Wahai saudaraku. Peradaban manusia adalah proses evolusi panjang, mulai dari era berburu-meramu hingga era digital dan kecerdasan buatan (AI) seperti pada saat ini. Peradaban manusia berkembang melalui revolusi teknologi dan sosial yang drastis, menuju potensi “puncak” yang sering dikaitkan dengan peradaban antar-galaksi atau pasca-manusia. Dan puncak peradaban sering digambarkan sebagai titik di mana manusia mengatasi keterbatasan fisik dan geografisnya.
Wahai saudaraku. Mari sekali lagi kita mendalami tentang hakikat diri kita sendiri. Perlu keseriusan di sini, sebab raga kita akan hidup dan mati sesuai dengan masa pakainya. Namun seseorang itu sebenarnya tidak pernah mati, yang mati adalah raganya saja, suatu permukaan kasar yang merupakan medium belaka. Raga selalu menikmati semua kesenangan dan juga merasakan penderitaan yang diakibatkan oleh perasaan itu, tetapi Jiwa (Atman) akan jalan terus tanpa terkontaminasi sedikitpun.
Wahai saudaraku. Kepercayaan terhadap HYANG ARUTA (Tuhan YANG MAHA ESA) adalah pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Sang Pencipta berdasarkan keyakinan yang diwujudkan dengan perilaku ketaqwaan dan peribadatan terhadap Tuhan serta pengamalan budi luhur yang ajarannya bersumber dari YANG ILAHI, dan bersifat universal. Adapun manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang sempurna di antara seluruh ciptaan-NYA. Namun keistimewaan ini akan tampak bila manusia itu sendiri dapat memahami hakikat dari penciptaannya dan mengenal tentang diri sejatinya. Selain itu, tentunya harus mengenal tentang hakikat Tuhannya, tidak hanya sebatas nama ataupun gelar, melainkan esensi DIRI SEJATI-NYA yang hakiki.
Wahai saudaraku. Marilah kita senantiasa menegakkan Dharma (jalan kebenaran sejati) dengan sepenuh hati. Karena sedikit saja usaha ke arah Dharma, ternyata akan melepaskan kita dari Samsara, yaitu penderitaan di dunia ini yang tak ada habis-habisnya. Karena jalan akhir dari Dharma itu sendiri adalah kebebasan mutlak dan kembali ke Ilahi Yang Tanpa Batas. Bukankah ini penting dan menjadi tujuan semestinya kehidupan kita?
Wahai saudaraku. Selama ini, informasi tentang garis waktu (timeline) sejarah peradaban Manusia selalu dikerdilkan oleh berbagai hal dan kepentingan, baik dari sisi religi maupun yang sains arus utama (mainstream science). Semuanya tidak dengan lantang mengatakan bahwa peradaban manusia itu sesungguhnya telah lebih dari 300.000 tahun. Bahkan ada pula kalangan tersohor yang dengan yakin mengatakan bahwa Nabi Adam عليه السلام hadir ke Bumi ini pada akhir zaman Mesolitikum dan awal Neolitikum. Sehingga jika dalam rentang angka tahun, itu adalah antara tahun 33.000-8.000 SM, alias maksimal hanya 35 ribu tahun lalu.
Wahai saudaraku. Marilah kita melakukan perubahan besar dengan menyadari akan hakikat diam yang sejati. Sebab diam yang sejati adalah sikap bijaksana dan penuh makna, bukan sekadar tidak bersuara, melainkan diam karena hikmah, kehati-hatian, atau kekuatan batin. Dan ini adalah pilihan sadar untuk menghindari ucapan sia-sia atau menyakitkan, menimbang kata sebelum bicara, dan lebih memilih merenung atau mendengarkan; seringkali diiringi dengan kebijaksanaan spiritual seperti dalam ajaran Islam yang menyarankan: “Hendaklah dia berkata yang baik atau diam!” sebagai cerminan dari iman yang mendalam.
Wahai saudaraku. Marilah kita membuka cakrawala pikiran dan wawasan dengan menyelami hal-hal yang tak umum dipahami atau memang tak diajarkan lagi. Dalam hal ini yang berkaitan dengan sosok agung bernama Nabi Muhammad ﷺ. Pribadi yang sangat bijaksana dan waskita. Panutan bagi siapapun yang berakal dan penggerak semangat kemajuan dalam peradaban. Dengan sudi meneladaninya, niscaya kebaikan dan kesejahteraan akan tercapai.
Wahai saudaraku. Esensi adalah inti atau hakikat yang tidak berubah, yang membuat sesuatu menjadi dirinya sendiri. Dalam hidup, ini adalah pemahaman tentang identitas dasar individu sebagai makhluk yang berpikir, berkesadaran, dan spiritualis yang membutuhkan petunjuk Ilahi untuk mencapai makna sejati. Tak peduli apapun bentuk dan jenisnya, siapa pun itu, maka selama ia makhluk ciptaan akan sama intinya.
Wahai saudaraku. Janganlah khawatir secara berlebihan karena YANG MAHA ESA itu bukanlah seorang tiran yang zalim. Sebaliknya DIA adalah Yang Maha Pengasih dan Penyayang (Arrohmaanirrohiim), dan DlA selalu tahu akan kelemahan-kelemahan diri makhluk yang DIA ciptakan; selamanya DIA akan selalu mengarahkan kita ke arah yang benar. Inilah salah satu yang perlu diingat, bahwa YANG MAHA ESA tidak pernah membiarkan setiap pemuja-NYA atau ciptaan-NYA terjerumus ke lembah dosa secara terus-menerus dan selalu mendorong kita semua dan para makhluk-makhluk lainnya ke Arah-NYA Sendiri. Semua itu hanya atas Rahmat dan Anugerah-NYA.
Wahai saudaraku. Sekali lagi mari kita selami keagungan masa lalu bangsa ini khususnya melalui gambaran peradaban Majapahit. Sebuah perwujudan dari kejayaan dan kekuasaan yang pernah bertakhta di tanah Jawa. Dan bayangkan pula sebuah komplek bangunan yang luas, memancarkan aura kehebatan dari setiap sudutnya. Dinding-dinding kokoh yang dibangun dari batu bata merah dan ragam logam mulia (emas, perak, perunggu), menjulang tinggi di tengah hamparan hijau yang tertata rapi, menjadi saksi bisu dari sejarah panjang kerajaan terbesar di Nusantara.
Wahai saudaraku. Pada mulanya, sekitar pertengahan abad ke-7 sebelum Masehi, muncullah sebuah negara di antara tiga provinsi, yaitu Jambi, Riau dan Sumatera Barat. Namanya kala itu adalah Kadatuan Malaya – inilah yang menjadi entitas awal dari Bangsa Melayu. Dari sebuah desa kecil yang permai, peradaban tinggi ini bangkit atas semangat dari seorang tokoh masyhur yang menerima mandat dari Langit. Sebagai pemimpin negeri yang berdaulat, ia hanya memiliki satu tujuan yakni menciptakan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya. Dan perlahan tetapi pasti, semua itu pun terwujud dengan semestinya. Bahkan pengaruh dari Kadatuan Malaya pun kian menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara bagian barat.
Wahai saudaraku. Kenalilah Diri Sejatimu (Atman) dengan jelas, karena itu pula yang seharusnya diusahakan selama hidup di dunia ini. Terlebih Sang Atman itu pun adalah saksi ILAHI dalam diri kita sendiri, suatu bentuk Kesadaran Ilahiah yang sukar diterangkan dengan kata-kata, dan bagi yang telah merasakan atau menyadari-NYA, itu merupakan Keberkahan Nan Abadi. Dan meskipun anjuran sejati ini amat kuno sifatnya, tetapi sangat relevan sampai masa kini, dan hanya dilakukan oleh individu yang cerdas dan waras.
Wahai saudaraku. Sang Pencipta telah mengaruniakan kepada hati para hamba-NYA yang beriman dengan Nur Dzikir, Nur Qalbu, Nur Akal, Nur Iman dan Nur Makrifat. Karunia yang demikian itu merupakan rahasia-rahasia yang tidak diketahui oleh makhluk. Setiap hamba yang dibawa ke Hadirat-NYA mempunyai rahasia sendiri dan tidak diketahui oleh hamba-hamba yang lain, walaupun mereka berada pada tingkatan yang sama. Seorang guru pun tidak tahu rahasia muridnya dengan Tuhannya. Apa yang DIA karuniakan kepada seorang hamba pilihan-NYA tidak serupa dengan yang dikaruniakan kepada hamba pilihan yang lain. Karunia Ilahi kepada seorang Nabi berbeda dari pada karunia terhadap Nabi-Nabi yang lain.
Wahai saudaraku. Tiada gunanya hidup seseorang tanpa adanya kesadaran diri. Sebab kesadaran diri adalah kunci untuk mencapai pengetahuan yang mendalam dan pada akhirnya mencapai kebenaran yang mutlak. Lebih dari itu, hanya dengan kesadaran diri sajalah kebahagiaan dan keselamatan yang sejati bisa diraih. Makanya di balik kesadaran individual terdapat sebuah Kesadaran Universal yang memiliki pemahaman di atas segalanya. Kesadaran ini bisa dikatakan berada di atas Kesadaran Tinggi.
Wahai saudaraku. Siapa yang tak ingin merasa lebih lega, tenang, atau bebas-merdeka dalam hidupnya? Tentu banyak yang menginginkannya, hanya saja tak semua orang mau berusaha untuk menggapainya dengan cara melepaskan diri dari berbagai ikatan duniawi. Sebagian besar orang justru senang menjadi tawanan materi dan masuk dalam pengaruh spiritual yang negatif. Mereka pun tak pernah mengisi ruang batinnya dengan hal-hal positif untuk mencegah kembalinya pengaruh negatif. Ini jelas memperburuk kehidupan meskipun tak kelihatan buruk di mata para makhluk awan.
Wahai saudaraku. Kita sedang hidup di akhir zaman ketujuh (Rupanta-Ra) dan menjelang pergantian zaman kedelapan (Hasmurata-Ra). Disadari atau tidak, perlahan namun pasti Dimensi kehidupan kita pun sedang bergeser dari tiga Dimensi (3D) menuju ke empat dan lima Dimensi (4D-5D). Namun jelas tak semua orang dapat melampaui Dimensi awalnya (3D), karena hidupnya masih terlalu rendah dan sekadar materi. Tak pula mau belajar (Iqro’) untuk lebih memahami yang hakiki dan esensi dalam hidup ini. Hanya mengekor apa yang mayoritas saja, walaupun itu bisa menjerumuskan dirinya ke lembah nista dan kebodohan (jahiliyah).
Wahai saudaraku. Apakah engkau pernah merasa bahwa dunia ini menyimpan rahasia besar yang hanya bisa dibuka oleh mereka yang terpilih? Bahwa ada kekuatan tak terlihat yang terus-menerus memanggil jiwamu, menuntun dirimu menuju kebenaran yang lebih dalam. Jika engkau merasakan getaran itu, maka ini bukanlah kebetulan. Dirimu sedang dipanggil oleh Semesta untuk menyadari kekuatan luar biasa yang tersembunyi di dalam dirimu sendiri. Kekuatan yang dapat mengubah realitasmu dengan cara yang tidak pernah engkau bayangkan sebelumnya.
Wahai saudaraku. Dalam peradaban manusia yang hakiki, maka tidak ada yang lebih agung peranannya selain kaum wanita. Semuanya tergantung dari bagaimana para wanitanya menjalani hidup. Apakah ia telah memenuhi kodrat yang semestinya atau tidak, yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Karena apapun akan hancur kalau para wanitanya hancur terlebih dulu. Takkan ada kemajuan dan kesejahteraan yang hakiki jika kaum wanitanya sampai tertindas dan atau tertinggal.
Wahai saudaraku. Mari kita coba membuka cakrawala berpikir tentang Dimensi kehidupan, dan kita memang perlu memahami bahwa hidup lebih dari sekadar keberadaan fisik di dunia tiga dimensi (3D). Hidup mencakup berbagai lapisan, mulai dari hubungan pribadi hingga pencarian makna yang lebih dalam. Dengan mengeksplorasi Dimensi-Dimensi ini, kita pun dapat memperoleh pemahaman yang lebih kaya dan utuh tentang diri sendiri dan dunia di sekitar kita, bahkan tentunya mengenai Tuhan Sang Pencipta. Dan dengan membuka diri akan pengetahuan tentang berbagai Dimensi kehidupan, kita pun bisa menjalani hidup yang lebih bermakna, penuh koneksi, dan memiliki pemahaman diri yang lebih dalam.
Wahai saudaraku. Hidup ini adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar untuk dijalani. Dan seyogyanyalah kita bertanya pada diri kita masing-masing, “Apa sajakah yang selama ini yang telah ku tanam dan ku petik dalam hidupku ini, Dharma ataukah Adharma?” Karena bagi yang menanam Dharma, maka hidupnya akan menghasilkan karunia Ilahi, sedangkan yang telah melakukan Adharma, maka hidupnya akan gelap. Dan kita dapat bercermin kepada para Kurawa yang buruk dan penebar bencana. Ya “Bersiap-siap untuk suatu yudha (perang) yang besar.”