Coretan

Virtual relationship

It’s been 4 months since I came to this country, a small country which is contains 400.000 population. A country that teaches you how to have slow living hehe. I was bored at the first time, but I would talk about it later. This last two months I try to find any relationship using dating apps, because according to statistic, this country can be categorized as safe country, so I thought meeting new people will less scarier for an overthinking woman like me.

Finding friends or more in dating apps is such a hard work for me, it’s not easy at all except you already got natural talent to attract people to you. You need to invest your time to the person you are talking to. You need to keep the conversation going. It’s easier when you just talking for a day or two because you still have lots of curiosity, but it will be another thing when you try to make the conversation keeps going for months.

Why it’s hard? For me because in natural we don’t have anything in common to talk to, coz we never had same experience. We are not really profitable for each other in real life and we need to guess about the boundaries coz we don’t really know about this person personality. And one more thing, we never know about other people intention, even us, sometimes we dunno what we are looking for. May be you want something serious, but still, you don’t want to be serious just with anybody. Even you found someone who put handsome and decent photos in their profiles, but not every handsome and decent person will vibe with your personality. Or may be you found someone who nice, but then you realize that sometimes we need more than a nice people.

Too much match isn’t a good thing either, coz build relationship need times, and you would waste your time if you try to talk to everyone who match with you. In other hand, not everyone will suit with your type of texting, and also sometimes you just don’t feel the vibes with people on the other side. You may interest with someone you’re talking to but sometimes it’s just how you picturing them, because you never meet them in real life. And if no one never ask to meet, than you won’t see the point of talking all that time.

I thought in every relationship “being beneficial for each other” is something that should be present.

When we talk about people in their 30’s, they can have very opposite point of view at something, and because you use dating apps, actually you live near but you just don’t want to add another variable to your stable life. Coz meeting a new friend is refreshing but maintain a new friend is frustrating if not vice versa.

Building a relationship needs sacrifice from everyone who involved in it, sacrifice to adapt with their personality, their way of talks, their way of life, their way sees things, their hobbies, and also their values. If I can add one more, we need to have same goal. If we already see the same goal to reach, everything will be easier.

Adulting

Perpanjang SIM Online atau Offline, Pilih Mana?

Saat ini perpajang SIM sudah bisa dilakukan secara online dengan menggunakan aplikasi terbaru dari Polri yaitu Digital Korlantas. Anda bisa mendapatkan aplikasi tersebut di Playstore atau Appstore. Karena online is my thing… saya mencoba untuk melakukan perpanjangan SIM A dan C saya menggunakan aplikasi tersebut.

Pada aplikasi Digital Korlantas sendiri sebenernya terdapat berbagai macam fitur, meliputi pengajuan SIM Nasional, SIM Internasional, STNK (yang ini saya masih bingung, karena Polri juga mempunyai aplikasi SIGNAL yang digunakan untuk pembayaran pajak STNK tahunan), Tilang elektronik dan NTMC. Well, saya tidak tahu banyak fitur-fitur yang lain, tapi yang baru bisa digunakan saat ini salah satunya adalah menu untuk perpanjangan SIM (icon SINAR).

Beberapa hal yang perlu diketahui jika perpanjangan SIM secara online antara lain sbb:

  1. Pastikan bahwa SIM anda masih berlaku ketika akan melakukan perpanjangan secara online
  2. Anda harus mengikuti 2 tes yaitu tes kesehatan dan tes psikologi
  3. Untuk tes kesehatan anda harus melakukan instalasi aplikasi E-Rikkes pada smartphone anda, kemudian melakukan pendaftaran tes kesehatan pada aplikasi tersebut. Anda bisa memilih lokasi fasilitas kesehatan yang anda inginkan untuk pemeriksaan dan juga waktu kedatangan. Jadi anda harus menyediakan waktu untuk secara offline datang ke lokasi tersebut. Kemarin saya memilih fasilitas kesehatan di Polres Depok dengan biaya 25.000 IDR
  4. Untuk tes psikologi anda harus melakukan instalasi aplikasi e-PPSi dan mengikuti tes secara online dari aplikasi tersebut. Biaya untuk tes psikologi sebesar 27.000 IDR
  5. Setelah di kedua tes tersebut anda dinyatakan lolos maka anda bisa melakukan perpanjangan SIM secara online menggunakan aplikasi Digital Korlantas (pilih icon SINAR dan menu Perpanjang SIM)
  6. Biaya Perpanjang SIM A adalah sebesar 80.000 IDR, dan SIM C 75.000 IDR
  7. Biaya lain-lain yang harus anda keluarkan ketika melakukan pengurusan secara online adalah Biaya Jasa Online 10.000 IDR dan biaya pengiriman (kebetulan lokasi rumah saya juga di depok) sebesar 24.400 IDR
  8. Pengiriman SIM tidak bisa dilakukan secara bersamaan, jadi walaupun anda melakukan perpanjangan SIM A dan C secara bersamaan maka pengiriman SIM tetap dilakukan terpisah.
  9. Pengiriman SIM yang baru sampai tiba di rumah anda sekitar 7-8 hari.
  10. Total Biaya yang dikeluarkan untuk perpanjangan SIM A dan C secara online sebesar 275.800 IDR

Bagaimana jika melakukan perpanjangan SIM secara offline, maka secara prosedur menurut saya pribadi lebih sederhana

  1. Lakukan tes kesehatan di fasilitas kesehatan Polres dengan biaya 25.000 IDR
  2. Anda tidak perlu melakukan tes psikologi jika melakukan perpanjangan SIM secara offline
  3. Biaya perpanjangan SIM mengacu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2016, jadi sama antara Online maupun Offline
  4. SIM bisa langsung jadi di hari itu juga
  5. Total biaya yang dikeluarkan untuk perpanjangan SIM A dan C secara offline sebesar 180.000 IDR

Dari pengalaman pribadi dan perbandingan di atas, terkait kecepatan dan biaya maka pengurusan SIM secara Offline masih lebih nyaman dilakukan.

Coretan

Kedaluwarsa

Menyadari dan semakin menyadari bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk mengumpulkan barang, dengan berbagai alasan pembenaran tentunya.

Image

Mumpung harganya sedang murah, mumpung sedang diskon, mumpung lagi disini, mumpung ada uangnya… dan contoh pembenaran lain seperti: mungkin nanti perlu, mungkin nanti ga nemu lagi barang seperti ini, mungkin nanti berguna, mungkin nanti bisa diberikan kepada orang lain, mungkin nanti harganya akan naik dan lain sebagainya.

Padahal keniscayaan dalam hidup adalah selalu berubah, apa yang kita pikirkan sekarang, apa yang kita yakini benar sekarang belum tentu sama satu tahun yang akan datang, bahkan bisa berubah dalam hitungan bulan, harian atau jam. Merencanakan tentu perlu, tapi berlebihan ternyata… saya tidak tahu, apakah bisa saya katakan tidak baik, yang pasti ketika berlebihan maka kita harus siap dengan risiko yang akan datang pula di masa depan.

Ketika saya tinggal di Roma beberapa tahun silam, saya mulai membeli beberapa barang yang saya harapkan tidak perlu lagi saya beli ketika di Indonesia. Alasannya sederhana, karena di Indonesia penghasilan saya tidak sebesar di Roma, karena di Indonesia mungkin harga barang ini akan lebih mahal, karena di Indonesia saya harus lebih bijaksana dalam segala pengeluaran… kenyataannya… saya pikir saya menghabiskan lebih banyak uang dari yang seharusnya.

Sekarang.. saya melihat barang yang saya beli benar-benar “tidak berguna”. Jam tangan, bahkan sampai baterainya habis belum pernah saya gunakan. Sepatu, karena terbuat dari kulit dan disimpan lama maka sudah rusak bahkan sebelum dipakai. Tas, sampai saat ini ada yang belum pernah saya buka dari kotak penyimpanannya. Skincare, karena mahalnya malah jadi tersimpan tanpa terpakai. Well, stupid isn’t?

Ketika saya mulai mengurangi barang-barang yang ada di rumah, puluhan barang yang saya belinya pakai “uang” ini sudah banyak yang kedaluwarsa. Mau tidak mau barang itu harus dibuang, karena apa poinnya menyimpan?. Bahkan menjualnya kembali pun bukan jalan termudah, ada usaha yang harus dilakukan untuk mempromosikan barang tersebut, untuk membalas chat calon pembeli yang pada akhirnya tidak jadi beli, atau harus melepas dengan harga yang jauhhh dari uang yang sudah kita keluarkan.

Ternyata banyak yang harus kita lakukan di balik membeli “barang”. Karena ternyata itu proses yang panjang. Tanggung jawab kita tidak berakhir ketika kita membeli barang dari toko tersebut, kemudian membawa ke rumah dan menyimpannya. Tanggung jawab berikutnya adalah kapan barang itu digunakan, kapan barang itu sudah tidak bisa digunakan, kapan kita sudah tidak mau menggunakan, kapan barang itu harus keluar dari rumah kita, apakah di jual, apakah dibuang ke tempat sampah, apakah diberikan kepada orang lain, apakah bisa dijual kembali. Yap, sebanyak itu tanggung jawab yang ada.

Bijak membeli barang tentu bukan hanya bagaimana kita mengelola keuangan kita, tapi juga bagaimana kita bijak bertanggung jawab pada barang tersebut dari awal digunakan sampai dengan akhir penggunaan.

Menyadari lagi…. bahwa kebahagiaan saya justru dengan melihat salah satu barang yang saya gunakan sampai rusak. Melihat sepatu yang hampir 3 tahun ini saya gunakan dan sudah mulai mengelupas. Melihat skincare saya habis sampai tetes terakhir. Melihat baju anak saya sudah mulai kekecilan. Melihat jam tangan saya rusak dan tidak bisa diperbaiki. Kebahagiaan melihat hal tersebut ternyata melebihi kebahagiaan membeli barang-barang yang mungkin harganya lebih mahal tapi tidak pernah dan jarang digunakan.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk lebih bertanggung jawab atas apapun yang kita miliki dalam hidup. Bahwa membeli tidak sekedar uangnya cukup atau tidak. Bahwa tidak ada gunanya “sayang” menggunakan barang yang mahal dan akhirnya tak termanfaatkan sampai kedaluwarsa. Bahwa memanfaatkan barang sampai rusak adalah sebuah kebahagiaan mental dan finansial 😀

Coretan

LOST

Someone asked me what she have to do to go through the lost,  just because I had experienced it, doesn’t mean that I knew how to answer it.

More than 4 years ago, I just landed in CGK and my phone was keep ringing. I knew it, I got the feeling, I shouldn’t open it… but I can not stop my hand to check what happened. I remembered it’s  in the baggage claim area when I knew that I barely become a single mom.

I can’t stop crying, with people staring at me ( I think, but I can’t remember) and with my son that actually dunno what actually happened. He just 1.5 y.o. at that time. Then, I went to the hospital and left to central java for funeral of my son’s dad.

Nights of crying? I don’t think that I had it. May be I just don’t wanna think about it. I want to distract myself. I am too shock with the circumstances that I have to deal, and I dunno what the next thing that I have to do. I just want to be alone and let my self grief and think slowly how to continue the life.

When someone offering to take care of my son and let me continue with what I am doing alone, then I got furious. I am raging. How can you ask a mother to separate with her son? In the lowest point of her life may be. I will take him, wherever I go. I know I am not a super mom, but I can do it. And he’s one of my source of happiness, so just let me with him. In this point I knew, that I have to fight to keep my son. To accompany him through his life. I have to stand high because he just have me now. I have to be tough to make sure nobody will mess with us.

And at that early weeks I can’t barely sleep, I need someone to accompany me, to just talk any usual things with me and make sure I am okey with the process. I need people to just live with me without asking, without directing to what I have to do. Didn’t judge me just because I lay in my bed a whole day, watching TV, read random books. Luckily, at that time I can isolate myself in one of my relative’s house. With the neighborhood who dunno me.. I felt safe. I don’t need to get a pity look from others, I don’t need to answer any question, I don’t need to be nervous when meet someone and they ask about something I dunno wanna talk about. I just want that nobody knew what happened to me. I think that’s the best thing that I can do for myself, to keep me sane and cope with the situation.

Although some people can talk easily about what happened at any time, may be I am not that one. For me, It’s hard to answer when people starts to ask about how did it start, when did it start, am I knew the signs, because when I dunno the answer it’s makes me feel guilty.  I think the best thing that you can do if you have someone grieving is just be there.

May be because that experienced and a realization that no one I can rely on now, I wanna portrait myself as tough as I can. I push myself. I don’t want to be seen as a vulnerable person. And sometimes I found It’s hard and tiring.

After more than 4 years has passed, may be because i more ready i found that it’s also a relief when a friend ask about what happened at that time. I feel listened, I feel lighter and more of that I feel blessed because I have someone who try to understand me even they won’t be really understand.

Back to the question above, how to go through a lost, I think everyone has their own way to deal with grieving. But if I have to answer, just don’t push yourself, don’t think to turn back the time, try to accept it and don’t be guilt to be happy.

Coretan

Return Investasi Terendah

Belakangan ini saya sedang seru belajar tentang investasi, mulai memperdalam tentang Deposito, Sukuk Ritel, Reksadana, ETF, Saham dan juga P2P Lending. Reksadana sendiri ada macam-macam, tergantung dari risiko yang berani diambil oleh investor dan jangka waktu investasi. Rumus “High Risk dan High Return” musti diinget baik-baik oleh para investor ya, jadi harus siap dengan segala risiko tinggi ketika kita mengharapkan return yang tinggi juga.

Oya, saya penganut garis Syariah, jadi investasi yang saya coba dari beberapa produk di atas adalah yang tipe Syariah. Halal? Tentunya. Selain itu, semua tipe investasi di atas bisa kita lakukan secara online, jadi sangat menghemat waktu dan tenaga. Banyak fintech yang sudah menyediakan produk-produk tersebut untuk bisa dibeli oleh para investor, jadi kita tidak perlu datang ke Bank hanya karena akan membeli dan mencairkan deposito.

Image
Belajar Investasi

Bisa kah kaya dari investasi?

Dari berbagai produk yang saya sebutkan, produk yang paling memungkinkan untuk mendapatkan return paling besar adalah dari saham. Dengan risk yang paling besar (apalagi karena pandemi ini), saham juga bisa memberikan return paling tinggi. Bagi pemula, euforia yang mungkin dirasakan ketika mulai berkenalan dengan investasi saham ini antara lain “wah enak nih saham returnnya bisa 20% per tahun” atau kemarin-kemarin nih ada saham yang dalam 2 hari saja bisa naik sampai 10%. Ada juga yang naik 6% dalam satu hari. Padahal untuk produk keuangan lain seperti deposito, SBR atau reksadana pasar uang, return 6% itu didapatkan per-tahun :D. Selain kenaikan yang tinggi banyak pula saham yang mengalami penurunan sangat besar, seperti saham LUCK yang belakangan marak diperbincangkan atau saham BUMI yang direkomendasikan beberapa tahun lalu.

Continue reading “Return Investasi Terendah”