Malam Jum’at kemarin, di malam 23 Ramadhan 1447 H, ketika saya bersiap-siap itikaf, Aiman qadarullah jatuh.
Jatuh dari kursi ketinggian 0,5 meter, tidak terlalu tinggi, tapi karena jatuhnya juga dengan menanggung beban sepupunya (kemungkinan besar mereka lagi gulat/dorong2an wkwk), tangan kirinya patah.
Kencang sekali suara tangisannya. Saya hampir tidak mengenali suaranya ketika ia menangis.
Saya yang tengah makan bersama Ibu, Rosyad dan Azima masih santai menghampiri, dan awalnya tidak menyadari efek jatuhnya yang tergolong parah. Baru beberapa menit kemudian adik ipar saya, Muthi, menyadari kejanggalan tangan kiri tersebut.
Thanks to Rosyad yang langsung sigap mengantar ke RS Bina Husada, ditemani Nuri dan Ismail menyusul kemudian. Ayahnya yang sedang ada mabit menyusul jelang tengah malam.
Setelah dirontgen, diketahui memang ada complete fracture dan harus segera ditindak keesokan harinya.
Deg-degan karena membayangkan dia akan dibius total, dan info dari perawat akan dibedah untuk dipasang plat besi untuk membantu penyambungan tulangnya.
Malam pertama kejadian masih agak rewel, karena kedua tangannya tidak bisa digunakan.
“Bunda, tangan Man (aiman) copot.” ucapnya lirih tanpa tangisan.
“Bunda, tangan Man (aiman) nggak bisa dipakai” , ucapnya ketika melihat ada makanan somay yang biasa dia gunakan untuk menguliti langsung. Kemudian ia lanjut dengan menyosor dengan mulutnya.
Atau ia gunakan kakinya untuk menunjuk-nunjuk sesuatu.
Esok paginya, ia sudah tampak “menerima”, meminta untuk berjalan-jalan ke luar kamar, naik kursi roda dan bisa berjalan-jalan sambil memainkan infusnya. Tertawa lepas.
Sore harinya ditindak, syukurnya tidak perlu dibedah, cukup diluruskan oleh dokter dan segera digips.
Peristiwa terjatuhnya Aiman membuat saya menyadari sisi lain dari karakter Aiman.
Walaupun ia terlihat manja, ternyata ia tergolong cepat beradaptasi dengan situasi tangannya.
Ia cepat gembira nggak pakai drama, mulai lari-lari dan ikut tertawa bersama kakak-kakaknya.
Yang juga membahagiakan, juga kedua kakaknya yang semakin pengertian dan menjaga.
Kadang, memang benturan dan rasa sakit hadir untuk menyingkap hal-hal yang belum nampak sebelumnya. Another true colors.
