Sebuah Pesan : i

Posted: Mei 28, 2015 in Gerimis Puisi

Sembari bertatap langkah
Temui bayang-bayang sepenuh ragu untuk dikawinkan do’a
Tiada tarik ulur atas kredo-kredo nurani
Sapanya; naluriah
Ini insanku
Kueratkan nadimu
Kemarilah kasih
Aku bertakbir sebulan penuh sehari tabuh
Izinkan kutukar mimpi jadi pertemuan antara kekinian dan menghitung detik
Berpisah di antara barisan nisan nama
Kita

Jambi, 29.05.15

Tanah Segenggam

Posted: Mei 2, 2015 in Gerimis Puisi

Mengudaralah selepas kaki berkata-kata lagi
Dan pinta yang tertanam berbisik rupa
Belukar rasa endap-endaplah lusa
Takkan berganti golongan darah; merah
Teguklah murah

Jambi,010515

Remaja Kali Ini Lucu

Posted: Mei 1, 2015 in Gerimis Puisi

Remaja kali ini lucu penuh tawa
Mengaku penulis yang kabarnya di media online
Remaja kali ini lucu penuh tipu
Mengaku penulis yang karyanya di tag-tag biar dikenal
Remaja kali ini lucu penuh haru
Mengaku penulis tapi ejaan disempurnakan sendiri
Remaja kali ini lucu penuh mau
Mengaku penulis kok ragu-ragu untuk bertanya
Remaja kali ini lucu penuh lugu
Mengaku penulis tapi hitungan tahun malas menulis
Remaja kali ini lucu
Terbit di koran namun pembaca tak kenal orangnya
Lantas aku bertanya pada leluhur penulis
Bagaimana jadinya jika remaja penulis bisanya melucu?
Jawabnya lucu
Itulah penulis hiburan masa kini
Habis dibaca kemudian hilang di ingatan

Jambi,010515

Sebab Kata Tiada Murka

Posted: April 29, 2015 in Gerimis Puisi

Sebuah prasasti kata menjadi mahar
Tak perlu harga untuk kubeli
Katamu sambil tersenyum beberapa tahun lalu
Saat uang belum menjadi keringat dan asik bermain atas panas dan hujan

Sebab kata tak perlu dibebankan pada empunya
Aku masih ingat nyanyian itu
Suara serak sendu sehabis batuk meneguk es keliling
Aku masih ingat mengumbar tawa pada kemenangan sore

Ringkih meradang tandang tanpa malu
Sebab kata memang tiada bandingan apalagi tandingan
Rapih disusun ingatan awal menempuh akhir
Tawa hanya sementara; mati simpanlah lupa

Jambi, 180415

Rampung

Posted: April 16, 2015 in Gerimis Puisi

Telah hampir selesai bangunan beratap hujan remai-seremai kemarin
Tanpa atap yang kekar
Jalanlah ke arah aliran menuju muaranya
Tanpa rekaman atas yang sudah ataupun lusa
Lihatlah kemari; lahir
Bibit yang kutanam di tanah tempatku dilahirkan telah berumur matang
Lerai-lerailah satu demi satu kilat semahar cahaya
Dapat kau tangkap dalam sujud seumur kini
Lihatlah ke arah sini; lahir
Kuncup-kuncup memakaikan warna pada daunnya
Kau suka dalam anggukan ketiga lalu mereganglah nyawa
Di teras yang sunyi; teriak anak lahir kembali
Andai kita ialah malaikat tanpa sisa dosa
Tak perlu meragukan badai yang hinggap lalu mengedor tanpa salam
Larilah kau yang kunamakan pekat
Sedalam arung tetaplah tiada terukur
Disana ada mimpi yang sudah kubungkus dalam ikhtiar
Bukalah perlahan hingga penanda waktu berputar menelan bulat-bulat masa itu
Lahir dan mahirlah meniru langit penuh

Jambi, 160415

Buah Kepatrian

Posted: April 15, 2015 in Gerimis Puisi

Wahai kau yang kupanggil di dalam mimpi
Tataplah ujung-ujung dinding yang berkabut gerimis membasahi dada
Wahai kau yang kupanggil di dalam doa
Tegaplah tunduk seperti putri-putri abad masehi

Jika kelak kau bermimpi bertemu satu dan lekuknya cahaya
Telanlah tawa dan telanlah duka-duka sebelum diundang
Jika kelak kau berdoa bersisa tangis atas rupanya
Telanlah sumringah dan telanlah rasa-rasa setelah dipandang

Jambi, 150415

Wargaku Runtuh

Posted: April 12, 2015 in Gerimis Puisi

Bukan kami meminta untuk berpanas-panasan menjaja suara
Di sepatu ini aku diajarkan melangkah menjadikan keringat sebagai kaidah
Bukan kami meminta susah jika pilihan dapat ditukar-tukarlah
Di kaos ini aku dididik tersenyum dalam badai cacian serta amukkan seragam negara yang pecah

Bukan kami membujuk-bujuk anak cucu sekolah dan hadapi angkara
Tapi kastamu yang menaikkan leher melotot sihir
Bukan kami memohon ampun atas rezeki hari-hari
Tapi rusunawa bertingkat meludah ke genteng-genteng gubuk amis kami

Hidup mengusung harta itu bedebah bagi bakatnya
Haus hormat itu bukan aum kami
Hidup mengugur kasta itu impian baginya yang memamah
Haus hasutan itu kaummu; berdasi bertenteng tas impor yang entah berapa kali karung beras bagi kaum kami

Jambi, 110415

Rampungkan Sisa Doa Itu

Posted: April 12, 2015 in Gerimis Puisi

Berjalanlah lurus ke arah sana
Air tiada memilih kau
Ataupun aku
Terjatuh dari langit tanpa alasan; pelukan

Berjalanlah sedikit berbelok ke arah tanpa mata
Cungkilkan mata dan telinga
Lalu eratkan ke dadamu
Dengarkan pinta seluas-luasnya cerita

Berjalanlah berkeliling ke arah-arah yang sama
Pegang tangan yang kau rampas setelahnya lara
Lalu eratkan ke nisanku
Aku dengarkan doa-doa merdumu sewindu lalu

Jambi. 120415

Masih Ingatkah Kau

Posted: April 10, 2015 in Gerimis Puisi

Dahulu kita berbaris memandangi langit pukul 07.30
Sembari meregangkan otot-otot perkasa
Menendang sambil tawa sumringah
Sesudahnya di sebelah barisan menutup usia

Masih ingatkah kau
Ketika cibiran ditahan tawa melihat guru sendu
Sambil mengelap tetesan di atas meja
Dua puluh tahun lalu; ia tutup usia

Di bongkahan batu ini
Masih tertulis nama-nama kelompok bolos nomor satu
Kau menjadi bos berambut gondrong
Aku menjadi penemu bertubuh kekar

Masih kuingat murid-murid melangkah miring menatap segan
Para perempuan menertawakan tanpa enggan
Kita pulang ke masa itu
Rindukah kau kawan?

Masih kuingat lagu-lagu tanah air pusaka
Dinyanyikan 10 kali menghormat bendera
Sebab sepatu kita berwarna jingga
Yang tercelup tangisan tanah merah

Pohon telah rampung ditebas
Hanya ada keping demi keping batu bersusun
Masih kuingat letak-letak dimana kau regang nyawa
Hingga kupeluk menuju kelas seramai Mekah

Dua puluh tahun yang lalu
Janjimu menemani ingatan tanpa minggat
Masihkah kau saksikan klereng-klereng tua ini
Mengenai salah satu diantara kita lalu punah

Jambi, 100415

Bukankah Kamu Ialah Kau

Posted: April 10, 2015 in Gerimis Puisi

Bukanlah aku terlahir penuh nama
Sedang telinga para tetangga memanggil sebutan-sebutan gurihnya
Sedang kau memanggilku-kau
Maka kamu ialah kamu yang tiada temu

Bukankah kau terlahir lengkap dengan nama penuh
Setelah diadzankan maka hilanglah ke kamu ke aku atau ke kau
Sebab aku dipanggil inisial
Walau terdengar dua kata; itu sedekah

Sesak mendengar tuntunan ibu dan bapak mengeja
Lalu besar melupa adat dan negeri kesopan-sopanan
Didikan hanyalah usia
Lalu dewasa melupa tradisi dan suku keego-egoan

Nama-nama kian buntung bunting dianak-beranak-tirikan
Sebab lahir ialah kemahiran mengubah jejak
Ikuti pola-pola pikir asing; hening
Lalu mengasingkan aku tambah kau tambah kamu

Jambi, 100415