Beberapa bulan belakangan ini saya memang sempat berhenti menulis di blog saya. Bukan karena ga ada inspirasi sih… kalau diingat-ingat, berjubel unek-unek sudah bercokol di hati saya menunggu untuk dituangkan. Namun,…… nyatanya kesibukan di kantor dan kehidupan personal saya malah lebih menyita waktu. Makanya sementara waktu saya tidak exist lagi di dunia per-blog-an.
Anyway, hari ini memang saya punya unek-unek yang rasanya sayang kalau tidak saya curahkan dalam bentuk tulisan. Biar sewaktu-waktu pihak-pihak terkait mungkin secara tidak sengaja membaca tulisan saya dan kemudian jadi tersindir… (niat banget nih nulis….).
Ceritanya hari Sabtu kemarin tanggal 10 Januari seperti biasa saya mudik ke Sukabumi. Karena tidak ada pembantu di rumah, rencana untuk berangkat pagi-pagi tidak terpenuhi karena harus kerja bakti bersih-bersih rumah terlebih dahulu.
Sekitar pukul 12 siang baru kami berangkat dari rumah, saya, suami dan seorang teman, dengan menggunakan motor. Cuaca hari itu memang agak lembab dan basah karena baru saja hujan, makanya suami menjalankan motor dengan agak pelan karena jalanan lumayan licin.
Awalnya perjalanan kami lancar-lancar saja tanpa ada halangan berarti. Saat kami melewati daerah Cikereteg, tepat di persimpangan antara jalan raya sukabumi dan cikereteg, di seberang pom bensin, dari samping kiri kami muncul pengendara motor ninja hijau menyalip kami. Saat itu suami masih tenang-tenang saja.Tapi saat melewati tikungan, pengendara motor tersebut tiba-tiba belok ke arah kanan tanpa memberikan sen tanda akan belok dan langsung menyeberang ke seberang jalan sebelah kanan. Kontan saja kami langsung kaget. Saya malah pake teriak segala karena motor kami oleng hebat dan hampir saja terguling karena menghindari motor ceroboh tersebut. Yang membuat kami lebih kaget lagi adalah pas di depan kami saat itu muncul mobil truk fuso gandeng pengangkut galon air minum. Waduh, makin kaget saja kami. Untung saja suami bisa segera menguasai diri dan sempat menghindar dari mobil truk besar itu.
Karena kesal, suami saya setengah berteriak pada pengendara motor tersebut untuk hati-hati dan menyalakan sen saat akan belok. Tapi yang membuat kami lebih kesal lagi, pengendara motor tersebut malah anteng-anteng saja…. meskipun tau kami hampir saja celaka, pengendara motor itu malah menunjukkan sikap tidak perduli. Boro-boro melihat keadaan kami, minta maaf saja tidak, kemudian dengan santainya parkir di seberang jalan sambil menatap kami yang masih lemas karena shock!
Setelah kami perhatikan, si pengendara motor ini ternyata memakai seragam resmi polisi…. Wah, saya jadi malah tambah kesal… meski sudah agak jauh di depan saya pelototilah orang itu… tau saya pelototi terus, si polisi ceroboh itu memanggil rekan-rekannya sesama polisi yang kebetulan lagi nongkrong di sekitar situ dan balik memelototi saya… tapi saya tetap tidak perduli dan terus manatap polisi tersebut. Eh, tidak lama polisi itu menaiki lagi ninjanya dan bergaya seolah-olah akan mengejar kami….
Karena merasa tidak bersalah ya.. kami tenang-tenang saja. Suami malah sengaja memelankan laju motor karena penasaran. Ternyata setelah ditunggu-tunggu polisi itu belum muncul-muncul juga… akhirnya kami teruskan saja perjalanan.
Kejadian tersebut akhirnya menjadi bahan pembicaraan kami selama perjalanan. Kami tak habis pikir bagaimana bisa polisi lalu lintas yang seharusnya melindungi para pengguna jalan malah bersikap semaunya dan sok ngebos di jalanan. Kalau begini caranya, malah kita dong yang dirugikan…
Setelah kami sampai di daerah Cidahu (Cicurug), kami putuskan untuk istirahat sejenak untuk melepaskan rasa pegal dan penat sesudah 1 jam lebih berkendara. Tidak taunya, di warung tempat kami istirahat pun muncul juga obrolan hangat tentang aksi polisi yang tidak bertanggung jawab.
Salah seorang supir Colt L 300 jurusan Sukabumi-Bogor yang kebetulan sama-sama nongkrong di warung tersebut bercerita banyak tentang tingkah laku polisi yang kerap merugikan mereka. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah mengenai para polisi atau calon polisi yang sering jadi penumpang para supir colt ini. Usut punya usut, menurut cerita supir colt itu, para polisi atau calon polisi yang menumpang di angkutan mereka itu seringkali tidak membayar ongkos angkutan. Biasanya mereka naik bergerombol (kadang juga sendiri-sendiri). Saat turun dari mobil, mereka langsung turun dari angkutan tanpa basa-basi pada supir ataupun menoleh lagi dan langsung pergi. Dan ini ternyata sering sekali terjadi.
Memang di daerah Lido (Cigombong) terdapat akademi kepolisian Polda Metro Jaya sehingga pada saat week end biasanya banyak calon polisi yang berasal dari berbagai daerah menjadi penumpang angkutan umum. Kalau dalam satu hari para pengemudi biasa mengangkut 4 orang polisi saja, dikalikan sebelas ribu sudah Rp. 44rb ….. kalau dihitung-hitung rugi juga ya…
Saya tidak menilai semua polisi itu tidak bertanggung jawab, saya yakin ada banyak juga polisi yang mau mengayomi masyarakat. Tapi patut dipertanyakan juga tuh, aksi-aksi polisi semacam itu… salah-salah nanti masyarakat tidak akan mau lagi mempercayai kinerja polisi. Padahal, polisi kan pelindung masyarakat, bukan malah jadi benalu bagi masyarakat… Iya enggak!
