Even The Angels Feel Shame (Usman Bin Affan)

“Malu sebagian dari iman” Sebuah hadist shahih yang diriwayatkan bukhari. Ketahuilah rasa malu itu sangat penting. Mengapa ? rasa malu itu bisa membentengi kita untuk melakukan segala perbuatan negatif. Bahkan membuat kita tidak berani memiliki niat yang buruk. Nah, ada seorang sahabat dimana malaikat pun malu kepadanya. Dialah, Usman.

Keunikan Usman bin Affan terletak pada kelembutan hati dan sifat pemalunya. Perangainya sangat lembut, tutur katanya santun, cerdas juga tampan. Ditambah lagi sifat pemalu yang melekat pada dirinya. Rasa malunya itu membuat orang disekitarnya ikut malu jika berinteraksi dengannya. Malu karena sikap Usman yang sangat santun sehingga menjadi pembanding atas diri mereka.

Suatu ketika pada saat Usman sedang mandi, ada seorang budak wanita milik istrinya membawakan pakaian untuk ia pakai. Zaman dahulu seorang majikan tidaklah malu jika terlihat tidak berpakaian atau dalam keadaan telanjang dihadapan budaknya. Mereka menganggap dirinya bisa melakukan apa saja. Tapi Usman berbeda,ketika budak wanita itu datang hendak menghampirinya, ia pun berkata “Jangan sesekali kamu melihatku, sesungguhnya aku tidak halal bagimu.” Mendengar kata-katanya, budak itu merasa malu dan kemudian meletakkan pakaiannya ditempat dimana dia tidak bisa melihat Usman.

Ada juga pada saat beberapa sahabat datang ke rumah Rasulullah untuk menyampaikan hajatnya. Pada saat itu Rasul sedang berbaring dan kedua paha juga betisnya dalam keadaan tersingkap. Orang pertama yang datang menghampirinya adalah Abu Bakar dan Ia pun mempersilahkannya masuk. Sementara Rasulullah masih dalam keadaan yang seperti itu. Mereka bercakap-cakap dan kemudian setelah Abu Bakar selesai dengan urusannya Ia pun pergi. Orang kedua yang datang adalah Umar. Sama seperti pada saat Abu Bakar datang. Rasulullah masih dalam keadaan yang demikian. Mereka bercakap-cakap dan kemudian setelah Umar selesai dengan urusannya Ia pun pergi. Tapi ketika Orang ketiga datang yaitu Usman. Seketika Rasul pun mengubah posisinya, merapikan pakaian yang tersingkap tadi. Mereka bercakap-cakap dan kemudian setelah Usman selesai dengan urusannya Ia pun pergi. Aisyah yang melihatnya cukup heran kemudian bertanya kepada Rasulullah setelah Usman pulang.

“Ya Rasulullah, Mengapa ketika Abu Bakar masuk menemuimu, namun engkau tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya, begitu pula Umar masuk menemuimu, engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya pula, namun ketika Usman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu ? “ Tanya Aisyah.

Rasulullah menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?”

Maka jelas pada diri Usman telah dihiasi sifat pemalu yang rasa malu ini terlahir dari rasa hormat dari yang melihat dirinya. Dimana sifat itu mengagungkannya beriring dengan segenap kekurangannya. Membuat Rasulullah seolah-olah dikalahkan oleh rasa kagum dan memandang dirinya penuh dengan kekurangan sebagaimana sifat seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga para malaikat pun malu kepadanya, bersembunyi dibalik sayap mereka. Karena Rasulullah malu kepada Usman maka pada saat itu pula beliau merapikan pakaiannya saat Usman masuk.

Ketika belum menjadi muslim pun, Usman tidak pernah berzina maupun mencuri. Karena dia amat malu melakukannya. Usman memang sejak dulu memiliki sifat yang penuh dengan kebaikan dan menjunjung tinggi kehormatan diri. Dari pribadinya itu terpancar aura kasih sayang kepada setiap orang disekitarnya.

Sungguh mulia sekali teladan yang ditunjukkan oleh Usman. Rasa malunya bisa mengantarkan dia ke jalan penuh kebaikan, bebas dari segala kemaksiatan juga rasa sombong dalam hati. Patut untuk kita tiru apalagi dalam keadaan seperti ini. Malu bukan berarti tidak berani tapi lebih tepatnya pintar menempatkan diri. Pupuklah rasa malumu untuk menghindari setiap nafsu yang tidak pernah puas yang mendatangkan murka-Nya.

 

By: Muslim Pride Channel

 

Add Line Muslim Pride Channel

http://line.me/ti/p/%40jzt5237r

atau dengan barcode

S__6701094

UMAR R.A

Bismillahirahmanirahim

Setiap kawanan membutuhkan pemimpin. Seperti kawanan singa, membutuhkan singa-alpha untuk melindungi mereka. Sama halnya manusia yang membutuhkan seorang pemimpin untuk menjamin kehidupan mereka, selain dari menjaga juga mengayomi. Orang bijak bilang, gaya hidup seorang pemimpin menentukan kehidupan rakyatnya. Benarkah ? mungkin kita bisa contoh dari cara kepemimpinan Umar bin khatab ketika menjabat sebagai seorang khalifah.

Suatu ketika terjadi sebuah krisis yang melanda kota Madinah. Banyak korban yang sudah berjatuhan. Orang-orang miskin makin bertambah. Wabah kelaparan benar-benar dashyat melanda Madinah. Saat itu, khalifah Umar merasa paling bertanggung jawab akan musibah tersebut. Akhirnya, beliau memerintahkan untuk menyembelih hewan ternak yang kemudian dibagikan kepada penduduk.

Ketika proses penyembelihan selesai dan tiba waktu makan, orang-orang yang bertugas untuk menyembelih memilihkan bagian-bagian yang menjadi kegemaran Umar. Yaitu punuk dan juga hati unta. “Dari mana ini ?” Tanya Umar.

“Dari hewan yang baru disembelih hari ini wahai khalifah.” Jawab para petugas.

“Tidak ! tidak ! “ kata Umar yang menolak menerima dan menjauhkan kegemarannya itu.

“Aku akan menjadi pemimpin paling buruk jika seandainya aku menerima daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.” Kemudian Umar menyuruh salah satu sahabatnya untuk membawakannya roti dan juga minyak biasa. Dan itulah yang Umar santap pada saat waktu makan. Umar hanya menyantap makanan itu selama beberapa bulan hingga wajahnya menghitam dan tubuhnya kurus.

Ketika kelaparan mencapai puncaknya, Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Ia pun memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum orang badui itu melakukannya terlebih dahulu. Orang badui itu terlihat sangat menikmati makanan itu sehingga membuat Umar bertanya. “apakah dirimu tidak pernah merasakan lemak sebelumnya ?” Tanya Umar.

“Benar, khalifah” jawab badui itu. “Aku tidak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Dan aku juga sudah lama tidak melihat orang-orang memakannya sampai sekarang.” Tambahnya.

Mendengar kata-kata dari badui itu. Umar bersumpah tidak akan makan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar-benar dibuktikan. Kata-katanya terkenal dan diabadikan, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”

Padahal saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada ditangan kaum Muslimin. Tapi tidak, Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.

Pada kesempatan lain, Umar menerima hadiah makanan lezat dari Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya.

Kepada utusan yang mengantarkannya, Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa kau makan.”

Betapa besar perhatian Umar terhadap rakyatnya. Mungkin kita juga masih ingat dengan kisah seorang ibu bersama anaknya yang kelaparan, begitu akrab di telinga kita. Di malam yang dingin dan waktu orang-orang terlelap. Umar berkeliling dan masuk ke sudut-sudut kota Madinah. Ketika bertemu ibu tersebut, maka Ia sendiri yang mengambil, memasak dan juga menghidangkan untuk keluarga tersebut.

Tak hanya itu kita pun mungkin sudah familiar dengan kisah dimana Umar tidak membiarkan hewan-hewan yang berada diwilayahnya mati kelaparan karena takut dimintai pertanggungjawab nanti oleh Allah. Bahkan terhadap hewan saja seperti itu. Sungguh mulia apa yang ditunjukkan Umar.

Jika semua pemimpin seperti Umar, minimal tidak akan ada rakyat yang kelaparan. Karena disitu ada seorang pemimpin yang siap mengayomi. Pemimpin bukanlah seseorang yang menjadi simbol dalam suatu perkumpulan, kelompok , negara ataupun kerajaan. Pemimpin adalah orang yang sanggup menerima semua beban yang dimiliki rakyatnya. Ibarat sebuah benteng yang menjadi pertahanan pertama ketika ada serangan musuh, yang berfungsi melindungi orang-orang didalamnya.

Semoga dikemudian hari muncul Umar lainnya. Dimana selalu memprioritaskan rakyatnya dibandingkan kepentingan pribadi bahkan benar-benar berkorban untuk rakyat.

 

By: Muslim Pride Channel

Trailer The Boy

kinopoisk.ru

Chicken Katsu Ala Ala

IMG_20151230_120745

Bahan:

  • 300 gram Ayam Filet
  • 3 siung Bawang Putih
  • Garam secukupnya
  • Merica secukupnya
  • 2 sendok makan Saus Tomat
  • 1 sendok makan Saus Sambal
  • 1 butir Telur
  • 250 gram Tepung Panir Roti Kasar

Cara Pembuatan:

Potong ayam sesuai keinginan. Haluskan bawang putih, garam dan merica. Aduk ayam dengan bumbu yang telah dihaluskan beserta saus tomat dan saus sambal. Diamkan sekitar 30 menit. Kocok telur. Masukan tiap potong ayam ke dalam telur kemudian ratakan dan masukan ke dalam tepung panir dan ratakan kembali. Lakukan terhadap potongan ayam satu demi satu. Goreng ayam yang telah dilumuri telur maupun tepung panir ke dalam minyak panas. Tunggu hingga berwarna kuning keemasan lalu angkat.

Trailer The Huntsman: Winters War

maxresdefault

Percaya Beda dengan Menyerah, Pasrah Beda dengan Berserah, Menyerah itu Tanda Kalah, sedang Berserah itu pada Allah

Betapa hidup penuh ujian. Tak sering kita selalu ada di atas, tak jarang pula kalanya kita terperosok di bawah.
Rasanya akrab sekali hati ini dengan bagaimana rasanya saat berada di bawah. Ya, biasanya yang menyakitkan lebih membekas. Sehingga hati ini biasanya lebih mudah mengingat yang pahit ketimbang yang manis.

Saat kita di bawah itu, ujiannya berat.
Ini soal keyakinan.
Keyakinan seutuhnya benar diuji. Seolah kesulitan dan kemudahan diciptakan terpisah.
Padahal jelas dalam janji-Nya setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Jika kita percaya, maka tak perlu perkataan apa lagi untuk memperkuat janji-Nya. Hanya 1 janji pun cukup, dan pasti Ia penuhi meski tanpa perlu kita tagih.
Maka percayalah, lihatlah secercah harapan didepan sana. Jika tak terlihat, cobalah lihat tandanya, jika masih tak terlihat juga, yakinkan seyakin-yakinnya bahwa pertolongan Allah itu nyata.

Telah kita saksamai episode mereka di setiap langkah menghunus pedang dalam perang membela panji islam. Berapa kali mereka berada di bawah, jika melihat armada lawan yang lengkap dan banyak.
Jika ini soal materi, jelaslah kalah umat islam.
Maka ini bukanlah masalah materi. Tapi masalah keyakinan.
Bukan masalahnya kita ada di atas atau ada di bawah, tapi seberapa yakin kita pada sang pemberi kemenangan dan kejayaan…
Jikau kita benar percaya pada-Nya maka serahkan semua urusan kita padaNya.

Jadi…..
Buat yang lagi dirundung masalah hidup, pelik terlilit hutang, buat pelajar yang berjuang untuk ngadepin ujian, mahasiswa yang lagi berjuang persiapan sidang, dan yang sedang berjuang mencari pasangan hidup, serta apapun permasalahan hidup lainnya.
Gantungkan segala sesuatu hanya padaNya. Berharaplah hanya kepadaNya yang Maha memiliki segala dan mengabulkan segenap harap. 🙂

 

By: Muslim Pride Channel

Design a site like this with WordPress.com
Get started