Bagai lensa kamera yang mengabadikan butir-butir kenangan, begitu pun Candi Jawi yang reliefnya seperti bilik-bilik dalam galeri foto, berjajar dan memutar kembali pemandangan indah masa yang telah lenyap. Mata tajam seniman antah berantah berhasil menangkap detail pentingnya, untuk dipersembahkan sebagai adicitra yang menyadarkan dari negeri seperti apa kita berasal.
WAJAH ramah dan sambutan hangat seorang lelaki paruh baya menyambut kami dari pos penjagaannya. Pak Mistari, demikian pria itu mengenalkan namanya, memaparkan segala hal tentang sebuah bangunan kuno dari batu setinggi 24,5 meter yang berdiri tegak menatap balik pada kami. Tentu saja itu adalah candi, karena mlancong kami siang itu di kompleks Candi Jawi. Siang itu terasa panas menyengat oleh minimnya teteduhan di sekitar candi. Lokasinya yang terbuka di pinggir jalan, persaingannya dengan obyek wisata lain yang menebar di sekitar Pandakan dan Trawas, ditambah kurangnya kesadaran masyarakat akan nilai sejarah, membuat bangunan ramping itu terlihat tak berarti. Beberapa pelancong juga hanya mengisi kunjungannya dengan berfoto dan duduk-duduk setelah bosan berkeliling dan kepanasan. Tapi oleh pitutur Pak Mistari, kompleks batu yang serba bisu itu diubah menjadi cerita dramatis bak Ramayana. Inilah kisahnya pada kami. Continue reading →