RSS

Rindu Teman Sejati

Dalam sejenak naungan, waktu yang ku benci ini ku ratapi. Serentak hatiku berteriak dengan lantang: “Kenapa waktu disini terasa begitu lama? rasa-rasanya sudah bertahun-tahun aku habiskan waktu di tempat ini, padahal saat masih di tanah air hari-hari terasa cepat”.

Akhirnya akupun terhenyak dan sadar bahwa ternyata selama ini aku hanya menyalahkan waktu. Justru ketidak betahanlah yang membuat semua yang ku jalani ini terasa lama.

Dalam kesunyian Aku kembali merenung hingga hatiku bicara: “Seandainya saja teman-teman sejatiku ikut menemaniku disini, mungkin tinggal dimanapun akan menjadi betah, Karena dengan bersama mereka, aku tak pernah mengenal sedih apalagi rasa kesepian seperti saat ini.

Kawan-kawan, kalian dimana sekarang? Seandainya kalian kini duduk disampingku, sungguh banyak cerita yang mestinya kau saksikan.

Namun jalan kita masih panjang. Akupun masih bnyak yang harus dilakukan. Aku tak mau ketinggalan kalian yang sudah pada sukses dalam karier dan pekerjaan, bahkan ada diantara kalian yang telah melangsungkan pernikahan. Doakanlah aku kawan agar aku segera pulang dan menyusul kalian.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Uncategorized

 

Hati yang Ikhlas

Pagi hari saat kokokkan suara ayam mulai terdengar, akupun terhenyak dari tidurku. Setelah bangun dan berdiri kemudian aku terongok ke arah tikar tempat dimana biasa aku dan teman-temanku tertidur, saat itu kulihat semuanya masih tertidur pulas dan masih terhanyut dalam mimpi-mimpi mereka. Lalu kulihat ke arah sudut lainnya sudut dimana teman terdekatku biasa berbaring, disudut itu yang kulihat hanyalah sehelai selimut tipis miliknya yang sudah tertilap rapi, pikirku mungkin temanku yang satu ini malam ini tidak pulang, karena ku tahu kemarin dia bilang padaku mau mengerjakan tugas sampai larut di warnet Babe.

Mengingat shubuh sudah hampir datang, setelah mandi dan berwudhu akupun segera pergi ke mushola, belum sampai di mushola suara azan sudah berkumandang. Mendengarkan alunan suaranya, sepertinya aku merasa tidak asing dengan suara azan kali ini. Ternyata benar dugaanku, sang muazin ini adalah temanku sendiri. Ternyata sehabis pulang dari warnet itu dia juga sempat pulang dan tidur di kosan, namun seperti biasa, dia selalu bangun lebih awal daripada yang lain. Dialah seorang pemuda yang ku kenal dengan hatinya yang selalu ikhlas. Namun tidak banyak yang tahu bahwa masa lalunya yang kelam itu telah membangun sikapnya menjadi seseorang yang berhati ikhlas.

Sejak balita dia sudah kehilangan sosok ibu, sehingga ia tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu, bahkan bagaimana dan seperti apa sosok ibunya pun ia tidak pernah tahu, namun hebatnya sejak ia masih kecil pun ia tak pernah bersedih melihat teman-temannya ditemani ibu-ibu mereka saat pembagian raport di kelasnya. Dia ikhlas menerima semua kenyataan pahit karena tidak memiliki seorang ibu.

Kemudian saat ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya, bukan kebahagian yang justru ia rasakan, melainkan siksaan dari kekejaman ibu tiri itu yang ia dapati. Bukan hanya itu, seolah si ibu tiri itu begitu membenci kehadiran dirinya, ia pun kerap kali tidak dikasih makan, di perlakukan seperti layaknya seorang pembantu rumah tangga, yang mana ia harus mengerjakan semua pekerjaan ibunya seperti mencuci baju, mencuci piring dan mengepel lantai dalam usianya yang masíh sangat kecil. Lebih-lebih waktu untuk bermain bersama teman-temannya pun sulit ia peroleh. Sungguh malang nasibnya sebagai seorang anak, Namun meskipun demikian, hatinya tetap ikhlas menjalani semuanya.

Setelah menjelang dewasa, ia pun kini sudah hidup mandiri dan berpenghasilan. Sedangkan si ibu tirinya pun kini berbalik mengharapkan belas kasihan darinya. Sungguh luar biasa ia tak lantas menjadi sombong. Ia tetap tidak berubah dengan hatinya yang ikhlas sehingga iapun memaafkan semua kesalahan ibu tirinya itu.

“Sesungguh Allah bersama orang-orang yang ikhlas”. Ambilah cahaya hikmah yang bisa diambil dari cerita ini agar dapat menerangi kita dalam belajar bagaimana menjadi seseorang yang ikhlas dalam menjalani hidup.

 
1 Comment

Posted by on April 12, 2011 in Uncategorized

 

Cahaya Cinta

Secercik cahaya menerangi selubung hati,
datang menghampiri dikala hati kian menyepi,
itukah cahaya yang selama ini aku cari,
yang bernama Cinta dari hati yang tulus dan suci,
Sungguh ini begitu meneruang di hati,
sungguh kini ku dalam kegelisahan diri,
hingga akupun terus hanyut dalam buaian mimpi,
mimpi buah dari harapan hati:
“Seandainya engkau dapat kumiliki, kan ku sayangi engkau sampai mati,
namun memang jika kau tak sudi, ku kenang saja kau di hati ini”.

 
Leave a comment

Posted by on April 11, 2011 in Uncategorized

 

The former time remained after

I’m the fingers holding on the wheel of earth rotatiön,

keeping calm beside panic, I knock on the feeling which brings me.

Here on the one hand I am smiling, on the other hand I am falling down on a day-dream,
the light beside the dark, I keep in my own mind to find where is the aim gonna lead me.

After realizing about all my steps, I found that I was nailed in a chink of the earth.

Then I’m searching for the true meaning of my new life, I am willing my breath.

I’m waiting for the light coming,
letting the dark be fade away and lost, so help me to wait the wheel gonna bring me.

Now I let all of my former time remine after, and without burden I leave it..
Then I let all of my former time be lost and go away, and without burden I leave it away.

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2011 in Uncategorized

 

Berawal dari selembar brosur hijau bertuliskan BEC

Berawal dari sebuah brosur yang kutemukan di salah satu rak kitab di sebuah mesjid di kota Bogor. Brosur tersebut seolah menjadi pengantar jalan keluar dari kebingunanku kala lepas dari sekolah menengah umum.

Saat itu saat dimana semua teman-teman SMA sedang sibuk-sibuknya memikirkan harus dan akan kemana mereka pergi dan apa yang akan mereka lakukan seterusnya begitu jenjang SMA mereka telah usai. Sebagian dari mereka ada yang melanjutkan kejenjang perguruan tinggi, ada pula di antara mereka yang sibuk menyebarkan lamaran kerja mencari pekerjaan sampai keluar kota. Dan tidak jauh dari mereka, akupun saat itu cukup disibukkan dengan mencari dan mencari pekerjaan. Namun sampai dua bulan lebih aku sibuk mencari dan menyebarkan banyak lamaran, belum ada satu panggilanpun aku terima. Sebenarnya pada saat itu ada satu keinginan yang besar dan jauh lebih besar dari pada hanya sekedar keinginan mendapatkan sebuah pekerjaan, yakni aku ingin sekali untuk langsung melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi. Namun apa daya, jangankan untuk kuliah, untuk melunasi sisa tunggakan pembayaran SPP SMA saja keluargaku masih kesulitan. Dan kebingunganku pun rasanya saat itu tak kunjung mereda.
Disaat kebingungan itu terasa semakin menekanku hingga sempat membuat semangatku memudar dan lemah, datang seorang teman memanggil dan mengajakku pergi untuk menemaninya mendaftar kuliah ke IPB. Disini aku hanya sekedar mengantarnya saja dan tidak lebih dari itu. Tapi siapa sangka dibalik keikhlasan menemani dan mengantarkan teman yang nantinya akan menuntut ilmu di IPB itu, ada satu balasan nyata yang merupakan rahasia Allah.
Saat itu, dikampus lama IPB kami habiskan cukup banyak waktu perihal pendaftaran, mulai dari mengisi form calon mahasiswa, mempelajari profile kampus dan sebagainya. Sedih memang, saat form-form itu aku isi, nama yang ku tulis itu bukanlah nama yang ku punya melainkan nama dari temanku tadi, karena sekali lagi, aku ke IPB itu hanya sekedar mengantar saja. Tidak terasa, begitu kami selesai, ternyata sudah hampir 4 jam kami disana. Hingga suara adzan Dzhuhurpun mulai terdengar. Dari IPB kampus lama, kami langsung hijrah ke sebuah mesjid disekitar Jalan Siliwangi. Empat rakaat pun kami kerjakan disana. Tidak lama setelah aku berdoa kepada Allah untuk diberikan jalan terbaik, aku memalingkan tubuhku kearah pintu keluar mesjid dan saat itu pula aku melihat selembar brosur hijau yang tergelatak di rak kitab mesjid tersebut. Brosur tersebut bertuliskan “BEC”. Aku pun penasaran ingin mengetahui lebih jauh hingga membaca isi keseluruhan brosur tersebut.
Sungguh hari yang begitu cerah saat ku tahu bahwa brosur tersebut ternyata adalah brosur BEC atau Bogor EduCARE, sebuah instansi pendidikan di Bogor Jurusan Administrasi Bisnis dengan biaya kuliah gratis hingga 100 %. Saking kegirangannya, mengetahui ada program kuliah gratis, air mata gembira seolah mengalir tak tertahan menahan rasa bahagia. Detik itu pula, kami langsung mencari lokasi kampus yang memberi kabar gembira tersebut.
Akhirnya, di sebuah pertigaan Cimahpar dekat tol Jagorawi, sepeda motor kami berhenti kala melihat kampus hijau di sebelah kanan kami. Memang kala itu kampus BEC masih dalam pembangunan, namun keindahan BEC tidaklah kurang walau saat itu hanya baru lantai dasar saja yang telah selesai dibangun. Usai kami mamakirkan motor, kami langsung menuju tempat pendaftaran mahasiswa dan aku pun langsung memastikan diri untuk menjadi bagian dari Bogor EduCARE angkatan ke-12. Sungguh satu hari yang bersejarah, karena di hari itu tidak hanya temanku saja yang resmi melanjutkan pendidikan ke IPB, namun aku sendiri pun berhasil menemukan jalan pintu masa depan yang cerah dengan mendaftar menjadi mahasiswa BEC.

 
1 Comment

Posted by on July 17, 2010 in Uncategorized

 
 
Design a site like this with WordPress.com
Get started