Dimuat juga di Panyingkul: Merekam Jejak Longsor di Balikpapan.
“Kalau mau mencari rumah bebas banjir di balikpapan, sebaiknya perhatikan ruas jalan didepannya sehabis hujan. Kalau sekiranya ada sisa/endapan pasir berarti jalan itu habis kena banjir. Hindarilah beli rumah disitu.” Begitu nasehat teman saya tahun lalu ketika saya menemaninya mencari rumah untuk disewa. Nasehat itu saya ingat terus sampai hari ini.
Kemarin siang, 1 September 2007, saya melewati jalan Ahmad Yani, Gunung Sari Balikpapan, salah satu jalan utama kota, yang sepanjang mata memandang penuh dengan lumpur hitam beserta endapan pasir putih sampai menutupi seluruh aspal jalan. Saya agak takjub dengan endapan pasir yang banyak sekali, kalo mungkin dikumpulkan bisa sampai beberapa truk. Selintas saya berpikir kalo endapan pasir sudah sampai ke jalan protokol di balikpapan, berarti secara umum balikpapan pasti kena banjir dan dimana kita mencari rumah yg bebas banjir kecuali naik ke atas ke arah samarinda, padahal setahu saya elevasi kota masih lumayan tinggi. Heran!
Kemacetan terjadi di tiga ruas jalan utama sekitar Gunung Sari; Jalan P Tendean, Jalan Martadinata, dan jalan Ahmad Yani sendiri. Jalan P Tendean yang menuju kantor saya di Gunung Pasir ditutup. Beberapa aparat berjaga-jaga di pertigaan jalan. Portal dan police line dipasang membentang menutupi jalan. Didepannya terpasang plang besar semi permanen dari kardus: Jalan Rusak!.
Continue reading →