h1

Puisi-puisi Sayyid Madany Syani

31 AM9000000093000000009 2008

CANGKLONG UNTUK KAKEK

bertahun telah kulukis rindu
di hamparan jarum ilalang, yang menusuk aku
merontaronta untuk segera menguburkan cendera

aku, yang teringat sosok renta
dengannya ku berjalan kemari
di tanah padang yang sepoi angin mengusik daun berjatuhan

bila ku berjalan agak jauh
ia selalu berteriak;
“jangan kesana, nanti ada begu!”
dan aku pun segera berlari mengejar pangkuannya yang lamur

tanpa sadar,
bunyi di kantong celananya segera mengusikku
namun, ia malah mengelus rambutku
sesekali mendehem, tinggalkan cangklong tuanya

bilangan waktu yang berumur
telah kembali menuntunku ke tanah ilalang
mengucap salam setiap rumput kering—padaku
kata mereka; “senang berteman dengan kakek”

disini, di tanah padang ini
dalam ulang tahun yang sepi
ku letakkan cangklong baru, di sisi nisan kakek
dengan segurat senyum yang mengepal
“masihkah kakek mau mengajakku bermain lagi,”

Rumah Cinta-Padang, Januari 2007

kerinduan pada sosok Pram,

KUBUR KACA (II)

Agustus 1945

di pertengahan musim ini
jiwajiwa berdetak,
surut,
takut.

diorama pagi
mengawal pusaka
dengan ketikan harapan
di hadap kubur paksa
bangsa…

Gedung F. 2,1 UNAND, November 2006

JEJAK PENANTIAN

I
Dari Narathiwat,
kau berjalan.
entah apa yang kau rindukan

mungkin desah waktu kereta
yang mengalun
yang membuat jiwamu gundah
untuk sebuah kata “persahabatan”

Namun,
apa yang bisa kau harapkan
dari secuil demokrasi
yang tergores kudeta sejarah yang
memilukan

Apa yang bisa kau buktikan,
dari secuil kerangka fatamorgana
bernama
“kebahagiaan?”

II
Aku pun turut berjalan
dari sisi-mu yang disebelah

Aku pun menunggu,
desah raung kereta yang telah
terlambat pula rupanya

ya,
desah-desah itu pula yang selalu
kurindukan

dalam masa-masa teduh
ataupun masa-masa suram
seperti sekarang.

III
baiklah kawan,
kita sama-sama berjalan

dalam waktu yang sama tentunya

Dan tentu pula,
berharap sesuatu yang wah,
dari sebuah masa

sambil terus berharap
ada seorang Mesias,
yang turun secepatnya

dan menyelamatkan kita
dari keserakahan ini,

IV
Aku kembali berjalan
kau pun juga

mengarungi Drina hingga Gangga

untuk tetap mencari,
Isa yang dinanti.

KaranggoNet, Oktober 2006

h1

musuh gus dur

31 AM4000000303000000030 2008

Kabar penangkapan 40 tokoh politik yang dinilai menjadi lawan Gus Dur kian
santer saja. Spekulasi pun berkembang. Siapa saja tokoh-tokoh yang dianggap
berbahaya atau berseberangan dengan Gus Dur dan berpotensi merongrong
kekuasaan Gus Dur.

Menurut sebuah majalah yang terbit Senin (3/7) diperkirakan ada sejumlah 40
nama sebagai berikut:

1. Fuad Bawazier (mantan Menkeu), menggerakkan kekuatan anti Gus Dur.
2. Ginandjar Kartasasmita (mantan Menko Ekuin), menggalang kekuatan anti Gus
Dur.
3. Arifin Panigoro (Ketua Fraksi PDIP), menggalang interpelasi dan
impeachment atas Gus Dur.
4. Parni Hadi (Republika), menggalang opini anti Gus Dur.
5. Jusuf Kalla (Bukaka), KKN
6. Agung Laksono (Golkar), mengeksploitasi kesehatan Gus Dur.
7. Amien Rais (PAN),meronngrong kewibawaan Gus Dur.
8. Akbar Tanjung (Golkar), HMI Connection.
9. Beddu Amang (mantan Kabulog), HMI Connection.
10. Syahril Sabirin (Gubernur BI), kasus Bank Bali.
11. Jaffar Umar Thalib (Laskar Jihad), menggerakan Laskar Jihad.
12. Fahmi Indris (mantan Menaker), kaki tangan Orde Baru.
13. Mochtar Pabotingi (peneliti LIPI), sinis terhadap Gus Dur.
14. Achmad Tirto Sudiro (Ketua Umum ICMI), HMI Conection.
15. Egi Sudjana (Ketua UMUM PPMI), Islam garis keras.
16. Dawam Rahardjo (rektor Unisma Bekasi), sinis terhadap Gus Dur.
17. Adi Sasono (capres dari Partai Daulat Rakyat dan Sekum ICMI), musuh
lama,sinis terhadap Gus Dur.
18. Bustanil Arifin (mantan Kabulog), HMI connection.
19. Ma’rie Muhammad (mantan Menkeu), HMI connection.
20. Wiranto (mantan Menkopolkam), pro kubu Habibie.
21. R.Hartono (mantan Mendagri), kaki tangan Orde Baru.
22. Indria Samego (peneli LIPI), kritis terhadap Gus Dur.
23. Harmoko (Golkar), kaki tangan Orde Baru.
24. Eky Syachrudin (Golkar) HKI connection.
25. AA Baramuli (mantan Ketua DPA), kasus Bank Bali.
26. A. Watik Praktiknya (The Habibie Centre).
27. Yorrys Raweyai (Pemuda Pancasila), pendukung Papua Merdeka.
28. Djaja Suparman (mantan Pangkostrad), pro kubu Habibie.
29. Nugroho Djajoesman (mantan Kapolda Metro Jaya), pro kelompok Habibie.
30. Syahrwan Hamid (mantan Mendagri), kaki tangan Orde Baru.
31. Feisal Tanjung (mantan Panglima ABRI), kaki tangan Orde Baru.
32. Rahardi Ramelan (mantan Menperindag), pro kubu Habibie.
33. Jimly Ashidiqie (The Habibie Centre), pro kubu Habibie.
34. Farid R Fakih (Gowa) mengeksploitasi kasus Bulog.
35. Rustam Kastor (Ambon, purnawirawan TNI), provokator Maluku.
36. Abdul Qadir Jaelani (Partai Bulan Bintang), Islam garis keras.
37. Habib Rizieq (Front Pembela Islam)
38. Ahmad Sumargono (KISDI), Islam Garis keras.
39. Al Chaidir (penulis), Islam Garis Keras
40. Soeharto (keluarga Cendana), biangnya Orde Baru.

h1

cerita dari cak nun

31 AM4000000403000000040 2008

Syair Penjual Kacang

Al-Habib, seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami shalat Isya’ suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.

Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.

”Salah satu dari kalian keluarlah sejenak dari ruangan ini,” katanya, ”Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”

Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.

”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”

Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.

”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”

”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”

Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”

Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”

”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”

Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ” Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan…” – salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat.

h1

31 AM8000000443100000044 2008

SOEHARTO SI DUDA KEMBANG

Kita catat dulu sebagian bunyi teks Ikrar Husnul Khatimah yang disusun sendiri oleh Pak Harto. yang disodorkan draft-nya kepada saya, dan ia ikrarkan kepada Tuhan pada pagi hari 14 Pebruari 1999 di rumahnya: “….saya memohon maaf kepadaMu ya Allah, dan saya mempertanggung-jawabkan padamu di akhirat. Apabila ada kesalahan dan kekhilafan di dunia ini, saya akan mempertanggung-jawabkannya di hadapan hukum yang berlaku…”
Pak Harto itu ibarat duda kembang: diributkan oleh banyak orang, terutama oleh mantan ‘istri-istri’nya. Baik ‘istri’ politik, ‘istri’ ekonomi maupun ‘istri’ dalam berbagai bidang lainnya.

Pak Harto digugat cerai melalui proses yang penuh asap kabut gelap oleh para istri setelah berpuluh tahun enak hidup bersamanya. Ia dikutuk, dilaknat, dibenci, dirasani.

Para mantan istri itu menghadapi tiga pilihan sikap. Pertama, ingin memusnahkannya, tapi tak berani. Kedua, bernafsu mengadilinya tapi ndak bisa-bisa. Ketiga, melunakkan hatinya? Gengsi dong. Akhirnya yang dipilih adalah alternatif ke empat: membencinya, ngrasani dan memakinya dari jauh. Pilihan ini diambil oleh para mantan istri secara bertele-tele entah sampai kapan. Pak Harto harus dipertahankan sebagai satu-satunya simbol kejahatan Orde Baru, supaya mantan-mantan istrinya yang dulu terlibat dalam kejahatan kolektif bisa terbebas dari tudingan-tudingan.

Kebetulan saya tidak pernah menjadi ‘istri’ Pak Harto. Menjadi ’selir’pun tak pernah. Seandainya pernah jadi Menteri Orba, saya akan malu tampil sebagai pahlawan reformasi dan bicara aspirasi rakyat sekarang ini.

Saya juga tidak pernah jadi Manggala BP-7 seperti Gus Dur, tidak pernah jadi anggota MPR seperti Cak Nur, tak pernah jadi PNS seperti Pak Amin. Pernahnya empat kali ketemu: pertama takbiran bareng ketika ia masih berkuasa sehingga alhamdulillah saya berhasil tidak bersalaman dengannya. Kedua ketemu dia bareng Gus Dur, Cak Nur dll. untuk mengalihkan kekuasaan dari dia ke Komite Reformasi, tapi orang memilih Habibie jadi presiden. Ketiga dan empat saya ketemu empat mata ketika ia sudah tidak berkuasa, sudah diinjak-injak dan diludahi banyak orang, sudah tidak bisa disandari lagi. Saya tidak mau ikut meludahi dia. Dia diproses hukum saja, diadili, tapi tak usah diludahi.

Saya membawakannya buku “Iblis Indonesia, Dajjal Dunia” kumpulan kritik saya kepada Presiden Soeharto 1990-1998. Alhamdulillah ketika ia masih jadi presidenpun saya tidak nempel, menjilat, bersandar atau menjadi benalunya. Tuhan sangat pemurah, hidup saya tak kurang suatu apa. Bahkan radius spiritual-ekonomi-budaya masyarakat yang bersama saya di skala sepak terjang Padhang mBulan, Hamas, Zaituna, Kiai Kanjeng dll. sangat dibarokahi Allah — sehingga tak perlu saya dan kami menjadi benalu siapapun, apalagi menjadi benalu di pohon yang sudah tumbang. Kalau mau jadi benalu sekarang, mestinya ke pohon Habibie, atau Gus Dur, Mega, Amin, dan bukan bodoh menjilat Soeharto yang sudah roboh.

Tapi kalau Anda ingin mencicipi bagaimana rasanya difitnah – seperti saya – sesekali bertemulah dengan si Duda. Saya bersyukur karena sehabis ketemu dia dan difitnah orang, saya lantas bawa Qur’an ke mana-mana. Kalau ada orang tanya kenapa ketemu Soeharto, saya jawab apa adanya. Kalau orang menuduh, saya langsung keluarkan Qur’an dan minta dia pegang bersama saya untuk bersumpah: yang berdusta menanggung adzab Tuhan.

Bahkan di depan sekitar 15 ribu jamaah di Masjid Agung Surabaya 21 Pebruari 1999, juga di depan masyarakat daerah lain sebelumnya — Tanjungpriok, Sorobayan, Ngantang, dll dalam acara Ikrar Husnul Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia — saya genggam Qur’an itu dan saya teriakkan: “Ya Allah, kalau sepeser sajapun saya pernah menerima suap atau sogokan haram jenis apapun dari Pak Harto atau keluarga Cendana, atau uang haram apapun lainnya, maka adzablah aku, patahkan kakiku, ledakkan kepalaku atau apapun saja bentuk laknatMu. Akan tetapi kalau Engkau tidak menjumpaiku demikian, aku mohon ampunilah dosa para pemfitnah, tenangkan jiwanya dari kecemasan, bersihkan hatinya dari dengki dan kebencian, teguhkan akalnya agar mampu berpikir sehat dan adil…”

Di Padhang mBulan 2 Maret 1999 25 ribu jamaah juga saya ajak berwirid dan bersumpah karena mereka dituduh dibiayai oleh Cendana.

Sebenarnya fitnah menyertakan tambahan ilmu dan rejeki, min haitsu la yahtasib, yang tak terduga-duga. Sehingga dari sudut saya pribadi, malah kapan-kapan ingin membayar siapa saja yang memfitnah saya.

Akan tetapi karena fitnah itu menyangkut jamaah Padhang mBulan dan masyarakat luas, apalagi jika dengan fitnah itu berbagai upaya kemashlahatan dan kemanfaatan sosial yang kami lakukan menjadi tidak efektif, maka tidak ada jalan lain kecuali mengajak para pemfitnah ber-mubahalah.

Sesungguhnya prinsip ikrar, sumpah, mubahalah atau Jawa-nya ’sumpah pocong’ itulah yang saya tawarkan kepada si Duda dalam hubungannya dengan Indonesia. Saya katakan kepadanya: “Pak, kalau Sampeyan omong di konferensi pers, di teve atau di manapun, mana mungkin orang percaya. Sedangkan kepada penguasa orde reformasipun rakyat tidak percaya. Bangsa kita mengalami krisis legitimasi, kriris kepemimpinan, krisis kepercayaan, horisontal maupun vertikal. Pak Wiranto bilang ‘ABRI tetap konsisten…’, lantas Ambon hangus. Konsisten apanya. Sementara rakyat butuh tahu apakah Pak Wiranto jujur atau tidak, Pak Habibie bohong atau tidak, Pak Harto mau come back atau tidak. Maka kalau Pak Wiranto, Pak Habibie atau Sampeyan berani datang ke Masjid, berikrar kepada Allah didengar oleh banyak orang bahwa tidak begini dan ya begitu, ada kemungkinan rakyat mulai sedikit punya harapan….”

Dan si Duda bikin teks ikrar di atas. Ia mau menjalani proses hukum. Kalau ia dusta, Tuhan mengadzabnya.*****

h1

Gus Dur: Geser Dakwah Agama ke Budaya

31 AM8000000413100000041 2008

Jum’at, 30 Juni 2006 | 18:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa KH Abdurrahman Wahid mengatakan dakwah agama harus digeser dengan menggunakan strategi budaya. Sebab dengan budaya, dakwah akan lebih mudah dicerna oleh masyarakat termasuk kalangan nonislam.

Selain itu, dampaknya pun lebih cepat dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat. Dia mencontohkan, keberhasilan Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. “Pengembangan budaya menjadi tanggung jawab kita dan harus digiatkan,” kata Abdurrahman yang biasa disapa Gus Dur dalam pidato pembukaan Festival Barzanji, kemarin. Festival yang digelar di halaman Kantor DPP PKB itu diikuti 80 majelis taklim se Jabotabek.

Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, menambahkan dakwah budaya perlu diikuti dengan meninggalkan dakwah yang bersifat politis dan penuh caci maki. Eko Ari Wibowo

h1

Pilihan itu ?

31 AM7000000213100000021 2008

EMHA AINUN NADJIB

Teman-teman, saya punya sedikit catatan kehidup dari Emha Ainun Nazib yang bicara tentang bagaimana kita diingatkan untuk tetep fokus dan memperhatikan buah hati kita, ini inspiratif banget untuk kita renungkan sama-sama.

Cak Nun bilang “saya yakin kita sering berpikir mungkin dengan istri kita, keluarga kita, kalau melihat anak-anak bermain-main pagi, siang, sore. Membayangkan nanti 5 tahun lagi bagaimana, 10 tahun lagi bagaimana, 15 tahun lagi bagaimana akan lebih bagus kalau imaginasi kita mengenai anak-anak kita kelak itu dengan dilengkapi imaginasi akan seperti apa keadaan dimasa datang, minyak masih ada atau tidak. BBM sampai berapa tahun lagi? Jumlah penduduk kira-kira berapa? Peningkatan demografi berapa? “

“Pembagian-pembagian kesejahteraan sampai seberapa berkeping-keping, sehingga tingkat kompetisi persaingan dan segala kompleksitas bernegara bermasyarakat. Bahkan juga di dalam kompleksitas psikologi internal setiap manusia akan sekian kali lipat lebih ruwet. Ini anak-anak sebaiknya kita didik bagaimana? Anda pernah merasa ngeri atau tidak? Saya merasa ngeri melihat anak saya, dimasa yang akan datang bagaimana? Yah, pasrah sama Allah… saya pasrah.”

“Tapi ini pertanyaannya sederhana. Anak kita ini, kita mau didik jadi orang baik atau kita didik jadi orang pintar. Atau kita didik jadi orang kuat. Yang mana yang primer, kalau ketiga-tiganya tidak mungkin juga. Terkadang konsentrasinya untuk menjadi pintar, kebaikannya terabaikan. Atau kebaikannya sedemikian rupa khusuknya sehingga kekuatannya hilang.”

“Jadi yang paling dihadapi anak-anak kita 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, 20 tahun lagi ini apa? Yang paling dibutuhkan anak-anak kita itu? Mari kita pikirkan bersama. Kekuatan mental, kepandaian akal, atau kebaikan hati, yang mana yang paling utama. Dan keputusan mengenai yang mana yang primer, yang mana yang tidak primer dari ketiganya tadi sudah sedemikian urgent. Karena sekarang setiap detik kita berjumpa dengan anak kita.”

“Dan kita harus mengatur strategi pendidikan kita disetiap kalimat yang kita ucapkan. Disetiap dialektika dan dialog yang kita lakukan dengan anak-anak kita. Sudah harus ada ketentuan dari konsep kita bahwa yang kita utamakan adalah misalnya anak kita harus kuat, atau anak kita harus baik, ataukah anak kita harus pintar. Mana mudhorot, mana manfaat dari ketiga-tiganya itu? Pada masing-masing atau keseluruhan”

“Kalau tidak, kalau pendidikan kita salah. Kalau satu hari, kalau 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, anak-anak kita mengalami sesuatu yang mengerikan pada diri mereka, mengalami sesuatu yang membuat mereka menderita. Jangan lupa! Meskipun pada saat itu sudah meninggal, sesungguhnya tanaman kesalahan dan dosa-dosa kita itu terus berkembang bersamaan dengan berkembangnya anak-anak kita kelak.”

Saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para orang tua.

Pernyataan yang terus bergema di kepala saya saat ini adalah ketika kita mendapat himbauan mengikuti Gerakan anti televisi. Koalisi Nasional Hari Tanpa TV mengajak mematikan televisi pada 20 Juli 2008. Sehari sebelum perayaan hari anak nasional. Gagasan ini baik, mengingat banyaknya tayangan TV yang tanpa kita sadari mampu mencuci pikiran anak-anak kita. Kenapa hanya satu hari? Saya termenung sesaat di tengah himpitan budaya yang terjadi, tanggal 22 Juli hari dimana keluarga yang memiliki anak usia prasekolah dan sekolah dasar untuk tidak menyaksikan TV satu hari penuh, saya kembali berfikir mana yang lebih baik? mengganti tayangan TV atau mengalihkan perhatian dengan hiburan yang lain? hal ini tentunya dikembalikan lagi kepada kita selaku orang tua. Dan ini akan berakibat pada cara kita menyikapi bagaimana kita bertindak dan mengarahkan anak kita. Kita selaku orang tua mampukah mengajak anak-anak untuk menikmati hiburan yang lain. Ya…meskipun ini sebagai gerakan untuk membangun sikap bijak terhadap penggunaan TV. Mari kita pikirkan sama2, mana yang terbaik untuk anak2 kita kelak, menjadi baik, pintar atau kuat? Mari kita luangkan waktu, beberapa saat setiap hari. Entah menjelang tidur, atau bangun tidur, atau ketika merenung, sesaat setelah kerja, atau sambil macet di jalan kita merenungkan semua itu. Dan memohon petunjuk kepada Tuhan yang mana paling kita utamakan, baik, pintar ataukah kuat..??

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kedua orangtua saya, 3 kakak kandung dan ratusan temen. Atas jasa baiknya membentuk pribadi saya ‘untuk terus belajar’ menjadi baik, pintar dan kuat.

h1

Kesuksesan Menjadi Kholifah

31 AM7000000183100000018 2008

KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH <!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat

Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses

Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah

Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Barakallahu li wa lakum, wallahu a’lam bishshawab.

h1

martin luther king

31 AM2000000153100000015 2008

Martin Luther King, Jr., (January 15, 1929-April 4, 1968) was born Michael Luther King, Jr., but later had his name changed to Martin. His grandfather began the family’s long tenure as pastors of the Ebenezer Baptist Church in Atlanta, serving from 1914 to 1931; his father has served from then until the present, and from 1960 until his death Martin Luther acted as co-pastor. Martin Luther attended segregated public schools in Georgia, graduating from high school at the age of fifteen; he received the B. A. degree in 1948 from Morehouse College, a distinguished Negro institution of Atlanta from which both his father and grandfather had graduated. After three years of theological study at Crozer Theological Seminary in Pennsylvania where he was elected president of a predominantly white senior class, he was awarded the B.D. in 1951. With a fellowship won at Crozer, he enrolled in graduate studies at Boston University, completing his residence for the doctorate in 1953 and receiving the degree in 1955. In Boston he met and married Coretta Scott, a young woman of uncommon intellectual and artistic attainments. Two sons and two daughters were born into the family.

In 1954, Martin Luther King accepted the pastorale of the Dexter Avenue Baptist Church in Montgomery, Alabama. Always a strong worker for civil rights for members of his race, King was, by this time, a member of the executive committee of the National Association for the Advancement of Colored People, the leading organization of its kind in the nation. He was ready, then, early in December, 1955, to accept the leadership of the first great Negro nonviolent demonstration of contemporary times in the United States, the bus boycott described by Gunnar Jahn in his presentation speech in honor of the laureate. The boycott lasted 382 days. On December 21, 1956, after the Supreme Court of the United States had declared unconstitutional the laws requiring segregation on buses, Negroes and whites rode the buses as equals. During these days of boycott, King was arrested, his home was bombed, he was subjected to personal abuse, but at the same time he emerged as a Negro leader of the first rank.

In 1957 he was elected president of the Southern Christian Leadership Conference, an organization formed to provide new leadership for the now burgeoning civil rights movement. The ideals for this organization he took from Christianity; its operational techniques from Gandhi. In the eleven-year period between 1957 and 1968, King traveled over six million miles and spoke over twenty-five hundred times, appearing wherever there was injustice, protest, and action; and meanwhile he wrote five books as well as numerous articles. In these years, he led a massive protest in Birmingham, Alabama, that caught the attention of the entire world, providing what he called a coalition of conscience. and inspiring his “Letter from a Birmingham Jail”, a manifesto of the Negro revolution; he planned the drives in Alabama for the registration of Negroes as voters; he directed the peaceful march on Washington, D.C., of 250,000 people to whom he delivered his address, “l Have a Dream”, he conferred with President John F. Kennedy and campaigned for President Lyndon B. Johnson; he was arrested upwards of twenty times and assaulted at least four times; he was awarded five honorary degrees; was named Man of the Year by Time magazine in 1963; and became not only the symbolic leader of American blacks but also a world figure.

At the age of thirty-five, Martin Luther King, Jr., was the youngest man to have received the Nobel Peace Prize. When notified of his selection, he announced that he would turn over the prize money of $54,123 to the furtherance of the civil rights movement.

On the evening of April 4, 1968, while standing on the balcony of his motel room in Memphis, Tennessee, where he was to lead a protest march in sympathy with striking garbage workers of that city, he was assassinated.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai