Jika mendengar kata taubat kira-kira taubat apa yang pernah kita kerjakan atau taubat apa yang ingin kita lakukan. Taubat itu identiknya dengan kesalahan yang berkaitan dengan keagamaan. Taubat mengikrarkan bahwa kita salah, mengaku berdosa diiringi penyesalan dalam hati dan berusaha meninggalkan pekerjaan yang salah atau keliru tersebut.
Misalkan, sering melakukan kecurangan dalam timbangan jual beli, melakukan jual beli dengan barang oplosan, membohongi pelanggan, sering meninggalkan ibadah, dan melakukan kesalahan-kesalahan lainnya.
Taubat itu sesuatu yang susah karena biasanya berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendarah daging, Beda halnya ketika sebuah kesalahan terjadi secara insidental biasanya kita akan cepat memperbaiki diri.
Dalam tulisan kali ini saya ingin membahas taubat dari sudut pandang yang berbeda. Setiap kita adalah seorang anak, seorang ayah atau seorang ibu, seorang teman, seoran istri atau suami, seorang karyawan atau seorang bos, seorang murid atau seorang guru dan fungsi-fungsi lainnya yang kita miliki sebagai manusia.
Sebagai seorang anak, pernahkan kita bertaubat kepada Allah akan kesalahan-kesalahan kita sebagai seorang anak. Pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum Allah terkait perilaku seorang anak kepada orang tuanya?
Sebagai seorang ayah atau ibu, apakah kita pernah bertaubat akan kesalahan-kesalahan kita dalam menjaga amanah Allah yaitu anak-anak kita? Mulai dari makanan, pola asuh, pendidikan, perhatian, kasih sayang dan kesalahan-kesalahan lainnya yang berkaitan dengan aturan dan norma dari Allah.
Sebagai seorang tertangga, pernahkah kita bertaubat dari perilaku kita yang kurang ajar, meresahkan tetangga, menyusahkan tetangga, memusuhi tetangga, mengancam tetangga, menuduh tentangga yang bukan-bukan, ingin tetangga berbuat baik kepada kita padahal kita sendiri tidak pernah berbuat baik, dan kesalahan lainnya yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah.
Sebagai seorang teman, pernahkan kita bertaubat kepada Allah karena tidak mengajak teman kepada kebaikan, dan saling mengingatkan untuk berbuat baik.
Sebagai seorang murid, apakah kita pernah bertaubat karena perilaku kita kepada guru baik langsung maupun tidak langsung. Menyakiti hatinya dengan perkataan dan perbuatan, menyakiti hatinya dengan menyia-nyiakan ilmunya.
Sebagai seorang guru, pernahkan kita bertaubat karena kesalahan dalam mengajar, memberikan pemahaman yang salah atau keliru, menyuruh murid berbuat baik, padahal diri sendiri melanggarnya.
Sebagai seorang suami/istri pernahkah kita bertaubat atas kesalahan-kesalahan dan kelalaian sebagai pasangan. Kurang menafkahi, kurang kasih sayang, sering marah-marah dan seterusnya.
Sebagai seseorang yang memiliki senjata berupa “DOA”. pernahkah kita mendoakan orang-orang yang baik mendapatkan kebaikan, mendoakan orang-orang jahat agar Allah membalikan hatinya menjadi baik, mendoakan pemimpin-pemimpin rakyat yang tidak amanah agar menjadi amanah.
Jadi, marilah kita bertaubat diawali dengan niat yang tulus, mengharapkan ketentraman yang hakiki.
