar bagi ibu adalah mengembangkan anak sholih yang menjadi khalifah di muka bumi dengan ilmunya untuk umat. Jadi dari kisah-kisah indah di atas, seharusnya tak ada ruang tersisa bagi keegoisan dan keapatisan dari laki-laki maupun muslimah.

 

Semua itu mengajarkan pada kita dua tugas mulia yakni berbakti di dalam rumah tangga dan berjihad di jalan Allah bukan dua hal yang harus dibenturkan atau dipertentangkan satu sama lain. Dan kebajikan yang satu tak harus meliquidir kebajikan yang lainnya, melainkan menjadi sesuatu yang seiring sejalan secara sinergis.

 

Nah Sudah tahu kan gimana muslimah harus melangkah. So, sekarang saatnya membuktikan untuk menjadi muslimah sejati.

(uning&ciksofy,dakwatuna.com )

Posted by: lpimuny | January 16, 2009

program bahasa Arab

Pendididikan Bahasa Arab merupakan program pendidikan satu tahun (dua semester) yang terdiri dari tiga materi (keterampilan) pokok yaitu Mufradat (Kosa  kata), Nahwu-Sharaf (Tata Bahasa) dan Muhadatsah-Muhadharah (Keterampilan Berbahasa).

a.   Visi

     Terwujudnya pembelajaran bahasa Arab yang mudah dan  menyenangkan, khususnya bagi mahasiswa dan masyarakat muslim pada umumnya. “Al Arabiyatu ma’ana sahlah wa mumthi’ah.”

b.      Misi\

1.      Menyelenggarakan proses pendidikan bahasa arab yang sederhana dengan tetap bertumpu pada tiga keterampilan pokok yaitu Mufradat (Kosa  kata), Nahwau-Sharaf (Tata Bahasa) dan Muhadatsah-Muhadharah (Keterampilan Berbahasa).

2.      Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan penunjang di luar perkuliahan untuk memberikan motivasi dan keterampilan bahasa Arab.

3.      Mengembangkan pola manajemen kelas secara profesional guna menciptakan suasana pembelajaran yang berkualitas.

c.        Sasaran

     Mahasiswa dan masyarakat muslim.

d.       Mata Kuliah

Mata Kuliah Utama yang harus ditempuh santri program Pendidikan Bhasa Arab, terbagi menjadi dua tingkat yaitu:

1. Bahasa Arab Dasar (BAD)

2. Bahasa Arab lanjut (BAL)

Mata Kuliah  (Kegiatan) Penunjang yang harus diikuti santri di luar perkuliahan kelas yaitu

1. Lailatul Arabiyah (Malam Bahasa Arab)

2. Papan Mufradat

Posted by: lpimuny | January 14, 2009

Program Tahsinul Qur’an

Visi

Visi Program Tahsin adalah terwujudnya pembelajaran Cara  membeca dan Memperbaiki Bacaan atau Tahsin Al Quran yang profesional dan berkualitas.

Misi

1.      Menyelenggarakan proses pendidikan tahsin Al Quran dengan metode Qiraaty.

2.      Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan penunjang di luar perkuliahan untuk memberikan motivasi memperbaiki kualitas bacaan (tahsin)Al Quran.

3.      Mengembangkan pola manajemen kelas secara profesional guna menciptakan suasana pembelajaran yang berkualitas.

 

Target

 

  1. Santri dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar dan tartil

  2. Santri menguasai teori/ilmu  tajwid

  3. Santri dapat menyelesaikan belajar tahsin qiroaty dalam waktu dua semester.

 

 

Sasaran

Masyarakat muslim di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

 

Metode perkuliahan

 

Metode yang digunakan adalah metode Qiroaty  dengan 6 jilid ditambah dengan  jilid gharib serta jilid ilmu tajwid praktis.  Setelah selesai jilid lima dilajutkan latihan juz 27 untuk melancarkan penekanan bacaan-bacaan yang ada di jilid-jilid sebelumnya. Setelah praktek juz 27 barulah dilanjutkan jilid 6. Setiap jilid mempunyai target tersendiri yang disajikan secara sistematis untuk memudahkan santri mengingat pelajaran.

 

Metode pembelajaran yang digunakan adalah Klasikal-Individual. Artinya, dalam satu kelas yang jilidnya sama 15 menit awal klasikal. Tujuannya untuk mengetahui dan memahami pelajaran-pelajaran yang ada, kemudian dilanjutkan dengan individual selama 1.5 jam, kemudian 15 menit terakhir klasikal lagi untuk memperlancar bacaan. Sedangkan kelas yang teriri dari berbagai jilid diisi dengan individual

 

Muwashofat/ Skill/ Kompetensi

  1. Santri mampu memahami bentuk-bentuk huruf Al Qur’an

  2. Santri dapat membaca dalam bentuk sambung, berharokat tanwin  dan dapat membedakan panjang  dan pendek 

  3. Santri dapat membaca huruf-huruf bersukun

  4. Santri dapat menguasai bacaan dengung dan  fawatihusuwar 

  5. Santri dapat menguasai bacaan ghunnah, lafadh Allah, waqaf dan qalqalah

  6. Santri dapat mengaplikasikan pelajaran jilid 1 sampai dengan jilid 5 dengan lancar

  7. Santri dapat menguasai bacaan idzhar           

  8. Santri mengetahui bacaan-bacaan hati-hati dalam Al-Qur’an 

  9. Santri memahami tajwid    

Posted by: lpimuny | January 14, 2009

Program Madrasah Thulabiyah (MT)

VISI

Visi dari program Madrasah Thulabiyah adalah terwujudnya insan yang memiliki keseimbangan spiritualitas, intelektualitas dan moralitas menuju generasi Robbani yang berkomitmen tinggi terhadap Da’wah dengan berlandaskan pada pengabdian kepada Allah.

 

Misi

  1. Menyelenggarakan sebuah proses pendidikan Islam yang berbasis pada spiritulitas, intelektualitas dan moralitas guna mewujudkan kader da’wah yang mampu menjadi rahmatal lil’alamin.
  2. Menyelenggarakan sebuah proses pelatihan-pelatihan dakwah untuk  memberikan skill dalam berdakwah.
  3. Mengembangkan pola manajemen kelas secara professional guna menciptakan kondisi perkuliahan yang menyenangkan.
  4.  Menyelenggarakan sebuah proses yang efektif dan efisien untuk tahfidz juz ‘amma.

Bentuk Program

Dalam program pendidikan Madrasah Thulabiyah ini ada tiga program pendidikan yang akan di terima santri. Ketiga program tersebut adalah :

1.       Program Utama

      Program Utama merupakan Program pendidikan yang wajib di ikuti santri selama enam semester yang bertujuan memberikan bekal kepada santri ilmu –ilmu dasar keislaman.

2.       Program Penunjang

      Program Penunjang merupakan program pendidikan yang di selenggarakan untuk menunjang keberhasilan program utama   dalam hal ini program yang bersifat skill ( ketrampilan). Program  yang akan diselenggarakan yaitu Talaqqi.

Target Pembelajaran

1.       Santri dapat memahami dan mengamalkan ilmu-ilmu dasar keislaman.

2.       Santri mampu menghafal Juz ‘amma.

3.       Santri memiliki wawasan keislaman yang memadai.

4.       Santri memiliki pemahaman dan mempraktekkan  konsep-konsep dasar dakwah.

Muwashofat (skill/kompetensi) 

1.       Ikhlas dalam amalnya

2.       Sesuai sunnah ibadahnya .

3.       Kaya wawasan keislamanya.

4.       Mengasihi sesamanya

5.       Hafidz juz amma

Sertifikasi

Santri akan mendapatkan sertifikat setelah :

1.       Tahfid juzz amma.

2.       Mengikuti progam PKD.

3.       Mengikuti perkuliahan dan ujian yang di selenggarakan.

4.       Mengikuti Ujian konfrehensif.

Posted by: lpimuny | May 7, 2008

LPIM UNY

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started