Ada yang bersembunyi dibalik bilik sempit itu
mengintai dengan mata jalangnya mencoba mencari waktu yang tepat
untuk bicara
“Besok boleh kita makan siang bersama?”
Ada yang bersembunyi dibalik bilik sempit itu
mengintai dengan mata jalangnya mencoba mencari waktu yang tepat
untuk bicara
“Besok boleh kita makan siang bersama?”
Posted in gumaman | Leave a Comment »
Hidup adalah huru-hara palsu yang manusia ciptakan sebelum mati kebosanan
Jatuh cinta adalah jatuh bangun palsu yang manusia tumbuhkan sebelum mati kesakitan
Tertawa adalah riuh rendah palsu yang manusia bunyikan sebelum mati kesunyian
dan
Mati adalah kehampaan palsu yang manusia takutkan sebelum ketiadaan.
Posted in gumaman | Leave a Comment »
Hingar bingar tanpamu itu sunyi.
Hachiko membisikkan sesuatu yang bunyinya seperti lengkingan serigala
tapi aku tidak mendengar apapun kecuali desir angin
yang tidak membawa apa-apa
tak terkecuali rinduku padamu.
Riuh ramai tanpamu terasa lengang
pengemis berteriak lantang meminta makan yang tidak dia dapat kecuali sepuluh batang malboro yang dihisap sejak pagi
tapi aku tak mendengar apapun tak terkecuali
rindumu padaku
berpendar seperti kelopak dandelion melayang tanpa arah.
aku rindu. Titik.
Posted in gumaman | Leave a Comment »
Sembunyikan aku bidadari!
Bibirku membiru, lidahku kelu,
berseru aku menderu
Sembunyikan aku bidadari!
karena pagi terkoyak,
bau anyir menyeruak
dan mereka bersorak
Sembunyikan aku bidadari!
Bangkaiku tak pantas kau tangisi!
Posted in gumaman | Leave a Comment »
Maka pada hari itu, dikuburnya hal-hal yang tidak ada lagi yang mau mengingatnya.
Dikuburnya dalam-dalam, ditimbunnya rapat-rapat, diinjaknya kuat-kuat.
Dipasangnya sebatang ranting,
tanpa nisan.
Posted in gumaman | Leave a Comment »
Raya adalah gadis yang pada hatinya tertancap duri bunga rosemary,
yang selalu diam-diam kutemukan matanya tergugu sedih,
seberapapun aku berusaha menggapai hatinya
tidak bahkan ujung rambutnya dapat kusentuh.
.
Raya adalah gadis yang pada senyumnya memancarkan keruh duka,
yang tawanya terasa anyir,
yang kolam di halaman rumahnya dipenuhi oleh bunga teratai,
cantik, katanya saat kutanya kenapa bunga lumpur itu yang dipilihnya.
.
Aku adalah lelaki biasa bertungkai panjang,
yang pada hatiku terbenam bangkai kapal yang putus jangkarnya,
yang selalu memandang Raya penuh hasrat
tapi tak pernah sekalipun ia perdulikan.
.
Aku adalah lelaki biasa dengan lingkar mata hitam,
yang sering menakuti anak-anak dengan suara baritoku,
yang sering diam-diam berdoa agar hari ini turun hujan badai
lantas merusak semua bunga teratai di kolam halaman rumahnya,
agar untuk sedetik saja dapat kutemukan mata sedih Raya berpaling padaku,
tapi hujan tak pernah turun.
.
Lalu entah bagaimana,
hari itu hujan turun,
semua bunga teratai Raya tak terlihat merekah merah seperti dulu,
Kulihat Raya memandangi dari balik jendela,
kemudian berpaling acuh.
.
Raya adalah gadis yang gaunnya dipenuhi bunga melati,
Aku adalah lelaki biasa yang sedang mengamati Raya dan teratainya sehari setelah hujan itu
berharap Raya akan mendongak dari teratainya padaku,
Namun,
di kolam halaman depan rumah Raya -gadis yang pada hatinya tertancap duri bunga rosemary,
bunga teratai berwarna merah muda mencuat merekah bermunculan,
cantik, gumamnya, dan akan kembali bangkit walau disapu badai sekalipun.
Aku tersenyum -meskipun aku yakin Raya tak melihatnya
Ya Raya, teratai seperti kamu.
Posted in gumaman | Leave a Comment »
Kalau Sapardi berkata tiada yang lebih arif daripada hujan di bulan Juni, maka kataku tiada yang lebih membersihkan jiwa ini selain hujan di Bulan September.
Tidak, bukan hujan deras yang berpetir, hanya rintik gerimis yang menyejukkan hati yang sedikit gersang.
.
Secangkir teh hangat dan suara rintik di jendela itu,
aku dan sebuah kursi kosong yang membisu,
ah,
kamu tidak tahu betapa banyak yang ingin aku sampaikan,
begitu banyak hal-hal yang seharusnya terucap, tapi tak pernah.
Betapa banyak yang kupilih untuk kusimpan tanpa pernah kau dengar,
dan kurasa itu cukup tidak adil,
untukmu dan untukku.
.
Maka hari itu kusampaikan pada angin untuk memanggilmu,
Aku akan datang, katamu.
Namun kursi kosong di depanku sekarang menertawakanku,
mungkin berbicara padamu adalah permintaan yang egois,
tak apa, aku mengerti.
.
Pada kursi kosong di depanku aku bercerita,
mengenai betapa berharganya waktu yang dulu pernah kita lewati bersama,
tentang betapa hangatnya senyummu,
tentang kamu yang membantuku melewati salah satu fase terburuk dalam hidupku,
lalu tentang aku yang selalu keras kepala,
tentang bagaimana hal-hal berubah,
aku, kamu dan kita.
Kursi menghela nafas panjang,
ah manusia, katanya, hati kalian sulit ditebak
Aku meresap teh hangatku dan tersenyum,
namun begitu, kataku, tentang dia yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupku, tentang dia yang pernah (dan mungkin masih) menjadi teman terbaikku, tentang dia yang pada bahunya pernah tersandar kepalaku, kenyataan seperti itu tidak dapat berubah.
Aku berterima kasih untuk banyak hal kepadamu,
sungguh-sungguh berterima kasih.
Untuk kesabaranmu, kehangatanmu, perhatianmu,
sungguh-sungguh berterima kasih.
.
Teh dalam cangkir tinggal setengah,
pada teh itu kemudian aku bercerita,
betapa aku merasa begitu bersalah padamu,
tentang aku yang dingin, keras kepala dan tak mampu kau mengerti,
tentang aku yang selalu berlari darimu,
tentang aku yang mungkin bagimu tak pernah memikirkanmu,
tentang aku yang pergi darimu dan memilih untuk tidak menoleh lagi,
tentang keputusanku yang mungkin menyakitimu,
teh tersenyum getir, memandangi cangkir yang menunduk sedih,
hey, aku bisa bagaimana?
Pada cinta yang menyapaku kemudian aku tak dapat berpaling,
aku tak pernah menyesal bersamamu,
dan aku tak pernah menyesal bersama cinta itu,
walau mungkin keputusanku yang itu yang menyakitkanmu,
tapi sungguh aku tak bermaksud
aku peduli padamu, walau mungkin tak terlihat begitu
aku tahu sulit bagimu untuk percaya,
aku juga tidak bisa memaksamu,
tak apa, aku mengerti.
.
Angin mendesir perlahan dan membawa aroma tanah yang basah,
berbisik perlahan di telingaku, apa sudah kau sampaikan semuanya?
aku bertopang dagu, memandang kursi kosong dan cangkir tehku
sudah, kataku, pada kursi kosong dan cangkir teh
Angin memandangku sedih dan menyelinap keluar jendela,
ah sungguh!
andai saja kamu tahu,
aku bukannya mudah melupakan kenangan dan hal-hal yang terjadi padaku,
hal-hal buruk bukannya mudah hilang dalam ingatanku
aku tidak lupa, aku hanya menguburnya saja
itulah caranya aku dapat terus hidup seperti ini
tapi sungguh, untuk sekali ini saja
aku ingin menggali kembali kenangan-kenangan itu, tak peduli buruk atau indah,
dan kepadamu aku memohon maaf.
Aku hanya ingin minta maaf.
.
Cangkir teh sudah kosong,
Dua kursi kosong saling membisu,
dan suara rintik hujan menerpa kaca jendela.
.
Hujan di Bulan September,
dan padanya aku hanya mampu tersenyum.
.
Tak apa, aku mengerti.
Posted in gumaman | 2 Comments »
Dulu saya adalah tipe orang yang paling tidak suka kemana-mana sendirian. Membayangkan pergi ke Mall sendirian saja saya tidak bisa, lebih baik tidak usah pergi sekalian daripada terlihat seperti anak hilang. Itu dulu, saya beberapa tahun lalu. Walau sekarang pun saya lebih memilih pergi ke Mall ditemani, tapi setidaknya beberapa hal mengenai ini sudah berubah sekarang.
For instance, akhir-akhir ini saya sering makan siang, makan malam, ke perpustakaan, atau sekedar duduk di kantin sendirian. Bukan karena tidak ada teman, tapi saya lebih memilih begitu. Karena kalau saya bersama teman, jadwal saya hari itu akan kacau, atau mungkin simply karena teman-teman saya juga jadwalnya sedang padat.
Jadi di sanalah saya, sendirian. Serba sendirian.
Awal-awal sih aneh rasanya, untuk seorang yang mengganggap kemana-mana sendirian itu seperti anak kehilangan induknya, makan di kantin sendirian itu terasa sangat suram.
Tapi toh saya melewatinya dengan sukses, walaupun sempat mengira banyak orang berpikiran aneh melihat saya makan sendirian. Well, thanks to handphone and books that keeping me look so busy.
Saking seringnya saya makan sendirian semester ini, sampai-sampai saya jadi tahu seperti apa orang yang biasa sendiri dengan yang kagetan seperti saya awal-awal semester dulu.
Coba dilihat, kalau dia berkali-kali memainkan handphone atau mp3 playernya, mengeluarkan buku dan pura-pura asik membaca, sambil sesekali mengecek handphone, lalu terlihat resah, menyelesaikan makan buru-buru dan tampak ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, itu tanda-tanda orang sendirian kagetan.
Well, setidaknya dulu saya begitu.
Lalu setelah agak terbiasa sedikit, handphone masih ditangan, mp3 player masih nyangkut di telinga, dan masih sesekali berpura-pura sibuk dengan handphone, cek inilah itulah. Tapi makan sudah lebih santai.
Dan ketika sudah merasa sendirian bukan masalah lagi, saya jadi lebih santai, makan dengan santai, handphone tersimpan rapi di kantong, mp3 player di tas, dan sesekali asyik memperhatikan sekitar.
Dan hey, it feels nice!
Yang paling mengasyikkan dari makan sendirian juga adalah, terkadang kita tidak benar-benar sendirian, pernah suatu kali tiba-tiba tiga orang dosen saya bergabung makan di meja saya lantaran kantin sedang penuh sesak. Awalnya tentu saja canggung, tapi karena kesempatan ini sangat jarang, akhirnya saya gunakan sebaiknya, sambil makan dengan santai, saya bertanya mengenai beberapa hal tentang akademis kepada beliau-beliau yang jelas bukan soal ujian atau sebangsanya!
But well, it felt good to have informal discussion with your lecturers, somehow 😀
Pernah sekali waktu, waktu saya sendirian, dua orang cewek datang dan berbagi meja dengan saya. Setelah akhirnya mengobrol-ngobrol, saya tahu kalau mereka anak baru tahun pertama. Excitement dan semangat mereka dalam bercerita, membuat saya merasa malu karena walaupun cuma setahun lebih tua dari mereka, saya sudah merasa sangat tua dan bosan kuliah. Akhirnya, obrolan 15 menit itu pun menyemangati saya di kelas sesudahnya, you know, small things sometimes give more meaning to me 😆
Intinya, yah, many good things happen if you willing to try something new, overcome your insecurity and just try it on. I mean, saya mungkin terlihat kesepian, tapi kenyataannya tidak begitu kok. Tidak selamanya sendirian itu berarti kesepian, kan? 😀
Posted in gumaman, sekedar cerita | 5 Comments »
I miss me, I miss myself.
.
Dimanakah tempat mencari bagian dari kita yang hilang?
Di langit? Di ruangan gelap? Di taman? atau di kelas?
Di kepala? di kantung celana jins? atau di hati?
.
I miss me, I miss myself.
.
Jadi kalau kamu, ya kamu, bagian diri saya yang hilang itu membaca ini,
tolong kembali secepatnya ya.
Jiwa saya kering.
Posted in gumaman | 3 Comments »
There are times when I needed you most; when I have so many things to tell, yet word has failed me.
In such situation, I want you to stay next to me still.
I dont need any word,
I dont need the deep conversation,
I dont want to talk about how was my day,
or how was yours.
I dont want to talk about anything at all.
I just need you to be there with me,
because your presence is more than enough.
So dear, can you please do it for me?
Posted in menye | 2 Comments »