Lagu Kumpul-kumpul

Seringkali kita kumpul-kumpul – acara keluarga, alumni, organisasi, atau sejenisnya. Pas di acara itu ada alat musik, baik organ tunggal (ortung), gitar, atau bahkan alat-alat musik band yang komplit. Nah, pertanyaan yang sering muncul adalah “lagunya apa”. Mulailah kebingungan. Oh ya, biasanya saya hadir sebagai pemain musiknya.

Bagi saya, acara musik seperti ini susah-susah gampang. Susahnya adalah lagu-lagu yang sering saya bawakan bersama band saya biasanya (1) lagu keras (hinggar binggar), (2) lagu yang mellow (sedih), (3) lagu yang tidak dikenal oleh kebanyakan orang. Akibatnya ya tidak cocok untuk acara kumpul-kumpul. Kalau manggung, baru okay lagu-lagu tersebut. Jadi ini aspek susahnya. Yang susah juga seringkali audience memilih lagu yang tidak saya kenal. Padahal lagu-lagu tersebut mungkin sangat umum, hanya saja saya tidak kenal. Ini repot menebak chords dan alurnya.

Lagu acara kumpul-kumpul biasanya adalah lagu-lagu yang ceria. Gembira. Yang bisa dinyanyikan secara ramai-ramai. Tentu saja ini bergantung kepada audiencenya. Kalau orang tua, ya lagu jaman dahulu. Kalau anak-anak muda, ya lagu jaman sekarang. Ini pun masih bergantung kepada genrenya.

Berikut ini adalah beberapa lagu yang seringkali muncul di acara kumpul-kumpul. Saya akan coba buat daftar yang mungkin bisa digunakan oleh banyak orang dan untuk mengingatkan diri saya sendiri.

Lagu yang umumnya bisa diterima semua orang (setidaknya di lingkungan saya).

  • Commodores – Easy
  • ABBA – Dancing Queen
  • Kahitna – Cantik
  • Chrisye – Anak Sekolah
  • Chrisye – Cinta
  • Me – Inikah Cinta
  • Kemesraan (ini biasanya lagu penutup)

Lagu yang agak “niche” sedikit. Biasanya yang 90s.

  • Oasis – Don’t Look Back in Anger
  • Noah/Peterpan – Khayalan Tingkat Tinggi

Yang ini lebih niche lagi, tetapi kalau audience-nya pas bisa mengajak audience ikut bernyanyi.

  • The Adams – Konservatif

Ada lagi lagu-lagu yang sebetulnya ingin saya nyanyikan di acara kumpul-kumpul ini, yang bukan manggung, tetapi belum nemu kawan yang sepakat untuk membawakannya. Materinya juga agak mellow sih. Ini dia.

  • Chrisye – Seperti Yang Kau Minta
  • Airplay – Roxann
  • Starship – Nothing’s Gonna Stop Us

Nanti akan saya update daftar ini.

Komposisi Stock (Startup)

Sebetulnya bagaimana komposisi kepemilikan usaha dari sebuah startup? Seringkali ini menjadi bahan perdebatan ketika startup dibuat. Ini juga seringkali yang membuat tidak jadinya sebuah usaha. Masing-masing personel merasa dia yang paling penting sehingga porsi kepemilikan sahamnya paling besar. Akhirnya perusahaan tidak jadi dibangun.

Ternyata kepemilikan saham ini tidak ada standar. Nah untuk itu saya coba cari beberapa informasi contoh-contoh komposisi kepemilikian saham ketika sebuah perusahaan dibangun. Tidak mudah karena seringkali hal ini dirahasiakan. Ini tentu saja bukan sebuah standar tapi belajar dari pengalaman orang lain.

Image
Komposisi ketika perusahaan Oculus dibangun. Founder adalah Palmer. Data ini dari buku “The History of the Future”

Tadinya saya pikir, founder itu harus yang paling besar. Ternyata tidak juga. Sebagai catatan, nanti dengan masuknya investor di ronde-ronde selanjutnya (jika terjadi) maka porsi saham tersebut bisa jadi terdilusi menjadi lebih kecil. Ini juga harus menjadi pembahasan tersendiri.

Di tempat lain ada contoh yang berbeda. Kali ini ada tiga (3) orang pendiri (founders) dengan komposisi Founder1 (40%), Founder2 (40%), Founder3 (20%). Jadi seluruh saham 100% dimiliki oleh founders. Ketika ada investor masuk, misalnya masuk 10%, maka masing-masing saham dari founder tersebut menjadi dilusi turun 10%. Jadinya Founder1 (36%), Founder2 (36%), Founder3 (18%), investor (10%).

Bagaimana menurut Anda?

Listrik Mati di Bulan Puasa

Beberapa hari yang lalu listrik mati di daerah rumah saya. Sebetulnya hal ini bukan merupakan sesuatu yang baru. Infrastruktur listrik memang susah untuk dibuat menjadi sangat reliable. Dahulu malah lebih sering lagi mati listriknya. Sekarang jauh sudah lebih baik. Kudos untuk PLN. Tapi mati listrik masih terjadi juga kemarin.

Ada yang lucu. Kalau di Bandung, istilah mati listrik ini adalah “aliran”. Jadi kalau ada yang mengatakan “listrik” sedang “aliran” itu maksudnya listrik sedang mati. Padahal aliran itu malah harusnya mengalir ya? Anyway.

Ternyata mati listrik di bulan puasa ini membuat masalah yang cukup besar juga. Masalahnya listrik kemarin matinya sekitar jam 5 sore. Atau kurang sedikit. Listrik baru menyala kembali sekitar jam 8 malam. Akibatnya banyak orang yang berbuka puasa tanpa makan nasi. Alasannya mereka belum sempat memasak nasi dengan menggunakan rice cooker. Jadi tidak ada nasi. Banyak orang yang tidak masak nasi menggunakan kompor lagi. Saya dengar dari tetangga, ada yang berbuka puasa hanya makan mie (indomie?). Mau ketawa tapi kasihan juga.

Image

Tambahan lagi banyak masjid yang kesulitan menyelenggarakan tarawehan (tarawih) karena masjid kecilnya gelap. Kebanyakan masjid (atau bahkan semua?) di sini tidak memiliki genset. Masjid di dekat rumah saya tetap mengadakan tarawehan dengan menggunakan lilin. Ternyata listrik sudah menjadi satu komponen penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Ketika listrik mati, ini menjadi perjuangan untuk kehidupan yang sudah biasa nyaman.

Bolehkah Menggunakan Laptop di Kelas?

Saat ini banyak mahasiswa (atau bahkan siswa) yang membawa laptop atau tablet (dan handphone) ke kelas. Pertanyaannya adalah bolehkah mereka menggunakan perangkat tersebut ketika kuliah?

Saya sebetulnya termasuk yang tidak begitu peduli terhadap hal-hal yang seperti ini, tetapi lama kelamaan saya melihat ada beberapa hal yang kurang baik. Yang pertama, ini soal etiket atau adab. Bagaimana jika kita mengajak seseorang ngobrol kemudian orang tersebut asyik mengetikkan sesuatu di komputernya (atau asyik menggunakan tablet atau handphone-nya)? Tentu kita merasa tidak dihargai. Tidak respek. Ketika kita tidak menghargai seseorang mengapa dia harus menghargai kita? Dan sebaliknya. Oleh sebab itu, jangan lakukan ini. Kita tunjukkan bahwa kita memberikan atensi. Kita tunjukkan bahwa kita menghargai lawan bicara kita. Sebagai mahasiswa kita menghargai guru atau dosen kita. Maka kita pun akan dihargai kembali.

Jadi bagaimana opini saya tentang menggunakan laptop di kelas? Sebaiknya tidak. Saya lebih suka mahasiswa tidak usah hadir di kelas saya saja sekalian. Silahkan lakukan absensi (mengisi daftar kehadiran), tapi tidak usah masuk ke kelas dan malah membuat suasana kelas tidak kondusif.

Image

Hal yang serupa juga terjadi ketika kita mengikuti kelas atau pertemuan daring (online). Usahakan sebisa-bisanya untuk menyalakan kamera. Ini juga untuk menunjukkan respek kita kepada yang berbicara. Adakalah memang kita tidak dapat melakukannya, misalnya kamera rusak atau jaringan sangat lambat. Jika ini terjadi beritahu dan mohon maaf bahwa kita tidak dapat menyalakan kamera karena hal tersebut.

Kembali ke penggunakan laptop di kelas. Ketika kita melakukan itu maka perhatian kita sebetulnya terpecah. Jarang saya menemukan orang yang dapat melakukan multi-tasking dalam hal belajar. Ada, tapi tidak banyak. Umumnya orang hanya dapat fokus kepada satu hal pada satu saat. Strategi saya ketika sekolah dan kuliah adalah menyimak atas penjelasan dari guru atau dosen supaya kita tidak perlu belajar lagi di lain waktu. Waktu lain dapat kita gunakan untuk hal-hal lain, seperti berolahraga, kegiatan himpunan, kegiatan di lingkungan, dan bahkan bermain. Seringkali saya mendapati mahasiswa yang berpikiran, ok nanti saya bisa pelajari lagi materi ini. Kata kuncinya adalah “nanti“. Biasanya ini bakalan TIDAK KEJADIAN, karena waktu “nanti” itu sudah dibutuhkan untuk kegiatan lain lagi. Belajar sendiri itu juga lebih susah. Nah ini diajari dosen atau guru kok tidak mau? Rugi sendiri.

Oh ya seringkali mahasiswa menggunakan laptop di kelas itu adalah untuk mengerjakan tugas kelas lainnya. Jadi lebih sulit lagi untuk mengikuti kuliah yang sedang berlangsung. Ini juga karena mungkin tidak menyimak di kelas sebelumnya atau lalai dalam mengatur waktu. Pengalaman saya sebagai dosen puluhan tahun melihat bahwa sebagian besar kegagalan mahasiswa adalah karena ketidakmampuan mengatur waktu. Bukan karena bodoh, tapi tidak dapat mengatur waktu. Ini nanti kita bahas secara terpisah ya.

Having said that … ada satu use-case penggunaan laptop di kelas yang sangat keren. Pada suatu saat saya mendapati beberapa mahasiswa saya menggunakan laptop di kelas. Mereka masih memperhatikan apa yang saya jelaskan – terlihat dari tatapan mata ke depan, kemudian mengetikkan sesuatu, kemudian melihat lagi ke depan. Apa yang mereka lakukan? Ternyata mereka membuat catatan kelas dengan menggunakan Google Docs! Keroyokan. Jadi di akhir kelas mereka memiliki catatan kelas yang cukup lengkap karena dikeroyok oleh beberapa orang. Waw. Saya pikir ini briliant! Ini hanya terjadi di satu kelas saja. Setelah itu belum pernah lagi saya mendapati hal ini. Mungkin karena saya membagikan materi saya. Jadi sementara ini saya agak sedikit skeptis dengan penggunaan laptop di kelas.

Salah Jadwal Bukber

Jadi ceritanya saya sudah siap-siap berangkat ke acara bukber – buka puasa bersama. Tiba-tiba ngobrol dengan keluarga saya di WhatsApp. Kata kakak saya kan acaranya BESOK. Hah? Besok? Bukannya hari ini? Saya re-check lagi. Dan ternyata benar dong, BESOK. Ha ha ha. Untung belum sempat berangkat. Kalau sudah berangkat mungkin saya sendirian di sana. Dan kelaparan pula.

Ada yang pernah mengalami hal yang serupa atau mirip?

Tidak Dikenal

Dalam sebuah pertemuan (tentang cybersecurity) ada seseorang yang berkata kepada saya, “Pak, sering-sering muncul. Soalnya banyak anak muda yang gak kenal bapak”. Saya jawab, “Ah biar saja. Di dunia musik juga banyak anak muda yang gak kenal the Beatles kok.”

Mestikah dikenal? Tidak juga.

Namun bagi saya, mengenal orang yang lebih dahulu “menebas hutan” di sebuah bidang itu perlu diketahui. Ada banyak heroes yang memberikan inspirasi kepada generasi yang lebih muda agar berkarya. Dalam bidang musik, the Beatles merupakan salah satu yang menginspirasi banyak orang – yang akhirnya menjadi legenda-legenda juga.

Saya? Apalah …

Bacaan Science Fiction

Di bagian dunia sebelah Barat sana, membaca buku-buku science fiction bukanlah hal yang aneh. Di Indonesia, ini adalah sebuah hal yang tidak lazim. Jangankan membaca buku science fiction, membaca buku saja sudah merupakan hal yang tidak lazim. Itulah sebabnya seringkali saya merasa salah tempat – misplaced. Seharusnya saya tinggal di dunia Barat sana, yang mana memang saya pernah selama lebih dari 10 tahun (mendekati 11 tahun). Namun tinggal di Indonesia jauh lebih menyenangkan bagi saya.

Bacaan science fiction ini sering membuat saya berpikir tentang hal-hal yang “ajaib”, yaitu hal-hal di masa depan yang terkait dengan teknologi. Mungkin itu merupakan salah satu alasan saya tertarik masuk ke jurusan Elektro ketika kuliah di ITB dahulu. Ternyata yang terpesona dengan science fiction bukan saya saja. Banyak orang – terutama di dunia Barat – yang terinspirasi oleh science fiction (dalam bentuk buku dan film) sehingga menghasilkan karya-karya yang hebat. Bagian ini memang perlu saya elaborasi lebih lanjut dengan contoh-contoh. Sementara ini saya tunda dahulu.

Awalnya saya merasa kesulitan mendapatkan asupan buku-buku science fiction ini di Indonesia karena selain harga buku yang mahal juga harus diimpor dari luar negeri. Ada pula pada masanya Amazon tidak mau mengirimkan buku ke Indonesia karena banyaknya penipuan (fraud) kartu kredit di Indonesia. Barang yang dibeli dari Amazon dengan menggunakan kartu kredit colongan. Jadinya Indonesia dikucilkan oleh Amazon. Makin susah lagi. Untungnya kemudian terjadi perkembangan teknologi sehingga buku berubah menjadi ebooks. Yang ini menjadi memungkinkan untuk diperoleh di Indonesia (secara legal dan ilegal). Singkat kata, asupan science fiction bagi saya bukan masalah lagi. Yang masalah justru adalah mencari waktu untuk membaca.

Yang menarik bagi saya adalah bahan bacaan saya ternyata sama dengan bacaan orang-orang di luar negeri. Jadi berada di Indonesia tidak menjadi hambatan sama sekali. Yang masih menjadi hambatan adalah menemukan orang-orang Indonesia yang sama-sama suka dengan science fiction.

Baru-baru ini saya beres membaca buku “Snow Crash” karangan Neal Stephenson. Sebetulnya sudah lama saya memiliki buku ini, tetapi membacanya yang lama. Selain waktunya yang sulit saya alokasikan juga banyak istilah-istilah bahasa Inggris yang menurut saya terlalu cultural. Harus punya mindset orang Amerika baru paham. (Mungkin.) Tapi itu tidak menjadi halangan besar sih. Hanya saya berharap bahwa para penulis juga paham bahwa pembacanya banyak yang berasal dari kultur lain. Di dalam buku ini diceritakan tentang konsep Metaverse dan hal-hal lain terkait dengan itu. Jika kita hidup secara online (dan offline) banyak hal yang saling terkait. Bahkan virus yang terjadi di dunia online dapat merasuki kehidupan offline kita. Nah untuk berdiskusi tentang konsep ini di Indonesia sangat susah menemukan komunitasnya. Padahal saya ingin bertukar pendapat dengan orang-orang yang satu frekuensi.

Anyway, ini adalah curhatan saya pagi ini. Selamat ngopi.

Tenar tapi Boncos

Dahulu saya punya pemahaman bahwa orang-orang yang terkenal itu kaya. Setidaknya tidak miskin. Lama kelamaan saya mulai melihat bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang yang terkenal tapi sebetulnya malah miskin.

Image

Permisnya begini. Banyak orang yang ingin terkenal karena nanti kalau sudah terkenal, keterkenalan itu dapat digunakan untuk bisnis. Untuk mendapatkan leads. Atau langsung dapat duit. Mungkin ini ada yang benar, tetapi pada kenyataannya banyak yang tidak terbukti. Alasannya adalah untuk menjadi terkenal, dibutuhkan modal. Ini kita bicara bukan untuk yang bayar iklan atau mempromosikan lho. Itu sih sudah pasti keluar uang untuk promosi kita. Untuk sekedar datang ke acara dimana kita menjadi pembicara itu membutuhkan biaya; untuk transportasi dan akomodasi. Belum lagi waktu kita yang hilang untuk memenuhi acara tersebut. Ada lost of opportunities. Pernah saya diminta untuk ke sebuah acara TV dan ternyata ongkos transportasi saya yang nanggung. Ha ha ha. Dikira saya dapat honor, tetapi ternyata tidak. Tekor.

Saya kenal banyak orang yang tidak terkenal tetapi secara keuangan justru malah melimpah secara finansial. Mereka tidak tertarik untuk muncul di depan lampu sorot. Spotlight. Soalnya nanti kalau terkenal justru malah banyak yang “minta bantuan” ini dan itu. Benar juga. Mereka hidup sederhana. Modest. Okelah, di atas sederhana sih, tetapi tidak menonjol seperti kebanyakan selebriti atau celebrity-wannabe.

Ada masanya – ketika saya masih muda dulu, uhuk – saya muncul di berbagai acara. Menjadi pembicara di sana sini. Bukan karena ingin terkenal, tetapi karena memang sedang dicari saja. Kalau sekarang, saya lebih senang menjauh dari lampu sorot. Biasanya kalau ada yang meminta saya menjadi pembicara atau tokoh, saya arahkan ke orang lain saja (yang lebih muda yang mungkin lebih membutuhkan spotlight tersebut – eh jangan-jangan ini malah mendorong mereka ke sungai ya? ha ha ha. maaf).

Kalau dari sisi bisnis, cashflow itu lebih penting dari ketenaran. Iya secara teori ketenaran itu bisa menghasilkan cuan. Meningkatkan cashflow. Tapi, lagi-lagi ini seringkali masih teori. Bukan kenyataan. Jadi kalau saya sarankan, perhatikan cashflow. Harus balanced antara muncul di publik dan kesehatan keuangan. Kalau lagi seret, fokus di menjalankan bisnis dulu daripada populer.

Mahasiswa Bertanggungjawab

Ceritanya minggu lalu saya tidak bisa hadir mengajar di kelas karena sudah ada acara yang sebelumnya diagendakan sebelum kelas. Jadinya terpaksa kelas saya tinggal. Namun saya berikan tugas kepada mahasiswa untuk membahas soal-soal UTS sesama mereka. Saya minta mendokumentasikannya. Ini adalah fotonya. (Mata kuliahnya adalah Sistem Digital, STEI, ITB.)

Image

Ternyata mahasiswa-mahasiswa kita masih bisa diberi tanggungjawab. Mereka dapat dilepas dan diberi tugas secara mandiri. Ini sebetulnya pelajaran bagi mereka; apakah mereka bisa melaksanakan tugas meskipun tidak diawasi. Jawabannya: bisa! Meskipun ini terlihat seperti kecil, tetapi bagi saya ini merupakan hal yang penting. Mungkin mereka belum bisa merasakannya. Di kemudian hari baru mereka bisa mengatakan, kok bisa ya? Kok bisa ya kita-kita melakukan hal yang benar ini. Nah.

Giliran berikutnya, saya menolak untuk hadir di sebuah acara yang sangat keren (saya diminta untuk menjadi juri) karena saya harus mengajar kelas ini. Giliran saya untuk memberikan komitmen saya kepada kelas ini. Respect menghasilkan respect.

Semangat!

(Masih) Gagal Jadi Penulis Novel

Salah satu cita-cita saya yang belum kesampaian adalah menjadi penulis novel science fiction. Memang ini sesuatu yang tidak mudah, tetapi bagi saya hambatannya sangat besar dibandingkan keinginan lainnya.

Apa yang mengganjal? Cara saya menulis. Saya menulis terlalu straight forward. Langsung jebred. Sebagai contoh, ketika menceritakan tentang kondisi di depan rumah saya saat ini langsung saya katakan “Pagi ini cerah sekali”. Sudah begitu saja. Padahal saya bisa bercerita dengan lebih rinci tentang hal itu.

Minggu pagi ini udara di rumah saya sangat cerah. Suhu di luar mungkin hanya 22 C. Bagi yang terbiasa tinggal di kota Bandung, suhu seperti ini sangat nyaman. Tidak panas dan tidak dingin. Bagi yang hidup di Jakarta, mungkin suhu seperti itu terasa dingin ya. Apalagi saat ini ada angin yang berhebus sepoi-sepoi. Segar. Kebetulan di depan rumah ada tanaman yang cukup tinggi dengan daun yang cukup lebar sehingga keberadaan angin itu menjadi terlihat. Daun-daun melambai-lambai mengajak kita untuk beraktivitas di luar. Jalan kaki atau sekedar bertemu dengan matahari pagi. Sementara itu saya masih duduk di dalam rumah dengan secangkir kopi dan sebuah buku. Ini justru aktivitas yang paling saya sukai.

Mungkin harusnya menulis seperti itu ya. Harus lebih banyak belajar sabar menulis nih.

Versi podcast-nya ada di sini: https://youtu.be/vdmKMZYHxsQ

Keterbatasan Sumber Daya

Banyak orang yang mengira bahwa keterbatasan sumber daya (resources) itu hanya terjadi kepada dirinya sendiri (atau lingkungan dia sendiri). Bahwa di tempat lain ada resources yang lebih banyak. Apalagi kalau kita melihat bahwa di tempat lain kelihatannya lebih banyak kekayaannya. Saya juga dulu berpikiran demikian, tetapi ternyata saya salah.

Pada suatu ketika, saya ngobrol dengan seseorang “alumni” dari sebuah perusahaan yang sangat besar. Perusahaan global. Dia waktu itu sudah pensiun tapi masih sering punya ide-ide. Dalam diskusi itu dia bercerita bahwa dia pernah menyembunyikan sebuah inisiatif di dalam perusahaannya. Inisiatif ini pernah diangkat tetapi tidak disetujui oleh para pimpinan. Dia masih yakin bahwa inisiatif yang dia lakukan itu bagus untuk perusahaan. Dia teruskan inisiatif itu secara diam-diam. “Skunk work”, istilah dia. (Maknanya ini sebetulnya adalah inisiatif yang bisa bikin bau.) Untuk menjalankan inisiatif itu tentu saja dia tidak dapat menggunakan resources perusahaan. Ya itu sebabnya dia juga kekurangan sumber daya ketika mengeksekusi idenya.

Baru saja saya selesai membaca bukud “Liftoff” yang bercerita tentang awal-awal perusahaan SpaceX, yang didirikan oleh Elon Musk. Pada masa-masa itu mereka tidak banyak memiliki sumber daya. Ini perusahaan startup. Padahal perusahaan ini targetnya adalah roket yang bisa ulang-alik. Luar biasa susahnya. Ternyata sumber daya yang mereka miliki sangat terbatas sehingga mereka harus sangat kreatif dalam mencari solusi.

Cerita-cerita (yang sebetulnya adalah kenyataan) tersebut membuat mata saya terbuka bahwa semua orang – semua perusahaan – memiliki keterbatasan sumber daya. Jadi bukan kita saja yang sumber dayanya terbatas. Jadi kalau alat kerja kita terbatas, ya kita lakukan yang semaksimal mungkin. Inilah yang selalu saya lakukan.

Tetap semangat meskipun sumberdaya terbatas!

Tidak Ada Uang Receh

Sekarang saya kesulitan mencari uang receh untuk diberikan ke “pak Ogah”. Itu lho orang-orang yang sering membantu kita mengatur lalu lintas di jalanan. (Tentang perlunya pak Ogah atau tidak ini bisa menjadi pembahasan tersendiri.) Biasanya pak Ogah ini saya kasih 500 perak atau 1000 perak. Nah ini membutuhkan uang recehan dalam bentuk koin. Yang 1000-an masih ada uang kertasnya tapi sudah jarang saya temukan.

Sekarang orang sudah lebih suka menggunakan QRis sebagai cara pembayaran. Recehan pun dia bisa. Jadi orang-orang tidak menyimpan atau menyakui uang receh lagi. Toko dan warungpun sekarang sudah tidak punya receh.

Jadi apakah pak Ogah harus pakai QRis juga?

Mimpi Beneran vs. Mimpi Khayalan

Apa bedanya mimpi beneran dan mimpi yang tidak beneran, alias mengkhayal? Beberapa hari yang lalu saya mimpi beneran. Malam hari. Pagi-pagi masih ingat mimpinya, tapi sekarang sudah lupa. Nah mimpi beneran itu seperti itu. Lewat sebentar langsung lupa.

Mimpi khayalan itu berbeda dengan mimpi beneran. Hari ini bisa mengkhayal jadi astornot ke bulan. Beberapa hari kemudian, atau bahkan bulan, mimpinya bisa bertambah. Sekarang mimpinya jadi astronot yang terbang menuju Mars. Nah ini mimpi yang khayalan.

Banyak orang yang ternyata tidak bisa bermimpi khayalan. Saya tanya kenapa? Katanya kehidupan sehari-harinya sudah susah. Jadi yang terbayang adalah kesulitan hidup. Lho? Bukannya mengkhayal itu merupakan salah satu hiburan untuk mengurangi beban kesulitan hidup?

(Orang) Teknis vs. Bisnis

Seringkali saya menemukan orang teknis yang jagoan tetapi tidak dapat menjelaskan dengan baik sehingga orang bisnis jadi bingung. Orang teknis tidak paham apa yang diinginkan oleh orang bisnis. Misal orang bisnis minta data statistik yang bisa dianalisis oleh merek, tapi yang dikasih oleh orang teknis malah data teknis. Puyeng lah.

Orang teknis perlu dibenahi dengan soft skill.

Kemacetan Yang Menggila

Hari Selasa yang lalu saya pas kebetulan berada di Jakarta. Hari Seninnya kan dibawa libur setelah 17 Agustusan. Jadi hari Selasa adalah hari pertama bekerja. Nah, pas sorenya saya pulang ke daerah Kokas, macetnya luar biasa. Dari SCBD ke Kokas mall itu membutuhkan waktu 1 jam dengan taksi.

Kemarin – hari Kamis – saya di Bali untuk acara Coinfest Asia 2025. Ini nanti harusnya jadi cerita yang terpisah. Saya memilih menginap di daerah Seminyak. Sementara acaranya di daerah Luna Beach. Acara dimulai siang hari, sementara saya putuskan untuk berangkat pagi saja. Melihat situasi, saya putuskan untuk naik motor go-ride saja. Dan ternyata memang pilihan yang pas. Muaceeettt luar biasa. Daerah Canggu yang menurut saya macetnya paling parah. Akhirnya sampai juga ke sana.

Yang lebih parahnya adalah pulangnya. Dari Luna Beach itu ke Seminyak, saya pilih lagi naik motor go-ride. Ternyata lebih dari 1 jam!!! Pantat ini sampai tepos. Padahal itu juga sudah melewati jalan-jalan tikus. Kalau tidak, bisa-bisa 2 jam naik motor. Luar biasa lah kemacetannya.

Melihat situasi ini, saya jadi teringat kembali kenapa saya tidak suka Jakarta. Macetnya. Sama, ternyata saya jadi tidak suka Work from Bali karena kemacetannya ini. Sudahlah di Bandung saja. Eh, Bandung juga sudah macet lho. Tapi masih belum segila Jakarta dan Bali. Phew.