Salam Puisi
Posted on: April 19, 2007
- In: catatanku
- 7 Comments
Kawan-kawan, penggiat dan penikmat puisi. Seorang teman menawarkan saya untuk menerbitkan antologi puisi. Maka, saya pun menyodorkan puisi-puisi lama saya, terutama bertahun penciptaan 1990-an. Dan puisi-puisi itu saya biarkan apa adanya, tidak saya edit dan koreksi lagi (Tentang ini bisa membaca: “Tarian Cermin”). Saya hanya membuka file-file lama, lalu mengumpulkannya, dan mengirimkan puisi-puisi itu ke teman yang berjanji mau menerbitkan itu. Baca entri selengkapnya »
CERITA UNTUK IBU
Posted on: April 17, 2007
aku menulis kesedihan dalam bus yang bergerak
kota mengajari aku menemukan air mata
tiap saat mesti kupahami dengan kekekalan cinta
kukenang berkali-kali tarian di bibirmu:
laut menjerumuskan kita bila tak pintar mengakrabi cuaca
aku menjadi pelaut yang gemar mencatat buih
melempar kail di mana-mana
Jakarta, Nopember 1996
KITA SALING MEMANGGIL
Posted on: April 17, 2007
- In: jejak awal
- 1 Comment
tak ada salahnya kita saling memanggil
pada jarak tak terucapkan
kita membeku dalam kotak-kotak sunyi
kehilangan waktu bicara
tak sempat membaca
meski suratkabar tetap menulis
peristiwa yang tiap saat harus kita tunda
karena jalan kecil, kota menggoreskan air mata
HUJAN SUDUT KOTA
Posted on: April 17, 2007
- In: jejak awal
- 1 Comment
aku kehujanan, tiada payung
kota bagai puisi
yang menetesi kata demi kata
dan kau dengan setia memungutnya
tanpa malu-malu
meski yang kau temui selalu saja kegelapan
tak mampu mengirim cahaya ke bukit-bukit itu.
Lhokseumawe, Aceh, Desember 1995
MELUKIS PUISI
Posted on: April 17, 2007
adakah kau menunggu, pada sudut
yang bebas dari tempias hujan
menandai sebuah sunyi dan dingin malam
sambil kau baca surat-surat yang belum selesai kutuliskan
sambil menatap hari-hari yang gelisah
MEMO MUSIM (3)
Posted on: April 17, 2007
Inilah ujian, katamu. Mewarnai kegembiraan kemarin
kau pun mengamit kabut membawa tidur dan menjadi mimpi-mimpi indah
yang selalu kau sematkan dalam hatiku setiap berangkat kerja
“ini adalah kebahagiaan yang tertunda,” begitu selalu katamu.
MEMO MUSIM (2)
Posted on: April 17, 2007
kita tulis kegirangan-kegirangan dalam buku yang lain
setelah pagi menyuguhkan air mata dan darah
yang kita seduh bersama kopi dan roti: menjadi bagian
kegembiraan kita tiap hari
MEMO MUSIM (1)
Posted on: April 17, 2007
Apa yang kita dengar dari gemerisik angin
saat usia makin merimbun
adakah masa silam telah mematangkan
hari-hari kita
mengajari kita tentang banyak hal: kegembiraan, air mata, dan hati yang pedih menghadapi banyaknya persoalan
di bumi yang sakit
sebelum sempat beranjak, mari kita hening sebentar
memperhatikan langit: adakah wajah kita makin cerah
atau justeru makin berkabut
saat semuanya harus dipertaruhkan,
termasuk hati, juga kegembiraan orang lain,
dan mengubur kenangan-kenangan pahit
setelah kita menemukan rumah-rumah,
setelah kita lelap dengan berbagai menu di meja makan
apa yang kita petik dari perjalanan ini
dari berisik jalan raya, adakah kangen
setelah berabad-abad kita berlari
mengejar kota-kota
lalu lahir beribu kali: rupa penuh warna
adakah kita pahami kelahiran itu?
Jakarta, 6 Oktober 1997
MEMO SIGLI (2)
Posted on: April 17, 2007
apakah perlu kutuliskan semuanya
keterharuan membaca bibir langit mengucap sejumlah luka
air mataku tampaknya tidak pernah cukup untuk
menina-bobokanmu dalam jaman ini
apalagi mengajakmu lari dari kenyataan yang sakit
hari-hari tetap saja kegelapan
hari-hari tetap juga kebahagiaan orang lain
kita belajar menulis dan membaca
adalah untuk memahami makna dari segala keperihan
tanpa sempat menukilkan kisah senyum sebuah musim pun
dalam agenda yang tiap hari kita bawa
kecuali jam kerja dan kesibukan yang kita tulis
dengan pesona ari mata
dengan sekian kesabaran yang kita eja
ketika kau bercerita bahwa langit adalah kekeringan
aku telah duluan paham akan panasnya perjalanan
tiap jam harus kita tempuh
sementara hujan tak lain sebuah impian yang kerap berakhir dengan kekosongan
maka doa-doa menjadi penghibur abadi episode ini.
Sigli, 18 agustus 1996.
MEMO SIGLI (I)
Posted on: April 17, 2007
dalam diammu aku terharu menterjemahkan sejumlah malam
berbaris dalam bahasa dan kenyataan laut
kau melempar aku dalam keheningan terhebat
memandang diri sendiri bercermin matamu
hingga berkali-kali aku minum kehangatan
yang aku sendiri tidak pernah mengerti
ketika kau katakan hari adalah kesunyian
aku pun terlempar dalam sumur yang kau sediakan
mencoret-coret puisi tentang diri sendiri
yang kehilangan di sejumlah perjalanan
juga tentang perempuan yang kemarin melukis ombak
lalu kembali ke kegelapan
seperti burung-burung kembali menjelang malam
katamu, laut adalah milik semua orang
kau belum cukup mengukur lautku
katakanlah ada angin bernyanyi
dan kita sepakat untuk pulang; tetapi jalanan
belum juga memberi kabar tentang kedatanganku
yang tiba-tiba
hingga waktu menjadi begitu sulit untuk dibaca
seperti rahasianya hidup kita.
Sigli, 17 Agustus 1996
Komentar Terbaru