Dahulu kita berbaris memandangi langit pukul 07.30
Sembari meregangkan otot-otot perkasa
Menendang sambil tawa sumringah
Sesudahnya di sebelah barisan menutup usia
Masih ingatkah kau
Ketika cibiran ditahan tawa melihat guru sendu
Sambil mengelap tetesan di atas meja
Dua puluh tahun lalu; ia tutup usia
Di bongkahan batu ini
Masih tertulis nama-nama kelompok bolos nomor satu
Kau menjadi bos berambut gondrong
Aku menjadi penemu bertubuh kekar
Masih kuingat murid-murid melangkah miring menatap segan
Para perempuan menertawakan tanpa enggan
Kita pulang ke masa itu
Rindukah kau kawan?
Masih kuingat lagu-lagu tanah air pusaka
Dinyanyikan 10 kali menghormat bendera
Sebab sepatu kita berwarna jingga
Yang tercelup tangisan tanah merah
Pohon telah rampung ditebas
Hanya ada keping demi keping batu bersusun
Masih kuingat letak-letak dimana kau regang nyawa
Hingga kupeluk menuju kelas seramai Mekah
Dua puluh tahun yang lalu
Janjimu menemani ingatan tanpa minggat
Masihkah kau saksikan klereng-klereng tua ini
Mengenai salah satu diantara kita lalu punah
Jambi, 100415