Hari ini, enam hari menjelang hari raya Idul Fitri 1434 H, dimana banyak rekan sudah memasang status dalam perjalanan ke kampung halaman masing – masing, saya tetap duduk tenang berada di ruangan seperti biasa menunggu maghrib datang karena jadwal saya pulang masih sehari kemudian. Tanpa disangka sekitar pukul 5, tepat satu jam menuju waktu berbuka, tiba – tiba datang seseorang yang tampak asing datang menuju ruangan, beberapa kali dia bolak balik keluar ruangan seperti mencari seseorang. Karena sepertinya tidak menemukan yang dicari akhirnya dia mendatangi meja saya dan mengatakan tujuannya mencari Pak Joshua yang katanya akan kembali ke ruangan ini sebentar lagi. Saya yang sedang asyik membangun kota, langsung menutup dan mencoba membuka percakapan dengan mengenalkan diri. Namanya Beni, mahasiswa pascasarjana beasiswa PLN di ITB yang sekarang kuliah di Twente Belanda, dan Pak Joshua adalah pembina tesisnya. Wow keren (dalam hatiku berkata), lumayan sambil nunggu berbuka bisa ngobrol dengan mahasiswa yang dapat beasiswanya PLN (hatiku berbicara lagi). Tapi tidak berapa lama, terdengar langkah kaki dan percakapan 2 orang yang keras sekali menuju ke arah ruangan, ternyata Pak Suryadi dan Pak Helmi lewat, kemudian menanyakan kapan mudik ke kampung halaman. Saya jawab besok, dan akhirnya saya dan Mas Beni diajak Pak Suryadi ke Ruangan Pak Nur untuk mengucapkan selamat ulang tahun, karena hari ini beliau berulang tahun yang ke-52 (hatiku berkata, wah enak lumayan gratisan, langsung terbayang makan enak prasmanan). Sebenarnya Beliau ingin mengajak yang lainnya juga, tetapi karena ruangan memang sudah kosong, akhirnya hanya kami berempat yang menuju lantai sembilan.

Sesampainya di lantai sembilan, Pak Suryadi dan Pak Helmi langsung bersalaman, diikuti Saya dan Mas Beni di belakang, dengan hati deg – deg ser saya masuki ruangan yang ternyata tidak semewah yang saya bayangkan (bahkan sepertinya lebih mewah ruangan atasan di salah satu pembangkit). Setelah mengucapkan selamat saya pikir langsung diminta menunggu di luar, tapi ternyata tidak, Saya dan Mas Beni dipersilahkan duduk juga, sambil mendengar obrolan antar atasan yang beberapa saya tidak mengerti terutama di bagian gas. Ngobrol ngalor ngidul akhirnya sampai juga mendekati waktu maghrib, dan setelah sepertinya mereka kehabisan bahan obrolan Mas Beni ditanya oleh Pak Nur, Dia itu darimana? Dia jawab dia pegawai yang mendapat beasiswa untuk tugas belajar di ITB dan karena dia jadinyang terbaik, dia bisa sekolah lagi di Twente. Dari sinilah pembicaraan mulai berlangsung seru, komparasi kelistrikan di Indonesia yang berbasis subsidi dengan Eropa yang berbasis pasar dibahas. Walaupun menurut saya tidak bajaj to bajaj, saya bersyukur ketika mendengar ekonomi Indonesia saat ini melaju lebih kencang dari beberapa negara di Eropa (terutama Belanda tempat Mas Beni melanjutkan studinya), di Eropa lapangan pekerjaan menyempit, kalaupun ada kebanyakan tidak sesuai bidang atau gajinya tidak mencukupi untuk gaya hidup orang Eropa, Jaminan Sosial yang dulu diagung-agungkan bangsa Eropa (sejak SD kita pasti sering mendengar bahwa yang tidak bekerja pun dapat gaji dari Pemerintah) saat ini sudah mulai goyah, mungkin kondisi mereka hampir sama seperti kondisi negara kita di tahun 98 – 2002. Dan yang paling utama adalah biaya listrik mereka yang sangat mahal 0,26 sen Euro/kWh setara Rp 3.000,-/kWh, dibandingkan negara kita yang hanya 0,4 sen Euro/kWh setara Rp. 500/kWh alias negara kita listriknya 6 kali lebih murah dari Eropa. Hal inilah yang membuat masyarakat kita terbuai, harga yang terlalu murah membuat kita memboros-boroskan energi seenaknya, lampu tetap menyala di siang hari, AC tetap menyala walau tidak ada orang, TV terus hidup walaupun kita tidur. Akibat dari buaian ini, listrik digunakan secara tidak bijak dan tidak produktif, berbeda dengan Masyarakat Eropa yang mulai menerapkan konservasi energi dan mengembangkan energi baru terbarukan (angin dan surya) dengan harga yang bersaing serta mereka benar-benar memanfaatkan energi secara lebih bijak, dan tidak menghambur-hamburkan energi untuk hal yang tidak perlu.

Akhirnya tanpa terasa obrolan berhenti di Jam 18.30, dan Mas Beni , mendapat kartu nama Pak Nur dan beliau meminta dikirim email dari Mas Beni. Mungkin inilah hikmah pulang mudik lebih telat, bisa mendengar obrolan tentang dunia yang saat ini saya geluti. Listrik.

P.S

Dapat quote menarik dari Pak Sur dan Pak Nur

“Yang menentukan karir dan kehidupanmu bukanlah orang lain (atasan, rekan, bawahan) tetapi dari dirimu sendiri”
Quote tersebut seperti resonansi dari Rumi
“Ketika kuketuk pintu itu tidak terbuka, kuketuk beberapa kali tidak terbuka juga, akhirnya kusadari aku telah berada di dalamNya”

Hari ini setelah shalat dzuhur dapat sms dari sebuah nomor yang tidak dikenal yang isinya “kepada seluruh peserta seleksi beasiswa karyawan BUMN 2013 diharap melihat pengumuman yang berhak menerima beasiswa melalui www.pascafeui.ac.id” , dengan segera saya bergegas dari Masjid menuju meja sambil harap-harap cemas apakah hari ini beruntung mendapat hadiah atau tidak. Tidak berapa lama terbukalah halaman web tersebut dan sayangnya hari ini tidak beruntung,nama saya tidak tercantum dalam daftar peserta penerima beasiswa. Seperti biasa 10 menit pertama lemes, gairah menghilang, berpikir apa ya jawaban wawancara kemarin yang tidak pas, dan pikiran-pikiran aneh lainnya.
Akhirnya daripada mengutuk kegelapan, lebih baik pengalaman kegagalan ini dituangkan sebagai pelajaran ke depan semoga lebih baik daripada hari ini. Flashback ke minggu lalu,mengingat-ingat kembali wawancara, waktu itu jam 10 akhirnya tiba giliran saya. Dari luar terlihat di dalam ruangan sudah siaga 2 orang pewawancara wanita yang satu terlihat berumur dan satunya lebih muda, sepertinya yang berumur adalah calon dosen kita di jurusan yang diambil dan yang lebih muda asistennya atau dosen muda. Setelah dipersilahkan duduk, mulailah saya memperkenalkan diri kepada penguji tadi. Pertanyaan pertama dari mereka “Apa yang tujuan anda belajar disini?”, segera saya jawab berapi – api sesuai dengan essai yang telah saya tulis, bahwa PLN ini perusahaan yang harga jualnya ditentukan pemerintah, tapi harga beli bahan bakarnya ditentukan oleh pasar, dari situlah muncul hantu menakutkan bernama subsidi atau istilah kerennya Public Service Obligation (PSO). Inilah tujuan awal saya ingin belajar disini yaitu bagaimana memformulasikan agar PLN bisa tetap untung tapi dengan subsidi yang minimum atau kalau bisa tanpa subsidi dari Pemerintah. Melihat jawaban tersebut pewawancara langsung tersenyum (mungkin dalam hati mereka berkata, hebat sekali anak ini, atau kalau tidak ni anak mungkin mabuk). Setelah itu, pertanyaan selanjutnya tidak jauh dari jawaban saya “hal apa yang bisa dilakukan oleh seorang Rinaldi Rusli, padahal Presiden dan Direktur Utama PLN saja masih bergelut dengan Subsidi?” Dan sejak pertanyaan kedua inilah jawaban saya sudah mulai ngalor ngidul gak jelas, memang seperti orang mabuk hehehe :).
Mungkin itulah penyebab kegagalan saya, terlalu mengambil materi yang terlampau besar, sebaiknya yang kecil – kecil saja tapi fokus:). Tapi secara keseluruhan melalui wawancara tersebut saya cukup puas dapat sharing bersama 2 orang tersebut mengenai kondisi energi primer yang harganya masih berdasar harga pasar, yang tentu saja memberatkan terutama dari Biaya Pokok Penyediaan PLN. Meskipun gagal, saya cukup puas telah sampai pada titik ini, hal-hal positif yang bisa diambil dari kegagalan ini adalah saya masih perlu lebih banyak belajar lagi, bisa mengenal teman-teman baru, dan lebih fokus lagi kepada keluarga dan ankku yang sekarang sedang lucu-lucunya, serta yang paling utama tidak perlu capek belajar lagi setelah sebulan kemarin otak diperas habis-habisan saatnya sekarang bersenang-senang dengan wii. Alhamdulillah, Gagal.

PS:

Ternyata hari ini setelah membuka www.penerimaan.ui.ac.id saya tidak sepenuhnya gagal, sebenarnya diterima tetapi tanpa beasiswa, mungkin memang belum beruntung tahun ini.

Diterima

Kebetulan, itulah kata kunci yang saya alami selama beberapa bulan ini. Kebetulan pertama adalah secara tidak sengaja saya membaca sebuah majalah yang berisi formulir pendaftaran beasiswa di UI, dari titik inilah yang kemudian membawa kepada sebuah keputusan untuk mulai mengejar tujuan baru yang selama ini masih kabur. Kebetulan kedua, saya menemukan kembali buku favorit karya Paulo Coelho “The Alchemist” dan tepat pada bagian yang saya baca pada saat itu ada kalimat yang menyebutkan “Membuat sebuah keputusan hanyalah permulaan. Bila sesorang membuat keputusan, sebenarnya dia menyelam ke dalam arus kuat yang akan membawanya ke tempat – tempat yang tak pernah dia bayangkan saat pertama kali membuat keputusan itu”. Ternyata kalimat tersebut memang cocok, yang seolah membawa ke kebetulan ketiga, waktu itu dalam sebuah undangan open house PPIM saya dipertemukan oleh beberapa rekan PLN yang turut serta dalam beasiswa tersebut. Dan sebagai sesama rekan satu rumah, Wijoyo sebagai promotor dia berinisiatif agar rekan – rekan PLN belajar bersama dalam menghadapi ujian yang akan dijalani pada 30 Juni 2013. Yang membuatku hormat dari Wijoyo ini adalah semangatnya, dia sangat “all out” dalam menghadapi ujian ini tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga mendorong rekan – rekan lainnya agar bisa lolos dalam ujian nanti. Bahkan dia juga bersedia meminjamkan CD Kumpulan TOEFLnya dan sampai sekarang belum sempat kukembalikan :(.

Akan tetapi karena tugas yang menumpuk di Batubara, sehingga rencana Wijoyo untuk belajar bersama setiap malam sepulang kerja tidak bisa dilaksanakan. Belajar mandiri sampai hari ujian hari H, itulah yang kukatakan dalam hatiku. Berbekal CD TOEFL dan Buku TPA, tiap malam saya sisakan waktu 2 jam untuk mencatat dan berlatih soal – soal TOEFL, selain itu juga mencari pengalaman beberapa teman yang pernah ujian TPA dan TOEFL UI. Hingga akhirnya tibalah tanggal 30 Juni 2013, berangkat dari blok M jam 5.30 pagi ketika matahari masih tersipu malu untuk menampakkan diri, akhirnya saya tiba di FISIP gedung H jam 6.15. Meski masih pagi ternyata di sana sudah banyak orang yang stand by untuk mengikuti ujian yang akan dilaksanakan jam 7. Ternyata yang ikut banyak juga dan beberapa dari mukanya kelihatan berumur tetapi tetap semangat untuk mengikuti ujian.

Ujian hari ini diadakan 2 sesi, sesi pertama adalah Tes Potensi Akademik (TPA) yang berlangsung selama 150 menit yang dibagi menjadi 3 bagian ujian yaitu Ujian  Kemampuan Verbal 50 menit, Matematika Dasar 50 menit dan Logika Dasar 50 menit.  Jam 7 pagi seluruh peserta sudah diminta memasuki ruang ujian, perlengkapan yang ada di depan meja hanya dibolehkan alat tulis dan kartu peserta, selain benda – benda tersebut dilarang bahkan jam tangan juga dilarang.Panitia selanjutnya menerangkan aturan – aturan dalam ujian bahwa untuk ujian TPA soal yang salah dikurangi 0.1, dan dilarang membalik bagian soal yang belum waktunya.

Baca entri selengkapnya »

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai