Hisab dan Rukyat Setara

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kemenag

Image

Ayo saling menghormati. Hisab dan rukyat itu setara.

Ulasan Astronomi #2006-008: Mengapa Perlu Kriteria Visibilitas Hilal 3-6,4?

Untuk apa kriteria tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat? Apa kaitannya dengan dalil rukyat, “Shuumuu li rukyatihi …”?

Peraturan Menteri Agama Nomor 1/2026 tentang Penyelenggaraan Sidang Isbat

Pada januari 2026 telah disahkan Peraturan Menteri Agama Nomor 1/2026 tentang Penyelenggaraan Sidang Isbat. Substansi pokoknya tentang kriteria yang digunakan sebagai pedoman sidang isbat (Pasal 4) dan tata cara sidang isbat (Pasal 6).

Image
Image

Isi lengkap PMA 1/2026 bisa dibaca di sini.

Yuk Bandingkan Kondisi 1446 dan 1447

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab-Rukyat, Kemenag

Image

Ada narasi yang beredar di medsos bahwa kondisi awal Syawal 1447 sama dengan Ramadhan 1446 dan Dzulhijjah 1446. Karenanya ada peluang ada hasil rukyat di Aceh yang bisa diterima sidang itsbat. Beda. Kondisi 1446 telah memenuhi kriteria MABIMS, sedangkan kondisi Syawal 1447 belum memenuhi kriteria MABIMS.

Ulasan Astrononomi #2026-007: Adakah Kalender Global Pemersatu Umat?

Kalender global bukan hanya KHGT. Saat Kongres Turki 2016 juga ada opsi Kalender Ganda. Bisakah kalender ganda mempersatukan umat?

Ulasan Astronomi #2026-006: Samakah Hilal dan Fase Bulan?

Ada narasi yang keliru seolah hilal itu terbentuk saat ijtimak lalu terus membesar. Gambaran bulan sabit terus membesar menjadi purnama dan kembali lagi jadi bulan sabit tua adalah gambaran fase-fase bulan, bukan hilal yang membesar.

Ulasan Astronomi #2026-005: Bagaimana Wilayatul Hukmi Mempersatukan?

Wilayah barat bisa melihat hilal lebih awal. Wilayatul hukmi bisa mempersatukan Indonesia dengan keputusan pemerintah berdasarkan rukyat hilal di Aceh. KHGT tidak bisa menggunakan konsep wilayatul hukmi global.

Ulasan Astronomi #2026-004: Mengapa Perlu Sidang Itsbat?

Sidang itsbat dipersoalkan. Yuk fahami perannya dan hargai pengamal rukyat yang setara dengan pengamal hisab.

Memahami Keunggulan dan Kelemahan Kalender MABIMS

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Image

Kalender MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) merujuk pada kalender yang dibuat atas dasar kesepakatan kriteria yang ditetapkan pada 8 Desember 2021 dan diadopsi oleh Indonesia untuk diterapkan pada 2022/1443 H. Dalam prakteknya, kalender dibuat oleh masing-masing negara berdasarkan kriteria tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Dalam perkembangannya, Indonesia menggunakan elongasi geosentrik sesuai praktek yang umumnya dilakukan pada ahli hisab di Indonesia. Sementara Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura menggunakan elongasi toposentrik. Perbedaan itu terjadi karena pada dokumen kesepakatan tidak secara tegas disebutkan elongasi toposentrik atau geosentrik. Perbedaan elongasi geosentrik dan toposentrik berdampak pada perbedaan penetapan awal bulan ketika garis elongasi geosentrik dan topisentrik berada di perbatasan wilayah, seperti saat penetapan Idul Fitri 1443 H/2022.

Kalender MABIMS di Indonesia disusun oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama bersama ahli hisab-rukyat dari perguruan tinggi dan pesantren dalam forum Temu Kerja tahunan. Saya salah satu anggota Tim Hisab Rukyat tersebut. Temu Kerja tahunan tersebut menghimpun semua sistem hisab yang digunakan di Indonesia, mulai hisab klasik sampai hisab astronomi modern. Hasilnya menjadi dasar Kemenag menyusun hari-hari besar Islam dalam SK Bersama 3 Menteri tentang hari-hari libur nasional. Juga menjadi dasar pembuatan Kelender Hijriyah Indonesia, misalnya Kalender Hijriyah Indonesia Tahun 2026.

Keunggulan dan Kelemahan Kalender MABIMS

Keunggulan utama kalender MABIMS adalah kemampuannya menyatukan pengamal rukyat dan pengamal hisab. Kriteria imkan rukyat (IR, visibilitas hilal) tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat merujuk pada data rukyat jangka panjang. Kriteria IR bisa diterima pengamal rukyat karena berdasarkan data rukyat, artinya memungkinkan untuk prakiraan rukyat masa depan. Kriteria IR juga diterima pengamal hisab karena memungkinkan membuat kalender ibadah yang terkait erat dengan dalil syar’i.

Keunggulan kalender yang dapat disusun untuk puluhan tahun ke depan juga berlaku untuk kalender MABIMS. Kalender pasti berbasis hisab, karenanya bisa dihitung untuk kapan saja, masa depan dan masa lalu. Bagi pengamal hisab, kalender memberikan kepastian untuk menetapkan waktu ibadah. Bagi pengamal rukyat, kalender adalah prakiraan (prediksi) yang nantinya akan dikonfirmasi dengan rukyat hilal (pengamatan hilal). Salah besar orang yang selalu mengaitkan rukyat dengan pembuatan kalender, sehingga mengira kalender dibuat bulanan setelah rukyat. Rukyat memang bukan untuk membuat kalender. Bagi pengamal rukyat, kalender bisa membantu untuk tetap taat pada contoh Rasul (ta’abudi) untuk melakukan rukyat setiap bulan, khususnya untuk Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Itsbat (penetapan, dalam forum lebih besar yang melibatkan pakar dan perwakilan ormas Islam disebut Sidang Itsbat) diperlukan untuk menetapkan hasil rukyat. Perukyat perlu diverifikasi dan disumpah, tidak bisa langsung mengumumkan hasil rukyatnya kepada publik. Demikianlah yang dicontohkan Rasul.

Kelemahan kalender MABIMS adalah potensi perbedaan dengan negara-negara lain, terutama Arab Saudi yang menjadi rujukan pelaksanaan shaum Arafah dan Idul Adha. Karena hilal makin tinggi ke arah barat, ada potensi hilal dapat di rukyat di Arab Saudi pada saat di Indonesia hilal tidak terlihat. Tetapi hal itu wajar terjadi karena bumi bulat dan garis tanggal qamariyah (International Lunar Date Line — ILDL) selalu bergeser. Ketika ILDL memisahkan Indonesia dan Arab Saudi, awal bulan dimulai dari Arab Saudi ke arah barat, Afrika dan Eropa, lalu benua Amerika, lanjut melintasi garis tanggal internasional (International Date Line — IDL) di Pasifik sehingga berganti hari ketika sampai di wilayah Oseania dan sebagian besar Asia. Terkait perbedaan hari Arafah, itu pun sesungguhnya bukan masalah. Hari Arafah tidak harus sama harinya dengan wukuf di Arafah, karena hari Arfah bermakna hari ke-9 Dzulhijjah yang di Mekkah bersamaan dengan hari wukuf. Kita mengenal hari ke-8 sebagai hari Tarwiyah, hari ke-9 hari Arafah, ke -10 hari Nahar (qurban, idul adha), serta hari ke-11, 12, dan 13 sebagai hari Tasyrik.

Kelemahan lain kalender MABIMS adalah masing-masing negara bisa menentukan sendiri awal bulannya berdasarkan keputusan otoritas nasional sehingga berpotensi tidak ada keseragaman global. Kalender Indonesia bisa saja berbeda dengan Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura setelah dikonfirmasi dengan hasil rukyat dan diputuskan dalam sidang itsbat. Malaysia dan Brunei Darussalam pun punya mekanisme yang serupa dengan melakukan konfirmasi rukyat hilal lalu diputuskan oleh otoritas negara masing-masing. Namun, praktek itulah yang justru diarahkan fikih dalam penerapan dalil syar’i. Masing-masing wilayah bisa berbeda mathla’ (keberlakuan rukyat hilal). Kaidah fikih “Hukmul hakim ilzamun wa yarfa’ul khilaf” (Keputusan hakim/otoritas mengikat dan menghilangkan perbedaan) memerlukan adanya keputusan otoritas. Kaidah itu sering kali juga dikaitkan prinsip “Wilayatul hukmi” (wilayah hukum), yaitu rukyat hilal di suatu lokasi dapat diberlakukan untuk seluruh negeri. Indonesia yang luas sudah menerapkan prinsip tersebut untuk memutuskan kesaksian rukyat hilal di Aceh diberlakukan oleh pemerintah bagi seluruh wilayah Indonesia.

Memahami Keunggulan dan Kelemahan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi, BRIN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kemenag

Image

Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) telah ditetapkan oleh Muhammadiyah berlaku sejak 1447 H/2025 M dan mulai diterapkan dalam maklumat awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 1447. Karena hal baru, banyak yang belum memahami hakikatnya dan dampak pemberlakukannya. Yang jelas, dengan pemberlakuan KHGT perbedaanawal Ramadhan 1447 disusul dengan perbedaan Idul Fitri 1447. Itu suatu hal yang baru terjadi. Biasanya, kalau awal Ramadhan berbeda, Idul Fitri akan seragam. Atau sebaliknya.

Apa sih KHGT? Secara ringkas, KHGT adalah sistem kalender yang mendasarkan pada terpenuhinya kriteria visibilitas hilal di daratan Amerika dan bagian lain di dunia serta terpenuhinya syarat ijtimak (konjungsi) sebelum fajar di Selandia Baru. Batas waktu Selandia Baru digunakan karena terkait dengan konsep satu hari satu tanggal yaitu merujuk awal hari yang bermula pada Garis Batas Tanggal Internasional. Selandia Baru berada pada zona waktu garis batas tanggal internasional. Artinya, hari pada KHGT sepenuhnya disamakan dengan kalender Masehi yang digunakan secara internasional.

Kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) yang digunakan adalah tinggi bulan geosentrik minimal 5 derajat dan elongasi geosentrik minimal 8 derajat. Dalam versi asli yang digunakan Diyanet Turki, kriteria yang digunakan merujuk tinggi bulan toposentrik. Perbedaan geosentrik dan toposentrik itulah yang menyebabkan perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447. Menurut Diyanet awal Ramadhan1477 pada 19 Februari, sementara menurut KHGT 18 Februari 2026.

Kriteria visibilitas hilal digunakan karena merujuk dalil syar’i terkait awal bulan hijriyah. Namun, kriteria itu seolah hanya sekadar ditempelkan untuk memberi kesan tetap merujuk dail syar’i, karena sebenarnya kriteria tersebut tidak bermakna signifikan. Ketentuan “ijtimak sebelum fajar di Selandia Baru” lebih menentukan. Alasannya, untuk memastikan saat fajar sebagai batas awal pelaksanaan ibadah puasa, bulan sudah berganti siklus bulan baru sinodis. Nomenklatur “ijtimak” tidak ada dalam dalil syar’i awal bulan hijriyah, tetapi sering diadopsi dalam metode hisab (perhitungan) sebagai indikator awal bulan hiriyah.

Keunggulan dan Kelemahan KHGT

Keunggulan KHGT adalah kemampuannya dalam menciptakan keseragaman hari pelaksanaan ibadah. Terutama dalam hal ibadah yang bersifat masal dan global seperti puasa Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Hal itu karena konsep “satu hari satu tanggal” yang diterapkannya. Bila kriteria telah terpenuhi, maka besoknya dinyatakan awal bulan. Seragam untuk seluruh dunia. Misalnya, kriteria telah terpenuhi pada Selasa 17 Februari 2026, maka awal Ramadhan ditetapkan seragam pada Rabu 18 Februari 2026. Keunggulan lainnya adalah kemampuan memberikan kepastian penentuan tanggal jauh-jauh hari karena KHGT murni berbasis hisab. Tidak ada kaitannya dengan rukyat hilal (pengamatan bulan sabit pertama).

Keunggulan lainnya yang diusung KHGT adalah kemampuan mempersatukan ummat. Namun klaim mempersatukan ummat tidak ada dasarnya, sekadar klaim. Justru itulah kelemahan KHGT. KHGT semakin memperdalam jurang perbedaan pengamal rukyat dan pengamal hisab. Itulah kelemahan mendasar KHGT, yaitu sifat ekslusif kalender yang hanya mengadopsi pengamal hisab. Pengamal rukyat sama sekali tidak diperhatikan dalam KHGT. Pengamal rukyat menghendaki hisab yang termuat di kalender semestinya kompatibel dengan hasil rukyat. Rukyat yang bersifat lokal sangat bertentangan dengan KHGT yang bersifat global. Sehingga tidak aneh bila pendukung KHGT sangat keras menentang praktek rukyat dan sidang itsbat dengan prasangka yang seragam, “penghamburan anggaran negara”.

Kelemahan KHGT terkait lainnya adalah penyederhanaan konsep persatuan umat. Konsep KHGT adalah konsep idealis yang mengasumsikan semua umat Islam mau beralih ke metode hisab. Padahal perbedaan pemahaman dalil hisab-rukyat telah berlangsung ratusan tahun yang tidak mungkin diselesaikan dengan argumentasi fikih untuk memilih salah satunya, hisab atau rukyat. Upaya dialogis untuk mencari titik temu pengamal rukyat dan pengamal hisab diabaikan demi cita-cita “satu hari satu tanggal”. Sampai saat ini baru Turki negara yang menerapkan konsep KHGT. Selebihnya hanyalah beberapa organisasi non-pemerintah yang menggunakannya. Sebenarnya aneh juga ketika Arab Saudi menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari yang diikuti beberapa negara Arab, kesamaan itu seolah dijadikan pembenaran KHGT. Padahal negara-negara Arab itu mendasarkan pada rukyat hilal lokal di Arab Saudi, bukan KHGT.

Penerapan KHGT menciptakan dikhotomi baru: hilal lokal dan hilal global. Dikhotomi lama rukyat vs hisab dan imkan rukyat vs wujudul hilal sudah tidak relevan untuk menjelaskan perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha yang masih terus terjadi. Bahkan dengan adanya KHGT, perbedaan akan semakin sering terjadi. Dalam empat tahun ke depan (1447 – 1450 H/2026 – 2029) Idul Fitri akan selalu berbeda.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai