Tanggal ditulis : 7-7-2008
Ini merupakan hari pertama dimana saya memulai segala sesuatunya sendiri di negeri orang lain. Pada awalnya karena saya mengira saya sudah dewasa, jadinya saya yakin bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan mudah. Tapi… seperti yang dibilang, “Perkataan lebih mudah dari perbuatan” = =a.
Berikut merupakan “to do list” hari ini :
- Campus Orientation
- Complete Bank Draft Payment
- Hostel Registration
- Secure Contact-line
- Building Connection
Karena pada umumnya berbasis pada pengamanan tempat tinggal, I call it “Operation : Securing Homebase”. >=Db Yeah!
Pertama tama, karena Campus Orientation diadakan pada jam 09.00 WM(Waktu Malaysia) jadi saya harus mentuntaskan hal tersebut lebih awal. Jam 08.00 saya bersama keluarga pergi untuk makan pagi di hotel. Eh… iya, saya kesini dengan orang tua sebagai back-up untuk masalah keuangan dan dokumen dokumen penting. Manja? Bukan! Karena saya belum punya Bank Account Malaysia soalnya surat pengantar dari campus belum keluar… salahkan campus = =!. Okay, so jam 08.45 saya pergi sendiri dengan menggunakan taksi berbiaya kocek 5RM (Rp 15.000; ambil rate Rp 3000 = 1RM). No choice, I have to take taxi coz I don’t know how t o get there with other transportation. Setibanya di campus, saya langsung mencari cari tempat untuk new students. Gimana caranya? Gampang! liat aja kumpulan orang asing lagi was-wes-wos =Db.
Kendala bahasa selalu jadi masalah, terlebih lagi ada rasa untuk enggan memulai percakapan demi membangun koneksi. Ajegile, bo… kiri bahasa Mandarin, kanan India, depan Afrika… bahasa bahasa yang susah karena mempengaruhi logat English-nya (…Saya agak budek, harap maklum…) dimana membuat mental saya ciut untuk memulai conversation (.__.). Ya sudahlah, Building Coneection di-pending, saya mau registrasi hal lainnya dulu.
Dengan berbekal Inggris ala martabak, sayapun berhasil membawa diri saya ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia ruang auditorium dimana kegiatannya hanya melihat presentasi orientasi tanpa bicara, berisik, nguap maupun ngentut (membawa citra orang Indonesia, tau aturan >=Db!). Sama seperti di bioskop, saya duduk di samping, pojok, depan agar layar presentasinya terlihat jelas. Samping saya kosong, Lalu siapakah yang akan berada di samping saya nantinya? ‘ ‘a?
Tiba tiba datanglah orang berbadan besar lewat dan meletakkan pantatnya di kursi disamping saya. “Mampus… orang mana nih?” harap harap cemas… berdoa untuk bisa berbicara dengan bahasa dimengerti olehnya. I’m afraid that he’ll punched the hell out of me, kan gak enak kalo awal awal aja udah bikin ilfill orang = =. Tanpa menggerakkan badan, saya menunggu momentum yang tepat untuk mengetahui bahasa yang dia gunakan (Sekali lagi, sangat mempengaruhi logat bahasa Inggrisnya = =a) … Ah! dia mengangkat hape! bahasa apa? Mandarin? Arab? Melayu? India?…
“Lho Frans? kon nang ndi ta? aku wis ning ngarep, kursi telu pojok.” TERNYATA JAWAAA… *gubrak* Alhamdulillah Ya ALLAH! saya tidak sendirian yang berwarga negara Indonesia! Whahahay!!. Akhirnya saya berkenalan dengannya. Namanya Nico dan temannya yang langsung datang setelah ditelepon tadi bernama Fransiskus. Kebetulannya, mereka berdua berasal dari jurusan yang sama dengan saya, IT! dengan begini, objective “Building Connection”, Complete!
Saya melalui acara orientasi tersebut bersama mereke berdua (dengan berbahasa Jawa =P). Hanya saja, saya harus berpisah sementara saat istirahat untuk mengurus objective “Complete Bank Draft Payment” & “Hostel Registration”. Tidak repot, hanya memberikan beberapa dokumen, check status, dan menerima student pass dari Counter Student Services (Yes, Ladies and Gents! I’m now free from Rp 1 million Fiscal! xD) dan lari ke apartment sebelah, cek status, liat kamar, dan dapat kunci. Ternyata, apartementnya kurang begitu bagus karena fasilitas untuk kehidupan sehari hari harus dipakai bersama mahasiswa pria yang lain… dan joroknya minta ampun… orang asing lagi! Kalo saya misuh ke dia yang rugi saya! Dia mana ngerti. Nah, maka dari itu muncullah objektif yang lain “Seeking Another Place” untuk hari ke depan.
Setelah saya melengkapi kedua objektif tersebut, saya kembali ke kampus untuk menemui Nico dan Frans yang ternyata telah berkumpul dengan teman temannya yang berasal dari Indonesia semua seperti Matthew, Philemon(I must say; your name is EPIC, bro!), Putri, Yuris, Sheren dll. Looks like the status for “Building Coneection” is changing to “huge success”! Yay!! xD. Note to Putri (or someone, I don’t really remember…) : sekali lagi Put, saya tidak menemukan relasi nama “Aji”… dengan “Pare Goreng”, “Pare Goreng Mentega”, maupun “Pare Goreng Apa-saja-lah”. Note to Self : Apakah berbisnis Pare bagus? akan saya pertimbangkan di masa depan =P….
Akhirnya “Campus Orentation” pun selesai. Saya harus kembali ke kamar hotel di mana Ayah dan Ibu beserta Adik saya menginap untuk memberikan status report pada hari ini, sebelum saya lanjut ke “Secure Contact-line”, Demi mendapatkan layanan telepon lokal agar bisa berbincang dengan teman teman di Indonesia, Malaysia, keluarga, and especially Jo, my dearest friend. Status report berjalan dengan lancar disertai dengan makan sore di KFC (gak keren….) bersama.
Tak disangka, ternyata justru dalam misi inilah saya mendapatkan pelajaran berharga dalam menyelesaikan urusan beserta dokumen yang jelas, berkaitan dengan uang yang akan dipakai. Bersama dengan adik saya, saya bertandang ke Sunway Pyramid untuk mencari kartu Maxis yang telah dianjurkan oleh Ason & Nico. Toko yang telah menjadi incaran saya cukup jelas karena ada tanda yang bertuliskan Maxis. Tanpa berpikir panjang, saya masuk ke tokonya dan langsung mendaftar sebagai pengguna Maxis. Pendaftaran SIM card di sini tidak sama dengan di indonesia karena saya harus mengeluarkan Pasport untuk dikopi sebagai pegangan toko dan Informasi terkait untuk urusan komunikasi di departement komunikasi sebagai jaminan bahwa identitas pendaftar sah dan ada bukti “hitam di atas putih”. Agh… menyusahkan. Saya sedang tidak bawa paspor saat itu, jadi saya harus kembali ke kamar dan pergi lagi dengan membawa Passport di tangan. Pendaftaran kembali dilanjutkan… dan di sinilah masalahnya…
“I need 500RM for deposit.” 500RM? What are you nuts!? That barely… 1.5Million rupiah!. Enggak! ini ada kesalahan. Ini pasti penipuan! … apa benar? … Masih berasa bimbang, saya kembali ke kamar untuk menarik uang 500RM dari Ayah & Ibu. Tentu saja mendengar banyaknya uang sebesar itu hanya untuk telepon selular, kedua orang tua saya panik. Terlebih lagi panik karena saya meninggalkan adik saya di mall, mengira adik saya dijadikan jaminan demi 500RM tersebut T_T. Selayaknya The Flash (dengan celana sedikit melorot, hehehe..), saya kembali ke toko aneh untuk menjemput adik dan menegosiasikan harga 500RM. Debat berjalan dengan waktu yang bisa dibilang lama disertai Sweat and Tears (Sweat, habis lari lari & Tears, well… 500RM for cellphone card, da~!). Saya sampai hampir adu ngotot dengan penjaga tokonya dengan membicarakan disclaimer dan debat masalah imigrasi dengan customer car di hotline Maxis. Ternyata, Maxis menerapkan biaya 50RM untuk Malaysian, 500RM untuk Foreigner. WHUAT!? orang Indonesia dikasih harga Bule! Ajegilee~~. Saya terdiam sejenak untuk berpikir mengapa bisa semahal itu. Dan TERNYATA Sodara Sodara! harga segitu memang digunakan untuk Business person, bukan mahasiswa lebay seperti saya. Pantas saja…
Dengan kejadian seperti itu, saya mengambil hikmah bahwasannya saya harus lebih berhati hati dalam berurusan dengan dokumen & uang . Disclaimer & peraturan juga harus dibaca untuk mengetahui beberapa fakta informasi lebih lanjut, demi memberi data apa saja yang akan diberikan oleh penyedia jasa (untung-untung bisa dapat potongan harga dari sana, huueehehehe…).
Ah… sudah jam 00.00 WM, Saya sudah harus tidur sekarang. Nighty Nite =D
Ditulis dalam Journal